Hellonjo!

Soal cerita melelahkan juga banyak hal - hal yang menyenangkan.


You know what? I'd like to think that you can not force people to feel so sure about you while they spent most of their time wander. But you always can get the right mind with knowing that whats yours will eventually stay. Even in the very unsettling situation, they will always find reason to stand still without doubt. 

Hi babe, isn't it okay if it is not him. Allah knows best, isn't he always will be?.
Hai g.

Rasanya makin berat saja. Aku mengganggu ya. Aku hanya ingin bercerita. Besok aku pergi. Ke kotamu, harusnya kamu disitu.

Engga apa, ga bisa ya.

Masih begitu banyak yang kamu repotkan disana.
Hal - hal yang kamu usahakan sepenuh tenaga.

Engga apa, aku tau ga bisa.

Meski sedikit harapanku kamu disana.
Mengantarku kemana - mana.
Mengejar sepiring nasi jagal yang kesorean.
Menunggu KRL yang terlalu malam.

Engga apa, aku gapapa kamu ga bisa.

Lain kali saja aku akan cerita, soal kisah - kisah sedih karna orang tua yang menua atau cita - cita yang sedang terasa makin jauh saja. Juga soal kabar - kabar baik, soal aku yang sekarang makin canggih saja ke stasiun sendiri. Meski tidak tau jalan, meski sendirian. Meski harus buka gmaps beberapa kali di pinggir jalan.

G, aku masih berdoa agar kamu selalu baik - baik saja. Didekatkan dengan segala cita - cita. Di lindungi kemanapun langkah kaki.

Engga apa, aku tidak lagi menunggu.
Aku hanya akan terus berdoa. Semoga Allah gak bosan - bosannya.

Oh iya, juga engga apa kalau memang bukan jalannya.
Aku sudah bilang hal yang sama denganNya. Engga apa. Aku ga menyesal. Aku tetap bahagia. Banyak hal yang tidak akan aku sadari kalau kamu tidak ada.

Oleh karnanya, engga apa. Aku yang akan jawab kalau suatu hari Bapak bertanya tentangmu lagi. Semoga kamu selalu baik - baik saja. Aku masih sangat rindu, dan maaf kalau serangkaian kata ini memberatkanmu. 
If someone ask me why. This is both nothing and everything. Things you made me realized. For many revelations that may not happen. Flaws which a lot seemed to miss. Every necessary slap to get back into the track. 

By now I understand, the most important things you need may often come uneasy. And all that are easy may be the unnecessary. Hi, to whatever we may end up, I don't have any regret.
Enjoy happiness even in its smallest form. It might get rare someday, but those little pieces will help through the day. Never waste.
Hai diriku. Bukankah kamu rindu menjadi dia yang dapat dengan bahagia berkata
"Segala usaha telah purna, maka akan ku pasrahkan apapun hasilnya"
In the end,
Just so you can love yourself a little better
Jika ditanya mana yang lebih aku suka, tentu saja akan aku jawab hujan. Meski beberapa rencana akhirnya harus gagal, atau pakaian yang semakin lama saja keringnya. Ratusan kali ditanya, jawabannya akan selalu sama, hujan. Kalau ditanya kenapa, aku juga tidak begitu mengerti. Bisa jadi karena teduhnya yang mengiringi, atau sayup - sayup suara rintik air di atas atap rumah kami. Bisa jadi juga karna beberapa kenangan yang dulu terjadi dan tiba - tiba mengaliri setiap nadi, meskipun si empunya berkata aku sudah sempurna berjalan maju kembali. 

Hai, di Salatiga hujan sudah kembali lebih sering. Tidak sesekali menerjang dalam bentuk badai pada malam kamu menghampiri. Tidak juga membuat jeansku basah karna aku belajar untuk tidak lupa menyimpan jas hujan di bagasi. Aku hanya berjaga - jaga, barangkali kamu datang lagi semua sudah aman terkendali. 

