Surat Cinta
Menulis surat cinta itu bukan perkara sulit. Masih lekat dalam ingat, dulu ketika masih cimit, seringkali saya mengirim surat teruntuk seorang Bagus. Bocah laki - laki yang kala itu berkulit coklat berambut ikal, saya lupa manis atau tidak, tapi yang pasti dia adalah teman paling baik saat itu. Ia meminjami saya crayon ketika anak kecil yang lain dengan begitu egoisnya menyimpan milik mereka hanya untuk diri sendiri. Seketika saya ngefans dengan seorang Bagus karena ia baik, ia membantu saya menyelesaikan tugas menggambar yang sebenarnya tak seberapa. Sejak itu, saya rajin mengiriminya surat. Setiap sore, dengan kayuhan sepeda saya mengantar surat 'cinta monyet' saya dengan sabar ke depan rumahnya, tepat sampai ke tangannya. Isinya sampai sekarang tak pernah saya ingat kecuali satu kalimat bertuliskan "I Miss You". Kata sederhana yang saat itu tak saya tau artinya, tapi saya tulis dengan pedenya agar terlihat keren hahaha. Bahkan sampai ia membalasnya dengan kata "Miss you too", yang kemudian saya juga berpikir bisa jadi ia sama bodohnya dengan saya yang hanya asal menulis dan ingin telrihat masa kini hahaha. Sampai suatu ketika, ibunya sesorean itu berdiri di depan rumahnya, bukan seorang Bagus seperti hari - hari biasanya. Seketika saya nervous dan memutar otak, bagaimana saya menyampaikan surat itu tapi tetap tidak malu. Dan akhirnya, saya menyerah, dan membuang surat itu ke depan jurang di seberang rumah Bagus. Surat terakhir untuknya yang saya tulis, mungkin sepanjang hidup saya. Karena setelah itu saya diberitahu oleh ibu bahwa saya masih terlalu kecil untuk menulis kata - kata serupa I miss you. Bahkan saya masih terlalu kecil untuk merasakan cinta cinta monyet segala.
Itu juga kali terakhir saya melihat Bagus dengan rambut ikal dan kulit cokelatnya. Itu perpisahan saya dengan seorang Bagus, dan esoknya saya masih tetap biasa. Masih tertawa seperti biasa. Masih bermain sampai lupa waktu. Dan masih bisa marah karena hal - hal sepele. Bukannya saya lupa akan Bagus dan kebaikannya. Saya masih ingat dia bahkan sampai sebesar ini, saya hanya tau kala itu bahwa yasudah kejadian ini terjadi dan rasanya tak apa. Anak kecil memang paling ahli soal menyembuhkan luka. Lalu sekarang ketika mengingat kejadian itu akhirnya saya tahu, surat cinta mungkin selamanya akan jadi kesukaan saya ketika bibir ini tak dapat berucap.
Mungkin saya hanya perlu membuat versi surat cinta seperti itu. Surat cinta yang isinya bukan segala duka, melainkan bahagia. Sesuatu yang dulu saya pernah mahir membuatnya. Mungkin saya hanya perlu merasa seperti anak kecil yang mudah lupa, tertawa, dan baik - baik saja. Memaknai hal - hal kecil agar dapat bahagia, seperti dipinjami crayon saja sudah sebegitu senangnya hahaha.

0 comments