Hellonjo!

Soal cerita melelahkan juga banyak hal - hal yang menyenangkan.


Don't bother yourself to hide me, i'm not yours to keep nor the things we left behind.

Karena saya memang habis rasa untuk, ya kau tau, mengulang segala yang ada. Denganmu, dengan yang lainnya. Entah sampai detik keberapa. 
Nah, nggak enaknya ada dalam usia seperti ini adalah, sudah punya pemikiran yang mantap tapi tetap saja dianggap tidak dewasa dan . . . tidak masuk perhitungan
Dua hal yang dapat dimengerti hanya ketika kamu jadi mereka, yaitu:
  1. Kekhawatiran Orang Tua, ketika anak - anaknya belum pulang
  2. Memberi ikhlas, segalanya, berthaun - tahun sampai pada beberapa waktu bahkan nyawa
Terimakasih untuk segalanya, maafkan gadis kecilmu yang belum dapat memberi apapun.
Selamat malam kamu. Surat kecil ini saya tulis untuk menyapa keletihan yang bersandar di pundak kecil itu. Apa kabar? lama tak bersua. Saya hampir lupa paras itu, senyum, dan bagaimana kau tertawa. Maafkan saya yang pelupa. Saya juga letih disini, tenggelam dalam berlembar - lembar kertas HVS. Tertidur di depan laptop ditengah pertarungan yang seharusnya tak saya tinggalkan, gamang ditengah pilihan - pilihan soal masa depan. Rindu akan kenangan masa lalu, dimana semuanya baik - baik saja dan sederhana. Bahwa ketika saya pulang, hanyalah kita dan segala percakapan tak penting anak remaja. Tugas - tugas hanyalah tugas yang jadi alasan untuk kita memperpanjang percakapan. Segala yang perlu dibahas, makin lama semua yang tak perlu jadi suatu hal yang kita cari keberadaannya, bukan soal cerita tapi ini soal kita yang bersama sepanjang waktu yang tersedia.

Dan saat ini, kita hanyalah kita, yang saya kais dari tanah - tanah kering hati yang hampa. Kamu adalah kamu, satu jiwa yang akhirnya tak lagi melekat di dalam hati. Saya adalah saya, gadis yang kau pernah bangga saat menunggu malu - malu ditepi jalan depan sekolah.

Masa lalu adalah masa lalu, yang bahkan mantra terampuh pun tak sanggup memanggilnya kembali. Biarlah. Saya dan kamu tak kan lagi menjadi kita.
Please see me
Reaching out for someone I can't see

I'll be damned, Cupid's demanding back his arrow
So let's get drunk on our tears

But don't you dare let our best memories bring you sorrow
Yesterday I saw a lion kiss a deer
Turn the page, maybe we'll find a brand new ending
Where we're dancing in our tears


But are we all lost stars trying to light up the dark?

Adam Noah Levine.
Selamat pagi Duniaa!!!!!! 

Mimpi tak pernah memakan korban, ia datang dengan harapan dan gugur dengan alasan, seperti embun yang luruh jadi air kala pagi, hilang tapi tetap menyejukkan.



Assalamualaikum semuanyaaaa!! Sudah cukup lama nggak update disini, dan rasanya ada sesuatu yang hilang. Gue rasa menulis adalah suatu terapi yang akhirnya jadi bagian dari diri gue, entah karena terlalu menyenangkan, atau memang simply karena terbiasa. Seperti salah satu pepatah jawa, Witing tresno jalaran seko kulino, cinta itu hadir karena terbiasa. Ketika sedang jatuh jatuhnya gue merasa menulis akan meringankan beban di pundak, ketika senang, menulis bisa membuat gue berkaca dan lebih bersyukur atas apa yang datang atau terjadi. Ketika sekarang dihadapkan pada kehidupan baru yang sepertinya “bukan gue” banget, menulis membuat gue menemukan lagi diri sendiri dan akhirnya jatuh cinta lagi. Seperti salah satu tulisan di beberapa tahun lalu, kalau sebenarnya salah satu manusia yang harus dicintai terlebih dahulu di dunia adalah diri sendiri, karena kalau bukan kita, siapa lagi?. Menulis membuat gue melakukan itu, membuat segalanya menjadi clear, kalau benang terumit pun masih bisa diurai dengan usaha yang tepat.

Senangnya, beberapa teman mulai menulis juga!. Ada ketertinggalan yang harus dikejar! Hahaha. Gue memfollow beberapa blog teman, tidak secara diam diam, tapi entah, apakah mereka tau kalau gue mengamati segala tulisan disana atau enggak hahaha. Tapi ya dibalik itu, gue seneng banget. Ada perasaan tersendiri kalau ternyata orang lain juga mencintai hal yang sama dengan apa yang kita pilih untuk cintai. Tulisan mereka keren – keren. Worth to read kok, mungkin hanya catatan remaja biasa, tapi bahkan seorang raditya dika pun bisa jadi artis dari “catatan remaja biasa”. Kalau memang tak tertarik, jangan lihat dari isinya, tapi mungkin kita bisa mengambil tata bahasanya, atau bahkan dalam sejelek – jeleknya tulisan, kita masih bisa mengambil sesuatu dari sana, yaitu . . . kejujuran. Tulisan yang ditulis dengan jujur, sejelek apapun akan meninggalkan kesan.

Tulisan mereka keren, bercerita tentang banyak hal, fiksi, cerpen, dan segala hal tentang kehidupan. Ada seorang teman yang pernah berkicau di twitterland soal ini. Ia berkata bahwa terlalu banyak membaca blog abg hanya akan menghasilkan impoten logika. Yah, nggak semua blog abg itu labil, mungkin kebanyakan, tapi bahkan yang labil sekalipun masih patut diberi apresiasi, kenapa? Karena merubah perasaan yang absurd dan imajiner kedalam suatu bentuk yang dapat dimengerti orang lain itu nggak mudah. Enggak semua orang punya keberanian untuk membagi apa yang mereka rasakan dan pikirkan. Dan awas! Enggak semua blog remaja biasa berbicara soal kehidupan cinta ala sinetron sctv :p. Jiwa pemikir bisa muncul bahkan pada anak kecil yang menimbang antara permen dan boneka, dan mereka butuh tempat untuk menyalurkan segala pemikiran. Siapa tau kamu salah satunya, bahkan secara tidak sadar diapun menulis, dalam wadah yang berbeda, lalu apa salahnya dengan blog abg? J.

Siapa tau dalam beberapa waktu kedepan, salah satu blog abg yang dicap sebagai pemicu “Impoten Logika” bisa menjadi sesuatu yang bahkan membuat logika seseorang berjalan dan sampai pada suatu kesimpulan bahwa, menulis ternyata oke juga. Menulis adalah salah satu cara mengukir sejarah, mungkin bukan sejarah dunia, tapi paling enggak sejarah kehidupan kamu, mengabadikannya dalam suatu bentuk yang bisa dikenang lagi.


So . . Lets Write Something!.
Masih kedua wajah manusia yang sama yang mencambuk saya ketika diri ini malas berusaha lebih. Masih usaha usaha tanpa mengeluh yang membuat lidah ini kelu untuk berkata "Saya lelah". Masih suara lirih yang sama di ujung telfon yang membuat hati ini terus meminta kepada Yang Maha Kuat, untuk memberi saya waktu untuk membahagiakan kedua malaikatnya di dunia. Membalas sedikit dari sekian peluh yang menetes tanpa pamrih. 

Terimakasih karena telah menjadi perpanjangan kasih sayang Tuhan selama ini dan untuk bertahun tahun kedepan. Maafkan gadis kecilmu Ma, Pak, yang terus saja menjadi beban. Tetapi, tetap doamu yang paling penting dalam setiap keinginan. Kalian akan terus jadi pahlawan dalam sejarah yang gadis ini tulis sendiri, apapun yang terjadi, apapun kondisinya. Terimakasih karena tetap ada tanpa diminta, terimakasih karena telah bangga pada pencapaian yang menurut orang lain biasa. Terimakasih karena telah menjadi Orang Tua yang membahagiakan. 



Izinkan saya untuk terus jadi gadis kecil manja yang selalu minta pulang ke rumah . . .
Saya rindu rumah, tempat kalian berada, menghitung uang di kala senja, bercengkrama dalam malam malam dalam rumah sederhana.
Assalamualaikum everybadeeeeeehhh!!! Gimana kabar kalian? seneng banget rasanya bisa disini lagi dan menulis lagi. For your information aja, tadinya gue dengan semangat pergi ke kampus untuk mencari wifi dengan niat mengerjakan tugas mikrobio yang super wow cetar dan mendunia itu, tapi . . . . gue malah terdampar disini dan menulis, muahahaha. Kapan lagi yekan, mumpung ID tetangga sebelah lagi nggak kepake jadi bsia gue manfaatkan.

Oke let's begin.

Kemaren gue habis dari BOGOR! iyaaaaa Bogor, Kota hujan, dan kota pertama yang gue kunjungi selama kuliah di Purwokerto. Rencanya sih kita mau ikut lomba dan menang, tapi hasilnya? Muahahaha, silahkan ditanyakan kepada rumput yang bergoyang. Ia akan cerita banyak soal kita yang dibabat habis - habisan di round pertama. Gue dan Mas Pojan (My teammate) yang tiba tiba speachless karena dapet motion yang kita nggak ngerti harus dibawa kemana, sedangkan Hapis dan Zahra yang melongo karena ngeliat debaters IPB ngomongnya pake WTF and et cetera, dengan pembawaan yang entah mau debate atau stand up comedy. Tapi yaaa gitulah, disini gue sih nggak mau ngomongin soal debate, lets what happens in the round, stays in the round, muahahaha. Yaaa tapi yang pasti, pengalaman banget bisa ngeliat debaters nasional beraksi tanpa harus buffering numpang wifi :"".

Jadi perjalanan ini dimulai di suatu pagi di hari Jum'at, tanggal 19 September 2014, jam setengah 7 gue chaw dengan kereta Serayu, iyaa!!! Serayu! 10 jam gue di kereta bersama geng unyu, menatap jendela, selfie, ketawa ketawi sampe kelaperan karena persediaan makanan udah habis tanpa sisa. Belum lagi kita dihadapkan dengan ganasnya commuter line jeketi di jam jam pulang kerja. Manusia - manusia itu udah kayak seonggok daging di gerbong commuter line, orang orang marah seenaknya, berebut tempat dan jalan dengan keinginan sama sama ingin segera sampai rumah dan istirahat. Seketika gue kangen Purwokerto dengan segala kesunyian dan apalah yang orang bilang ndeso dan nggak mendukung buat kehidupan ABG ABG ibukota, akhir akhir ini gue mulai cinta aja gitu sama kehidupan tenang adem ayem tanpa polusi dan segala kemacetan kota besar, Ha! belum lagi sama marah marahnya abang angkot yang berebut jalan, duh, it's just not me anymore, muahahahaha syongong. 

Tapi sebenarnya adalah . . .  ketika melihat lampu lampu mobil dari kaca commuter, gue rindu serindu rindunya. Rindu sama kehidupan sebelum ini, sebelum gue pindah, sebelum semuanya ada di tangan gue sendiri, dengan segala tanggung jawab dan kehidupan yang . . .  yah gitulah pokoknya. Hiruk pikuk ibukota membuat gue sadar dan flashback akan apa yang telah gue tinggalkan. Ya tapi namanya hidup ya, it will always bout things that come and go. Sedih sih, tapi yaudahlah ya. 

