teman pabrikku :’))
Pada suatu sore di bawah teduhnya hujan Salatiga, aku diingatkan bahwa inilah setiap yang aku tinggalkan. Lucunya teman - teman yang mengisi hariku tujuh tahun belakangan. Mereka yang peduli kepadaku seperti adik sendiri, terutama pada masa - masa sulit yang terkadang amat susah aku bagi. Begitu lapang dada mereka untuk menjadi teduh ku ketika hujan begitu derasnya di tanah ini.
Sore itu aku benar - benar mempertanyakan, apakah keputusanku adalah hal yang benar. Apakah kesendirian ku di antah berantah, di dunia yang sepenuhnya baru, di tengah sekelompok manusia yang terasa amat asing, akan berhasil menuntunku ke tempat yang aku tuju. Apakah setiap yang aku kini temui, sungguh sepadan dengan banyak kehilangan besar ini.
Sepertinya aku dulu benar - benar merasa amat jumawa terhadap kemampuanku beradaptasi. Seolah aku dapat berenang dalam berbagai rupa arus di depan. Seolah aku terlupa, dalam banyak arus yang terlewati di belakang sana, ada lengan yang sama banyaknya menopangku bersisian. Seolah aku terlupa, dalam setiap usaha, ada begitu banyak bagian mereka mengisi setiap hal yang aku alfa.
Tapi pada akhirnya jika kupikir lagi, setiap kehilangan ini sudah aku kalkulasi. Kekosonganku di tanah antah berantah itu akan tetap memekakkan telinga setiap aku sendiri. Aku akan tetap merasa menjadi yang paling bodoh dan tidak mengerti. Ketidaknyamanan ku masih akan menghiasi di setiap sisi artifisial Jakarta, yang setiap senyum asing orang lain terasa begitu jauh dari hati. Begitu kontrasnya tapi kupikir inilah setiap hal mengganggu yang kurasa perlu. Dengan banyak hal ini aku bisa terus tumbuh.
Meski ragu, meski takut, meski banyak dipenuhi kesedihan yang kesepian, mari kita melanjutkan perjalanan. Setiap doa sudah kita langitkan. Setiap usaha sudah kita kholaskan. Toh akhirnya, pohon tertinggi pun tetap harus meranggas agar terus tumbuh lagi.
Dalam setiap langkah di depan, mungkin aku akan terus berpikir dan bertanya kepadaNya, mengapa aku tidak bisa membawa setiap yang aku cinta kemanapun saja sehingga tidak perlu ada manusia - manusia yang aku tinggalkan pada setiap keputusan. Tapi mungkin ini mengapa Ia ciptakan doa dengan tangan - tangan yang senantiasa menengadah ke luasnya langitNya. Mungkin agar pendeknya lengan kita tidak jadi kendala untuk memeluk setiap yang kita cinta dimanapun saja.

0 comments