Hellonjo!

Soal cerita melelahkan juga banyak hal - hal yang menyenangkan.


Kini aku tau, bagaimana menghidupkan kamu selamanya meski hanya dengan sisa - sisa jiwa.

Aku bermimpi dapat sekolah lagi. Menghabiskan semua kemungkinan jenjang pendidikan. Bukan untuk status sosial yang tidak pernah aku pedulikan, tapi karna belajar dengan sabar adalah satu-satunya hal yang bisa aku lakukan dengan penuh kebahagiaan. Dengannya aku bisa mendapatkan beasiswa yang sedikit demi sedikit aku kumpulkan untuk mimpiku selanjutnya.

Menjadi pengajar yang membumi. Untuk manusia-manusia kecil dengan kemewahan yang seringkali tidak kita miliki. Bisa bermimpi. Aku ingin menjadi bagian dalam perjalanan mereka menuju tempat yang mereka inginkan. menjadi pintu dari segala kesempatan mereka untuk melihat dunia. Membuat mereka percaya bahwa tidak ada yang tidak mungkin, dan menjaga mimpi di dalam hati tidak akan pernah sia-sia. Tidak akan pernah membuat mereka kecewa. Awal perjalanan yang akan dimulai dari suatu tempat dengan nama yang masih aku cari-cari, dengan bidang yang aku sukai.

Aku tidak ingin ada lagi seorang pemimpi yang patah dan kehilangan dirinya berkali-kali.

Aku masih ingin menjadi dia yang mewujudkannya. Aku tuliskan agar hal-hal yang sudah susah payah aku temukan dan jaga tidak hilang begitu saja. Namun jika sampai akhir aku tidak bisa jadi sekuat itu untuk mewujudkan, semoga ada manusia lain yang bisa menjadikannya nyata. Setidaknya ada jiwa yang masih dekat meski raga tidak ada.
Sore ini jalanan ungaran salatiga lengang. Banyak karyawan sudah pulang, sampai ke rumah, mungkin sedang bertukar cerita bagaimana kehidupan karyawan di kota industri. Bertukar tawa sesekali, berbagi bahagia, atau mungkin melepas penat bahkan kesedihan. Seperti yang kita sama - sama mengerti, bahwa tidak selamanya hidup penuh dengan kemudahan. 

Hal yang masih coba aku terima dan pahami dengan cara sebaik baiknya manusia. Tepat ketika aku melihat ke angkasa yang kala itu sesak dengan awan kelabu. Membuat kenampakannya lebih sempit daripada seharusnya. Mencari kelapangan karna rasanya di dalam hati pun tidak begitu jauh berbeda. Membuat aku memutuskan untuk melaju pada kecepatan paling pelan. Mengulur waktu, mencari tenang, sembari berdoa agar segala tangis dan sesak jadi rahasia aku dan Dia. Tanpa perlu bapak, mama, eyang tau, bahwa sore itu setiap bagian aku rasanya hancur dalam perjalanan pulang yang terasa lebih panjang. 

Dan Dia mengabulkan. Kepada mama aku bisa menceritakan segala kegagalan siang tadi dengan perlahan, memilih setiap kata, menyisihkan ingatan yang tidak perlu agar tidak ada air mata yang sering kali bisa jadi begitu kurang ajar. Bapak pun hanya bertanya, pertanyaan yang sama berkali-kali (seperti biasa), dan rasanya kesabaranku sedang dipasok ulang, kesabaran untuk menjawab dengan menahan kesedihan paling kecil yang bisa saja hadir tanpa permisi. Rasanya semuanya baik-baik saja, ini prestasi baru, akhirnya aku bisa mengatur perasaanku. Walaupun di dalam sini, setiap kehancuran masih terasa begitu nyata. Seperti permukaan koran yang membungkus telur setelah dijatuhkan. Masih terlihat begitu sempurna, tapi tetap saja sia-sia, karna setiap kulit di dalamnya sudah jadi pecahan.

Hal yang membuatku berpikir bahwa mungkin memang ini yang dinamakan hidup. Tepat ketika kita sudah berpikir bahwa suatu ujian adalah yang paling buruk, ternyata kemudian semesta menunjukkan, bahwa akan selalu ada lebih buruk yang baru. 