Singkatnya (Dimana singkatnya Diiiit Diiiit -___-") kita nyampe di rumah neneknya Mas Pojan. Kita kayak nganterin dia pulang kampung, disana tipe tipe rumah eyang banget, dengan kamar banyak, rumah di atas gunung, dan anak kecil yang gelempangan di atas ubin. Feels like home abis. Kita harus menempuh jalanan naik turun dengan kanan kiri jurang, sampe pemukiman, eeeeh masih naik lagi ke atas, aaannd here it is, rumah neneknya Mas Pojan. Kita disambut dengan hangat, walaupun saat itu dinginnya bikin gue pengen meluk oven nyokap. Kita disediakan kamar, dan segera tidur karena perjalanan yang menguras habis seluruh ATP dalam setiap sel tubuh gue. Kita menghitung jam sebelum besok, ketika akhirnya kita harus menghadapi round demi round yang berakhir pada . . . gagalnya kita masuk breaking. Sakit sih tapi . . . yaudahlah ya.

To be continued after my battery is full to be in Wifi again. Babayyyy ;) 
Assalamualaikum buddiieeesss!. it has been a thousand years without post in here, wkwkwk. I'm afraid that i have npthing to write so i'll just tell you how my life nowadays. Somehow i feel important to share my thoughts, my feelings, or any state that happen lately to you dear blog. It is the universe where i can talk about anything, anywhere, anyone.

Well, now i have like 2 weeks free day, it is more less than everyone in my college have, and yep, i feel kind sad but what should i dooo?? college life drained me to the lowest lately yet i feel alive. I spent my days (even in the examination weeks) for organization (which i want to tell you something about it in my next post) and events that is still on going (hopefully it will run well), and yeah, i have trouble for balance this two things, college and organization, i won't ever ever make it fair between them both. Of course! i will always choose study, thats what the point i live a lot of miles away from my family and friends. But this system have me do it. but yeah, i still alive and still. And even with all of this circumstances, i believe, there are no such a "waste" from every process that i went through.

And to be nostalgic, it has been a year since i moved to this small and serene city. I barely tired to say "I miss you" to them. Everyone have their own life. I know that people will always come and go from ur life. Thats how life teach you to just let everythings go and ikhlas. But what can i do?. I already have a clash with dad about my will to go to that crowded city alone. Yeah, like he always do, he won't let me do that. Alone is such a crucial word for every dad with a daughter i think, and when i am alone i know where that worries come from, but at least try, right?. I know that i will always have God that be my guidance anytime, if it's meant to be then it is that happens, and if it's not, then it just don't, right?. But you can't fully undestands ur parents feelings until you become one. So maybe i just take it and done. But you know what i am afraid the most for not seeing my old friends?

it is not because the "I miss you" feelings the most

nor boring

But to be truth, i am just afraid of being forgotten.

Such an egoistic reasons, isn't it?. Sometimes i think that they met a lot of people. Or even i am just a small alphabet in a novel, and being that kind of things i always try to be meaningful to everyone. I am afraid that they will forget me and then i lose them (maybe losing them is the second reason why). Because it's saddening when i am the one who always remember everything and everyone when the others don't. But luckily, sometimes they wake me up and make me realize that they always remember, And the one who stay quite is me. I dont do anything to make them realize that i remember them, or at least i try and i fail. But yeah maybe everything will fall in the right place, at the right time. So let we just wait :"))
As he read, I fell in love the way you fell asleep: slowly, and then all at once. -John Green in TFIOS-

Aku jatuh cinta seperti caramu tertidur, perlahan - lahan lalu tiba - tiba. -John Green dalam The Fault in Our Stars-

Danke John Green, for the novel, for the quotes.
Somehow it's saddening to know that you are the only one who love that kind of thing when the others just don't give any shit. Well, i miss home . . . That kind of home.
Aku menulis pada lelahnya pundak yang segera meminta untuk direbah. Kasur hangat setelah dijemur seharian ini memanggil, langkahku gontai dan menyerah. Aku berbaring dan bersiap untuk tidur, tapi ternyata otakku tak hentinya berfikir soal beberapa hal, kebanyakan soal tugas yang tak menumpuk tapi cukup memusingkan, dan lelahku memang dari sana. Itu kebanyakan. Salah satu yang bukan dari golongan "Kebanyakan" adalah pikiran tentang kamu. Panggilah aku tak tau diri karena lelah tetapi masih mencari masalah. Masalah soal kamu, dan kehidupanmu yang jauh digapai tangan. Bukannya aku tak tau kenyataan atau buta keadaan, tetapi bagaimana aku menggambarkan keadaan yang memang belum ada, atau sebutlah "diada - adakan" karena aku memang belum pernah mengarah kesana. 

Fikiran soal kamu dilandasi pada twit sederhana seorang gadis beberapa menit lalu. Ia sedang mengecap rasa jatuh cinta, kakinya tak lagi menapak ketika berbicara soal anak lelaki yang akhir akhir ini selalu ada. Peduli apa soal definisi "ada" walaupun jarak berpuluh - puluh kilo jauhnya, tapi yang penting, malam ini, timelineku milik mereka. Bukannya lelah, sirik, atau bahkan merutuk, kebalikannya, aku hanya tertawa seadanya melihat ini. Toh ini hidup mereka, apalah aku yang hanya "ngontrak" di twiterland malam ini. Lebih dari itu, hal ini membuatku berfikir, sepertinya memang kehadiran "seseorang" itu perlu dalam hidup seorang gadis. Ah aku sudah cukup punya "banyak" orang sehingga ke alfaan "seseorang" yang statusnya lebih dari yang lain dirasa tak terlalu perlu. Itu fikiranku dahulu. Akhir - akhir ini banyak kejadian yang membuat hati berdiskusi ulang soal beberapa prinsip. Apakah sudah seharusnya mencari seorang "kamu"? atau cukuplah aku dan lingkaranku tanpa seseorang yang disebut "kamu" oleh mereka?.

Masih ada tempat untukku membagi cerita lusuh seharian di kota kecil ini. Kasih sayang pun tak putus - putusnya menghampiri ketika sepi menyelimuti. Pun rangkulan beberapa tangan terasa cukup ketika akhirnya aku memutuskan untuk berhenti karena kehabisan energi utnuk berlari. Bukankah itu terasa cukup?

Ya memang.

Tapi punya seseorang yang bisa disebut "kamu" rasanya . . . tidak buruk juga.

Tetapi ketika soal "kamu" aku tak hanya diajak bicara soal manusia, ini lebih dari itu. Ada serangkaian rencana sempurna yang jatuh dan terjadi pada saat yang tepat, dan Boom! momentumnya menghasilkan sesuatu yang bahkan tak kau nyana sebelumnya. Ada seseorang yang pantas disebut "kamu" karena ketepatan waktu rencana Tuhan dan cukup menarik untuk diajak membuat satu dua bab tentang pelengkap kehidupan manusia. Tentu saja pelengkap, bukan satu manusia yang statusnya sebagai ojek pribadi atau tempatmu mencurahkan keluh kesah tak penting alih alih waktu PMS, atau beberapa tipe yang ABG itu sebut pacar. Tentu saja lebih dari itu. Dan sesuatu hal sepenting itu dengan skenario sempurna, memang mutlak diluar kuasaku.

Aku memang belum bertemu "kamu", tapi berita baiknya, aku sudah terlebih bahagia tentang segala sesuatunya. Masih ada satu dua kalimat penutup hari yang berisi surat cinta syukurku kepada Tuhan atas satu harinya yang luar biasa. Aku menikmati masa muda dengan seharusnya. Aku tak terlatih untuk berkata hal - hal manis soal cinta kepada lawan jenis, tapi aku punya cukup banyak dari mereka yang setia sebagai saudara. Kasih sayang Tuhan sudah terlebih cukup dari kedua orang tua dan beberapa sahabat. Hal yang lagi lagi mengantarkanku pada suatu kesimpulan. 

Mungkin aku memang belum perlu kehadiran seorang "kamu".

Bukankah Tuhan memberi sesuatu yang memang benar - benar diperlukan? Iya, itu adalah satu yang kupercaya.

Mungkin memang belum waktunya. Mungkin dunia masih ingin menempa kita. Mungkin akan ada waktu dimana semua pintu sudah terbuka dan hanya satu yang tersisa. Mungkin bukan kamu kuncinya, tapi "kamu" sanggup jadi teman untuk menetap dan nyaman tanpa perlu berpindah ruang. Mungkin mungkin mungkin . . . masa depan memang tak pernah kehabisan soal kata "mungkin". Satu yang pasti, rencana Tuhan memang pasti yang terbaik. 

Dan aku akan terus mengirimkan satu - satunya doa tanpa nama di dalamnya. Entah sampai kemana, aku tak terlalu peduli, bukankah doa baik akan selalu didengar dan jadi pahala? :)
Setelah melalui badai, halilintar, panas terik, hujan, demo masak, demo BBM, demo minta naik gaji, dan segala teman - temannya, dengan penuh pertimbangan akhirnya gue memutuskan untuk berhenti melakukan treatment di BC tersebut. No, BC tersebut sama sekali nggak jelek. Hanya saja gue berfikir, mau se aman apapun obat itu, pasti sedikit banyak akan menimbulkan ketergantungan. Ya . . walaupun banyak yang bilang kalo BC ini tidak akan menimbulkan ketergantungan, tapi tetep aja gue nggak bisa terima, karena kulit gue termasuk sensitif dan orangnya mudah terpengaruh gitu, jadi sukanya ikut - ikut dan ketergantungan #halah #IniApa. Ngebayangin ini bikin ngeri, ngeri efeknya, dan juga ngeri duitnya, tetep ye mahasiswa :""). 

Gue sedih

Putus asa

Patah hati

walaupun Alhamdulillahnya nggak sampe bunuh diri.

Tapi segala problematika jerawat ini bikin gue GILAAAAA!!. Akhirnya gue mencoba nge search ke google. Pasti banyak yang keluar deh tips n tricknya. Yang paling sering gue temui, seinget gue adalah dengan pakai putih telur. Which is, as dorm society, i can't afford egg everyday just for my pimple, and moreover, what will i do with the yolks because i dont have any kitchen in here :"" *poor me*. Karena itu gue gak pakai metode itu. Lalu nyasarlah gue di The Largest Indonesia Forum. Disana ada yang bahas soal mengatasi jerwaat, dan lu tau apa?? Dia pake Minyak Zaitun. Iya, minyak zaitun yang biasa dibuat salad kalo di tipi tipi. Tapi bedanya, kalau untuk muka dia pake Extra Virgin Olive Oil (EVOO). EVOO itu diolesin tiap malam sebelum tidur ke muka yang bersih a.k.a udah dicuci atau disabunin dulu gitu lah Dan itu ngefek banget kata dia, tapi dengan beberapa syarat yaitu
  1. Harus sering - sering cuci muka pake sabun bayi atau sabun apapun yang pH nya netral
  2. Jangan makan ayam sama telor
Untuk yang pertama gue masih bisa afford, lah untuk yang kedua??? sebagai anak kostan (lagi - lagi) gue terkendala soal ini. Kenapa?? ya kalian pasti tau bahwa dua makanan itu adalah makanan yang paling mudah di jangkau sama anak kostan macam gue, nah susah lah hidup gue. Memang kalau dijalanin sesuai aturan itu ngefek banget, ciiyus. Tapi untuk gue, setelah gue mencoba metode tersebut, sekalinya gue makan telor atau ayam, maka jerawat pun akan segera muncul, jerawat yang merah dan besar. Walaupun memang nggak separah saat gue pakai obat dari BC dulu sih, yaaa tapi memang membutuhkan waktu yang lebih lama. Terlebih ketika gue pakai sabun bayi itu, kulit muka ini terasa keriiiiiiiing banget. Sampai rasanya sedikit perih dan sakit saking keringnya. Tapi begitu berminyak itu berminyaknya parah banget, terutama jadi gatel dan pada akhirnya menimbulkan jerawatan. Ah pokoknya nggak enak dah.

