Pada kedua matamu aku berpulang. Aku kira sudah tidak ada lagi rumah dalam sayupnya. Ternyata pada kedalamannya justru aku temukan sebagian diriku yang sudah lama dikira hilang. Siapa sangka, gadis remaja itu ternyata masih bersembunyi dibalik teduhnya. Ia nyaman bersandar pada setiap rasa dilindungi dan kata - kata penuh cinta. Cukup lama di palung Mariana, kembali pada tatapanmu di suatu siang yang tiba - tiba, membuatku ingin bersandar dan menaruh jangkar selama yang aku bisa. Sayangnya, hidup masih kerap menjadi banyak sekali ketidakmungkinan, dan kamu bukan pengecualian.
Pada hangatnya ruang - ruang pikiranmu aku berpulang. Aku bebas menghamburkan banyak keresahan di setiap sudutnya. Tidak pernah ada khawatir akan berubah menjadi pisau yang menusuk tajam. Begitu lapangnya, dan aku bebas menjadi apapun yang aku suka. Bisa jadi pahlawan yang kesiangan, atau penjahat atas mimpi - mimpinya sendiri. Berbagai macam aku yang sedikit baiknya, tapi tidak pernah khawatir akan kehilangan tempatnya di setiap sisi. Setiap dindingnya masih menjadi kanvasku paling warna - warni. Membuatku ingin menyimpannya selamanya, abadi. Sayangnya, hidup masih kerap menjadi banyak sekali ketidakmungkinan, dan kamu bukan pengecualian.
Begitu keras aku berdoa dan masih bukan jadi pengecualian. Aku pikir, ini jawabannya. Gak apa, setidaknya aku pernah merasakan nyaman, yang pada kehidupan amat sederhana, juga adalah suatu keajaiban.
Satu kejadian dengan akhir berbeda. Kejadian ini mengantarkannya pada rasa jatuh cinta seutuhnya. Untuk pertama kalinya, membuat ia dapat memeluk suara hatinya sendiri sepenuhnya. Berterima kasih tanpa henti, karena suara hati telah mengantarkannya pada satu titik bahagia yang sebelumnya tidak pernah mampu ia singgahi. Ia tidak lagi menuhankan logikanya sendiri.
Satu kejadian dengan akhir berbeda. Mengantarkan aku pada rasa ketidak percayaan sepenuhnya. Kehilangan pijakan kaki yang mantap, menuju keentahan sempurna. Aku tidak lagi mendengarkan kata hati, tidak lagi dapat percaya. Menjatuhkan diri seutuhnya pada setiap perasaan, membuatku sampai pada satu kehancuran yang tidak pernah aku temukan sebelumnya. Untuk seseorang yang selalu memeluk suara hatinya dengan sepenuh jiwa, kehilangan kepercayaan terhadapnya adalah kegamangan paling purna.
Ini masih jam 5 pagi, di hari Rabu. Dan aku sudah tidak tau apalagi yang dapat aku percaya pada setiap langkah kakiku.
Ribuan doa dengan namamu yang bertebaran di setiap sisinya, kembali datang tiba - tiba. Sebagai seorang perencana, tentu saja setiap kemungkinan terburuk sudah masuk dalam hitungan. Bagaimana aku akan menyelamatkan diriku, kemanakah aku akan berlindung setelah ini. Begitu banyak jalan keluar dan imajinasi setelah kala ketika, ternyata masih menyisakan satu tanda tanya. Soal kemana doaku bermuara, ketika ternyata bukan kamu orangnya. Akankah banyak doaku yang lalu jadi sia - sia?.
Ataukah Ia telah menyelamatkan doaku dengan mengganti namamu entah dengan nama siapa, agar doa tetap sampai ke esensinya.
Atau cukuplah Ia menyelamatkan doaku dengan menilainya sebagai pahala?.
