Hellonjo!

Soal cerita melelahkan juga banyak hal - hal yang menyenangkan.


Bahkan ketika aku semakin mengerti bahwa hidup ini hanyalah runtutan kejadian yang lebih banyak dipenuhi ketidakbahagiaan, doaku masih berharap bahwa kamu adalah pengecualian. Jika bukan lebih banyak kebahagiaan yang mengisi, aku harap terdapat sekian masa dalam hidupmu dimana akhirnya kamu menemukan bahagia karna bertemu rumah tempatmu berkeluh kesah. Rumah yang senantiasa mendampingi ketika hidup menjadi seharusnya hidup, yang penuh dengan ujian, ketidakbahagiaan. Rumah yang tidak lelah mengingatkan bahwa meskipun kamu punya seribu alasan untuk berhenti bertahan, keputusasaan tetap bukan suatu pilihan. Bahwa esensi hidup memang bukanlah untuk mencari kebahagiaan.

Ah tapi aku salah sepertinya. Kamu mungkin lebih mengerti soal hal - hal semacam ini, ya kan?
Yah anggaplah tulisan ini sebagai pengingat jika suatu hari kamu lupa. Semoga tidak ya.
Saya menulis untuk mas yang mulai menjauh. Meski tidak lagi terpisah lautan, rasanya setiap kata justru semakin sulit untuk saling merengkuh. 

Saya menulis untuk mas yang tidak lagi mendengarkan. Setiap cerita pada hari - hari biasa jadi semakin terasa menjemukan. Hal - hal sederhana yang dibagi tidak lagi terasa membahagiakan.

Saya menulis untuk mas yang tidak lagi menjawab. Monolog soal bagaimana hidup dan angan - angan berjalan, tersimpan dalam kamar kita, terus - menerus bergema. Mereka tidak lagi punya harapan, kembali menjadi sekedarnya kata, terasa hambar tanpa arti apa - apa.

Saya menulis untuk mas yang lari. Bukan kearah saya maupun rumah kita. Bukan juga kepada muara tempat digantungkannya mimpi - mimpi bersama. Arah yang sampai kini tidak saya mengerti kemana berakhirnya.

Saya menulis untuk mas yang berhenti bercerita. Tentang bagaimana hidup bisa jadi diluar ekspektasi kita. Soal hal - hal yang diusahakan tidak selalu jadi baik - baik saja, tapi pasti akan selalu ada jalannya. Soal keluarga dan mengikhlaskan. Soal jadi realistis agar kembali masuk akal setiap impian. Soal bagaimana baiknya untuk semua, bukan lagi hanya tentang diri dan keegoisan manusia. Bahwa hidup kita tidak pernah hanya jadi milik kita seorang jiwa.

Saya menulis untuk mas yang belum bisa menerima kehadiran saya. Akhirnya saya mengerti, tujuan yang sama tidak lantas membuat kita berada dalam satu jalan menujunya. Mas memilih berjalan berjauhan, sedangkan tangan saya masih sepenuhnya percaya bahwa kita akan sampai hanya ketika masing - masing sela jari terisi. Mungkin mas masih ingin berkejaran dengan diri sendiri. Atau mungkin memang bukan saya, seseorang yang terasa sepadan untuk mendampingi. 

Saya menulis untuk mengingat mas seutuhnya. Meski penuh sayang tapi tetap berada pada kesadaran logika. Bahwa saya tidak lagi punya rumah dalam kehadiran mas seperti biasanya. Bahwa pada satu titik saya harus benar - benar berhenti, karna tidak semua hal dapat saya usahakan keberadaannya. Bahwa beberapa hal butuh dua pasang langkah kaki yang beriringan, bersama - sama. Sesuatu yang saya tidak lagi memilikinya.

Aku menulis untuk kamu di penghujung hari, yang meski lelah tapi tetap memberi tahu bahwa kita baik - baik saja. Hanya berkurang waktu untuk bersua, sama sekali bukan soal berkurangnya rasa.

Aku menulis untuk kamu yang menempuh sekian jarak hingga sampai rumah. Agar bertemu Bapak dan Mama. Sehingga mereka tau, ada yang tidak main - main dengan anak satu - satunya.

Aku menulis untuk kamu yang begitu rapuhnya bercerita. Soal keluarga yang rahasianya tidak pernah dibagi dengan orang lainnya. Saat itu, aku harap hanya aku yang kamu percaya.