Tapi, sebenarnya tidak datang juga tidak apa - apa. Sungguh tidak apa - apa. Aku mengerti, bahkan hujan saja butuh waktu untuk membereskan urusannya sendiri. Tak apa, jika ditanya, jawabanku masih sama. Aku gak apa, masih suka, dan semoga kamu sehat - sehat saja.
teruntuk yang menggenapi pengertianku soal mengeluh adalah suatu kesia-siaan. tenang saja, aku masih ingat bagaimana kekhawatiran tak akan pernah jadi tidak berguna selama dalam bentuk doa. bahwa kepadaNya selalu ada pinta untuk menjaga setiap langkah kaki, untuk berusaha setiap hari. 

hai, jangan lelah ya mendengarkanku berujar hati - hati, jaga diri. kali ini aku mengerti untuk tidak berucap "hanya" sebelum kata - kata doa. aku tau bahwa justru doa adalah jalan satu - satunya. menuju setiap mimpi pada percakapan menjelang dini hari.  menuju harapan yang kugantungkan, agar kamu selalu dilindungi.


Jalanan Ungaran - Salatiga.
Selepas kata-katamu "hati - hati, jangan ngebut ya"
Dari aku, yang akhir-akhir ini mengerti bahwa ternyata ada yang sama lelah dan khawatirnya.
Hai. Lama tak jumpa atau bersua. Sudah tidak ada lagi cerita karna menurutku itu jalan satu - satunya. Dalam rangka melupakan, kita memang seringkali mengambil jalan untuk menyelamatkan diri sendiri. Bagaimanapun caranya. Apapun pengorbanannya. Ini juga bukan langkah paling egois karna bagimu segala pengacuhan tidak berarti apa - apa. Kamu tau benar bagaimana dunia dapat jadi amat menyibukkan dan banyak pinta. Bagaimana seringkali jadi menghanyutkan sehingga kabar yang alfa dalam waktu lama jadi terkesan wajar - wajar saja. Meski sebenarnya, setiap jarak adalah perekaan yang diukur dengan benar. Setiap pengacuhan bukanlah suatu ketidaksengajaan, sempurna jalan melupakan. Semuanya tidak lain karna ternyata masih ada tanya yang semakin nyata. Akankah suatu hari kamu sadari bahwa . . . .

Yah. Lupakan saja.

Aku berubah pikiran.

Jangan bertanya, tidak apa.

Mungkin memang paling benar untuk melanjutkan perjalanan pada arah yang berlawanan.

Semoga kamu sehat selalu, dinaungi semesta dan segala berkahnya.

Tapi ya, semoga tidak ada lagi temu pada persimpangan manapun di masa depan.
Dear mate, after years I finally muted you, and her. Only to get rid of everything I never thought still exist. To silent the sounds which resonating inevitably, will someday, at least once, you realize that it has always been me?
You may not always bigger than your problem, but you have Him, always bigger than anything. By that, may your heart find peace, and mind feeling ease.

Setiap kembalimu serupa pengkultusan. Pemutihan yang mengaburkan rencana balas dendam. Sekian kali terpisah lautan dan aku selalu lupa bagaimana berucap cukup dan tidak lagi baik - baik saja. Seketika teringat bagaimana aku lebih suka berdoa dengan namamu di dalamnya. Lebih suka bermimpi dengan langit - langit semestamu sebagai rumahnya.

