Hellonjo!

Soal cerita melelahkan juga banyak hal - hal yang menyenangkan.


Mas, kita sering sekali punya banyak pertanyaan dalam kepala. Kemarin malam sekumpulan tanyaku bertambah satu. Berasal dari kata - kata mama selepas aku bercerita tentangmu. Kata - kata yang menjelma menjadi tanya dalam kepalaku sampai sore ini.

"Susah Ma, segalanya memang selalu dia simpan sendiri, gak cerita - cerita" kala itu aku berusaha menutup cerita yang tidak sengaja. Berharap mama berhenti bertanya.

"Ta, Bapakmu juga orangnya keras dan tertutup loh" ujar Mama, sembari pergi. Ia menggarisbawahi banyak sekali asumsi - asumsi yang aku anulir akhir - akhir ini. Asumsi yang harus ditiadakan karna kita yang tidak berjalan lagi. Asumsi yang salah satunya berakar kepada fakta bahwa seringkali Bapak sangat mirip denganmu yang lebih sering menyimpan segala sesuatunya sendiri.

Mas, aku percaya bahwa setiap manusia adalah pembaca tanda - tanda halus, yang dituliskan semesta dimana - mana. Bagiku, orang tua adalah gerbang dari banyak tanda yang jadi petunjukNya. Oleh karenanya kini aku menerka - nerka arti dari setiap yang terjadi. Menyambungkan satu titik menjadi serupa bintang dalam konstelasinya di suatu galaksi. Meskipun akhirnya konstelasiku tidak jadi sempurna, entah membentuk apa. Mungkin hanyalah abstrak yang tidak ada artinya karna jawabannya semakin hari menjadi semakin buram saja.

Aku hanya berdoa semoga kita tidak salah langkah kali ini. Mas, bagaimanapun akhirnya, aku masih berdoa agar suatu hari ada temu denganmu, sehat dan bahagia.
"kamu percaya mimpi?"
ujar dosen pembimbing satu ku siang itu.

Disela sesi bimbingan skripsiku dulu, kami memang kerap kali bertukar pikiran soal apapun. Mulai dari isu pendidikan yang sedang ramai di sekitar kampus, sampai salah satu boy band KPOP. Bukan, boyband itu bukan idolaku, mereka idola beliau. Dalam waktu berjam - jam, beliau dapat membahas sekumpulan laki - laki belia yang menurutnya lebih dari sekedar artis dalam gemerlap industri musik Korea. Bahwa mereka juga seorang yang pintar, dan pekerja keras. Nilai - nilai yang beliau percaya harusnya ada pada setiap manusia yang berusaha. Diskusi yang akhirnya berujung kepada serangkaian kalimat yang menyemangatiku, ketika hidup sedang penuh kegagalan.

"percaya Miss"
Jawabku tanpa perlu berpikir dua kali. Tidak pernah berpikir bahwa kata percaya terlalu naif untuk didengungkan. Meski ditengah segala ketidak mungkinan.

Sesudahnya aku merasa perlu mengatakan hal yang sudah lama tertanam dalam kepala
"saya nggak akan nyerah, kecuali kalau Miss sudah menyerah dengan saya"

Dosen pembimbingku menjawab dengan jawaban yang akhirnya membuatkku bersyukur akan pilihanku hampir dua semester lalu.
"saya juga nggak akan nyerah Dit, kecuali kamu menyerah dengan penelitian ini"

Menarik garis waktu, kurang lebih 2 tahun setelah kejadian itu. Rasanya meski sudah dihancurkan berkali - kali, aku masih ingin menjadi mahasiswi bimbingannya yang sepenuhnya percaya dengan mimpi. Saat itu, untuk pertama kalinya aku tidak bermimpi sendiri.

Bahwa sesungguhnya dibawah langitNya, tidak ada yang tidak mungkin.
Sungguh, tidak ada yang tidak mungkin. 
Hal yang pagi ini aku sadari. Meski kamu sering kali berada di garis hadir dan hilang, ternyata aku selalu membawamu kemanapun aku pergi. Ke tempat - tempat yang aku kunjungi. Pantai dengan pasir putih, dan laut yang sebiru langit. Beberapa kali semilir angin menghembuskan ingatanku tentangmu. Kalau saja kamu disini. Bahkan di tengah senyapnya kafe kopi, senja hari, bersama segelas latte dan seorang laki - laki. Kamu hadir dalam bentuk sekumpulan rasa bersalah dalam hati. Serupa rasa yang aku tidak mengerti asalnya. Selamanya tidak dapat aku logika.