Aku menulis untuk kamu yang berbangga. Bahkan dengan pencapaian yang amat sederhana. Serupa keberanian karna berani mencoba, ujarmu, meski gagal setidaknya aku sudah berusaha. 

Aku menulis untuk kamu yang begitu sederhana membumi. Memantapkan pijakan untuk aku yang pikiran dan hatinya seringkali melangit terlalu tinggi.

Aku menulis untuk segala hal menyenangkan. Menyimpan setiap bagian yang bercela di dalam kepala, menitipkan setiap yang terasa sia - sia kepada semesta. Harapanku suatu hari, semesta kembali memberi tau seperti biasanya. Bahwa setiap kejadian pasti ada alasannya, dan tidak pernah dibumiNya, satu guguran daun jatuh tanpa terlewat dari segala takdirNya. Bahwa jika pertemuan terjadi dengan alasan, maka tak akan ada perpisahan yang merupakan kesia-siaan. Aku ingin percaya, ini juga salah satunya.
Aku gak pernah mengerti benar tentang kata - kata "Semua pasti ada hikmahnya". Sebabnya, karna perpaduan kata 'semua' dan 'pasti' dapat melahirkan ruang yang terlalu tegas dan jelas untuk aku yang sering kali abu - abu. Sampai, hari ini, ketika kejadian serupa Corona yang tadinya aku percaya benar - benar sempurna cobaan dan tak ada manfaatnya, ternyata memberikanku hikmah. Tidak hanya satu, bahkan dua. Mungkin juga akan bertambah.

Pertama, Mamaku tidak lagi berjualan rokok. Sebenarnya ini adalah permintaan Omku. Menurutnya, menjual rokok bertentangan dengan syariat yang kami percaya. Tidak lain karna rokok cenderung lebih banyak membahayakan tubuh manusia daripada memberikan manfaat kesejahteraan untuk banyak orang, bahkan bisa kubilang lebih memperkaya segelintir kelompok elit yang hidup dengan nyaman diatas lebih banyak kelompok rakyat yang merupakan konsumen mereka. Sisi ketidakbermanfaatan ini aku sepakati dengan sadar, tapi Mama tidak juga berhenti. 

Sampai datanglah Corona, dan tiba - tiba datang serupa wangsit yang membuat stok rokok warung kami minimal sampai akhirnya tidak ada sama sekali. Setelah kutanya ternyata "Kulakan rokok mahal, modalnya Mama buat beli yang lain. Lagian bagus juga sih, jadi gak sembarang orang masuk ke warung". Mendengar alasan itu, aku hanya bisa menjawab "Alhamdulillah". Yah, walaupun butuh 5 tahun, tapi bukankah lebih baik daripada tidak sama sekali?.

Kedua, kakak - kakak kesayanganku berhenti berghibah ria. Aku sayang mereka. Kecuali, ketika mereka mulai berada di satu meja, dan pembahasan soal rumah tangga orang lain mulai bertebaran ditengah cemilan yang dihabiskan. Hal ini sederhana sebenarnya. Bisa jadi lazim saja jika kamu terbiasa berada pada satu circle pertemanan dengan lebih dari 3 wanita. Sayangnya, aku tidak. Hingga pada suatu malam, aku cukup lelah mendengarkan omong kosong urusan orang lain dan memutuskan untuk berhenti mengiyakan semua ajakan kumpul - kumpul selepas pulang. Saat itu, ketidaksukaanku sampai di puncaknya. Namun tiba - tiba kesehatan Bapak kembali menurun. Ia harus dirawat selama beberapa hari dengan kondisi yang naik turun. Pada saat itu, ternyata kakak - kakak inilah yang pertama kali datang dan memberikan dukungan yang benar - benar aku butuhkan. 

Rasanya ada yang menamparku, bahwa kakak - kakakku gak sepenuhnya buruk, dan ternyata aku akan tetap menyayangi mereka sebagaimana seorang adik (yang dulunya) paling kecil di ruangan. Aku hanya harus benar - benar menjaga diri agar tidak ikut hanyut ke dalam obrolan yang bukan urusanku. Lalu datanglah Corona yang akhirnya menghentikan kebiasaan ngumpul - ngumpul dengan cemilan renyah soal masalah orang lain. Keterbatasan membuat setiap pertemuan yang mungkin, kami habiskan untuk bercerita bagaimana hari - hari berlalu, dan hal - hal yang banyak terlewatkan. Kalau nggak ada Corona mungkin kami gak akan punya prioritas obrolan yang penting dan yang benar - benar tidak penting untuk dibahas. 