Gue kembali putus asa

Lalu timbullah pencerahan ketika gue berada di supermall. Aha! gue melihat sabun cuci muka khusus untuk jerawat, namanya ACN*S. At first, ketika menyentuh kulit emang lebih halus, dan setelah kering alhamdulillahnya apa yang gue rasakan ketika pakai sabun bayi nggak terjadi. Muka gue terasa bersih tapi tanpa ada rasa kering yang berlebih. Setelah gue kombinasikan dengan penggunaan olive oil itu pun hasilnya enak. Nggak terlalu kering, tapi juga nggak terlalu berminyak. And you know what is the best part? Gue masih bisa makan telor dan ayam, walaupun memang tetep aja nggak bisa semena mena, tapi at least, dampak terhadap timbulnya jerawat itu nggak terlalu besar. Memang timbul jerawat, tapi itu cuma jerawat kelas teri yang masih bisa di handle.

Dan perlahan tapi pasti, gue nggak lagi menghadapi masalah jerawat yang parah sampai matang yang letusannya setara gunung Merapi dengan lahar meng"iyuh"kan. Haaaaah . . apakah ini akhir dari perjalananku? :")

Dan sampai sekarang gue tekuni pakai itu setiap malam. RUTIN!. Itu emang kunci utamanya sih kalo kata gue. Rutin dan rajin. Rajin rajin cuci muka, dan rutin ngolesin minyak zaitun tiap malem. Sekarang mungkin udah sekitar setahun gue pakai metode ini. Muka gue udah jarang jerawatan. Paling cuma jerawat kelas teri yang muncul karena guenya mau dapet, kalap makan telor atau ayam, atau begadang dan stres. Yang notabene jerawat macam itu masih nggak mengerikan dan dibawah ambang batas toleransi. Kalian jangan mengharapkan metode ini akan kasih jalan pintas. BIG NO. karena memang metode ini butuh waktu yang lebih lama dibanding kalau kalian ke BC. Tapi hasilnya lebih alami dan pasti lebih sehat, serta HEMAT!. Sebotol sekitar 300 ml minyak zaitun harganya memang 60ribuan, tapi itu bisa sampai berbulan bulan pemakaian. Lah gue sebotol aja satu tahun kagak abis abis yak. Wah pokoknya bersahabat banget dah sama kocek mahasiswa.

Untuk masalah bekas dari jerawat, nah itu masalah lain. Metode ini tuh kayak cuma mengembalikan kesehatan kulit muka lu aja, seperti jerawat dan lain lain. Nah kalau bekasnya, itu kembali lagi ke kemampuan masing - masing kulit untuk beregenerasi. Gue yakin suatu saat pasti bekas itu akan ilang, tapi memang nggak sebentar, dan kita yang memang harus rajin untuk pakai terus dan jaga makan. SABAR, itu intinya. Ya memang, beautiful things always takes time, right? :").

Oh iya, hasilnya ya . . Hari ini dua temen gue bilang "Muka kamu sekarang bersihan ya Dit, pake apa?" waaaaaaaaaah itu rasanya gue melayang layang di udara. Akhirnya perjuangan gue nggak sia - sia. Oleh karena itu, kalian juga nggak boleh menyerah untuk melawan jerawat tersebut ya! Masih banyak jalan menuju kulit muka yang bersih, wajah yang cantik, indah, dan merona. Cemungudh!!

Assalamualaikum semuaaa!!!!

Okay, here we are, here we go. It has been a year (maybe) since i am in my worst condition, mentally, physically, I mean in here, with all that red cute silly pimple on my face. Yes, it is definitely ruin my life. Cerita soal jerawat dimulai ketika akhirnya gue bertemu dengan problematika khas remaja, yaps! lo lo lo benar semua, thats love . . yeah to be exact, brokenhearted. Emang nonton FTV itu nggak sia sia juga ternyata #LongLifeFTV #ForzaCowoCowoFTVGantengTapiKemayu *ini apa -___-"*. Daaaan nggak berheti sampai situ sodara - sodara, jangan kuciwah, badai ini masih berlanjut karena ke stresan gue masih berlanjut sampai tahap segala tes tes itu yang kebanyakan berujung sama permintaan maaf *Uwis biyasa* -___-". Pokoknya semua itu mengantarkan gue kepada salah satu permasalahan klasik remaja dengan hormon menggebu - gebu, apa????? Iyah! Iyah! Iyah! itu adalah jerawat laknat dengan segala dilemanya.

Pertamanya atas saran Nyokap gue, gue pergi ke salah satu klinik kecil yang cukup nge heitz di daerah Kotabumi. Wooooh rasanya masuk sittu gue langsung di suruh facial. Sebagai gadis - gadis ABG unyu, maka manut lah gue sama saran dokter tersebut kaaaan. Lalu setelah beberapa minggu pemakaian obat yang dikasih dari dokter itu, maka secara magic hilanglahh segala jerawat gue. Kemaslahatan hidup remaja gue terjamin. Eeeee tapi nggak ternyata, gue berasa ada yang salah sama muka gue, first, itu jadi lebih putih, iya sih, tapi cepet banget! dan anehnya . .  muka gue sekitaran pipi emang lebih mulus, tapi kalo gue raba - raba ke daerah pinggir, ada jerawat kecil - kecil yang muncul, dan setelah gue amati, kok kayaknya semakin gue pakai, jerawat yang dipinggir - pinggir itu makin banyak. Iya sih emang nggak keliatan, tapi dalam hati, gue merasa dibohongi, karena semua kecanttikan itu cuma FAKE doang #halah. Ya pokoknya gitu lah.

dan akhirnya, gue berhenti memakai segala macam perawatan dari si dokter ngeheitz itu.

Timbul masalah yang memang sudah diprediksi, jerawat gue makin banyaaaaaakk!!!!! itu pasti banget sih. Tapi sebagai keturunan kartini, gue menolak menyerah hanya kepada jerawat unyu merah merah di pipi. Gue gaspol terus, beralih dari satu klinik ke klinik lain dan akhirnya gue berhenti pada satu klinik yang sudah menkota (kata lain dari mendunia #halah), karena emang banyak cabangnya di kota kota Jawa. Beauty centre itu tergolong paling murah daripada beauty centre lainnya, prosesnya memang agak lama tapi justru itu yang paling aman. Lah tertarik lah gue, dan akhirnya bikin member di BC tersebut. 

Sekali dua kali gue jabanin. Treatment paling mahal sampai paling murah untuk jerawat udah gue jajal. Obatnya yang macem - macem dengan segala tetek bengeknya sudah gue pakai dengan penuh hikmat dan kesabaran seorang gadis Jawa. Tetapi hal ini berubah setelah akhirnya gue menjadi anak kosan. Even harga segitu termasuknya murah, tapi kocek ini tetap meringis kawan ketika harus memakai uang puluhan ribu untuk kecantikan. Istilahnya walaupun gue jelek tapi punya banyak uang untuk makan, gue masih hidup. Lah kalo cantik tapi nggak bisa makan, itu fail. Uang yang segitu seharusnya bisa buat gue makan ramesan 4 hari dengan sehari 2 kali makan. Tapi di sisi lain gue tidak bisa memungkiri jeritan hati sebagai seorang gadis yang ingin tampil cantik untuk menghargai diri sendiri gitu. Maka dilemalah gue . . . .
Assalamualaikum semuaaa!!! duh ini udara lagi panas banget karena gegap gempitanya SNMPTN undangan. Iya, SNMPTN, iya, yang gue ditolak itu -___-". Well, karena hiruk pikuk di timeline twitter dan beranda facebook isinya soal SNMPTN semua, gue jadi tertarik untuk membahas soal ini.

Pertama tama, gue mau mengucap duka dulu karena sebentar lagi jabatan sebagai MaBa sudah hilang dari masing - masing jidat angkatan 2013. Gue kehilangan special privilege sebagai Maba. Gue tak lagi bisa menjawab dengan "Namanya juga maba mbak" ketika gue melakukan suatu kebodohan di kampus. Gue nggak berharap juga sih untuk jadi Forever Maba, takut takutnya kalo kelamaan, akronim dari MaBa itu bisa berubah dari Mahasiswa Baru jadi Mahasiswa aBadi atau Mahasiswa Bangkotan *hiiy amit amit ya Allah*. Yah tapi intinya, gue berbahagia untuk kalian yang keterima, you all sure have a huge luck at your life, dan luck seperti itu harus disyukuri dengan menjalani kesempatan yang sekarang udah didepan mata sengan sebaik - baiknya. Itu cara menghormati takdir, dan menghormati mereka yang tertulis "Maaf" di web SNMPTN nya hari ini.

Nah, for them. I have a little story for you dear.

Jadi gini, gue juga dulu ditolak. Gue nggak nangis, sedih? dikit, tapi patah hatinya nggak separah ketika ditolak sama si ganteng SBMPTN. Karena memang gue sadar diri, itu diluar kuasa gue. So, i just let them fall in the right place and settled. Dan akhirnya gue ditolak -___-". I dont fall, but i losing my ground for a second, but it sure is just for a second. Yah, sedih boleh tapi jangan berlarut - larut, masih banyak tes tes yang menunggu. Satu kalimat yang selalu gue ingat dulu adalah "It is not the right time to fall", masih banyak perjuangan yang harus dijalani. Well, walaupun akhirnya gue ditolak semua except one (yep, akhirnya ada PTN yang memberikan gue tempat untuk berkembang, and it's my beloved Universitas Jenderal Soedirman), tapi akhirnya, gue settled. 

Why?! gue juga nggak terlalu yakin soal ini, tapi rasa rasanya apa yang gue jalani sekarang memang sudah yang terbaik. Makin kesini, everythings get better. Pertamanya memang nggak mudah untuk menerima bahwa akhirnya lu jadi salah satu korban mimpi. Tapi pada akhirnya semua akan impas. Sedih wajar sih, tapi setelah dipikir lagi, kalo aja gue nggak masuk unsoed mungkin . .

UKT gue nggak akan semurah ini (dibanding dengan pilihan awal, boooh beda jauh) . .

Gue nggak akan dapet kesempatan untuk apply beasiswa . . .

Gue nggak akan kenal sama orang orang gila yang senasib salah jurusan . . .

Gue nggak akan pernah belajar bahwa lisan itu penting untuk dijaga . .

Bahwa belajar tata krama pun nggak semudah apa yang abg abg itu pikir . . .

Gue nggak akan kenal debate . . .

Gue nggak akan dapet segala ilmu yang datang beberapa bulan ini . . .

Ilmu soal pertanian yang ternyata nggak boring boring amat . . .

Ilmu tentang hidup . . .

tentang apa yang ada di dalam sini . . .

and the most important things adalah . . . mungkin gue nggak akan bisa tau bahwa Allah memang punya rencana yang lebih besar daripada sekedar rencana sederhana manusia.

dan satu lagi yang hapir kelupaan. Kalo gue nggak diterima di unsoed mungkin gue nggak akan bisa sering pulang ke bapak sama mama minta perbaikan gizi dan tatih tayang :")


yah well . . everything happens for a reason, right?
Sekarang memang belum waktunya untuk jatuh atau pasrah, dan itu adalah sesuatu yang harus ditanamkan dalam pikiran sampe ngelotok. Tapi apapun hasilnya nanti, gue yakin, itu pasti yang terbaik untuk kita. Nah for that . . . .

 I WILL WAIT FOR YOU DEAR THE NEXT UNSOEDIAN!! :")
selama narsis itu nggak dosa~

Beberapa orang selalu berbicara soal ketidak adilan, keseimbangan, dan lain sebagainya. Tapi tak pernah ada yang meceritakan apa yang terjadi setelah impas, dan aku, akan bercerita soal itu. Kenyataan yang pahit tapi getirnya tak lagi membunuh nadi. 

