sebentar lagi

Menyoal pergi. Ini sudah dini hari, terlalu dini bahkan untuk berkata kita sudah menjelang pagi. Mungkin lebih pas jika aku sebut setelah tengah malam, istilah yang lebih cocok dengan kondisi kini yang sedang bersiap untuk mengikhlaskan. Toh sepertinya, hanya pada tengah malam kita akhirnya bisa membereskan apa-apa yang berantakan. Menjawab segala pertanyaan yang bergelantungan di langit-langit kamar. 

Menyoal pergi. Banyak hal-hal yang harus dibereskan sebelum beranjak pada pilihan yang lebih besar, lebih serius, lebih tidak main-main, pun mungkin lebih membebankan. Hutang-hutang ku mulai kucicil agar akhirnya bisa lunas tanpa ada tanggungan, pun penangguhan. Cukuplah segala hal dibayar di akhir perjalanan. Iya, yang sebentar lagi akan kita temui, akhirnya kita berpelukan. Hutang yang bermacam-macam, mulai dari hutang makan, hutang tumpangan, hutang keceriaan, dan bahkan yang paling sulit, hutang kebaikan.

Yang terakhir rasanya sampai kini belum habis pikirku untuk mendapatkan cara agar segera terlunasi hal-hal yang sudah diberi. Kebaikan yang selama ini mengisi segala celah dalam setiap usahaku yang sering kali setengah-setengah. Kebaikan yang selama ini menopang pundakku ketika sudah teramat lelah. Kebaikan yang terlalu penting, karna telah menyadarkan bahwa aku tidak hidup sendiri di dunia yang katanya penuh dengan segala tipu daya. Kebaikan yang aku pikir tak akan habis dilunasi meski dalam beberapa  kali reinkarnasi. 

Untuk itu, maka ingin aku ucapkan terima kasih. Terima kasih karna telah begitu ada untuk aku yang hanya teman biasa. Terimakasih karna selalu memberi untuk aku yang sering kali tidak tau diri. Terimakasih karna telah mengerti hal-hal yang telah beberapa kali membuat orang lain pergi.

Untuk yang sampai kini masih membersamai, masih menyambutku selepas sidang, selepas seminar, selepas hal-hal yang serupa gagal, selepas sesi penuh air mata dan bibir yang terus saja berdoa. Hutangku sepertinya akan sampai mati. Yang kubayar dengan menjadi orang yang lebih baik setiap hari. Menyebar kebaikan dengan penuh keikhlasan pada orang-orang lainnya. Yang juga coba kubayar dalam baris-baris pengharapan kepada semesta, untuk segala kelancaran, segala kesuksesan atas apa yang kalian usahakan, yang kucicil dalam lima waktuku setiap hari.

Semoga kita, dipertemukan lagi.

Surat ini, teruntuk kalian, Purwokerto dan seluruh isinya yang sungguh . . . telah benar-benar membahagiakan. Dita sayang sekali sama kalian. Sungguh sayang. Teramat sayang.

0 comments