Hal - hal remeh yang membuatku lebih mengerti bahwa semua kejadian memanh ada hikmahnya.
Postingan Lebih Baru Postingan Lama Beranda

ABOUT ME

Introverts in disguise. Read keeps me sane, write keeps me awake. Both of them entwined makes me alive.

SUBSCRIBE & FOLLOW

POPULAR POSTS

  • semesta yang lain
  • 15 years!!!
  • ketidaktahuan
  • hari raya
  • teman pabrikku :’))

Categories

  • Reviews
  • Stories
  • Unsend Letters

Advertisement

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.

Blog Archive

  • ►  2026 (5)
    • ►  Maret (4)
    • ►  Januari (1)
  • ►  2025 (6)
    • ►  Desember (2)
    • ►  Juni (2)
    • ►  April (2)
  • ►  2023 (4)
    • ►  Oktober (2)
    • ►  September (2)
  • ►  2022 (1)
    • ►  Mei (1)
  • ►  2021 (15)
    • ►  November (2)
    • ►  September (1)
    • ►  Agustus (1)
    • ►  Juli (2)
    • ►  Juni (2)
    • ►  Mei (4)
    • ►  April (3)
  • ▼  2020 (46)
    • ►  September (8)
    • ►  Agustus (8)
    • ►  Juli (7)
    • ▼  Juni (4)
      • semoga kamu selalu ingat
      • bagian yang sebaliknya
      • bagian yang menyenangkan
      • hikmah corona
    • ►  Mei (6)
    • ►  April (5)
    • ►  Maret (7)
    • ►  Januari (1)
  • ►  2019 (28)
    • ►  Desember (11)
    • ►  Juli (2)
    • ►  Juni (4)
    • ►  Mei (9)
    • ►  Februari (1)
    • ►  Januari (1)
  • ►  2018 (21)
    • ►  September (2)
    • ►  Agustus (3)
    • ►  Juni (2)
    • ►  Mei (2)
    • ►  April (2)
    • ►  Maret (2)
    • ►  Februari (4)
    • ►  Januari (4)
  • ►  2017 (62)
    • ►  November (1)
    • ►  September (6)
    • ►  Agustus (2)
    • ►  Juli (2)
    • ►  Juni (5)
    • ►  Mei (7)
    • ►  April (9)
    • ►  Maret (2)
    • ►  Februari (15)
    • ►  Januari (13)
  • ►  2016 (55)
    • ►  Desember (8)
    • ►  November (12)
    • ►  Oktober (10)
    • ►  September (7)
    • ►  Agustus (5)
    • ►  Juli (1)
    • ►  Juni (3)
    • ►  Mei (2)
    • ►  April (4)
    • ►  Februari (1)
    • ►  Januari (2)
  • ►  2015 (26)
    • ►  Desember (5)
    • ►  November (2)
    • ►  Oktober (2)
    • ►  Agustus (1)
    • ►  Mei (1)
    • ►  April (1)
    • ►  Maret (6)
    • ►  Februari (4)
    • ►  Januari (4)
  • ►  2014 (48)
    • ►  Desember (4)
    • ►  Oktober (4)
    • ►  September (1)
    • ►  Juli (2)
    • ►  Juni (4)
    • ►  Mei (8)
    • ►  April (6)
    • ►  Maret (6)
    • ►  Februari (7)
    • ►  Januari (6)
  • ►  2013 (52)
    • ►  Desember (6)
    • ►  November (2)
    • ►  Oktober (7)
    • ►  Agustus (2)
    • ►  Juli (1)
    • ►  Juni (1)
    • ►  Mei (8)
    • ►  April (4)
    • ►  Maret (11)
    • ►  Februari (2)
    • ►  Januari (8)
  • ►  2012 (68)
    • ►  Desember (23)
    • ►  November (5)
    • ►  Oktober (13)
    • ►  September (4)
    • ►  Agustus (2)
    • ►  Juli (1)
    • ►  Juni (1)
    • ►  April (3)
    • ►  Maret (5)
    • ►  Februari (7)
    • ►  Januari (4)
  • ►  2011 (13)
    • ►  Desember (13)

Pengikut

Oddthemes

Designed by OddThemes | Distributed by Gooyaabi Templates