Kita sudah melewati waktu ketika kamu berbicara "Kamu kemana aja dulu saat aku lagi butuh butuhnya?", dan sunyi adalah segala yang aku punya. Beberapa derai air yang turun tak mengubah kesalahan yang akhirnya kutelan bulat bulat. Iya, aku memang tak pernah ada.

Kita pun telah melewati waktu ketika aku bicara "Kamu kemana aja ketika aku masih ada disana, menunggu sesuatu yang akhirnya . . kamu tau" dan sunyi yang familiar adalah salah satu yang membunuhmu secara perlahan. Tak ada derai kala itu, aku bahkan tak dapat melihat raut wajahmu karena suramnya kau bungkus dengan kedua telapak tangan, mengamati daratan, seolah daratan akan mengubah apa yang telah kau lakukan. Iya, kamu memang tak pernah kembali secara nyata.

Kita berdua telah melewati apa yang manusia itu sebut impas. Maka cerita ini harusnya kuakhirkan saja, karena itu yang biasa terjadi di soap opera bukan? cerita kita akan terdengar menarik, orang orang akan tertarik bahkan hanya untuk sekedar mencuri dengar, dan mereka tak perlu repot repot merasakan sakitnya. Tapi hei! ternyata ini masih berlanjut. Tak lagi seperti roman picisan atau novel cinta remaja. 

Kau yakin benar ingin tau apa yang terjadi setelah impas?

Kondisi dimana yang ada hanyalah kita dengan masing masing hati yang kosong. Aku tak ingin pusing memikirkan siapa pengisi masing masing hati itu, aku tak perduli, dan aku tak mau tau. Bukan aku tak mau tau karena ketakutan soal patah hati, tapi karena memang tak ada hati yang harus kembali dipatahkan. Karena ya, aku memang tak lagi menaruh peduli. Kufikir, kau pun tak ubah bedanya. Aku tau kau seperti aku mengenal gurat gurat pada telapak tanganku sendiri. Aku tau, bahwa kau pun, tak lagi menaruh peduli.

Nah, itu bukan hal yang penting.

Yang ada saat ini hanyalah kita dengan kekosongan hati masing masing. Kita ada ketika jenuh mulai masuk dan merusak. Kita ada ketika sepi akhirnya membuka segala memori. Bahwa kita masih punya masing - masing. Bukan sebagai teman, teman dekat, atau teman sangat sangat dekat. Uncharted? mungkin. Yang penting kau tau, kita bebas memanfaatkan masing masing ketika akhirnya kita tak lagi punya tempat untuk bercerita soal beberapa hari lusuh mahasiswa. Kau tau, aku tau, kita baik baik saja, bahkan ketika kau sudah menemukan buku baru untuk dibaca, atau aku yang terlalu asik menulis suatu awal cerita.
Kamu tau apa itu takdir?

Takdir ketika segala usaha yang terpikirkan oleh otak manusia sudah dikerahkan tapi hasilnya bukan anggukan semesta terhadap keinginan.

Takdir ketika semua waktu yang dihabisi oleh segala doa berbuah menjadi sesuatu yang kamu tangisi.

Takdir ketika segala setia hanya jadi abu pada aksi aksi "Pembunuh jenuh" beberapa orang.

Takdir ketika segala yang kamu pikir negatif, ternyata menyimpan sesuatu yang lebih besar dari mimpimu yang hanya sejangkauan bintang.

Takdir tak selamanya tak sesuai keinginan, tak selamanya pula menyenangkan hati beberapa orang, tapi tahukah kamu? Dia selalu punya takdir yang paling tepat dari segala rencana sok tau manusia.

I wish this little girl inside of me can learn something.
Assalamualaikum semuaaaa!!! huah gue menulis lagi sore ini.

Tulisan dibawah judul blog ini, juga blog ini membuat gue berfikir, how time flies so fast yet how i less changed than the others. Tulisan itu adalah "Addicted to sweetness and morning scent". Itu dulu saat gue punya adiksi terhadap makanan yang manis dan bau embun pagi. Dulu gue selalu berangkat ketika matahari masih ngintip ngintip unyu, ketika dinginnya nusuk atau udara belum penuh karbon dioksida, dan satu satunya manusia di jalanan kota sibuk cuma lu, itu menenangkan. Tapi sayangnya itu jarang terjadi karena kebanyakan pagi gue adalah pagi yang buru buru karena kesiangan, apalagi setelah udah ada motor, kebiasaan ngaret gue makin didukung keadaan -___-". 

Sekarang gue udah nggak pernah ngerasain sensasi kayak gitu, pernah tapi sangat jarang. Karena sekarang hampir setiap hari gue ngerasain bau embun pagi walaupun berangkat jam 7. Gue udah jarang atau nggak pernah ngerasain macet, bahkan mungkin kulit gue udah alergi sama panas panas polusi dikit *songong*, iya, setelah pindah, apa yang menurut gue spesial mungkin mulai turun kasta. Bukan karena keindahannya berkurang, tapi gue yang berubah dalam melihat keindahan tersebut karena merasa hal itu jadi suatu hal yang biasa. Kadang gue kangen sama rusuhnya jalanan saat jam jam pulang kerja dan fakta bahwa di balik kerusuhan itu, gue pernah jadi pemilik jalanan itu walaupun sebentar, di pagi pagi buta.

Sama halnya dengan makanan manis. Gue ingat pernah mengubah bio twitter dengan kata yang hampir mirip dengan sub title blog ini, yaitu "Sweet toothers", i am carving for sweetness all the time, saat itu lagi jaman jamannya gue demen banget makan Good Time seribuan yang dimakannya cimit cimit karena isinya cuma tiga. Itu jadi makanan wajib istirahat kedua ketika kotak bekel gue udah bersih. Ngemil sambil ngobrol di kantin atau di musholla selepas sholat dzuhur. Tapi sekarang beda, gue mulai mengurangi makanan yang manis manis untuk menjaga kemanisan hidup gue #halah. Iya, setelah gue tau kalau penyakit diabetes itu emang nggak bisa diajak main main. Ngeremehin di masa muda akan membuat masa tua lu menderita, bergantung sama suntikan insulin setiap hari, and you know what is worse? Diabetes will lead you to another phase of life with all that medicine, treatment, and another serious illnesses that awaits. Makanya diabetes itu disebut Silent Killer. Serem ya, makanya gue tak lagi bangga dan nggak mau lagi jadi sweet toothers. Kalo di bio emang keliatan kiyut sih tapi setelah dipikir - pikir, it is not cute at all -___-". 

Thats why, times change, people change and maybe i do change. Tapi dibalik perubahan itu gue masih suka mikir bahwa didalam sini kayaknya gue nggak berubah sedikit pun, gue mungkin masih Dita yang sama yang lu temui ketika pake seragam SMP dan dibully, atau gue dengan seragam putih abu abu yang suka nongkrong di sekolah sampe sepi cuma buat nyanyi nyanyi sama yang lain. Mungkin gue masih orang yang sama dengan beberapa tahun lalu. Atau memang gue yang nggak bisa melihat bahwa perubahan itu ada. Is there someone minds to tell me that i am changing?. 

But, Its not really important though while i still can live my life the way that i want.
Assalamualaikum semuaaaa!!! huah oke, perasaan lagi kacau balau, entah kenapa. Seperti yang udah gue bilang sebelumnya, entah kenapa kehidupan di kuliah terasa lebih berat dan membuat gue seketika pengen banget balik ke SMA lagi, entah kenapa. Gue fikir kehidupan kuliah akan enak enak dan gampang aja, kayak FTV di salah satu stasiun TV itu yang menggambarkan seolah olah kehidupan abg menjelang dewasa masih seputar cinta, which is wrong. 

Akhir - akhir ini banyak sekali yang terjadi dan gue bingung yang mana yang harus diceritakan terlebih dahulu. But for this, i wont tell you the details :p. Gue hanya akan cerita apa yang gue rasakan, karena itu kan manfaat dari gue menulis di blog, such an egoistic logic -___-". I will start my story by give you all a simple question yet intriguing, have you ever been falling from the highest place? no no, not literally as you imagine, its just the status, position, condition or whatever that relate to that noun. Have you ever been that way? Now, i do feel it. Dan ini membuat gue sadar bahwa memang, ada beberapa saat dimana kita harus menghadapi musuh terbesar dalam hidup, apa? kita sendiri. 

Gue dihadapkan bahwa ternyata gue punya kekurangan yang selama ini bahkan nggak gue sadar. Iya, i know, how arrogant i am. Tuhan pasti ketawa ngeliatnya, look at that creature, act like all so high yet, she is just a little shit piece of My Masterpiece. Gue merasa diri gue sudah cukup baik, gue nggak menyepelekan studi, pertemanan oke oke aja, kehidupan gue keseluruhan lancar, walaupun sesekali gue jatuh tapi itu bukan sesuatu yang membuat bagian penting dari diri gue rusak. Kenyataannya, gue salah.

Bukan juga gue nggak pernah melakukan introspeksi, sesekali gue bertanya pada beberapa teman, "sebenernya apa sih kekurangan gue?" dan jawaban mereka selalu sama aja "nggak ada, lu kayaknya biasa aja deh" dan itu nggak menjawab pertanyaan apapun. Nyesel sih, tapi karena itu juga gue jadi males untuk introspeksi diri sendiri karena merasa nggak ada yang salah sama diri ini, which is a big fault of me. Gue rasa selama ini cuma dua orang yang berani berkata bahwa gue punya kekurangan, bukannya sedih tapi timbal baliknya adalah gue berterimakasih sama mereka karena telah menunjukkan sesuatu yang selama ini nggak gue lihat. The first is my Lovely Mother, how i love her so much, she tells me what my habit, good bad and another things yet she is still love me as the way i am, whether i fail or success, my parents will always be at my side and standing proud (ah how i miss them so much). Dan yang kedua adalah temen gue, dia berani berkata bahwa gue nggak punya prinsip, pertamanya sakit tapi setelah dipikir - pikir dia ada benarnya, dan gue nggak jadi sakit hati karena ternyata itu jawaban yang selama ini gue cari hahaha -__-".

Itu dulu. Sekarang karena keadaan akhirnya gue dihadapkan bahwa gue punya musuh lain yang harus dikalahkan #halah. Beneran deh, bukannya apa - apa, untuk nerima bahwa kita punya suatu kekurangan, bahkan dari diri kita sendiri, itu bukan sesuatu yang mudah a.k.a culidh, oke maksud gue sulit (abaikan gadis alay barusan). Gimana sih rasanya lu nggak suka sama "sesuatu" tapi ternyata "sesuatu" itu ada dalam diri lu. Seandainya kekurangan itu kayak tempelan kulkas sih gampang, gue nggak suka, tinggal gue copot, masalahnya ini nggak sesederhana tempelan kulkas buah - buahan :". 

Gimana mau "solved" kalo buat "deal" aja susah. setuju? gue setuju banget.

Gimana mau toleran sama orang lain kalau diri ini aja nggak dimaafin. Setuju? gue setuju banget banget dah ah pokoknya mah.

Kelebihan itu nggak bisa dibanggain kalau kekurangan selamanya cuma ditutupin. Coward? yes it is.

Tapi sekali lagiii, buat deal itu nggak gampang. Tapi bukan berarti nggak bisa diatasin. Iya kan?. Masalahnya gimana caranya? itu kan pertanyaan besar dari segala uraian diatas. GIMANA CARANYA? ? ? ?

