kun fayakun

Sore ini biasa. Menjelang maghrib, di atas motor, dan berpikir, terlalu biasa. Percakapan dalam kepala kali ini berkutat soal dita yang merasa dirinya terlalu kecil untuk mencapai mimpi yang akhir-akhir ini bergetar lagi. Hebat. Sampai bingung harus diapakan, karna sepertinya satu-satunya jalan yang hati ini pilih adalah membuat segalanya jadi kenyataan. Namun, ditengah riuhnya, masih saja ada sisi yang menolak untuk diam dan mengamini. Ada yang berbisik tentang bagaimana punya mimpi yang terlalu besar, beberapa kali sudah membahayakan kesadaran. Punya mimpi yang terlalu besar, ternyata dapat membebani punggung yang sepertinya masih terlalu ringkih bahkan jika hanya terkena hembusan angin siang.

Sampai akhirnya segala pikiran ini diam karna ada ingatan yang tiba-tiba datang. Soal pengalaman terbang pertama dita. Gadis biasa yang belum pernah naik pesawat sebelumnya. Yang selalu terkesima ketika ada orang bercerita tentang pengalamannya duduk di bangku jendela, melihat awan di luar sana yang kala itu tampak amat dekat dengan dirinya. Sebelumnya tidak pernah terbayangkan bahwa suatu hari itu akan jadi nyata, soal dita naik pesawat, bahkan sampai melewati garis terluar Indonesia, berlanjut sampai ke tanah dimana bahasa sudah tidak lagi sama. Perjalanan yang kini dipahami sebagai suatu hal yang tidak mungkin terjadi. Terlalu banyak halangan dan ketidakmungkinan yang berada di sepanjang perjalanan. Tapi ternyata, semesta kembali menceritakan kedigdayaan Dia dengan begitu sederhana, dengan menjadikan suatu hal di luar logika menjadi kejadian yang normal saja dalam hidup manusia. 

Kejadian yang membuat dita sadar, bahwa tidak apa menjadi manusia kecil selama ada Dia yang begitu besarnya. Kun fayakun, maka milikmulah apa yang sudah ditakdirkan untukmu.

0 comments