Ghina Bukan Sally

Ia meminta saya menulis tentang dia dan kehidupannya, memang salah satu ciri - ciri sahabat yang semena mena, tapi, ngangenin. Iya Ghin, akhirnya saya menulis untuk kamu dan segala kerumitan diri, hidup, dan hatimu yang tak sudah - sudah. Saya terdengar marah ya? iya, memang saya geram, karena menulismu ternyata tak semudah itu, menulismu membuat saya sadar kalau saya keliru. 

Keliru?

Kekeliruan pertama datang karena satu hal yang lucu. Bukan karena selama ini kamu telah menjadi sahabat yang jauh tapi selalu ingat, bukan juga karena kok ya lagi lagi cerita kita jatuh pada alur yang tak jauh berbeda, atau karena ternyata kamu telah jadi salah satu makhluk - makhluk kampus yang sukanya rapat hingga susah ditemui ketika saya sempat. Kekeliruan itu bukan berasal dari fakta - fakta yang ternyata benar adanya, tapi justru karena celetukan angan saya ketika kamu hadir dan meminta satu tulisan yang topiknya adalah kamu, "lah Ghin, dapatkah saya menggambarkan kamu secara lebih baik daripada band Peterpan dengan lagunya yang berjudul Sally?" 

Iya, Sally yang dilagu itu selalu sendiri.

Tapi setelah berpikir ternyata, emang iya, Ghina selalu sendiri?. Ghin, ngerasa selalu sendiri nggak? wkwk. Duh, yang niatnya nulis yang indah indah kok ya pengennya jadi nulis ngecengin Ghina and the perks of being Gadis remaja masa kini. Pertanyaan itu, kalau dilihat lagi jawabannya ternyata, nggak juga.

Kalau diingat - ingat, dulu kita pernah sedekat bangku nomer dua dan nomer tiga paling depan. Pernah juga berbagi pundak pada cerita - cerita yang tak terlalu manis untuk diingat. Bandingkan dengan sekarang, 12 jam naik kereta paling murah yang bikin pantat jadi panas, dipisahkan dua kota dengan gunungnya masing - masing, satu dibarat, satu di perbatasan antara tengah dan barat. Dulu saya selalu ada ketika kamu sedang galau galaunya, pun begitu sebaliknya. Sekarang tak akan ada cerita ketika tak ada tanya, atau sapa yang diada adakan. Semuanya tak apa, asal saya masih dianggap teman, asal kamu masih nyaman bercerita, dan dengan itu saya tahu, saya salah, kamu tak pernah sendiri. Sejak awal.

Kamu tak pernah jadi Sally. Kamu tak pernah sendiri, dan akan selalu begitu. Jika kamu melihat, ada banyak kawan yang doanya selalu lekat dalam perjalanan. Beberapa teman baru yang saya tak tau, atau teman lama kita dari masa lalu yang diam diam berpanjat untuk kesuksesanmu. Beberapa orang sebenarnya ada, walau fisiknya tak menemani, tapi diam diam ia peduli. Kadang memang terlihat tak peduli bahkan lupa, tapi kamu tau, yang peduli tak akan terlalu peduli apakah pedulinya dia dipedulikan. Yang terpenting adalah dia tau kamu baik baik saja dan selalu bahagia.

Belum lagi kedua orang tua yang selalu ada dan menjadi rumah ketika kamu sedang lelah lelahnya. Karna kita sama sama mengerti, cinta kedua orang tua kepada anak tunggalnya adalah satu jenis yang penuh dengan kekhawatiran, sayang, dan tanpa henti.

Selamat menua gin, Selamat menjadi yang paling tua diantara club twenty kita. Sendiri adalah kata yang jauh dari hidup lo, seenggaknya kalau sendiri, kita sendiri berdua, karna gue juga masih sendiri hahaha. Tapi gapapa, yang penting bahagia kan? 

0 comments