Setiap kepulanganmu menyadarkan sesuatu. Cemas dan lelahku setiap hari terasa tidak ada apa - apanya, asal kamu ada. Oleh karnanya aku cukupkan setiap ingin pada pundakmu yang terasa lebih tinggi dari setiap rintangan di muka bumi. Asalkan kamu kembali, jangan lupa untuk selalu pulang lagi.
soal hari ini dan hal - hal paradoks. kamu semakin mengerti bahwa jawaban setiap pujian dan kesulitan ternyata sama, yaitu tenanglah, ada Ia yang Maha Memampukan :)
Setidaknya hari ini aku mengerti, bagaimana sesekali perlu untuk merasa kecil dan tidak mampu. Agar tidak jadi terlalu tinggi lalu ingat untuk meminta kepada Ia yang selalu lebih besar dari segala sesuatu. 
there is this certain sadness. not quite kills you because it is predicted. but still remains bone-deep as it is hard to be missed. because as much as you feel so sure about things, somehow you always know how the very same thing would end terribly. 
bagaimana seringkali aku berdoa, agar hanya cintaNya yang memenuhi setiap sela dan alfa. lalu tibalah hari - hari seperti hari ini, ketika Ia tunjukkan bahwa tak ada doa yang sia - sia. bagaimana jawabannya ada dalam hangatnya rumah dengan keluarga yang bersuka cita akan hari raya, juga pada teman - teman yang tak lekat namun ternyata selalu ada. aku tau, jemariku masih bersela, tapi rasanya hatiku terisi sepenuhnya. semoga kamu juga sama bahagianya, untuk hari ini sampai Ramadhan yang selanjutnya. semoga sampai nanti kita akan selalu ingat untuk tetap bersyukur pada hal - hal sederhana yang dengan cintaNya setiap nikmat jadi sempurna :))
Soal perjalanan yang tampaknya tanpa ujung. Ini bukan kali pertama, dan kemungkinan besar juga bukan akhirnya. Perjalanan tanpa ada cahaya diujung jalan seperti biasanya. Tidak jarang jadi gelap gulita karna aku tidak selalu ingat untuk menyalakan lampu penerangan yang berhubungan langsung dengan pemilik semesta. Tersesat pun pernah, beberapa kali. Sampai menghakimi semua kondisi yang terjadi. Lupa bahwa setiap yang terjadi punya alasannya sendiri. Sesekali aku juga terjatuh karna jalan yang tidak dapat kulihat betul, lubang disana sini, ditambah dengan keahlian yang tidak mumpuni. Saat itu biasanya aku hanya diam dan menangis sejadi-jadinya. Berharap ada yang datang tiba - tiba membawakan pakaian dan teh hangat. Harapan yang kini aku mengerti sia - sia. Aku salah pintu, salah tujuan dalam memohon pertolongan. Kini hal yang sama terjadi lagi. Berada di jalan yang rasanya familiar yang guratnya masih membekas di dinding hati. 

Aku ingat satu - satunya kata bijak yang paling penting dibanding semua koleksi. Bahwa doa serupa kayuhan sepeda, yang membuat roda bergulir maju tak kenal henti, yang pada suatu ketika akan sampai di tujuannya. Aku hanya harus bersabar dan terus melaju meski terkadang penuh beban dan gelap gulita.
Don't you bother yourself with making excuse for people. If they don't come, then they simply don't. There will be no after thoughts of imagining the maybes. Maybe because this or that. If they want to be here, they will come, eventually. Or else, they will make an explanation to make you at least understand, because there is no too much of explaination for those who waits, it is only people who don't have the willingness to stay from the very first place. Action counts, but words are often reassurance that can clear all the grey worrisome mind. If they don't feel the need to give an excuse, then you don't have the responsibility to understand the ambiguity. You shouldn't feel guilty when leaving.
Teruntuk Mei, kamu akan segera berakhir. Pada titik yang kita jadikan akhir, tiba - tiba aku teringat tentang suatu pagi. Kamu pasti tidak mengingatnya, sehingga jika ingin tau akan ku ceritakan dan dengarkanlah sebaik - baiknya. Kala itu masih terlalu pagi untuk kita, di warung makan kecil pinggir jalan, tempat sarapanku hampir setiap hari. 
"gue masih ngantuk banget sebenernya, tadi mau tidur lagi pas lu telfon haha" ujarku, masih dalam usaha menghabiskan sepiring gudeg yang rasanya terlalu familiar.
"gue juga gak biasa sarapan sebenernya" katamu kala itu.
"lah yaudah gak usah ngajakin sarapan dong, gimana sih haha" iya, saat itu ada kecanggungan yang menggantung, kala itu hari kedua dari perjalananmu yang tiba - tiba.
"ya tapi kan lu harus sarapan" ujarmu santai.
Kala itu, tanpa sadar kamu memberiku sesuatu, yang ingin sekali aku percaya dengan seluruh kesadaran yang aku punya. Terdengar sederhana, bisa jadi kosong, bisa jadi benar - benar penuh makna. Saat itu, baik keduanya aku berpasrah dan menjadikan kata - katamu sebagai bingkisan yang terlalu manis, bahkan pada rentang waktu yang panjang setelahnya. 

