Move On Ver.2.0


Kalau kata John Green, jatuh cinta itu seperti tertidur, perlahan lalu tiba-tiba. Saya pikir, perumpamaan itu sama seperti apa yang kata orang-orang move on. Awalnya akan terasa berat, lalu ketika akhirnya kamu memilih untuk mengikhlaskan, rasanya waktu yang terlewati akan lama sampai kamu harus berlari dari satu pengalihan ke pengalihan lainnya. Menjalani hari-hari dengan berusaha menjadi biasa. Versi paling biasa dari yang kamu bisa. Kamu terus saja berjalan jauh, sampai seseorang dengan nama baru bertamu, menawarkan cerita yang benar-benar baru kehadapanmu. Kamu mencoba lalu tau bahwa ini bukan saatnya. Masa lalu masih terlalu baik dan belum ada gantinya. Tak akan ada yang sama seperti dia. Tak akan ada yang sebaik itu dimatamu seperti dia. Akhirnya satu orang terlewati begitu saja. 

Lalu kamu memutuskan untuk melanjutkan perjalananmu. Satu langkah diikuti langkah lainnya. Kadang tergesa, kadang terseok, kadang penuh dengan keinginan untuk kembali lagi ke titik nol kamu beranjak. Tapi tidak, kamu tau diam bukan sahabat terbaik kala itu. Ragu memang selalu dalam genggaman tapi kamu akan terus saja berjalan. Sampai apa-apa yang dulu dipaksa untuk menjadi biasa kemudian menjadi kebiasaan. Kamu biasa saja menjalani hari. Bertemu orang baru, berusaha pada hal-hal yang selama ini tak terlihat dan tenggelam. Membuat cerita baru dengan lebih banyak kenangan yang kemudian kamu tulis dalam catatan-catatan buku harian. Menciptakan makna pada setiap obrolan-obrolan di senja hari dalam kesempatan berbagi kopi. Kamu membuat sahabat baru, menemukan keluarga baru. 

Tertawa tak lagi terasa berat. Kamu bahagia bukan lagi karena semesta dan orang-orang. Bahagia akhirnya berada dalam kendalimu secara sadar. Kamu memilihnya setiap pagi ketika membuka mata, melantunkan kata seperti mantra dibawah langit-langit kamar yang selamanya hanya akan jadi pendengar. Beberapa peluang kemudian bermunculan untuk meraih masa depan. Kamu sanggup bermimpi lagi untuk hal-hal yang dulu terasa terlalu jauh digapai tangan. Kamu mulai merasa berharga, bernilai. Lupa bahwa dulu kau sempat berpikir bahwa diri ini hanyalah seorang pecundang yang kualitasnya tak cukup baik sehingga dicampakkan orang. Lalu kau semakin bahagia menjalani pilihan-pilihan menuju mimpimu yang semakin dekat dari hari ke hari. 

Dalam perjalanan itu kemudian kamu bertemu dengan dia, seseorang dari masa lalu yang kamu tau begitu lekat. And for a while, your heart skipping its beat. For a several nothing seconds. Lalu kamu tersenyum dan menyapanya seperti biasa. Menanyakan kabarnya kini, dimana dia bekerja, bagaimana keluarganya, menetap dimana akhirnya dia. Kamu lupa beberapa tanya yang dulu ada di daftar panjang dalam kepala, yang kamu buat ketika sedang sakit-sakitnya. Sanggupkah dia menjaga dirinya sendiri? Apakah dia baik-baik saja? Apakah dia merasakan kehilangan yang sama dalam malam-malam kesepian? Bahagiakah dia sekarang?. Tidak, daftar itu sudah menjadi usang dan terselip entah dimana seperti catatan-catatan masa lalu lainnya. 

Walaupun begitu, kamu masih ingat beberapa memori. Kenangan-kenangan tentang kapan kalian bertemu, apa kesukaannya, dimana kalian menghabiskan waktu, atau sekedar kenangan tentang kalian yang tertawa bersama melihat kebodohan seorang teman. Kalian membawa itu lagi, dan secara tiba-tiba, kamu sadar sesuatu. Tak ada rindu ketika mengingat segala kebiasaannya. Tak ada degup ketika menjabat tangannya. Tak ada rasa kehilangan ketika masing-masing berucap selamat tinggal. Tak ada rasa sesak ketika kau melihat bayangan punggungnya semakin kecil diujung jalan. 
Saat itu kamu tau, kamu tak lagi tersakiti. 
Saat itu kamu tau, kamu sudah beranjak dan membuka tangan pada orang lain lagi. 
Saat itu kamu tau, dirimu tak lagi pincang.
Saat itu kamu tau, walau hatimu belum lengkap, tapi akhirnya kamu merasa cukup akan segala sesuatu.
Kamu cukup dengan keluargamu, sahabatmu, dan segala mimpi yang kamu percaya.
Kamu bahagia.


"One minute they arrive, next you know they're gone, they fly on"


0 comments