Sebelum itu


Sebelum pundakmu terlalu jauh digapai lengan. Sebelum telingamu tak dapat lagi kubisikkan. Sebelum kita akhirnya berpisahan. 

Hai kamu. Ini adalah surat perpisahan. Jika kau tau, ini adalah kesekian kalinya aku menyadur rindu. Berpelukan dengan lengan sendiri berharap itu adalah hangatmu yang sampai ke sisi. Tapi semuanya tak apa, ini adalah pilihan paling dewasa yang pernah dibuat oleh seorang gadis yang masih belajar bagaimana menyikapi rasa. Sejauh ini, walaupun tidak membahagiakan, tapi menyimpanmu hanya sebatas tulisan adalah hal yang tak pernah aku sesalkan.

Hai kamu. Aku tak tau, bagian mana yang akan aku abadikan kali ini. Aku takut kamu membaca dan menyadari. Aku takut kau akhirnya beranjak pergi. Aku takut kau akan merasa dikhianati. Tapi mari, aku beri tahu hal-hal yang kemudian aku ingat soal kamu. Agar suatu hari bisa aku baca lagi, ditengah malam yang kesepian, menciptakanmu walaupun dalam bentuk angan.

Yang pertama adalah, perjalanan. Satu yang paling kuingat soal perjalanan adalah bagaimana kau tertawa. Bagaimana semua kebodohan menjadi hal yang sangat lucu sampai sejadi-jadinya. Bagaimana tawamu kemudian jadi hal-hal yang hanya milik kita saat itu. Bagaimana aku merasa memilikimu walaupun hanya sekejap waktu. Walaupun hanya perjalanan, tapi kita kala itu adalah apa yang selalu aku semogakan agar tak jadi berkesudahan.

Lalu ada soal berbicara. Sejauh ini, kau selalu jadi yang paling mengerti tanpa harus banyak kata. Menjadi seseorang yang selalu menghargai walaupun tanpa diminta. Menjadi sesuatu yang aku tahan berdiskusi lama-lama. Satu yang paling aku suka, adalah bagaimana kau menjadi tempat untuk segala pikiran omong kosong, tanpa perlu takut dianggap bodoh. Tanpa takut dianggap tak penting, dianggap remeh karna berbicara tentang bintang dan banyak ide lainnya soal dunia. Tak ada ragu bahwa kau akan menganggap omonganku adalah angin lalu. Bagaimana aku menemukan laki-laki yang seperti itu?.

Dan satu lagi, soal menjadi dewasa. Yang terakhir adalah bukan milikmu. Ini adalah bagaimana aku menjadi aku karena kamu. Satu lagi yang aku suka dan ingin kuingat ketika membawamu kembali di lini waktu berbeda. Menyayangi kamu sampai sebegininya tapi tetap harus jadi dewasa. Bertemu kamu mengajarkanku sesuatu, menjadi lebih bijak dalam mengeja rasa. Aku kini adalah bukan gadis yang sering kali tergesa-gesa. Aku banyak diamnya. Aku banyak berdoanya. Aku banyak memendam rasa karna tau ini tak akan jadi nyata. Aku berhenti berharap bahwa kamu akan berbalik dan terbuka segala rahasia. Karna aku pasrah saja ketika tersakiti. Lagi-lagi, ini pilihanku untuk selalu menemanimu, dalam bentuk apapun itu.

Karna kita hanya tinggal menghitung waktu. Lalu kita akan mulai lagi dengan biasa seperti dulu. 

0 comments