backpack tosca lusuh


"yaa sekitar jam 8 atau jam 9an gue sarapan di gudeg yang waktu itu"

Ini soal kembali berjalan lagi. Saya tidak lagi ingin berpura-pura menjadi serupa luka yang terbuka. Kalau ini adalah diri saya berumur 17 tahun, pasti ia akan bercerita tentang bagaimana akhirnya punya kepercayaan diri untuk kembali melihat kaca. Ini mungkin perasaan yang serupa itu, tapi sepertinya kini, saya hanya ingin meraba. Menapaki pijakan satu-satu, terlalu perlahan sampai rasanya seperti mendekati terbang. Bukan, saya menolak dikata pengecut. Saya hanya berhati-hati untuk dua alasan yang semua gadis sangat mengerti. Pertama, karna luka masih lekat di dinding nadi. Kedua, baik saya dan kamu sama-sama masih belum tau dan menunggu tentang muara dari segala kebetulan-kebetulan dalam semesta kita. Akhirnya, dalam diam sepertinya kita sama-sama sepakat untuk tidak melakukan investasi pada hubungan serupa main-main yang sempurna dilengkapi dengan segala ke-entah-an.

Tapi izinkan saya untuk mengingat pertemuan kita yang teramat singkat. Dari setiap yang terjadi pada garis waktu, sepertinya pilihan saya, seperti biasa, jatuh pada bagian akhir pertemuan di hari itu. dimana kita akhirnya kembali berpisahan. 

Stasiun siang itu biasa. Bangku yang biasa, dengan jadwal kereta yang juga biasa. Semuanya biasa, kecuali kedua pasang mata dibalik lensa baru dari kacamatamu. Rasanya ada yang sendu. Ada yang menyesakkan, tapi anehnya membahagiakan. Ada binar samar yang sedikit menjelaskan (ini kalau saya tidak salah mengartikan) kelegaan, bahwa akhirnya kita tidak lagi terpisah sekian kilo jauhnya. Ada yang menyenangkan dan juga menghancurkan saya sedikit dari dalam, saya harus menghadapi ini, sendiri lagi.

"kayaknya gue masuk sekarang aja ya, biar lu langsung pulang, takut keujanan"

"yaudah, hati-hati ya"

Dan bagi saya, hari itu diakhiri terlalu dini, dengan high five kita di stasiun siang hari.

Pemandangan selanjutnya hanyalah punggungmu dengan backpack tosca lusuh yang entah sudah berapa kali pasrah dibawah derasnya hujan selama perjalanan. Sempurna menjauh.

Semoga kamu baik-baik saja. Semoga terlepas dari segala kekurangan sebagai manusia, semoga doa saya tetap sempurna. Asalkan sampai pada tujuannya, saya tidak apa jika segala rasa tetap tak bernama. Karna saya tau, saya percaya, doa kepada semesta tak akan pernah jadi sia-sia.

0 comments