Menurut gue itu tergantung dari setiap orang menghadapi apa yang dipermasalahin. It depends on how you forgive yourself, i cant suggest any ways to be your choice but what i know the most is, you cant run. Run looks tempting every time the storm comes. Literally, it is a good idea if it was a real storm (i dont wnat you to become the flying cow though XD), tapi ini lebih bahaya dari itu, storm yang orang lain nggak bisa liat dan cuma kita yang bisa ngerasain, lebih bahaya mungkin, karena ngerusaknya dari dalem sini, iya, disini *ini apa -__-"*. Gue nggak bisa suggest apapun karena memang gue sendiri pun belum bisa memaafkan diri ini secara sempurna, gue juga bukan psikolog atau mario tegar yang bisa ngebantu orang lain untuk bangkit dari keterpurukan dan membuat diri lo tiba tiba shine bright like a diamond. Nggak gitu.

Apa yang mau gue sampaikan adalah gue jadi teringat ketika ngobrol dengan seorang teman, masih bahasan yang sama tapi beda masalah. And i comes up with the fact that, kesalahan ada untuk mengingatkan bahwa kita manusia, dan kekurangan ada untuk mengingatkan bahwa kita nggak setinggi itu untuk menyombongkan diri di depan orang lain terlebih semesta. Masih akan ada yang lebih tinggi dari kita, dan bahkan lebih banyak dari apa yang kita pikirkan. Ini seperti semacam sistem dari Tuhan untuk mencegah kita dari kesombongan. Nah! gue baru inget, waktu itu gue pernah berdoa untuk dijauhkan dari segala perasaan sombong karena pernah berada diatas. Gue takut. And after that i have this all terrific circumstances. Kondisi dimana gue merasa sudah berbuat lebih untuk memperbaiki tapi nggak ada hasilnya. Mungkin ini jawabannya. And the last is finally i take that in positive ways, that My Lord hear me (He always do, right? :")), ini sistematika Dia untuk menjauhkan diri gue dari perasaan sombong. Bahwa mungkin selama ini gue terlalu arogan sebagai manusia kecil yang nggak tau apa - apa tapi berasa punya segalanya. And someone have to slap me in the face, and He eventually do. He loves me, how grateful I am.

Mungkin kita harus selalu merendahkan hati atau Allah yang akan merendahkannya dengan caraNya tersendiri. Tapi kayaknya sebagai manusia yang ada khilafnya, gue rasa untuk selalu ingat kondisi tersebut apalagi kalo lagi "Glory Glorynya" its nearly impossible, tapi ya apa salahnya belajar untuk selalu ingat bahwa kita ini hanya manusia kecil, mungkin suatu hari, impossible itu bisa jadi possible. Gue juga nggak bisa jamin bahwa nanti ketika kita sudah rendah hati kita akan terhindar dari kegagalan atau semacamnya, tapi gue yakin, Allah akan selalu punya alasan yang tepat dari apa yang terjadi. Agree? I definitely agree. 
Assalamualaikuum!!! there are a loot of things that happen lately, bad good beautiful hectic chaos calm terrific and all of that things just comes up to me and makes my mood rides roller coaster. I don't know whether its because of this akshdiasnxi hormones or its just my scattered mind that face the worst moment of it. Do you ever feel that way? when one day you felt like you are the star of the world, everything looks so shining, flower blooms, everyone greets you along the way you walk and the next day just because one failure, your world turns upside down, everything suddenly turn to pitch black, what you did just another moment of failure again and again, and it just can be shut up when you turn your light off and sleep (and in the other times it doesnt help at all). Sometimes it makes me afraid of get a day full of happiness because i know (likely) that the next day everything will just slip out off my hand easily and my mind shuts every chance of success. 

Do you ever feel that way? the unstable commotion.

Then i realize that maybe its the time for me to make up my mind, self, personality and grown up. When something that bothered me so much is not about that love things again, at least i know, love doesn't bothered me anyway. I have another important things that have to be taken care of. Isn't it relieving? but yeah, another big things comes to misplace that things in my mind. Big things bothered but it comes for something that makes us better. And what makes this commotion more worst? i found that there's this Bipolar disorder that look a like with what i felt right know.

It starts from my curiosity about this Bipolar Disorder because one of my relation is the victim of this disease. I dont know her so much but just seeing this word on her bio on twitter makes me curious and search it on google. I have heard about this disease from my mom's novel (which i am not allowed to read it because i still 14 that day), so i googled it. And i found this disease is such complex psychology disorder. I wont explain it on here because it will be too long and moreover i just know the surface area of it, not that deep so it can't be guaranteed whether my statement is true or false, hey! i am just a little girl who googled everything -___-".

And maybe because i was too curious, it stucks on my mind and start to relate it with my mental habit everyday, which is wrong. Someday i was so afraid that maybe I'm the one of someone who have Bipolar Disorder because sometimes i am having this rollercoaster mood. It's silly right? because in fact, someone have to go through many steps of examination until they can say that you have Bipolar Disorder, and in here, i just search on google and easily relate this disorder to my habit which is actually its very normal for people to get this rollercoaster mood -___-" silly. Because of that i stop my small research in google and get back to my life.

I think that maybe i am not someone who suffer from this Bipolar Disorder but maybe i am just not mentally prepared for everything that happen because ya, i never go through this before. I cant work under pressure, deadline and all of their terrific friends, and now i have to face it. Ever feel that you already done the best but someone messed it up, and i learn that my mom said about this world is definitely true. don't easily trust someone even they look so nice in front of you. i thought that "in front of you" word have to be underlined because its very important, everyone looks so nice, right? but we never knew what actually they are thinking about us. And i dont used to think that way because i thought everyone is nice as long as they look nice for me -__-" how naive.

And when i get that disappointment, i am not well prepared to face it and have to take a while. Is it the part of growing up? maintain your angry, selfishness, sad so it wont ruin your daily activity or harm your mental -__-" i am not so sure. But what i'm sure of is, ya, sometimes people have to change to face that this world is actually not as kind as a fairy tale. It push you, hurt you, put you in the deepest ground or more worst, somewhere that you never knew and never been there. and guess what? theres no other way than face it. You can run as fast as you can, but you cant always run when everything starts getting harder. But yeah, saying is always more easy than doing, so that your words depends on an action when choice to "run" looks so tempting yet relieving.
ini untuk kamu, yang aku tak tau
taukah kau? akhir akhir ini hidup terasa melelahkan dan lebih berat dari biasanya
bukan salahku ketika hati ini akhirnya gamang lagi soal hidup
bukan pula salah waktu yang masih saja belum dapat menyembuhkan beberapa luka
bukan pula salahmu karena nyatanya kau tak kunjung datang, kau tau, aku selalu sabar dalam doa
menyebut lirih nama yang belum bisa kueja
membayangkan wajah yang garisnya saja tak pernah tergambar jelas
mungkin kita pernah bertemu, ketika masih sama sama jiwa bebas yang akhirnya terjebak dalam tubuh manusia, terjebak dalam segala kerumitan dunia
tapi aku tau, kita pernah bersama suatu hari, diluar umurku yang entah berhenti dimana

akankah kita bertemu lagi disini? sanggupkah kau datang cepat? sebelum aku jadi serpihan, sebelum aku kembali jadi jiwa jiwa bebas.

ah tidak tidak. nikmati dulu waktumu membangun diri. 
jadi lelaki yang lebih baik suatu hari
jadi manusia yang bisa berjalan bersama dalam duka
jadi manusia yang akhirnya membuatku berhenti berlari mengejar segala dunia
aku selalu setia menunggu sampai kau membaca tulisan kacau ini. 

untuk rahasia semesta
kita pernah bercerita tentang segala kehidupan sederhana
ketika kau pergi bekerja dan aku mengurus bunga
saat yang ada hanya kita dan kehidupan yang seadanya tapi . . bahagia

sekarang itu mungkin hanya sekedar cerita
kebanyakan hanya tau ringkasnya, kamu aku bersama lalu dipisahkan segala problema yang tadinya hanya hal hal kecil, perlahan lahan sampai ia jadi besar
bercerita soal segala apa yang kau lakukan, dan apa yang aku katakan
membuat pertengkaran yang tadinya soal kita, menjadi soal mereka
kami berada di pihakku, mereka tentu saja membelamu

merasakah kau ini seperti roman barat dulu? sayangnya kau dan aku membuat capulet dan montage kita sendiri
kami tak pernah setuju akan keseriusanmu, dan mereka tak pernah setuju akan segala kericuhanku.
lalu kita semakin jauh
jarak yang tadinya hanya angan, sekarang terjadi nyata
kau dan aku tak lagi kita
setelah terlambat kita baru sadar, ini cerita perang yang pengarangnya adalah kita

aku teringat soal cerita kita yang sederhana
seandainya kehidupan kita saat ini sesederhana itu
seandainya segala realita tentang segala ketidak cocokan tak datang 
seandainya ia tak ada
kita pasti telah hidup di kehidupan sederhana yang kita miliki seutuhnya
tanpa keributan soal manusia
tanpa perlu pusing soal segala kata mereka
mengucap selamat pagi dibawah terik pagi, mengecap senja dengan secangkir teh di beranda




may i wish you another sweet dreams dear firefly. its nothing to do with you by the way :)
a beatiful flower always takes time, what we have to do is give them longer than the casual. i hope i can be patience enough.
aku lelah menjadi sesuatu yang tak kau perjuangkan
aku lelah menjadi bintang yang selalu kalah indah dengan bulan
aku lelah dilepaskan terlalu mudah
aku lelah ada di sana dan diam 
aku lelah
aku 
aku pergi
aku pergi sampai kau sadar aku ada
aku pergi sampai kau mengerti segala arti
aku pergi sampai kau tau bahwa bagimu, aku seberharga itu
bahwa walau bintang hanya kaca, ia merefleksikan bulan dengan indah yang berbeda
dengan sesuatu yang kau anggap . .  menyenangkan

lalu kau sendiri dan kehilangan dibawah temaram bulan


in the midst of silence
This is that suck time when i freaking miss my family, home, friends, my old life that seems to be simpler and easier to do. Can i go back? just for take a dinner with my girls or wake up with my mom sounds in the kitchen makes us some breakfast. 


No, i can not. 


Life will always goes on, no matter how hard you beg to death.

Beberapa hari lalu almamater gue berduka, salah satu pejuang pendidikan akhirnya menyerah kepada penyakit yang dideritanya sekitar dua tahun ini. Beliau memang hanya seorang guru sejarah SMA tapi meninggalnya beliau mendapatkan feedback yang massif dari anak anak. Beberapa orang menjudge kita lebay, maksudnya, manusia toh semuanya akan meninggal, cuma beda tempatnya, beda waktunya. Dan seorang guru yang umurnya sudah nggak sedikit, bukannya hal biasa bahwa umur memang dapat mengalahkan segala usaha tarikan nafas?. Dan kenapa meninggalnya beliau jadi sesuatu hal yang besar di life circle gue?. I will tell you from my own perspective.

Gue dua kali diajar beliau, pelajaran sejarah yang kata orang IPS banget, entah kenapa bisa jadi berasa IPA banget. Dua kali diajar, dan dua kali gue menerima sistem pengajaran yang berbeda. Gue masih inget kesan pertama ketika beliau masuk adalah "gue nggak bisa main main". Bukan karena appearancenya, tapi karena pembawaannya dia yang memang beda. Ketika dia masuk, kelas nggak pernah setertib itu, nggak akan ada manusia licik yang berani nyontek ketika ulangan sejarah, padahal soalnya bisa muter - muter keliling Indonesia. Ketika sama beliau, modal hafalan aja akan mengantarkan lu ke lingkaran remedial yang bertubi - tubi :""". Itu yang bikin frustasi, tapi anehnya ditahun kedua, dia lebih welcome dan friendly sama kita tapi tanpa meninggalkan wibawanya dia.

