31 Desember 2015 : Refleksi Kenapa
Terlepas dari nostalgia, di tahun - tahun ini banyak sekali hal - hal yang muncul. Saya menemukan bahwa hidup di usia 20 adalah masa - masa riskan. Sudah tidak ada lagi naungan yang akan melindungi kita dari setiap hujan cercaan, tidak akan ada secret service yang diam diam menyediakan apa yang kita butuhkan, dan akhirnya tau, bahwa kepada lembaga adminsitratif lah semua kerumitan soal urusan dunia bermuara hahaha. Ah, yang paling penting, mengerti bahwa sebenarnya, musuh terbesar manusia adalah . . . . diri sendiri. Saya, akhir - akhir ini, sering kali dikalahkan oleh diri saya yang lain. Diri saya yang malas, penakut, merasa tak pernah cukup dan materialistis. Sampai pada akhirnya saya dibenturkan dengan pertanyaan klasik pada saat - saat seperti ini "Gue ngapain ya ngelakuin ini semua?"
Untuk siapa saya dapat nilai bagus? Untuk apa saya kuliah sampai kepayahan ketika pada akhirnya soft skill yang diagung agungkan orang adalah apa yang dunia kerja minta? Untuk apa idealisme saya pegang ketika pada akhirnya saya hanya jadi budak korporasi? dan untuk apa saya mati matian jadi gadis independen jika akhirnya modal terbesar di hidup saya sebagai ibu rumah tangga adalah kemampuan memasak dan ovarium yang sehat untuk melanjutkan generasi keluarga besar?
Mungkin pertanyaan yang paling esensial dari itu semua adalah, mau jadi apa saya beberapa tahun kedepan?
"You are what you want to become".
Diatas adalah kalimat yang saya tulis secara sadar dibuku catatan lusuh yang saya bawa kemanapun. Masalahnya, sepertinya tak pernah saya menuliskan secara konkrit, apa yang saya inginkan dari diri saya sendiri. Oleh karenya, Dear my future self, read this when you forget. When everything seems so blurred and nothing worth for every effort. When tired is the only word you know well for so long after every road you had gone through.
Saya ingin jadi wanita kuat yang bisa melindungi orang orang disekitar saya. Independen adalah kata kuncinya, bahkan ketika jadi seorang istri, hal itu masih sama pentingnya dengan patuh kepada suami. Sekarang, siapa yang bisa jamin bahwa definisi menikah adalah selalu punya seseorang yang bisa digantungkan, belum tentu, bahkan definisi tersebut mendekati fatal. Menikah adalah penggabungan dua manusia dewasa jadi satu, bukan satu gadis kecil yang tidak bisa apapun dan satu manusia dewasa yang siap menanggung segala beban. Terlepas dari menikah, lah memangnya saya sudah pasti akan menikah dalam waktu dekat? hahaha, ada orang tua yang butuh saya untuk jadi seorang manusia independen. Mereka pasti menua, bahkan saat ini pun proses itu sedang berjalan dan mereka menjalaninya dengan bahagia. Tapi intinya, mulai dari sekarang, saya sudah harus bisa jadi yang mereka andalkan. Atau paling tidak, saya tidak perlu lah membuat mereka pusing karena hal hal yang seharusnya sudah bisa saya urus sendiri. Pada alasan tersebut, saya harus independen, dan malas tidak termasuk kedalam definisi tersebut.

0 comments