Mimpi Mimpi yang Patah


"aku akan jadi dokter, usaha apapun akan kubayar, kujalani ikhlas, mengeluh tak pernah, dan segala hal yang diperlukan sampai kesana. aku akan jadi dokter"
celetukmu kala itu, di sela sela motivator berbicara, menatapnya dengan api semangat, tau bahwa segalanya adalah mungkin. seakan dapat menggenggam langit, menyimpannya dan kau taruh di atap atap kamar. kau pandangi setiap malam, setiap nafas berkata bahwa "aku akan ada disana, terbang bersama elang, menikmati dunia, menjalani mimpiku dengan bahagia".

kau berusaha sampai larut. tak kenal waktu, ketika mereka tertawa kau hanya diam dengan buku ditangan. semuanya tak berguna sebelum hari penentuan. belajar belajar belajar. "membangun mimpi" katamu kala itu dengan senyuman ikhlas dan bahagia. setidaknya aku senang, kau tak merasa menderita. aku, kami semua yakin bahwa kau akan sampai disana. puncak yang sdah kau tandai benar benar dengan tinta merah dan emas. tampat yang seharusnya kau berada. sekali lagi kau tersenyum membayangkannya. mimpimu berada di ujung hidung. tinggal kau hirup dalam dalam dan mengalir di arteri, memenuhi seluruh pembuluh dan menebarkan energi semangat untuk berlari lagi.

hari penentuan itu datang. parasmu seserius itu sampai kami tak sanggup mengganggu. kepalamu ditundukkan dan tercipta doa yang diujarkan lamat lamat di awal hari. kami mengaminkan dalam diam "kau pasti bisa". dan pagi itu adalah pagi suci yang terasa berjalan terlalu lambat. adrenalin meledak, tapi tetap kau merasa tak siap. "ini kurang, itu kurang, mungkin aku harus membaca lagi, menulis angka angka" dan segalanya kau lakukan untuk menenangkan hati. lalu bel berbunyi. itulah pertanda perangmu. perang yang pertama dan terakhir. tak akan ada lagi seperti ini, di perbudak soal dan menggantungkan takdir pada setiap bulatan yang dihitamkan. setelah ini jas kuning akan jadi pengantar identitas dan sumpah dokter akan jadi salah stau bagian hidup terpenting  beberapa tahun lagi. tapi semuanya, terlihat terlalu dekat untuk diraih. terlalu bersinar sampai menyakitkan mata. apakah ini baik?

hari itu datang, jantung mu seperti meledak keluar. detakannya terlalu cepat katamu, berkali kali kau menyentuh dada seperti menenangkan bahwa semua akan baik baik saja. apakah iya semuanya akan baik baik saja?. dengan takut takut kau buka, tangan itu terasa tidak yakin memegang kursor, terasa janggal ketika digerakkan, tombol tombol keyboard terasa terlalu acak dimatamu. dan dengan hembusan bismillah............

lemah. tanganmu kala itu kehilangan tenaga seketika. kau dijatuhkan ketika padahal kursimu masih dalam posisi sempurna berdiri, hanya saja beban tanggungannya kali ini terasa lebih berat. beban kekecewaan. ada tangis kala itu, seperti seharusnya yang terjadi. tangis sedih, percuma, segala usahamu terlihat sia sia. berkata menantang kepada Tuhan "aku sudah memberikan semuanya Tuhan" tapi langit tetap sunyi seperti senja senja kemarin. hening. dan sejak itu kau tak lagi menganggap usaha itu penting. mimpimu jatuh dan patah. gagal jadi realita.

kami datang, memelukmu erat, menghangatkan jiwa yang terasa dingin kecewa. berbisik suatu cerita.
"dahulu, sewaktu kau kecil, dengan rambut acak, senyuman yang sama ikhlasnya dengan kau beberapa minggu lalu, kau berkata "aku ingin jadi superman, terbang di angkasa, menolong kakek yang ragu di pinggir jalan, membantu ibu agar tak lelah berjalan ke pasar, membantu kalian semua teman untuk mengambil balon kita yang tersangkut di atas pohon". kata kata sederhana ditambah tangan yang terkepal diarahkan ke atas, berdiri diatas batu besar dengan jubah dari kain bekas yang berkibar bebas. kau siap lepas landas. loncatan besar saat itu kau rasa cukup. mimpimu berada di ujung hidung, kau hirup baik baik dan semangatnya masih sama membakar adrenalin.

dan buk!
kau jatuh tertelungkup, diam diatas tanah. kami panik sampai mati. langsung berlari dengan paras kalut, apakah kau masih baik baik saja?. dan kau perlahan bangun, menegakkan diri, pelipismu meneteskan darah segar, dan dengan ringannya tersenyum ikhlas. masih ikhlas yang sama dengan saat pertama. dan kau dengan mantap berkata "Calon superman memang boleh terjatuh kan? hehe".

dan kami berkata yang tak kalah mantap. "Ya, calon superman memang boleh terjatuh karena balon tak pernah tersangkut di pohon yang rendah."

(terinspirasi dari slide motivator motivator yang dulu datang ke sekolah gue. dengan mata ngantuk waktu itu ternyata gue masih bisa menyerap sesuatu. dan juga terinspirasi dari pengalaman teman teman seperjuangan, salam hormat buat kalian yang saat ini masih berusaha mencapai mimpi masing masing!)

0 comments