hari raya

Tidak ada baju baru hari ini karena aku masih memakai duka yang sama seperti tahun - tahun sebelumnya. Ada yang berkata bahwa dukaku tidak akan mengecil, namun hidupku yang jadi semakin besar. Maka aku berjalanlah dengan membawanya kemana - mana. Memakainya serupa kacamata sehingga setiap hal terlihat seperti spektrum warna. Banyak warna yang tadinya tunggal, kini sambung menyambung tanpa batas yang jelas. Sebagian bercampur baur menciptakan banyak area abu - abu tempat banyak kemungkinan paradoks bertemu.

Di dalam hari yang penuh kemenangan, dengan kacamata yang sama, aku menyadari mungkin ada meja makan yang kosong tanpa opor ayam. Mungkin ada sofa kulit yang dingin karena tidak ada lagi eyang disana selepas solat dan kami bersimpuh di depannya bermaaf-maafan. Mungkin ada ruang tamu yang begitu sunyi karena setiap penghuninya masih harus mengejar dunia di tengah semesta yang sibuk bertasbih kepadaNya. Mungkin ada mereka yang kehilangan hidupnya dalam bencana yang meluluh lantahkan sekejap mata. Mungkin tidak ada suara bedug dan takbir karena setiap masjidnya rata dengan tanah karena bom beberapa jam sebelumnya.

Di dalam hari yang penuh kemenangan, duka ini menunjukkan bahwa banyak kemenangan tidak selalu berwujud kebahagiaan raya. Sebenar - benarnya kemenangan bisa jadi milik mereka yang begitu tabahnya menghadapi setiap cobaanNya. Seperti seorang ibu yang bertemu kami tadi pagi, bermaaf - maafan dengan tangan kanan karena tangan kirinya membawa berbagai macam dagangan. Sepagi ini dengan dahi yang sudah berpeluh, ia masih dapat tersenyum tulus bahagia, "Selamat hari raya Buk"

0 comments