merayakan duka

Berulang kali aku memilah kata yang tepat untuk merayakan bulan kelahiran Bapak dan Eyang. Selamat tidak dirasa pas dalam hari yang terasa penuh kehilangan. Aku juga tidak dapat menyematkan kata semoga karena hari itu adalah pengingat bahwa banyak harap mati tiba - tiba. Mungkin aku hanya dapat bercerita bagaimana setelah dua tahun terlewati, kami masih tak henti merayakan duka. Bukan dengan tiupan lilin pada kue yang aku pesan sepulang kerja. Tidak juga dengan tumpeng nasi kuning dengan ruang tamu penuh anggota keluarga, di belakangnya Bapak, Eyang, dan Inara duduk bersama. Saat itu, kami melingkar di sekelilingnya dengan melangitkan banyak doa. Tidak pernah kami kira, pada bulan Januari, salah satu doa itu mati satu. Pada bulan Agustus, satu doa menyusul luruh.

Oleh karenanya, pada lebaran paling sepi, aku merayakannya dengan tangis tanpa henti. Pertama kalinya, sunyi terlalu memekakkan telingaku, semua pertahananku tercerabut satu - satu. Pertama kalinya, aku tidak lagi merasa harus lebih kuat di depan ibuku. Kupikir saat itu setengahku menyadari, bahwa aku menjadi satu - satunya yang belum berjalan maju meskipun berlari setiap hari. 

Soal mengejawantahkan suatu perayaan, maka di dalamnya akan ada manusia - manusia yang bersuka cita pada suatu kejadian. Terkesima pada setiap hal - hal yang terjadi pada rentang waktu tertentu karena setiapnya aneh dan tidak biasa. Persis seperti proses kehilangan, yang mana kupikir suatu hari akan mengecil lalu surut, tapi ternyata ia serupa luka parut, yang pada setiap guratannya tanpa kusadari mengubah diriku sedemikian rupa sehingga tidak ada ada jalan untuk kembali. Perubahan yang masih kulatih setiap hari agar tidak hanya menjadi duri, tapi sebaliknya membuatku menjadi manusia yang lebih mengerti dan berempati. Pada akhirnya aku terkesima bagaimana dunia ini ternyata menguji kita semua dengan caranya sendiri.

Aku memang masih sedih sesekali, tapi di atas segala sakit yang dialami akan kehilangan - kehilangan besar ini, perayaan puncakku ditandai dengan rasa syukur tersemat disetiap sisi. Rasa syukur bahwa dari milyaran makhluknya, Ia menghadirkanku di tengah manusia - manusia yang penuh kasih sayang dan menerimaku apa adanya. Aku akhirnya menyadari, tidak akan ada rasa sedih yang luar biasa jika Bapak dan Eyang yang kumiliki tidak istimewa dan penuh cinta. Hadiah yang kupikir sederhana tapi tanpa pernah kuminta ternyata begitu luar biasa dan tidak terjadi pada setiap manusia. Kupikir kini akhirnya perayaanku sempurna.

0 comments