Beliau adalah satu dari sebagian kecil guru yang masih menjunjung tinggi esensi pendidikan. Yang penting adalah apakah materi tersampaikan, bukan soal lulus tidaknya anak dalam suatu tes. Segala yang disampaikan berdasarkan jalur jalur keilmuan. Saat ini sosok guru yang kayak gitu semakin minim. Bukan menjudge beberapa pihak, tapi kebanyakan, kaum guru sudah lupa esensi dari pendidikan karena terdesak sistem. Again, kalau dipikir - pikir memang bukan salah gurunya juga sih, sistem yang membuat mereka harus menghasilkan anak - anak yang entah bagaimana caranya harus lulus tes pemerintah. Menciptakan mainset bahwa kegagalan adalah sesuatu yang salah, padahal, gagal itu bagian dari pembelajaran. Logika ini pun sedikit banyak gue dapat dari sosok beliau. Kalau sampai kiamat anak anak itu belum faham apa yang diajarkan, maka sampai saat itulah beliau akan terus menjalankan sistem yang menurut beliau benar.

Lalu gue berani bertaruh bahwa kebanyakan kalian pasti menganggap bahwa "ngantuk" adalah bagian dari pelajaran sejarah. Coba dipikir aja, berkutat dengan sesuatu yang sudah lampau, seolah - olah kita gagal move on banget gitu ya, terjebak nostalgia, eaaaa. Apalagi kalau penyampaian gurunya kayak nyanyiin Lullaby, duh, udeh, bobo ciang udah pilihan yang paling pas. Tapi hal kayak gini nggak akan terjadi di pelajaran beliau. Gue pribadi baru sekali nemu seorang guru yang minta untuk disediakan pertanyaan. Iya, jadi sebelum kita masuk, kita harus membaca bahan apa yang akan dibahas dan harus menyediakan paling tidak dua pertanyaan. Lumayan nambah poin di nilai gue yang doremi :"". Bukan apa apa, tapi maksudnya adalah kita harus berfikir kritis dalam menerima apapun. Sistem ini juga menstimulasi anak untuk berfikir lebih luas dari apa yang ada di buku paket. Lalu yang gue baru sadar adalah bahwa bertanya itu tanda mengerti. Mengerti dan faham apa materi yang disampaikan. Manusia yang nggak mengerti kebanyakan hanya akan diam dan nelen - nelen aja, bukan karena mereka dewa, tapi karena otak kita nggak mengolah apapun. Gue sering seperti itu -__-". Nggak ngerti? telen aja dulu. Imbasnya ketika akan ada ujian, gue harus berusaha lebih keras untuk mencari jawaban dari pertanyaan gue sendiri :""

Dari beliau pun gue belajar untuk melihat dari dua sisi. Apa yang dikatakan mayoritas belum tentu benar dan valid. Dari beliau pun gue tau kalau konspirasi itu ada dan nyata. Semuanya terjadi karena alasan dan kepentingan masih masing orang. Duh . . sebenarnya, sekolah di Indonesia butuh guru - guru seperti ini, biar anak Indonesia nggak melulu mudah termakan berita nggak benar dan terjebak euforia easy judging masyarakat. Berita sedikit dikomentarin, masyarakat bilang salah, kita langsung rame rame teriak salah. Benar dan salah soal belakangan, yang penting? rame aja dulu.

Beliau menekankan bahwa analisis adalah penting, dan mengenalkan gue pribadi bahwa ada metode belajar yang namanya analisis, bagaimana otak lu berifkir kritis dan mengolah segala informasi bukan hanya sekedar copas dari buku atau internet. Beliau pun mengajarkan bahwa ada beberapa ilmu yang hanya perlu diketahui tapi tidak dipercayai, beliau mengajarkan bahwa jangan kehilangan keimanan dan diri sendiri ditengah pencarian ilmu, karena selalu ada sesuatu yang lebih tinggi dari sekedar teori teori manusia. Pelajaran sejarah yang sedikit banyak punya esensi kehidupan. Gue masih inget ilmu terakhir yang gue dapat dari Beliau. Saat itu sedang di penghujung masa masa SMA, dan kita, somehow, tau kalau setelah ini mungkin kita nggak akan punya kesempatan untuk mendapatkan sedikit ilmunya dia yang paling menarik (menurut gue), lalu di koridor sekolah, saat itu beliau baru pulih dari kritis pertamanya, kita secara agak memaksa, meminta beliau untuk menceritakan tentang Konspirasi WTC, peristiwa 9/11, lalu kita duduk melingkar dan mendengarkan ceritanya dengan hikmat. That was the closing for my one and maybe the only experience learning history without any burden.

and now i realize that, She taught us history, now, she is history for all of us.
I don't know whether i start to like it or not, but what i do know now is, debate teach you how to see both side of something. True or false is just a matter of what perspective we are seeing. True or false maybe . . just something that human made to legitimate their act, to judge the other as free as they want. What's that have a right definition of it just . . Yeah, you know that, if you have One.
True friends wont gossip about you, not because they have to, but they just knew, it wasn't true 
Aku adalah seorang pelupa sempurna. Tepat ketika kau tak lagi peduli dan menaruh perhatian pada hal hal kecil, itu membuat sakit ini semakin parah. Sakit yang kau sebut "lupa". Melupakan dan dilupakan, bukankah kita selalu berputar pada lingkaran yang sama? satu yang tak berujung. Gawatnya, aku mulai menikmati jadi tokoh penting di dalamnya, si pelupa. Aku lupa kamu, sosokmu, mimpimu, ya aku lupa segala tentangmu. Aku lupa kesukaanmu dan aku lupa hal yang kau benci. Ah maaf, sepertinya untuk hal yang terakhir aku masih ingat, aku pelupa kecuali pada hal yang kau benci. Lucu bukan? mungkin karena aku dan sesuatu-yang-kau-benci berada pada pihak yang sama. Ya, mungkin saja aku memang kau benci, benci setengah hati (yang setengah bagian lainnya kau tentukan sendiri) atau benci setengah mati (sampai rasanya hidupmu habis untuk terus mengiangkan mantra untuk membenciku)? yah, aku tak tahu jawabannya, tapi kurasa keduanya sama sama tak ada yang aku inginkan, tapi itulah yang terjadi.

Yah aku berharap kau pun jadi pelupa suatu hari, agar kau pun lupa bahwa kau membenci ku dan jika mujur mungkin aku bisa mendapat senyum di ujung pertemuan tak terduga kita, yang entah kapan.

Mudah mudahan pada saat itu pun aku bisa sembuh dari sakit lupa ini. Tolong kembalilah cepat, aku menunggu kelupaanmu. Karena seperti saat pertama tulisan ini ditulis, aku pelupa sempurna. Aku akan lupa jika tak kau ingatkan, karena ketika maafku berujung sia sia, kealfaanmu adalah sesuatu yang akhirnya aku menari diatasnya. Jadi, jangan sok jual mahal.

Dari gadis yang seenaknya sendiri
muahahahha


 
If it does still hurts inside, it is simply because you havent let something go and pass. "Ikhlas" is not an easy word to do, agree?. And saying it without any meanings deep inside is a vain.
jatuh itu memang harus dimaknakan sebagai momen untuk menurunkan sudut dagu, agar tak terlalu tinggi, agar manusia lain tak terlihat lebih kecil dari kita. masalahnya adalah, sanggupkah bertahan walau sudah tau makna dari semua? atau sesungguhnya justru kita memang tak tau makna apapun? 
"Teman - temanku tumbuh menjadi orang hebat, nggak ada kata iri, ini SIGN! aku bisa jadi mereka, tak kalah hebat! Karena orang - orang hebat selalu tumbuh dengan mereka yang juga hebat."
Kalau berbicara soal mimpi emang nggak akan ada habisnya menurut gue, termasuk mimpi mimpi konyol satu ini. Beranjak dari salah satu thread di The Largest Indonesian Forum, yang kalian bisa liat disini, membuat gue berfikir bahwa sebenarnya jadi realis nggak asik asik amat. 

Postingan sebelumnya di blog ini ada karna gue yang ingin menjadi seorang realis, karna banyak alasan, salah satunya adalah karna gue tahu kalau dunia nggak selamanya ada dan mengaminkan segala keinginan. Setelahnya? menjadi realis gue temukan membosankan. Gue terlupa bahwa dulu pun gue pernah berkata kalau semuanya yang ada dihidup ini adalah pilihan.


Pilihan kita untuk bahagia, pilihan kita untuk sedih, atau pilihan kita untuk tetap bermimpi, terutama menaruh harapan pada beberapa hal yang terasa penting. Tapi karena hal yang menurut gue nggak berjalan sesuai dengan yang seharusnya, menurut gue itu parah yang which is lebay, karena kenyataannya, masalah anak umur 19 tahun bisa lebih parah dari itu, akhirnya gue terhasut dengan kata kata realis nggak pernah kandas. Jalanin aja apa yang ada, yaelah, gak usah muluk muluk amat napa. Sounds great? no. Gimana mereka mau jatuh kalau terbang seinci pun nggak. 

Benar salah memang soal persepsi, tapi menurut gue tetep, hidup itu pilihan. 

Kalau kalian udah baca thread di atas, sukur, kalau belum, ya pokoknya baca dulu aja deh -___-" *batakomelayang*

Thread itu tentang seorang tokoh yang menurut gue emejing abis. Dia seorang dokter yang bernama dr. Lie.

taken from health.detik.com

Dokter banyak, pun yang punya cita cita jadi dokter, lebih banyak lagi, tapi dokter yang kayak beliau? coba pikir pikir lagi. Makanya gue bilang juga apaaaa, baca dulu threadnya woy! *ganyante* *adeganpemaksaan* *kdrtdiblog* *piringterbang* *wajanmelayang* *adaw*, oke skip. Jadi beliau seorang dokter yang bahkan diterima di FK universitas negeri pun tidak, padahal pinter, dan kayaknya sih ganteng dulu pas muda #apasih #ditakhilaf. Dia juga nggak kaya kaya amat, katanya. Tapi dia punya mimpi yang setinggi langit, dan akhirnya dia mencoba di universitas swasta dan bersekolah disana. Lancar? eiit jangan sedih, univ tempatnya belajar dibakar massa bray!. Cita - citanya kandas dua kali. Kira kira, kalau kalian ada di posisi itu, kalian udah jadi apa?. Kalo gue, mungkin hanya teronggok di pojok kamar dengan tatapan kosong seraya berkata "mama  . . . . minta pulsa" #ehsalah, itu hanya situasi yang dilebay lebaykan.

ETAPI, beliau nggak gitu bray. Dia usaha lagi, dan akhirnya dengan modal nekat berangkat ke Berlin Utara, belajar kedokteran tanpa beasiswa :"). Yaa walaupun katanya biaya kuliah di Jerman emang tergolong murah, tapi tetep aja, it needs a serious guts to study in the so faar away country without any relations and different culture. Gue kuliah cuma jarak 6 jam dari rumah aja bawaannya pengen pulang mulu. Lalu dimulai lah perjalanan beliau menuju dunia kedokteran sampai akhirnya dia menjadi seorang dokter dengan 4 speasialisasi, dan semuanya bukan bedah yang ecek ecek, ahli bedah jantung, bedah pembuluh darah, speasialis bedah torax dan satu lagi gue lupa -___-". Selama kuliah pun nggak gampang gampang aja bray hidupnya, karna tanpa beasiswa beliau harus kerja dengan . .  kuliah . .  kedokteran. Ini membuat gue berfikir, sudah melakukan apa gue ketika seumur beliau?, cuma ngeblog and bla and bla and bla, gue berasa loser sekali *nangisgulingguling*.