Desember nanti, sudah 2 tahun kita tidak bertemu. Aku mulai lupa rupamu. Bagaimana kamu berbicara. Kini, mungkin memang karna sendirian, segala usaha terkesan sia - sia. Semoga kamu selalu bahagia. Semoga kini ada yang ganti mendoakan segala bahagiamu dengan sepenuh hatinya meski harus jadi rapuh karna itu. Semoga kamu akhirnya menemukan tempat yang nyaman untuk selalu dijadikan tempat pulang, bukan lagi persinggahan.
"Ma fi qalbi ghairullah"

Kata - kata yang semakin sering aku dengungkan dalam beberapa hari. Agar setiap namamu ada, aku selalu teringat Ia. Serupa cara melangitkan hati, agar selalu berpijak kaki ini. Agar aku tidak salah langkah lagi untuk kesekian kali.
"mengapa menjadikan dunia dan manusia tujuan, seolah hidup tanpa Tuhan"

Ujar diriku, menghadapi segala pertanyaan dalam kepala, tentang pernahkah sekalipun aku dijadikan tujuan. Setelahnya, aku tidak lagi bertanya, justru semakin percaya. Bahwa ada kata - kata seseorang entah siapa, tentang bagaimana kawan seperjalanan akan ditemukan pada satu tujuan yang sama. Karenanya, semoga kita selalu ingat akan akhir yang paling utama, agar suatu hari dipertemukan dengan kawan seperjalanan yang akan selalu mengingatkan.
Teruntuk Dita, mari aku beri kamu sesuatu. Hadiah ulang tahun ke-22. Semoga kamu mengerti. Semoga kamu selalu ingat, akan tulisan ini, yang sudah susah kita dapat.

Soal jodoh. Suatu hari, kalau kamu ragu, ingatlah sesuatu bahwa kita sudah seringkali berkutat soal ini. Tentang bahagia, bagaimana kamu setia, bagaimana percobaan beberapa kali ternyata cukup membuatmu jera. Membuat kamu sampai pada suatu kesimpulan, bahwa sudah saatnya berhenti untuk segala kerumitan dimengerti. Sudah saatnya kamu tau, bahwa soal pertemuan cinta adalah jauh dari kata sederhana. Aku pikir malah benang-benang takdirnya diurus langsung oleh semesta. Walaupun terkadang usaha tidak dapat membuat kamu mengira soal akhirnya. 

Sudah cukup kamu mengerti bahwa cinta adalah sesuatu yang tidak dapat dipaksa. Tidak terikat oleh waktu maupun ruang. Ia tidak berkorelasi terhadap masa dimana ia diusahakan. Tidak ada hubungannya dengan bagaimana seseorang dapat memantaskan. Katanya memang kita dapat mengusahakan melalui perbaikan terhadap diri yang terus menerus dilakukan. Tapi kenapa masih saja ada dia yang begitu baiknya menikah dengan seseorang yang tidak sama pintarnya, tidak soleh salamnya. Akhirnya setiap ukuran jadi rancu. Mungkin sebenarnya hanya kita yang selama ini hanya menciptakan standar kepantasan, dan mengesampingkan mekanisme keseimbangan. Hal yang menurutku juga Tuhan ciptakan. Hanya Tuhan yang mengerti benar. Lagi pula, bukankah rasanya terlalu sempit ya untuk memperbaiki diri untuk alasan jodoh? Bukankah tujuan kita sebagai manusia lebih besar dari itu?. 

