ya.
Kemudian aku sedikit banyak mulai mengerti. Bahwa Ia yang bereskan segala yang berantakan. Yang gantikan segala yang hilang. Yang melengkapi segala yang kurang. Dan hanya Ia yang selalu mencukupkan segala ketidakpuasan jika memang kita bisa coba untuk merelakan hal-hal. Karna tentang apa yang aku percaya, akan selalu ada waktu yang paling tepat untuk segalanya, dan seringkali itu berada di luar agenda sederhana yang dibuat manusia. Walaupun kemudian aku merasakan bahwa tak ada yang sederhana mengenai belajar pasrah, tapi tetap kupikir itu adalah yang lebih baik daripada menuntut hal-hal yang bisa jadi kita sama sekali tidak mengerti akan jadi apa. Bisa jadi bahagia, bisa jadi bencana.
Oleh karnanya kemudian aku mulai membiasakan diri pada masa-masa sendiri. Berusaha menemukan aku, diriku. Berusaha cukup hanya pada sesuatu yang memang seharusnya jadi satu-satunya tempat manusia bergantung. Ia yang kepadanya segala harapan diterbangkan tanpa perlu takut dikecewakan.

0 comments