Kamu.

Aku menulis pada lelahnya pundak yang segera meminta untuk direbah. Kasur hangat setelah dijemur seharian ini memanggil, langkahku gontai dan menyerah. Aku berbaring dan bersiap untuk tidur, tapi ternyata otakku tak hentinya berfikir soal beberapa hal, kebanyakan soal tugas yang tak menumpuk tapi cukup memusingkan, dan lelahku memang dari sana. Itu kebanyakan. Salah satu yang bukan dari golongan "Kebanyakan" adalah pikiran tentang kamu. Panggilah aku tak tau diri karena lelah tetapi masih mencari masalah. Masalah soal kamu, dan kehidupanmu yang jauh digapai tangan. Bukannya aku tak tau kenyataan atau buta keadaan, tetapi bagaimana aku menggambarkan keadaan yang memang belum ada, atau sebutlah "diada - adakan" karena aku memang belum pernah mengarah kesana. 

Fikiran soal kamu dilandasi pada twit sederhana seorang gadis beberapa menit lalu. Ia sedang mengecap rasa jatuh cinta, kakinya tak lagi menapak ketika berbicara soal anak lelaki yang akhir akhir ini selalu ada. Peduli apa soal definisi "ada" walaupun jarak berpuluh - puluh kilo jauhnya, tapi yang penting, malam ini, timelineku milik mereka. Bukannya lelah, sirik, atau bahkan merutuk, kebalikannya, aku hanya tertawa seadanya melihat ini. Toh ini hidup mereka, apalah aku yang hanya "ngontrak" di twiterland malam ini. Lebih dari itu, hal ini membuatku berfikir, sepertinya memang kehadiran "seseorang" itu perlu dalam hidup seorang gadis. Ah aku sudah cukup punya "banyak" orang sehingga ke alfaan "seseorang" yang statusnya lebih dari yang lain dirasa tak terlalu perlu. Itu fikiranku dahulu. Akhir - akhir ini banyak kejadian yang membuat hati berdiskusi ulang soal beberapa prinsip. Apakah sudah seharusnya mencari seorang "kamu"? atau cukuplah aku dan lingkaranku tanpa seseorang yang disebut "kamu" oleh mereka?.

Masih ada tempat untukku membagi cerita lusuh seharian di kota kecil ini. Kasih sayang pun tak putus - putusnya menghampiri ketika sepi menyelimuti. Pun rangkulan beberapa tangan terasa cukup ketika akhirnya aku memutuskan untuk berhenti karena kehabisan energi utnuk berlari. Bukankah itu terasa cukup?

Ya memang.

Tapi punya seseorang yang bisa disebut "kamu" rasanya . . . tidak buruk juga.

Tetapi ketika soal "kamu" aku tak hanya diajak bicara soal manusia, ini lebih dari itu. Ada serangkaian rencana sempurna yang jatuh dan terjadi pada saat yang tepat, dan Boom! momentumnya menghasilkan sesuatu yang bahkan tak kau nyana sebelumnya. Ada seseorang yang pantas disebut "kamu" karena ketepatan waktu rencana Tuhan dan cukup menarik untuk diajak membuat satu dua bab tentang pelengkap kehidupan manusia. Tentu saja pelengkap, bukan satu manusia yang statusnya sebagai ojek pribadi atau tempatmu mencurahkan keluh kesah tak penting alih alih waktu PMS, atau beberapa tipe yang ABG itu sebut pacar. Tentu saja lebih dari itu. Dan sesuatu hal sepenting itu dengan skenario sempurna, memang mutlak diluar kuasaku.

Aku memang belum bertemu "kamu", tapi berita baiknya, aku sudah terlebih bahagia tentang segala sesuatunya. Masih ada satu dua kalimat penutup hari yang berisi surat cinta syukurku kepada Tuhan atas satu harinya yang luar biasa. Aku menikmati masa muda dengan seharusnya. Aku tak terlatih untuk berkata hal - hal manis soal cinta kepada lawan jenis, tapi aku punya cukup banyak dari mereka yang setia sebagai saudara. Kasih sayang Tuhan sudah terlebih cukup dari kedua orang tua dan beberapa sahabat. Hal yang lagi lagi mengantarkanku pada suatu kesimpulan. 

Mungkin aku memang belum perlu kehadiran seorang "kamu".

Bukankah Tuhan memberi sesuatu yang memang benar - benar diperlukan? Iya, itu adalah satu yang kupercaya.

Mungkin memang belum waktunya. Mungkin dunia masih ingin menempa kita. Mungkin akan ada waktu dimana semua pintu sudah terbuka dan hanya satu yang tersisa. Mungkin bukan kamu kuncinya, tapi "kamu" sanggup jadi teman untuk menetap dan nyaman tanpa perlu berpindah ruang. Mungkin mungkin mungkin . . . masa depan memang tak pernah kehabisan soal kata "mungkin". Satu yang pasti, rencana Tuhan memang pasti yang terbaik. 

Dan aku akan terus mengirimkan satu - satunya doa tanpa nama di dalamnya. Entah sampai kemana, aku tak terlalu peduli, bukankah doa baik akan selalu didengar dan jadi pahala? :)

0 comments