Hal kedua adalah soal berusaha tentang sabar dan melepaskan. Satu yang harus kamu ingat soal ini ketika suatu hari kamu tiba di kamarmu dan merasakan diri jadi sehancur-hancurnya. Ingatlah sesuatu soal bagaimana menemukan cinta adalah satu dari sekian banyak hal yang termasuk kebesaranNya. Dan seperti segala hal menakjubkan lainnya, seringkali alasan kejadiannya pun akan sulit kita mengerti. Akhirnya kepalamu jadi dipenuhi amarah dan juga tanya. Saat itu kamu cukup ingat, bahwa ia yang sudah ditakdirkan untukmu tidak akan sekalipun jadi untuknya. Dan juga sebaliknya. Maka berhentilah berusaha. Berhentilah memaksa. Berhentilah menjadi sok tau terhadap segala sesuatunya. Karna sebenarnya sesederhana itu, ketika ia bukan jodoh mu, maka bertahun-tahun kamu begitu ada, tak akan membuat bahkan sekian detik hidupnya berpaling mata, apalagi rasa.

Semoga bingkisan yang tidak seberapa ini bisa membuatmu berhenti mempersoalkan masalah - masalah remaja. Karna sungguh, kamu sudah tidak umurnya :)

Kamu harus benar benar belajar mengikhlaskan ta. Sebelum segala kejadian yang kamu takutkan, membuat usaha pengikhlasan serupa keterpaksaan. Merelakan hal-hal yang tidak dapat selalu kamu gapai dengan tangan. Merelakan setiap kejadian terjadi begitu saja. Merelakan apa yang membebankan pikiran menjadi kenyataan.

Kamu benar-benar harus belajar melepaskan. Memberi kebebasan terhadap segala keterikatan. Memberi ruang terhadap semesta untuk bekerja sesuai dengan ketetapan. Memberi segala lapang yang dibutuhkan untuk bernafas lebih ringan, melangkah tanpa beban. Sesuatu yang hanya dapat terjadi ketika diri ini mengerti benar soal ketidakberdayaan seorang manusia. Yang pada suatu masa, hanya dapat berdoa. Yang hanya bisa percaya. Bahwa ada sesuatu yang lebih besar dari segala yang kamu rencanakan dalam kepala. 

Mereka adalah yang paling tidak tau kalau pertemuan dengan manusia, berbasa basi, dan ramah tamah, dapat sangat melelahkanku. Mereka memang kurangajar karna meski setiap hari bertemu, mereka tetap saja tidak mengerti. Tapi sebenarnya itu juga bukan salah mereka sih, karna segala beban yang kubawa sebelum ini telah menguap saja ketika bertemu dengan mereka yang 4 tahun ini selalu menemani. 

Mereka adalah satu kesatuan dalam memori yang akan sulit sekali kupisahkan dari hidup ini. Bahkan meski sudah ku tuliskan berkali-kali ketika suatu hari rindu ini menggulungku kembali. Mereka bisa membuatku yang tidak suka pedas jadi ketagihan ayam geprek juga seblak. Mereka bisa membuatku yang seringkali tidur cepat jadi belum terlelap meski lewat dini hari. Gila.

Mereka adalah yang membuat anak rumahan ini berujar "enak ya ternyata nongkrong-nongkrong nggak jelas". Karena mereka juga, meski tidak ada pacar, motorku tetap terjaga kesehatannya, hampir rutin dioli maupun dikencangkan ikatan rantainya, aku hanya tinggal mengeluh dan memelas agar mereka ingat bahwa aku masih seorang wanita yang hanya mengerti memandikan motornya beberapa minggu sekali. 

