Pelupa
Aku adalah seorang pelupa sempurna. Tepat ketika kau tak lagi peduli dan menaruh perhatian pada hal hal kecil, itu membuat sakit ini semakin parah. Sakit yang kau sebut "lupa". Melupakan dan dilupakan, bukankah kita selalu berputar pada lingkaran yang sama? satu yang tak berujung. Gawatnya, aku mulai menikmati jadi tokoh penting di dalamnya, si pelupa. Aku lupa kamu, sosokmu, mimpimu, ya aku lupa segala tentangmu. Aku lupa kesukaanmu dan aku lupa hal yang kau benci. Ah maaf, sepertinya untuk hal yang terakhir aku masih ingat, aku pelupa kecuali pada hal yang kau benci. Lucu bukan? mungkin karena aku dan sesuatu-yang-kau-benci berada pada pihak yang sama. Ya, mungkin saja aku memang kau benci, benci setengah hati (yang setengah bagian lainnya kau tentukan sendiri) atau benci setengah mati (sampai rasanya hidupmu habis untuk terus mengiangkan mantra untuk membenciku)? yah, aku tak tahu jawabannya, tapi kurasa keduanya sama sama tak ada yang aku inginkan, tapi itulah yang terjadi.
Yah aku berharap kau pun jadi pelupa suatu hari, agar kau pun lupa bahwa kau membenci ku dan jika mujur mungkin aku bisa mendapat senyum di ujung pertemuan tak terduga kita, yang entah kapan.
Mudah mudahan pada saat itu pun aku bisa sembuh dari sakit lupa ini. Tolong kembalilah cepat, aku menunggu kelupaanmu. Karena seperti saat pertama tulisan ini ditulis, aku pelupa sempurna. Aku akan lupa jika tak kau ingatkan, karena ketika maafku berujung sia sia, kealfaanmu adalah sesuatu yang akhirnya aku menari diatasnya. Jadi, jangan sok jual mahal.
Dari gadis yang seenaknya sendiri
muahahahha

0 comments