Hidupnya menju impian emang we o we sekali, tapi bukan karna itu beliau diberi kehormatan, malah sampai dapet Kick Andy Heroes 2014, He done something bigger than that. Yep, setelah hidupnya mapan dan 20 tahun mengabdikan diri menjadi seorang humanis di kedokteran, karena suatu peristiwa akhirnya dia mendirikan Rumah Sakit Apung Swasta Dr. Lie Dharmawan.

taken from forum.kompas.com

Beliau mengadopsi sistem jemput bola untuk masyarakat di kepulauan yang minim layanan kesehatan. Harapannya ya agar layanan kesehatan menjadi merata bahkan di wilayah terpencil sekalipun. Biaya pembangunannya pun mencapai 3 milyar! dan hasilnya bukan untuk dikomersilkan atau biar balik modal, tapi tulus ikhlas untu rakyat Indonesia *big applause*. Berkat rumah sakit apung itu mungkin sudah ratusan orang yang bisa hidup lebih panjang. Satu quote yang gue suka ketika beliau berada di acara Kick Andy

"Mereka memang membayar kalian, tapi dirumah mereka menangis karna nggak bisa beli nasi"

Logikanya, dengan usahanya dia yang segitu susahnya untuk jadi dokter, dibela belain kerja jadi pegawai rendahan, jauh dari keluarga dengan adaptasi yang pasti gila gilaan, kebanyakan orang pasti akan mikir untuk ngumpulin duit sampe balik modal, atau bahkan nimbun duit aja gitu dilemari, tapi beliau memilih untuk nggak mengambil jalan seperti itu. Benar benar suatu tamparan untuk beberapa orang yang bercita cita jadi dokter hanya karena uang. Indonesia butuh lebih banyak orang seperti beliau. 

Lalu apa hubungannya sama judul post ini?. Well, kisah Dr. Lie membuat gue berfikir. Seandainya saja dulu dia nyerah ketika nggak diterima di FK universitas negeri Indonesia, seandainya saja dia cuma pasrah ketika akhirnya fakultas kedokterannya dibakar massa dan ngebatin "Mungkin dokter terlalu muluk muluk untuk saya, mungkin memang ini bukan takdir saya", dan dia ngebiarin kecerdasannya terbuang sia sia, kalau kejadiannya seperti itu gimana?. Mungkin nggak akan ada rumah sakit terapung yang ngebantu orang di pulau pulau kecil Indonesia. Mungkin beberapa ayah disana cuma bisa nangis ketika menggendong anaknya menuju rumah sakit yang beratus ratus kilo jauhnya. Sedihkan?. Tapi untungnya dokter Lie tetap berada pada jalannya, He keep in faith. His dream show its beauty, to him, to everyone else.

Mungkin memang itu yang seharusnya kita contoh. Kita nggak pernah tau kalau mungkin saja pada suatu hari, hal yang menurut kita nggak mungkin, akhirnya bisa terjadi, bahkan bisa membantu orang lain yang kenal pun enggak. Emang nggak akan ada jaminan bahwa mencapainya akan mudah mudah saja, mungkin aja kita bakal jatuh, nggak sekali, mungkin dua kali, tiga kali, dan seterusnya. Dunia membuat kita berfikir untuk mengikuti arus, menggantung mimpi di jemuran baju, hanya sebatas itu. Padahal ikan pun nggak akan jadi besar kalau hanya ngikutin arus. Menjadi realis mungkin perlu, menerima, yaudahlah, kemampuan kita cuma segini, nggak usah muluk muluk kenapa. Tapi jangan lupa kalau mimpi itu perlu. 

Susah emang untuk tetap punya mimpi ketika segala kemungkinan udah nggak ada, tapi bukan berarti kita boleh nyerah gitu aja kan?. Segalanya berawal dari mimpi, kalau awalnya saja kita nggak bisa, gimana caranya bisa jadi besar?. Beberapa survivor kanker, bisa jadi survivor pun karena mereka punya mimpi untuk terus sembuh, harapan yang kalau menurut dokter itu cuma sebatas hitungan minggu. But they keep in faith, they believe. Lalu mereka bisa jadi survivor, walaupun kalau akhirnya mereka terpaksa nyerah pun gue fikir, mereka masih pemenang, karna sampai akhir mereka tau, kalau kenyataan dunia nggak bisa mengalahkan mimpi mereka yang jauh lebih tinggi dari langit. 

Dream is such a powerful thing, right? :")

Put a faith when it seems impossible is hard, but in the end we know, it is worth to do. 
Karena diatas segala ketidak mungkinan, ada Dia yang membuat segalanya jadi mungkin. Satu quote penutup dari seorang selebtwit @falla_adinda, kalau beriman berarti juga percaya kalau Tuhan itu ajaib.
Terimakasih karena telah bangga pada pencapaian yang menurut orang lain sederhana :")
Semua orang pasti punya mimpi, benar?. So do I.

Jadi, baru tadi gue berfikir bahwa pada beberapa waktu kita tidak bisa bermimpi, cukup ngelanjutin hidup as they want us to do. Bukan kita, tapi mereka, karena gue fikir ketika bahkan kita nggak punya mimpi, kita nggak bisa hidup. Istilahnya ya, asal hidup aja udah bersyukur. Thats why, some people Fight for the future, and the other, just fight for the living. Bukan karena mereka nggak mau dan terlalu malas bermimpi, tapi memang waktu yang membuat mereka kehilangan hasrat bahkan untuk sekedar bermimpi. Mimpi terlalu menyakitkan karena they know . . . it is beyond impossible.

Saat itu baru kita sadar bahwa punya kesempatan untuk bermimpi itu suatu kemewahan. Bukan berarti that dream become easily possible, but, we just want to  . . . dream it. It is simply because that makes us happy. Saat itu, kita bebas bermimpi tanpa perlu memperhitungkan resiko gagal dan segala kesulitan. Gue dulu mungkin berkata "apaan sih, mimpi itu kan tergantung orangnya, lu aja yang terlalu lemah buat ngejar" and then now, i like fvck words!. Ketika lu ada di posisi enak, dont ever say the oh-so-wise-yet-strong-words, you are the one who talk. Slap me in the face, karena beberapa orang *termasuk gue* kadang terlalu gampang ngomong tanpa merasakan. Karena ketika lu ada di posisi sebenarnya, itu sulit. Thats why, gue angkat topi deh buat mereka yang bisa menyelaraskan antara teori dan praktek, and i am still learning to become one, huaaaaa *nangis guling guling*.

So, gue mulai membagi mimpi mimpi gue, dengan kalian. Ngebaca ini nggak akan nambah pahala kalian atau naikin jatah bulanan anak kosan, tapi gue hanya ngerasa, it will be nice if i share my dream with the others. Ini gerakan #AminforDita muahahahha. No no, saat ini, gue juga akan mengaminkan segala mimpi mimpi para readers gue ulululuuu u.u

Mungkin gue punya sedikit mimpi, mereka nggak mewah mewah amat, cuma mimpi abg abg labil sederhana, no no, bukan mimpi cari jodoh juga mentang mentang labil :p. Tapi mungkin memang berhubungan dengan itu, mauahaha.

Firstly, kalian yang jadi anak dengan adik kakak selusin pasti nggak bisa ngerasain rasanya jadi anak tunggal. Ketika masih imut imut minyi minyi gitu, gue udah biasa rasanya pulang kerumah, Assalamualaikum, lalu krik krik. Orang orang mungkin menganggap itu menyedihkan, tapi trust me, lama lama jadi biasa aja. Tapi bukan karena itu juga sih sebenernya, cuma gue penasaran, bagaimana rasanya hidup dengan banyak anak kecil dirumah. Gue berfikir mungkin gue akan punya anak banyak, biar bisa bikin kesebelasan lengkap dengan pemain cadangannya. Tapi mungkin rahim gue akan meronta dan memutuskan untuk kabur *emang bisa (?)*

Jadi gue bermimpi, mungkin suatu hari nanti ketika gue sudah cukup mapan, gue pengeeeeen banget punya adik adik asuh. Yaaa contohlah seperti Komunitas Anak Langit di Tangerang (Go google it if u dont know, it is really worth to know if you have same attention with children). Tadinya selama di Tangerang gue pengen banget sebenernya untuk ikut beraksi disana, but . . . gue terlalu malu untuk memulai aaaakkk, takut dikira anak ilang and bla and bla, dan gue nyesel -___-". Hanya saja, gue ingin membiayai mereka, bikin Indonesia kecil dirumah kayak Jolie - Pitt gitu, ingin membangun mereka menjadi pribadi yang pintar dan dapat merubah bangsa.

Nanti, kita tinggal dirumah di pinggir kota, langit langitnya harus tinggi dan punya halaman yang luaaaas banget. Gue akan menanami lahan itu dengan pohon buah - buahan, apapun itu yang bisa dimakan sendiri, mungkin beberapa bunga warna warni. Terkesan cewe sekali ya -___-" but i think it will be beautiful. Mengingat dulu di rumah gue yang lama, gue punya lahan sisa, nggak luas luas amat sebenernya, cukup untuk 2 motor, tapiii sering gue pakai untuk piknik piknikan sama tetangga, and it is quite fun! haha. Jadi nanti adik adik gue bisa main disana, punya temen untuk diajak main ditengah hecticnya dunia hoho. And we live happily ever after.

Dan satu lagi, gue pengen banget punya sekolahan, dengan kejujuran sebagai asas belajar, belajar bukan karna kewajiban tapi karena memang ingin belajar.Bukan berorientasi hasil, tapi proses. Gue sudah banyak kenal dengan apasih, sebutan sok suci karena nggak ikut membohongi diri sendiri. Kata kata yang selalu membekas dalam otak gue, kata kata di akhir kertas ujian Fisika pertama di SMA yaitu "Kejujuran adalah mata uang yang berlaku dimanapun" dan gue fikir itu benar, karena bagi gue, ketika kejujuran sudah hilang, apalagi yang kita punya di dunia?, and it makes me think so hard. Kalau saja kejujuran ada di setiap nurani manusia, pasti KPK nggak perlu ada. Pasti akan sedikit anak kecil yang turun ke jalan. Pasti nggak akan ada bandar bandar bocoran. dan pasti temen temen gue nggak harus repot repot dengan segala macam GAN things itu.

Haaaah, i want to make a world more beautiful to be lived, but i just dont know how to act, and i just change my life instead. Ya gue nggak lantas juga ikut setuju bahwa kejujuran adalah sesuatu yang harus digembar gemborkan. Kejujuran itu datangnya dari hati yang dilatih untuk sedemikian rupa berlaku sesuai nurani. Mau lebih gampang? sering sering aja Solat, lama lama kalian akan ngerasain nggak enaknya ngelakuin sesuatu yang nggak bener dan melenceng dari kaidah. Bukan sok bener, tadinya pun gue nggak terlalu yakin yakin amat soal ini, tapi setelah membuktikan, ternyata emang bener :"), go try if you dont believe me.

Yah gue pernah ngobrol soal ini dengan seorang teman, she is such a "perkasa" girl, strong willed heart, temen yang berbeda 180 derajat dengan gue tapi secara mengejutkan kita bisa bahagia bahagia aja duduk satu meja setahun, you can check her blog. No, she wont babbling about life, love, and crazy story about abg abg labil like me, but it is worth to visit, go click this if you curious, hoho. Dia bilang kalau impian gue itu menyangkut sistem secara luas. It is nearly impossible to change a system if you are just alone who fight for the changes. Jadi satu satunya cara untuk mengubah iklim pendidikan seperti yang gue impikan hanya menjadi Menteri Pendidikan. It sounds good hahaha. Walaupun gue masih blank gimana caranya, tapi ngebayanginnya mungkin merepotkan, tapi bisa ikut membangun anak anak Indonesia jadi satu yang cetar membahana itu, menyenangkan.

