jalan

Aku tidak pernah bercerita setiap keputusasaan dan banyak sekali kesedihan kepada laki - laki yang saat itu kesakitan dan penuh kebingungan. Namun ia, yang punggungnya selalu lebih besar daripada aku, tampaknya tak pernah gagal memangku seluruh sulitku yang bahkan kepadanya tidak pernah aku kuliti satu - satu. Pada setiap kesulitan dan banyak mimpi yang mati muda, bapak berkata “semua pasti ada jalannya”.

Kata - katanya kemudian berkelana pada banyak ruang dan waktu hingga sampai kepadaku yang masih termangu. Menelisip dalam senyum mama yang bahagianya melebihi setiap bahagia yang mampu kurasa setelah banyak sekali kecewa. Hadir dalam bentuk kesempatan lain “Kamu gapapa kalau mau sekolah lagi mumpung masih banyak waktu”.

Lima tahun berlalu sejak aku, mama, dan bapak berada di kamar kecil itu.

Aku masih menangis dimanapun aku mau. Terutama pada saat - saat aku sadar, bagaimana Allah selalu membuat Bapak mampu memenuhi tugasnya bagi anak gadis satu - satunya. Bahkan dalam matinya, Bapak masih menciptakan banyak sekali kesempatan. Dalam matinya, ia masih menjadi bagian dari air untuk menumbuhkanku lebih tinggi. Dalam matinya, lilin yang ia berikan masih menyala begitu benderang. Bahwa memang bersama sabar, Allah selalu menyediakan jalan. 

0 comments