Untuk pahlawanku
Masih kedua wajah manusia yang sama yang mencambuk saya ketika diri ini malas berusaha lebih. Masih usaha usaha tanpa mengeluh yang membuat lidah ini kelu untuk berkata "Saya lelah". Masih suara lirih yang sama di ujung telfon yang membuat hati ini terus meminta kepada Yang Maha Kuat, untuk memberi saya waktu untuk membahagiakan kedua malaikatnya di dunia. Membalas sedikit dari sekian peluh yang menetes tanpa pamrih.
Terimakasih karena telah menjadi perpanjangan kasih sayang Tuhan selama ini dan untuk bertahun tahun kedepan. Maafkan gadis kecilmu Ma, Pak, yang terus saja menjadi beban. Tetapi, tetap doamu yang paling penting dalam setiap keinginan. Kalian akan terus jadi pahlawan dalam sejarah yang gadis ini tulis sendiri, apapun yang terjadi, apapun kondisinya. Terimakasih karena tetap ada tanpa diminta, terimakasih karena telah bangga pada pencapaian yang menurut orang lain biasa. Terimakasih karena telah menjadi Orang Tua yang membahagiakan.
Izinkan saya untuk terus jadi gadis kecil manja yang selalu minta pulang ke rumah . . .
Saya rindu rumah, tempat kalian berada, menghitung uang di kala senja, bercengkrama dalam malam malam dalam rumah sederhana.


0 comments