Sepeda Merah Muda

Rayu, semalam tadi berat. Kita menangis habis - habisan selagi kamu dalam pelukan. Bukankah kita teringat pada satu masa ketika yang kita inginkan hanyalah sepeda roda dua, berwarna merah muda. Semua anak di gang itu memilikinya, kecuali kita. Orang tua kita berkata bahwa tidak semua hal yang kita inginkan bisa kita miliki sekarang. Terkadang kita butuh bersabar selagi berjalan. Beberapa hal butuh waktu sampai akhirnya ada di dalam genggaman. Saat itu kita kecewa, menangis sejadi - jadinya. Hingga pada sore hari yang biasa, sepeda roda dua, sudah terparkir di halaman depan rumah kita. Namun ia tidak berwarna merah muda, melainkan biru tua. 

Anehnya, kita tetap bahagia meskipun ingatan tentang cantiknya sepeda merah muda masih lekat dalam kepala. Kita sama - sama tidak menyangka bahwa tidak mendapatkan sesuatu, tepat seperti yang kita inginkan, ternyata rasanya tidak begitu mengecewakan. Sesorean itu kita masih bermain dengan sepeda biru tua sampai kelelahan. Pelajaran yang begitu sederhana, yang aku ingat sampai sekarang. 

Rayu, tidak semua hal yang kita inginkan di hidup ini akan berjalan. Beberapa hal akan berjalan hanya sebagian, bahkan mungkin segala ingin tidak jadi nyata sama sekali. Sering kali, yang kamu inginkan justru membutuhkan kesabaran sepanjang perjalanan yang sangat lama. Kesabaran yang ternyata hanya berujung dengan tangan hampa. Sedih dan kecewa, gapapa. Tapi akhirnya kita belajar bahwa hidup memang harus seperti itu. Justru setiap keinginan yang hancur akhirnya menumbuhkan rasa syukur ketika hal - hal sederhana datang sebagai pengganti dari setiap kecewa. Keinginan - keinginan yang nampaknya sia - sia ternyata perlu, dan sama pentingnya.

Kita harus menerima bahwa hidup memang begitu adanya. Setiap yang kita inginkan tidak selalu yang terbaik dari setiap yang kita perlukan. Kita belajar, ternyata hal - hal terbaik datang dengan caranya sendiri, pada waktunya sendiri.

0 comments