Pagi ini, ketika akhirnya beranjak dari malam - malam tanpa penjelasan. Melihat ke belakang rasanya membuatku menyadari sesuatu. Aku butuh untuk melepaskanmu. Sepenuhnya. Tidak lagi jadi seseorang yang selalu aku bawa. Tidak lagi jadi rumah tempat aku mencari perlindungan. Berhenti menjadikanmu tempat istirahat untuk setiap lelah akan pelarian karna ketakutan.

Sekian jauh perjalananku dengan membawa bayanganmu membuatku mengerti. Aku tidak dapat memaksa jiwa - jiwa berkelana untuk tinggal, selamanya sekedar menyinggahi. Kamu mungkin saja bukan jawaban dari setiap pertanyaan yang bergantungan. Jawaban - jawaban yang hanya akan aku dapatkan ketika aku berjalan sendirian, dengan pundak yang lebih ringan.

Mas, aku masih mencarimu beberapa kali akhir - akhir ini. Belum terbiasa berjalan sendiri, dengan tidak membawamu di sisi. Tapi aku usahakan agar tetap seperti ini. Semoga kita dapat bertemu lagi suatu hari. Dengan hati yang lebih tertata, dan pikiran yang dewasa. Kala itu, semoga kamu sudah menemukan rumah tempatmu dapat bercerita.
Dalam tulisan ini aku akan memenangkan diriku sendiri. Setelah beberapa kali dikalahkan, dianggap salah, dan ditiadakan segala nilainya, sudah seharusnya dia mendapatkan bingkisan. Tidak seberapa, tapi semoga bermanfaat.

Pertama. Jangan sedih. Kamu tidak salah langkah, dan ini semua memang sudah seharusnya terjadi. Segala kecewa karna banyak mimpi - mimpi jadi semakin jauh adalah wajar saja, dan setiap badai yang menyertainya akan berlalu. Pada masanya. Kamu hanya harus bersabar sambil berjalan. Seperti biasanya. Sembari menunggu waktu dimana semua kejadian jadi jelas alasan terjadinya.

Kedua. Jangan sedih. Kamu bukannya tidak cukup, ataupun kumpulan dari segala sesuatu yang terlalu. Kamu tidak terlalu dalam saat merasa. Juga tidak terlalu khawatir pada setiap manusia disekitar. Ingatlah, karna kemampuan merasa yang membuatmu jadi yang pertama mengerti bahwa seorang teman tidak baik - baik saja, butuh bantuan. Menjadi pengingat bahwa dia tidak perlu mati hari ini, ditangannya sendiri. Kekhatiwaranmu juga yang mengisi kekosongan mereka yang berpikir bahwa dirinya tidak berarti. Setidaknya ada dita yang mencari.

Ketiga. Jangan sedih. Kamu bukan gadis yang bodoh meski banyak sekali tertawa karna hal - hal sederhana. Ingatlah, banyak yang menyayangimu karna segala canda yang terkesan tidak ada artinya. Kamu jadi punya banyak kakak yang peduli dan berdoa agar kamu tetap ada. Kakak yang khawatir ketika kamu berkata aku butuh bantuan. Yang memelukmu ketika kamu menangis siang hari karna kabar buruk yang datang tidak pada waktunya.

Keempat. Jangan sedih. Gapapa kecewa, jangan terlalu lama atau kamu akan kalah untuk kali kedua.

Kubilang apa, kamu masih menang atas dirimu sendiri. Kamu berarti. Kecuali kalau kamu berpikir sebaliknya dengan bersedih karna seseorang yang tidak mengerti bahwa soal kamu dan banyak sekali artimu yang seberharga itu.

Jangan terlalu pusing dengan dunia, mungkin memang dia bukanlah jalanNya.
Dear Mas,

Semoga suatu hari ada yang mengkhawatirkanmu dengan benar. Sehingga kamu mengerti bahwa khawatir adalah rasa dalam spektrum yang berbeda. Seharusnya jadi menyenangkan, membuatmu mengerti bahwa ada yang peduli sampai sebegitunya.

Semoga suatu hari ada yang berdoa untukmu dengan benar. Agar Ia tau bahwa dirinya bersungguh - sungguh ingin kamu tetap ada mendampingi. MembujukNya, agar kita hanya dijatuh cintakan pada seseorang yang tepat. Sehingga, tidak lagi ada cerita yang berlarut dan membuatmu merasa terjebak.

