Teruntuk Mei, kamu akan segera berakhir. Pada titik yang kita jadikan akhir, tiba - tiba aku teringat tentang suatu pagi. Kamu pasti tidak mengingatnya, sehingga jika ingin tau akan ku ceritakan dan dengarkanlah sebaik - baiknya. Kala itu masih terlalu pagi untuk kita, di warung makan kecil pinggir jalan, tempat sarapanku hampir setiap hari.
"gue masih ngantuk banget sebenernya, tadi mau tidur lagi pas lu telfon haha" ujarku, masih dalam usaha menghabiskan sepiring gudeg yang rasanya terlalu familiar.
"gue juga gak biasa sarapan sebenernya" katamu kala itu.
"lah yaudah gak usah ngajakin sarapan dong, gimana sih haha" iya, saat itu ada kecanggungan yang menggantung, kala itu hari kedua dari perjalananmu yang tiba - tiba.
"ya tapi kan lu harus sarapan" ujarmu santai.
Kala itu, tanpa sadar kamu memberiku sesuatu, yang ingin sekali aku percaya dengan seluruh kesadaran yang aku punya. Terdengar sederhana, bisa jadi kosong, bisa jadi benar - benar penuh makna. Saat itu, baik keduanya aku berpasrah dan menjadikan kata - katamu sebagai bingkisan yang terlalu manis, bahkan pada rentang waktu yang panjang setelahnya.
Desember nanti, sudah 2 tahun kita tidak bertemu. Aku mulai lupa rupamu. Bagaimana kamu berbicara. Kini, mungkin memang karna sendirian, segala usaha terkesan sia - sia. Semoga kamu selalu bahagia. Semoga kini ada yang ganti mendoakan segala bahagiamu dengan sepenuh hatinya meski harus jadi rapuh karna itu. Semoga kamu akhirnya menemukan tempat yang nyaman untuk selalu dijadikan tempat pulang, bukan lagi persinggahan.

0 comments