Haah well, it is just my dream, it makes us alive, isnt it?. Go dream, dan untuk mereka yang masih fight sama hidup, sesekali mungkin kalian harus bermimpi, bayangin aja sesuatu yang bener bener impossible, if it not you, if it not this scumbag condition. Without any burden, risk, and fail. Go dreaming like a child, sometimes you need it.

ini balon *ya terus kenapaaaahhh -__-"*



Hujan . .



Ah tidak tidak, kali ini aku tidak ingin membicarakan Hujan. Apa sih yang istimewa dari hujan? Manusia manusia itu mengagungkan hujan, seakan ia dapat menghidupkan hati yang mati, dan memperpanjang cerita yang telah lalu. Apa sih yang mereka banggakan? Pujangga banyak menikmati hujan sangat dalam, mereka mencintainya, padahal itu membuat mereka sakit, membuat mereka mengiris luka yang tadinya kering, atas nama kenangan? Terlalu banyak. 

Gadis gadis remaja manis itu, mereka pun berbicara kesana kemari, berkata bahwa hujan membawa sendu, mereka suka ketika rintik itu datang satu satu, mengingatkan mereka pada beberapa orang yang tadinya ada, seolah olah segala kata kata yang seperti mantra, meninggikan hujan, akan menambah ke”manis”an mereka. Lalu ketika hujan itu datang menyerbu tanpa dinyana, segala sumpah serapah datang sama derasnya dari mulut mulut manis yang dulu memamerkan hujan seperti kekasih baru. Rok berenda basah, dan cipratan air menodai wajah wajah manis itu, dan segala prosa akan hujan yang membuat mereka menjadi pujangga sejati, luluh lantak.

Ah apa pula aku ini, bukankah tadinya aku berkata tidak ingin membicarakan hujan?. Daripada rintik rintik bodoh itu, sesungguhnya aku lebih suka mentari. Tidak tidak, bukan berarti karena aku tidak suka hujan maka aku secara otomatis jatuh cinta pada kemarau. Bukan berarti ketika aku berkata membenci hitam lalu aku memberi hati pada putih bukan?, well, tidak semua di dunia ini soal kedua warna itu bukan?. Aku tetap tak suka kemarau, kering, membuat segala situasi lebih mudah menjadi krisis, panas, tak bersahabat, aku lebih suka waktu waktu ketika air datang mengguyur, eh . . apasih aku ini.

Ya ayo mulai berbicara tentang mentari, topic pembicaraan kali ini, yang memang harus jadi atensi . . . tulisan ini bukan soal hujan. Hmm .. kita mulai dari mengapa aku suka mentari, setuju?. Aku suka mentari karena alasan sederhana, ia membuat baju bajuku kering tepat waktu, wangi pengharum tahan lama sehingga aku tidak perlu mengeluh soal bau apek, tidak seperti ketika hujan datang. Mereka selalu membuatku kehabisan baju dengan hasil cucian yang tak enak. Sesederhana itu? Iya sesederhana itu. Seperti mentari yang sederhana mengalah ketika hujan datang dan mencari perhatian. 

Mentari tak dapat menunjukkan sinarnya yang terang ketika langit berpihak kepada awan awan cumulo nimbus hitam pekat. Mentari terkadang terlalu rendah hati dengan hujan! Ah, apa sih hujan itu, aku benci dia!. Ia selalu dicintai orang, jarang mereka yang mengelu elukan mentari. Tapi lihat! Mentari selalu ada disana, setiap hari!. Lagipula mentari membuat tanaman tanaman itu terlihat ceria, segar, dan penuh nutrisi. Kalian pasti tau percobaan klasik disekolah dasar soal kecambah dan peristiwa etiolasi. Etiolasi, pertumbuhan tanpa sinar, selalu menghasilkan kecambah yang terlihat seperti tak-berhasrat-untuk-hidup, menyedihkan, ya, sama halnya ketika hujan.

 Tapi memang sih, setelah kufikir, tanpa guyuran hujan, daun daun itu tak akan berteriak senang, walaupun disinari mentari sepanjang hari. Malah ia akan kering dan merintih dalam setiap daun yang jatuh dan gugur. Hujan memang kadang punya nilai positif. Ia membuat makhluk herbivora menjadi dapat dimakan, well, tidak lupa ya, dengan bantuan matahari sebagai sumber energy utama. Walaupun hujan memang tak kalah penting.

Mungkin memang hujan tak sejahat itu. Contohnya, ia membuatku mengucapkan maaf. Kata maaf sialan yang akhirnya keluar karena pertaruhanku kalah telak dengan hujan. Maaf itu menyambung persahabatan yang hampir putus, dan ia terjadi karena aku yang harus berteduh karena hujan. Ia juga membuat malam malam keluarga semakin hangat. Membatalkan segala acara diluar jam kerja sehari hari. Membuat ayah, ibu, kakak, tante, om, dan semuaa keluarga harus “terpaksa” diam didalam rumah karena acara ini dan itu dibatalkan. Atau, terlalu malas karena hujan akan mengacaukan segala dandanan mereka yang cantik cantik. Lalu mereka memilih bersenda gurau dengan keluarga, hanyut dalam tawa, bertukar cerita, membuat hangat ketika diluar beberapa lantai meringik dingin. Lalu mereka sadar apa yang selama ini terlewatkan. Hujan memang kadang menyambung ikatan yang perlahan putus.

Belum lagi manusia manusia acak yang "terpaksa" bertukar cerita di depan teras pertokoan karena menunggu kebaikan hujan untuk berhenti sebentar agar mereka dapat sampai tujuan. Itu semua karna hujan.

Eh, sebentar. . .

Kenapa lagi lagi tulisan ini jadi soal hujan? Tidak tidak tidak! Aku tetap tak suka hujan! Aku benci dia.

Sudahlah, sebaiknya kita akhiri tulisan ini sebelum hujan sadar . . .




Bahwa sebenarnya aku telah jatuh cinta kepadanya, berulang kali. Aku bukan pujangga, pun gadis manis yang suka berpatut di depan kaca, aku hanyalah aku. Yang mencoba mencintai hujan dengan cara berbeda, tanpa sakit, tanpa perih, tanpa kenangan menyakitkan.

*hitam itu belum selesai jika ada putih yang masih tersembunyi, if you know what i mean ;)*

------------------------------------------------------------------------------------------------------------

A : You actually love Him
B : Noo! What are you talking about?!
A :You keep talking about him, being noisy, annoying, he do that and that, in there and sooo on, it just easily means that He stay on ur mind
B : It doesn't mean anything! I dont love Him!
A : No you definitely do, My Dear *grin*

Kadang manusia menunjukkan rasa suka dengan kebencian yang cenderung diulang ulang, Benci itu emang Bener Bener Cinta, hahahaha
Postingan Lebih Baru Postingan Lama Beranda

ABOUT ME

Introverts in disguise. Read keeps me sane, write keeps me awake. Both of them entwined makes me alive.

SUBSCRIBE & FOLLOW

POPULAR POSTS

  • semesta yang lain
  • 15 years!!!
  • ketidaktahuan
  • hari raya
  • teman pabrikku :’))

Categories

  • Reviews
  • Stories
  • Unsend Letters

Advertisement

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.

Blog Archive

  • ►  2026 (5)
    • ►  Maret (4)
    • ►  Januari (1)
  • ►  2025 (6)
    • ►  Desember (2)
    • ►  Juni (2)
    • ►  April (2)
  • ►  2023 (4)
    • ►  Oktober (2)
    • ►  September (2)
  • ►  2022 (1)
    • ►  Mei (1)
  • ►  2021 (15)
    • ►  November (2)
    • ►  September (1)
    • ►  Agustus (1)
    • ►  Juli (2)
    • ►  Juni (2)
    • ►  Mei (4)
    • ►  April (3)
  • ►  2020 (46)
    • ►  September (8)
    • ►  Agustus (8)
    • ►  Juli (7)
    • ►  Juni (4)
    • ►  Mei (6)
    • ►  April (5)
    • ►  Maret (7)
    • ►  Januari (1)
  • ►  2019 (28)
    • ►  Desember (11)
    • ►  Juli (2)
    • ►  Juni (4)
    • ►  Mei (9)
    • ►  Februari (1)
    • ►  Januari (1)
  • ►  2018 (21)
    • ►  September (2)
    • ►  Agustus (3)
    • ►  Juni (2)
    • ►  Mei (2)
    • ►  April (2)
    • ►  Maret (2)
    • ►  Februari (4)
    • ►  Januari (4)
  • ►  2017 (62)
    • ►  November (1)
    • ►  September (6)
    • ►  Agustus (2)
    • ►  Juli (2)
    • ►  Juni (5)
    • ►  Mei (7)
    • ►  April (9)
    • ►  Maret (2)
    • ►  Februari (15)
    • ►  Januari (13)
  • ►  2016 (55)
    • ►  Desember (8)
    • ►  November (12)
    • ►  Oktober (10)
    • ►  September (7)
    • ►  Agustus (5)
    • ►  Juli (1)
    • ►  Juni (3)
    • ►  Mei (2)
    • ►  April (4)
    • ►  Februari (1)
    • ►  Januari (2)
  • ►  2015 (26)
    • ►  Desember (5)
    • ►  November (2)
    • ►  Oktober (2)
    • ►  Agustus (1)
    • ►  Mei (1)
    • ►  April (1)
    • ►  Maret (6)
    • ►  Februari (4)
    • ►  Januari (4)
  • ▼  2014 (48)
    • ▼  Desember (4)
      • 12.52 am
      • Nah, nggak enaknya ada dalam usia seperti ini adal...
      • prnts
      • bxbx
    • ►  Oktober (4)
      • Just that Hurts
      • Morning!
      • Let's write a history
      • Untuk pahlawanku
    • ►  September (1)
      • a Journey to Remember
    • ►  Juli (2)
      • A Shot in the Morning
      • :)
    • ►  Juni (4)
      • Somehow it's saddening to know that you are the on...
      • Kamu.
      • "Jerawat" Chronicles : 2
      • "Jerawat" Chronicles : 1
    • ►  Mei (8)
      • SNMPTN #throwback gitu ceritanya, meh.
      • Unknwn
      • 8.12
      • Addicted to Sweetness and Morning Scent
      • Note to my self
      • Saying~
      • USecret
      • luvr
    • ►  April (6)
      • a beatiful flower always takes time, what we have...
      • 10.09
      • ruined
      • Our History
      • I don't know whether i start to like it or not, b...
      • True friends wont gossip about you, not because t...
    • ►  Maret (6)
      • Pelupa
      • If it does still hurts inside, it is simply becau...
      • jatuh itu memang harus dimaknakan sebagai momen u...
      • "Teman - temanku tumbuh menjadi orang hebat, ngga...
      • dream, again (?)
      • Terimakasih karena telah bangga pada pencapaian y...
    • ►  Februari (7)
      • dream
      • Hujan
    • ►  Januari (6)
  • ►  2013 (52)
    • ►  Desember (6)
    • ►  November (2)
    • ►  Oktober (7)
    • ►  Agustus (2)
    • ►  Juli (1)
    • ►  Juni (1)
    • ►  Mei (8)
    • ►  April (4)
    • ►  Maret (11)
    • ►  Februari (2)
    • ►  Januari (8)
  • ►  2012 (68)
    • ►  Desember (23)
    • ►  November (5)
    • ►  Oktober (13)
    • ►  September (4)
    • ►  Agustus (2)
    • ►  Juli (1)
    • ►  Juni (1)
    • ►  April (3)
    • ►  Maret (5)
    • ►  Februari (7)
    • ►  Januari (4)
  • ►  2011 (13)
    • ►  Desember (13)

Pengikut

Oddthemes

Designed by OddThemes | Distributed by Gooyaabi Templates