Semoga suatu hari ada yang lebih dekat daripada perjalanan dalam satu hari. Agar ketika terjadi sesuatu, ia langsung menghampirimu. Memberikan segelas air hangat untuk mengiringi waktu - waktu minum obat. Menyediakan tempat sekiranya kamu butuh peluk yang rekat.

Semoga suatu hari ada yang teramat menyenangkan. Jauh dari kata membosankan, dengan cerita kehidupan yang tidak penuh dengan pekerjaan. Selalu menjawab telfonmu dengan penuh keceriaan. Selalu menceritakan banyak hal yang membuat hatimu makin ringan.

Semoga suatu hari sungguh ada yang melengkapi setiap bagian kekosongan. Agar kamu tidak lagi mencari persinggahan. Agar kamu tidak pernah sendirian.

Agar ada yang ganti berdoa, untuk kesehatan dan segala hal yang kamu upayakan. Jika suatu hari aku terlupa atau sederhana berhenti karna semesta tidak lagi mengijinkan.

Tapi, sampai tiba suatu hari, jangan pula kamu bersedih hati. Setidaknya, meski bukan aku yang kamu ingini, percayalah bahwa ada seseorang yang dengan segala ketulusan hati ingin kamu bahagia. Menjalani hidup yang ada sembari berusaha sekuat tenaga, meski dengan siapapun yang bukan dia.

Regards,
Dita. 
Hari ini, beberapa hal terasa makin jauh dari gapaian tangan. Gapapa, biar Allah yang dekatkan. Jika tidak, semoga Allah melapangkan.

Maaf ya aku kembali hanya ketika patah hati.
Aku ingin bercerita tentang hal - hal sederhana. Bagaimana sepulang kerja aku berhasil mengganti lampu kamar kami yang sudah berbulan - bulan mati. Tepat ketika Niken menyerah dan berkata esok saja, kita minta bantuan siapapun yang ada. Tapi akhirnya, aku bisa. Rasanya tidak berarti ya, tapi kuberi tau, aku sungguh bangga karna hal itu.

Aku ingin bercerita tentang hal - hal sederhana. Sekiranya cerita serupa, ingin kubagi dengan kamu. Lewat manapun kita bisa bersua. Jika kamu tau, kulakukan hal itu setiap hari. Ketika dalam perjalanan pulang dan teringat bagaimana hari itu aku diselamatkan dari orang - orang yang tidak suka aku bekerja. Ditengah mandi sore yang sesekali dan tiba - tiba jokesku siang tadi kembali dan aku tertawa lagi. Pada malam - malam sebelum lelap, ketika kepalaku dilingkupi banyak teka - teki dan kekhawatiran yang sepertinya punya kemampuan membelah diri.

Soal cerita tentang hal - hal sederhana. Sayangnya  hal - hal itu sepertinya tidak menarik untukmu. Cerita - cerita yang akan memberatkan ketika kamu mendengarkan. Cerita - cerita tidak penting yang sebaiknya dikesampingkan. Aku tau, seperti katamu, kita hanya sampai batas merencakan, ada Ia yang akhirnya menentukan. Untuk itu, atas segala yang terjadi aku menyimpulkan sesuatu. Mungkin memang tempatmu jatuh cinta pada setiap hal - hal sederhana bukanlah aku.

Gak apa. Mungkin setelah ini aku juga akan berhenti suka dengan hal - hal sederhana lainnya, lantas, berhenti bercerita.

Oh iya, soal Bapak dan Mama. Yang mungkin belum kamu sadari adalah, kedua orang tuaku sudah cukup menua. Rasanya, semakin senja, kehidupan justru tidak menjadi semakin mudah. Tak apa, sebagai anak satu - satunya, aku mengerti benar itu tanggunganku sepenuhnya. Termasuk mengingatkan mereka akan banyak hal yang semakin jadi buram di kepala. Salah satunya adalah tentang apa yang kamu ingatkan, bahwa manusia hanya sampai pada batas rencana. Selebihnya ada Ia Yang Maha Kuasa, Maha Penyayang, yang paling tau tentang segala sesuatunya. Harapanku dengan itu mereka banyak mengerti dan sedikit kecewa bahwa pada titik ini anaknya sudah tidak lagi bisa apa - apa. Tidak selalu ada hasil dari setiap yang diusahakan anaknya, ini adalah satu kegagalan yang ia harap hanya jadi kecewanya. Tidak bagi kedua orang tuanya.

