assalamualaikuuum! rasanya seperti bertahun tahun gue nggak ngepost disini, oke gue tau itu lebay. hem, pikiran gue lagi absurd abis hari ini, dan gue rasa ngepost disini adalah obatnya. ketika kita bebas ngomong apapun, tanpa perlu denger "apa kata orang" secara langsung, kecuali kalo tiba tiba monitor gue berubah kayak di film sadako, yang bisa ngeluarin hantu emak emak gondrong yang bisanya cuma ngesot -,- apa seremnya, heran.
so kita mulai dengan sedikit basa basi biar kayak orang orang, "apa kabar? bagiamana harimu?". ini kode sih sebenernya, biar kalian nanya balik *ngenes*. oke gue anggap kalian nanya balik, jadi akan gue jawab "oh neraka". jadi ceritanya dimulai dari gue yang sekarang kelas 3 dan berada diujung semester ganjil, entah harus seneng atau sedih. gue yang tangguh ini diuji dengan setumpuk tugas yang datengnya kompak abis kayak tentara lagi baris berbaris, datengnya ramean, dan udah pasti ngerepotin. gue rasa ada konspirasi terselubung antara guru guru dan semesta, yang membuat tahun 2012 ini menjadi salah satu tahun terberat selama gue berumur 17 tahun :p. tapi kalo kata salah satu teman
"biasanya kalo tahun ini banyak sakitnya, tahun depan ada setumpuk kebahagiaan yang udah nunggu lo"
yah mudah mudahan saja begitu ya kawan kawan. amin. dan yang tambah bodohnya lagi adalah, senin besok adalah hari pertama semesteran, dan disini gue malah duduk dengan manis didepan komputer ngurusin blog tersayang dan sangat amat berharap bapak atau mama gue nggak tiba tiba masuk dan menemukan kalo anaknya lagi "belajar" *ngenges*.
sebenernya gue agak bingung mau nulis apa disini, tapi gue harus nulis, harus. nah gue akan mulai dengan satu kata, perubahan. tahun 2012 udah tinggal countdown 31 hari lagi dan dihidup gue banyak sekali hal yang berubah di tahun ini. membuat segala apa yang gue pegang diawal jadi goyah, berubah, entah itu hilang, berganti, atau, diam. gue masih nggak tau apa yang akan terjadi pada malam tutup tahun sebulan lagi, tapi untuk kali ini, izinkan gue flashback ke beberpa bulan lalu. sekali, cukup sekali.
malam terakhir di tahun 2011 gue habiskan dirumah sakit, lengakp dengan segala kembang api dan teriakan anak kecil diluar, bedanya kali ini adalah gue mendengar segala riuh rendah didalam rumah sakit. suasanya beda, ya iyalah, nggak ada tuh namanya bakar - bakar sampe malem. rasanya snagat biru kala itu, ngeliat orang yang kita anggap sebagai manusia terkuat didunia tiba tiba kehilangan kekuatannya, bahkan untuk sekedar jalan. rasanya menyakitkan, kayak, setelah ini gue yang harus melindungi mereka, gue nggak boleh bergantung kepada siapapun. tapi namanya masalah, pasti nggak selamanya kan, nothing last forever. dan masalah itu pun terlewati, walaupun ya, semuanya nggak akan pernah sama lagi.
malam terakhir di tahun 2011 gue habiskan dirumah sakit, lengakp dengan segala kembang api dan teriakan anak kecil diluar, bedanya kali ini adalah gue mendengar segala riuh rendah didalam rumah sakit. suasanya beda, ya iyalah, nggak ada tuh namanya bakar - bakar sampe malem. rasanya snagat biru kala itu, ngeliat orang yang kita anggap sebagai manusia terkuat didunia tiba tiba kehilangan kekuatannya, bahkan untuk sekedar jalan. rasanya menyakitkan, kayak, setelah ini gue yang harus melindungi mereka, gue nggak boleh bergantung kepada siapapun. tapi namanya masalah, pasti nggak selamanya kan, nothing last forever. dan masalah itu pun terlewati, walaupun ya, semuanya nggak akan pernah sama lagi.