------------------------------------------------------
Tulisan di atas aku temukan tanpa catatan waktu yang jelas. Bisa jadi ketika menetap di Purwokerto, bisa jadi ketika yang menetap hanyalah kenangan sedangkan raga sudah tidak. Namun, sebagai updatenya, kini tanpa mereka aku baik - baik saja. Sesekali memang rindu, sesekali kami berkirim pesan meski tidak panjang ataupun lebar. Mereka berjalan pada ceritanya masing - masing. Aku juga. Mereka bertemu teman - teman baru. Aku juga. Mereka punya masalahnya. Aku juga. Mereka berbahagia. Aku pun pernah. 

Kini aku mengerti, bagaimana setiap orang yang kita temui memiliki fasenya sendiri - sendiri. Berpisah raga gak apa, yang penting pernah memberi arti :)

karna ada janji untuk setiap yang pergi, akan selalu diberi ganti
Diskusi panjang telah sampai pada satu yang kita sepakati. Bagaimana kita akan berhenti berdoa untuk semua yang terbaik menurutNya, karna akhirnya kita mengerti bagaimana Ia selama ini selalu memberikannya tanpa perlu diminta. Kini, kita sepakat untuk mengganti dengan yang lebih sederhana. Agar setiap keinginan hati sesuai dengan kehendakNya. Agar selalu ada kelapangan untuk menerima setiap yang ditakdirkan. Pagi ini kita teringat, bagaimana melelahkannya berjalan dengan hati yang terbebani karna dunia tidak sesuai dengan imaji. Yang anehnya, pada masa - masa paradoks, kita justru merasakan ragu pada hal - hal yang berada dalam genggaman, meski sebelumnya kita inginkan dengan sepenuh angan. Bukankah membahagiakan bahwa akhirnya kita sepakat bahwa hanya Ia yang paling tau akan setiap yang terbaik dan hal - hal di dunia lainnya, bahkan tentang diri kita sendiri?
Teruntuk 31 yang kedua puluh tiga.

Kita sudah sampai di februari, dan aku tidak menyambutmu tepat waktu, lagi. Tapi, semoga harapanku sampai. Agar kini kamu bisa mencintai dirimu sendiri. Tidak lagi menyalahkan diri karna segala sesuatu yang kamu tidak punya kendali. Juga akan kesalahan - kesalahan yang bukan milikmu sejak kali pertama terjadi. Berhenti minta maaf hanya karna ada jari - jari yang menunjukmu. Seketika mempercayai karna kamu terlalu takut untuk membela diri.

Semoga kamu juga bisa menghargai dirimu sebanyak itu.
Teruntuk Mei.

Ada doa yang mengiringi setiap kepergianmu. Ketempat manapun kamu menuju. Berharap meringankan segala beban yang kau bawa seiringan. Saya ingin terus saja berdoa untukmu. Jika suatu hari saya berhenti, sungguh, saya bukan tak mau, tapi hanya karna tak lagi mampu. Saat itu, semoga saya masih di ingatanmu. Dalam bentuk apapun itu.

Saya rindu.
Postingan Lebih Baru Postingan Lama Beranda

ABOUT ME

Introverts in disguise. Read keeps me sane, write keeps me awake. Both of them entwined makes me alive.

SUBSCRIBE & FOLLOW

POPULAR POSTS

  • semesta yang lain
  • 15 years!!!
  • ketidaktahuan
  • hari raya
  • teman pabrikku :’))

Categories

  • Reviews
  • Stories
  • Unsend Letters

Advertisement

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.