Semoga segala kebaikan tetap menyertaimu.
Semoga setiap langkah kaki semakin mendekatkanmu,
Dengan setiap cita - cita,
Setiap hal yang kamu cari,
Mungkin juga rumah yang menenangkan hati.
Postingan Lebih Baru Postingan Lama Beranda

ABOUT ME

Introverts in disguise. Read keeps me sane, write keeps me awake. Both of them entwined makes me alive.

SUBSCRIBE & FOLLOW

POPULAR POSTS

  • semesta yang lain
  • 15 years!!!
  • ketidaktahuan
  • hari raya
  • teman pabrikku :’))

Categories

  • Reviews
  • Stories
  • Unsend Letters

Advertisement

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.

Blog Archive

  • ►  2026 (5)
    • ►  Maret (4)
    • ►  Januari (1)
  • ►  2025 (6)
    • ►  Desember (2)
    • ►  Juni (2)
    • ►  April (2)
  • ►  2023 (4)
    • ►  Oktober (2)
    • ►  September (2)
  • ►  2022 (1)
    • ►  Mei (1)
  • ►  2021 (15)
    • ►  November (2)
    • ►  September (1)
    • ►  Agustus (1)
    • ►  Juli (2)
    • ►  Juni (2)
    • ►  Mei (4)
    • ►  April (3)
  • ▼  2020 (46)
    • ►  September (8)
    • ►  Agustus (8)
    • ►  Juli (7)
    • ►  Juni (4)
    • ►  Mei (6)
    • ►  April (5)
    • ▼  Maret (7)
      • the fault in our stars?
      • percaya
      • berjalan sendiri
      • jangan sedih.
      • buat mas lagi, gapapa ya?
      • makin jauh
      • Sederhana
    • ►  Januari (1)
  • ►  2019 (28)
    • ►  Desember (11)
    • ►  Juli (2)
    • ►  Juni (4)
    • ►  Mei (9)
    • ►  Februari (1)
    • ►  Januari (1)
  • ►  2018 (21)
    • ►  September (2)
    • ►  Agustus (3)
    • ►  Juni (2)
    • ►  Mei (2)
    • ►  April (2)
    • ►  Maret (2)
    • ►  Februari (4)
    • ►  Januari (4)
  • ►  2017 (62)
    • ►  November (1)
    • ►  September (6)
    • ►  Agustus (2)
    • ►  Juli (2)
    • ►  Juni (5)
    • ►  Mei (7)
    • ►  April (9)
    • ►  Maret (2)
    • ►  Februari (15)
    • ►  Januari (13)
  • ►  2016 (55)
    • ►  Desember (8)
    • ►  November (12)
    • ►  Oktober (10)
    • ►  September (7)
    • ►  Agustus (5)
    • ►  Juli (1)
    • ►  Juni (3)
    • ►  Mei (2)
    • ►  April (4)
    • ►  Februari (1)
    • ►  Januari (2)
  • ►  2015 (26)
    • ►  Desember (5)
    • ►  November (2)
    • ►  Oktober (2)
    • ►  Agustus (1)
    • ►  Mei (1)
    • ►  April (1)
    • ►  Maret (6)
    • ►  Februari (4)
    • ►  Januari (4)
  • ►  2014 (48)
    • ►  Desember (4)
    • ►  Oktober (4)
    • ►  September (1)
    • ►  Juli (2)
    • ►  Juni (4)
    • ►  Mei (8)
    • ►  April (6)
    • ►  Maret (6)
    • ►  Februari (7)
    • ►  Januari (6)
  • ►  2013 (52)
    • ►  Desember (6)
    • ►  November (2)
    • ►  Oktober (7)
    • ►  Agustus (2)
    • ►  Juli (1)
    • ►  Juni (1)
    • ►  Mei (8)
    • ►  April (4)
    • ►  Maret (11)
    • ►  Februari (2)
    • ►  Januari (8)
  • ►  2012 (68)
    • ►  Desember (23)
    • ►  November (5)
    • ►  Oktober (13)
    • ►  September (4)
    • ►  Agustus (2)
    • ►  Juli (1)
    • ►  Juni (1)
    • ►  April (3)
    • ►  Maret (5)
    • ►  Februari (7)
    • ►  Januari (4)
  • ►  2011 (13)
    • ►  Desember (13)

Pengikut

Oddthemes

Designed by OddThemes | Distributed by Gooyaabi Templates