Saat itu gue fikir, gue sudah beberapa tingkat lebih kuat, dan ternyata ada satu masalah lagi. yang ini masalah khas anak abg, bahkan gue sendiri pun malu untuk mengatakannya, istilahnya gini loh, ketika teman teman gue sedang ada di posisi "itu", gue adalah sosok si wanita tangguh yang menyebar doktrin "move on garis keras". dan who knows? ternyata Dia memberi gue kesempatan untuk berada di posisi itu. ibarat pelajaran olahraga, teorinya sempurna, ketika dipratekkan, lu harus ngesot ngesot dulu biar lulus, bahkan terkadang malah nggak lulus sama sekali. nah itu yang gue rasakan. teman teman gue langsung bilang "tuh kan, nggak segampang apa yang lu omongin waktu itu kan" dan ketika gue mengalaminya
"oh pantesan banyak buku buku galau bertebaran di gramedia, galau dan move on tuh punya kekuatan yang maha dahsyat"
gue ngerasain gimana susahnya menyelaraskan logika dan perasaan. ketika perasaan yang dimenangkan, harga diri lu bisa aja tergadaikan saat itu juga, karna tindakan yang dilandaskan oleh perasaan cenderung gila dan nggak mikir dulu. dia nggak peduli apa kata orang lain, yang penting "hati ini nyaman". ya walaupun begitu semuanya emang tergantung individunya sih, apa bentuk perasaannya dan self controlnya terhadap apa yang dia rasakan. pada kasus gue, mengikuti kemauan perasaan terasa membingungkan dan salah. ada sesuatu yang nggak benar ketika gue menuruti apa maunya dia, yah walaupun hati ini bisa dibilang bahagia, tapi rasanya nggak lengkap, ada yang hilang, aneh, canggung, dan salah. malahan pada suatu titik gue merasa seperti menjatuhkan harga diri gue sendiri ke tanah sampe dia tengkurep disana, and it is not lady like. akhirnya gue mundur, dan memilih logika, walaupun gue tau secara jelas, apa konsekuensinya. tapi namanya hidup, semuanya hanya soal pilihan kan. benar atau salah sih relatif. dan menurut intelejensia gue, untuk saat ini, jalan yang gue pilih adalah yang paling benar dari sekian banyak pilihan agak-menyenangkan-dan membahagiakan-perasaan lainnya.
sakit sih memang, akan terlalu munafik kalau gue berkata "bahagia" disini. tapi ini konsekuensinya, gue kutip beberapa kata dari binder tercinta
sakit sih memang, akan terlalu munafik kalau gue berkata "bahagia" disini. tapi ini konsekuensinya, gue kutip beberapa kata dari binder tercinta
"ketika logika dimenangkan, aku memenangkannya, sampai tak sadar ada hati yang telah berubah menjadi serpihan. sempurna"
ya itu dia konsekuensinya. setelah beberapa bulan terlewati pun gue masih belum bisa berkata dengan mantap "gue udah sembuh", karena gue belum siap untuk menerima hal yang lebih dari ini saat ini sebagai pembuktian kalau gue memang sudah sembuh. tapi paling tidak, kali ini gue belajar untuk mengontrol emosi dan berpegang teguh pada prinsip sendiri. walaupun ya, ada perasaan yang dibohongi saat ini. terkadang memori yang seharusnya udah gue bakar itu masih sering masuk lagi, ada dorongan yang nggak bisa dibilang lemah untuk kembali lagi, nurutin apa kata perasaan. biar rasa ini lunas, hati senang, tapi gue tau itu sesuatu yang salah kali ini, dan itulah gunanya nalar. untungnya, pusat kendali segala tindakan masih ada di otak, kalo dihati, gue udah nggak kebayang deh. biasanya sih ketika rasa itu balik lagi langsung buru buru ganti kostum tidur, gue bawa sampe ke alam mimpi dan gue tinggalkan sakitnya disana, jadi ketika bangun ada semangat baru lagi. walaupun terkadang terlalu sakit, sampai ketika dibawa tidur pun nggak ada gunanya, kalo kayak gitu yang gue lakuin cuma pasrah. bear the pain. beberapa kata yang akhir akhir ini familier adalah
ketika nggak tau lagi harus apa, cuma pasrah kan yang jadi jalan satu satunya. seharusnya ini lebih tidak melelahkan karna kali ini lu cuma merasakan, at least nggak disuruh lari lagi mengejar sesuatu terus menerus. pada saat itu, apa aja yang udah lu korbankan?. karna itu, gue melakukan perubahan. paling tidak mencoba untuk kuat dan bersikap sebiasa mungkin, karna terkadang hal yang awalnya kepura - puraan bisa berubah menjadi sesuatu yang nyata, dan akhirnya kita baru sadar kalo itu bukan lagi sekedar "fake things". a nice start, isnt it?
"tahan dit tahan"
dulu, ada seseorang yang berkata "tolong jangan bohongin perasaan lu lagi", dan lucunya adalah, dia juga yang membuat gue menyesal sudah melakukan apa yang dia katakan. nah see? perubahan itu nyata. waktu berubah, kondisi berubah, manusia berubah, orang yang diatas ini pun berubah, begitu juga perasaan. kalo kita juga nggak ikut berubah, kita yang akan tenggelam didalam perubahan orang lain ....

0 comments