Semoga Allah memberikan kami sekeluarga kekuatan untuk melewati segala cobaan.
Teruntuk mimpi.
Aku harap, kamu tidak mati kali ini.
Tidak apa berhenti, terlelap, tapi jangan mati.
Jangan meninggalkan aku sendiri.
Mengejar sesuatu yang tidak akan pernah aku mengerti.
Menuhankan hal - hal yang aku benci.
Mengharapkan tempat - tempat yang tidak aku sukai.

Teruntuk mimpi.
Aku harap, kamu tetap hidup kali ini.
Tidak apa ketika lelah menghampiri, tapi jangan berhenti membersamai.
Jangan menjadikan aku seseorang yang tidak familiar.
Membenci kehidupan karna tidak bisa mencapai suatu hal.
Menggadaikan setiap harapan pada semu.
Yang suatu hari hanya akan berujung sesal.

Teruntuk mimpi.
Aku harap, kamu tidak marah kali ini.
Aku memang belum cukup tinggi untuk menggapaimu.
Belum cukup besar untuk menjadi sebesar kamu.
Belum cukup kuat untuk menjagamu dari segala realita hidup.

Aku harap, ada waktu agar aku jadi semua itu.
Karena kamu masih menjadi catatan yang aku bawa kemanapun.
Masih menjadi angan yang terus aku berusaha untuk nyalakan.
Meski susah payah. Meski terkadang kehilangan arah.
Karna kamu, adalah satu dari sekian banyak terang dalam kegelapan.
Menuju jalan dimana setiap harapan kebahagiaan aku gantungkan.

Semoga kamu terus hidup.
Redup tidak apa, tapi jangan mati.
Karna separuh aku, berisi kamu.

Ini tahun kelima, dan kupikir pasangan hidup adalah dia yang pertama juga terakhir. Lebih tinggi dariku sehingga tak ada lagi benda – benda yang terlalu tinggi, termasuk mimpi.

Ini tahun kesepuluh, dan kupikir pasangan hidup adalah dia yang membuatku kesal sampai marah. Membuatku mengejarnya di seluruh gedung karena menuduhku suka, yang sebenarnya juga tidak salah.

Ini tahun kelima belas, dan kupikir pasangan hidup adalah dia yang hadir dalam setiap menit setiap hari. Membuatku percaya akan apa yang dia percaya, bahwa aku dan kamu selamanya. Serangkaian kata rumit yang dimaknai terlalu dangkal pada masanya.

Ini tahun kedua puluh, dan kupikir pasangan hidup adalah dia yang tau segala ketakutanku, segala lelah, segalanya. Membuatku berbicara tanpa akhir karena ia adalah seorang teman yang kukenal baik setiap kurangnya, setiap lelahnya, setiap bagian dirinya.

Ini tahun kedua puluh satu, dan kupikir pasangan hidup seperti kata manusia lainnya, dia yang hadir tanpa kamu sangka, merubahmu dalam rupa yang sepenuhnya berbeda. Menyentuhmu tepat di jiwa. Tertawa dengan mama, dengan bapak yang mengenali wajahnya.


Ini tahun kedua puluh dua, dan aku masih tidak tau dia siapa. Yang sebagian doa dihadiahkan untuknya, urusannya, kesehatannya, kebahagiaannya. Tapi kupikir, pasangan hidup adalah dia yang dengannya segala mimpi tetap hidup meski sempat mati berkali – kali karna realita. Dia yang bisa membuatku menertawakan setiap kesalku karena ia tidak masuk akal. Dia yang tidak menyapaku setiap hari, tapi selalu ada pada setiap malam paling buruk seorang manusia. Dia yang padanya aku bisa bersikap tidak dewasa, merajuk, meminta. Dia yang dengannya aku menjadi lebih baik sebagai manusia. Dia yang dicintai oleh keluarganya juga keluargaku sama besarnya, dicintai oleh teman – temannya, dicintai oleh setiap jiwa yang dia temui sampai akhir hidupnya.   
Postingan Lebih Baru Postingan Lama Beranda

ABOUT ME

Introverts in disguise. Read keeps me sane, write keeps me awake. Both of them entwined makes me alive.