Blog Archive

  • ►  2026 (5)
    • ►  Maret (4)
    • ►  Januari (1)
  • ►  2025 (6)
    • ►  Desember (2)
    • ►  Juni (2)
    • ►  April (2)
  • ►  2023 (4)
    • ►  Oktober (2)
    • ►  September (2)
  • ►  2022 (1)
    • ►  Mei (1)
  • ►  2021 (15)
    • ►  November (2)
    • ►  September (1)
    • ►  Agustus (1)
    • ►  Juli (2)
    • ►  Juni (2)
    • ►  Mei (4)
    • ►  April (3)
  • ►  2020 (46)
    • ►  September (8)
    • ►  Agustus (8)
    • ►  Juli (7)
    • ►  Juni (4)
    • ►  Mei (6)
    • ►  April (5)
    • ►  Maret (7)
    • ►  Januari (1)
  • ▼  2019 (28)
    • ▼  Desember (11)
      • unsettling
      • aku ga apa
      • important
      • happiness
      • purna
      • In the end, Just so you can love yourself a lit...
      • hujan
      • hati - hati, jaga diri.
      • Hai
      • muted
      • bigger
    • ►  Juli (2)
      • pengkultusan
      • perspektif
    • ►  Juni (4)
      • sesekali
      • prediction
      • semoga kamu bahagia
      • hampir tersesat
    • ►  Mei (9)
      • I am leaving
      • teruntuk Mei (2)
      • yang jadi sementara
      • soal tujuan
      • hadiah ke-22
      • setiap yang jadi nyata ataupun tidak
      • soal mereka
      • la tahzan
      • soal keinginan
    • ►  Februari (1)
      • 31 ke-23
    • ►  Januari (1)
      • 01.30
  • ►  2018 (21)
    • ►  September (2)
    • ►  Agustus (3)
    • ►  Juni (2)
    • ►  Mei (2)
    • ►  April (2)
    • ►  Maret (2)
    • ►  Februari (4)
    • ►  Januari (4)
  • ►  2017 (62)
    • ►  November (1)
    • ►  September (6)
    • ►  Agustus (2)
    • ►  Juli (2)
    • ►  Juni (5)
    • ►  Mei (7)
    • ►  April (9)
    • ►  Maret (2)
    • ►  Februari (15)
    • ►  Januari (13)
  • ►  2016 (55)
    • ►  Desember (8)
    • ►  November (12)
    • ►  Oktober (10)
    • ►  September (7)
    • ►  Agustus (5)
    • ►  Juli (1)
    • ►  Juni (3)
    • ►  Mei (2)
    • ►  April (4)
    • ►  Februari (1)
    • ►  Januari (2)
  • ►  2015 (26)
    • ►  Desember (5)
    • ►  November (2)
    • ►  Oktober (2)
    • ►  Agustus (1)
    • ►  Mei (1)
    • ►  April (1)
    • ►  Maret (6)
    • ►  Februari (4)
    • ►  Januari (4)
  • ►  2014 (48)
    • ►  Desember (4)
    • ►  Oktober (4)
    • ►  September (1)
    • ►  Juli (2)
    • ►  Juni (4)
    • ►  Mei (8)
    • ►  April (6)
    • ►  Maret (6)
    • ►  Februari (7)
    • ►  Januari (6)
  • ►  2013 (52)
    • ►  Desember (6)
    • ►  November (2)
    • ►  Oktober (7)
    • ►  Agustus (2)
    • ►  Juli (1)
    • ►  Juni (1)
    • ►  Mei (8)
    • ►  April (4)
    • ►  Maret (11)
    • ►  Februari (2)
    • ►  Januari (8)
  • ►  2012 (68)
    • ►  Desember (23)
    • ►  November (5)
    • ►  Oktober (13)
    • ►  September (4)
    • ►  Agustus (2)
    • ►  Juli (1)
    • ►  Juni (1)
    • ►  April (3)
    • ►  Maret (5)
    • ►  Februari (7)
    • ►  Januari (4)
  • ►  2011 (13)
    • ►  Desember (13)

Pengikut

Oddthemes

Designed by OddThemes | Distributed by Gooyaabi Templates