Soal bukit bintang yang pada setiap tikungan menujunya membuatku berdoa. Perjalanan menuju kesana malam - malam, tanpa penerangan sepanjang jalan, hanya kita yang berbicara pelan - pelan. Takut membangunkan entah makhluk apa yang mengiringi perjalanan. Katanya tidak akan ada yang menarik di ujung sana, tapi aku tetap rela berlelah - lelah menaiki setiap anak tangga. Tidak ada yang menjanjikan hal - hal yang berharga, tapi sampai di puncaknya, aku dihadiahkan sepuas - puasnya rasa. Bintang - bintang ternyata tidak tergantung di angkasa. Ternyata, konstelasinya bertebaran begitu luasnya di daratan. Siapa sangka, bahwa ia disusun dengan begitu indahnya dari kumpulan lampu jalanan yang tetap tegak ditengah angin Purwokerto, yang terkadang jadi begitu luar biasa pada bulan - bulan kemarau. Ada pula bintang yang bergerak, lampu - lampu kendaraan yang berlalu lalang. Dikendarai oleh manusia dengan berbagai macam tujuan. Ada yang dengan sisa tenaga setelah berlelah - lelah seharian, berusaha pulang. Menuju rumah, dengan air hangat dan makan malam. Di antaranya juga ada muda - mudi yang sedang tenggelam dalam kisah cinta remaja. Berusaha berenang menuju masa depan, dengan segenap mimpi dan asa. Bisa jadi juga lampu kendaraan, dari seorang remaja yang hanya berputar - putar menyusuri kota. Mencari arti hidupnya. Sederhana karena setiap alasannya ada di dunia tiba - tiba hilang begitu saja, karena memang ekspektasi tidak selalu berkawan baik dengan realita. Pada setiap tarikan nafasnya ia merapal mantra, aku tidak menyerah hari ini, aku akan mencoba lagi bersamaan dengan terbitnya matahari.
Soal bukit bintang yang ternyata begitu tinggi, tapi dapat membuatku semakin mantap berpijak diatas tanah dengan kedua kaki. Ternyata melawan dunia dan segala masalahnya, aku tidak pernah sendiri. Aku dan setiap bintang - bintang yang bergerak, bertebaran, bersinar, ternyata sama - sama berusaha dengan caranya sendiri. Dengan langit di atas sana, yang dengan begitu luasnya selalu menaungi.
Panjang umur wanita. Hidup manusia harusnya jadi tidak terduga, tapi kenapa banyak orang menerka - nerka tentang seharusnya. Harusnya ia kini sudah lulus dari sekolah. Harusnya sudah tidak lagi bergantung dengan orang tua. Harusnya diumur yang kesekian menikahlah dia. Harusnya ia tidak lagi hanya berdua, tapi juga dengan manusia - manusia kecil yang mahalnya bukan main. Banyak sekali harusnya yang menjadikan umur wanita terhenti. Tidak lagi tersedia pilihan selain menjadi istri seseorang yang sanggup menghidupi. Mengesampingkan banyak sekali mimpi karena omongan tetangga atau saudara yang entah siapa namanya. Bukan lagi soal di hidup ini kita akan jadi apa. Bukan lagi soal bahagia versi kita. Ketika dewasa, menjadi wanita hanya dipenuhi banyak sekali terka. Seolah - olah hidup kita sudah jadi begitu jelas ujungnya, bahkan ketika belum ada satupun langkah pertama. Belum juga berpikir akan kemana, tapi setiap penonton sudah menjadi juri akan sampaikah wanita pada standar yang tidak kasat mata. Menjadi dewasa dan ternyata umur wanita masih tidak sepanjang semangat Kartini dan ceritanya.
Namun ditengah gelap, rasanya aku masih ingin berlari. Masih ingin berusaha agar panjang umur diri ini. Tetap hidup meski sudah tidak lagi menapaki bumi. Mengalir di dalam pikiran setiap yang aku sayangi. Bernafas serupa hembusan embun pagi.
Siapa sangka, di tengah acara mencuci piring selepas makan siang, jawaban atas pertanyaan besar di hidupku yang menggantung bertahun - tahun, hadir tiba - tiba dalam wujud paling sederhana. "Rasanya berat dan sulit, tapi bukannya memang jalan menuju ridhoNya tidak ada yang mudah ya Ta?".
Siapa sangka, sore ini ketika sibuk terkesima dengan lampu - lampu kendaraan di sepanjang jalan, hatiku yang terasa amat berat beberapa bulan ini, tiba - tiba kehilangan muatannya. Diganti rasa lega karena akhirnya bertemu dengan kalimat paling sederhana. "Kalau memang Allah maunya begitu, kita bisa apa?"
Kedua kesimpulan ini diakhiri dengan tanda tanya, tapi diiringi dengan kelapangan yang absen sebelumnya. Aku gak pernah sebegini bahagia dengan retorika sederhana.