SUBSCRIBE & FOLLOW

POPULAR POSTS

  • semesta yang lain
  • 15 years!!!
  • ketidaktahuan
  • hari raya
  • teman pabrikku :’))

Categories

  • Reviews
  • Stories
  • Unsend Letters

Advertisement

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.

Blog Archive

  • ►  2026 (5)
    • ►  Maret (4)
    • ►  Januari (1)
  • ►  2025 (6)
    • ►  Desember (2)
    • ►  Juni (2)
    • ►  April (2)
  • ►  2023 (4)
    • ►  Oktober (2)
    • ►  September (2)
  • ►  2022 (1)
    • ►  Mei (1)
  • ►  2021 (15)
    • ►  November (2)
    • ►  September (1)
    • ►  Agustus (1)
    • ►  Juli (2)
    • ►  Juni (2)
    • ►  Mei (4)
    • ►  April (3)
  • ►  2020 (46)
    • ►  September (8)
    • ►  Agustus (8)
    • ►  Juli (7)
    • ►  Juni (4)
    • ►  Mei (6)
    • ►  April (5)
    • ►  Maret (7)
    • ►  Januari (1)
  • ►  2019 (28)
    • ►  Desember (11)
    • ►  Juli (2)
    • ►  Juni (4)
    • ►  Mei (9)
    • ►  Februari (1)
    • ►  Januari (1)
  • ▼  2018 (21)
    • ►  September (2)
    • ►  Agustus (3)
    • ►  Juni (2)
    • ►  Mei (2)
    • ►  April (2)
    • ►  Maret (2)
    • ►  Februari (4)
    • ▼  Januari (4)
      • rumah kultur
      • sore ini
      • teruntuk mimpi
      • pasangan hidup
  • ►  2017 (62)
    • ►  November (1)
    • ►  September (6)
    • ►  Agustus (2)
    • ►  Juli (2)
    • ►  Juni (5)
    • ►  Mei (7)
    • ►  April (9)
    • ►  Maret (2)
    • ►  Februari (15)
    • ►  Januari (13)
  • ►  2016 (55)
    • ►  Desember (8)
    • ►  November (12)
    • ►  Oktober (10)
    • ►  September (7)
    • ►  Agustus (5)
    • ►  Juli (1)
    • ►  Juni (3)
    • ►  Mei (2)
    • ►  April (4)
    • ►  Februari (1)
    • ►  Januari (2)
  • ►  2015 (26)
    • ►  Desember (5)
    • ►  November (2)
    • ►  Oktober (2)
    • ►  Agustus (1)
    • ►  Mei (1)
    • ►  April (1)
    • ►  Maret (6)
    • ►  Februari (4)
    • ►  Januari (4)
  • ►  2014 (48)
    • ►  Desember (4)
    • ►  Oktober (4)
    • ►  September (1)
    • ►  Juli (2)
    • ►  Juni (4)
    • ►  Mei (8)
    • ►  April (6)
    • ►  Maret (6)
    • ►  Februari (7)
    • ►  Januari (6)
  • ►  2013 (52)
    • ►  Desember (6)
    • ►  November (2)
    • ►  Oktober (7)
    • ►  Agustus (2)
    • ►  Juli (1)
    • ►  Juni (1)
    • ►  Mei (8)
    • ►  April (4)
    • ►  Maret (11)
    • ►  Februari (2)
    • ►  Januari (8)
  • ►  2012 (68)
    • ►  Desember (23)
    • ►  November (5)
    • ►  Oktober (13)
    • ►  September (4)
    • ►  Agustus (2)
    • ►  Juli (1)
    • ►  Juni (1)
    • ►  April (3)
    • ►  Maret (5)
    • ►  Februari (7)
    • ►  Januari (4)
  • ►  2011 (13)
    • ►  Desember (13)

Pengikut

Oddthemes

Designed by OddThemes | Distributed by Gooyaabi Templates