Hellonjo!

Soal cerita melelahkan juga banyak hal - hal yang menyenangkan.


Teruntuk gadisku. Jika suatu hari mimpimu terasa terlalu tinggi, tetaplah berlari. Meski jika kamu lelah dan ingin berhenti. Meski seolah tak ada celah yang dapat kamu lewati.
Teruntuk gadisku. Jika suatu hari kamu menangis sejadi-jadinya. Hancur sampai lebur. Tenggelam sampai rasanya sesak. Percayalah aku selalu ada di sisi. Mengamini setiap harapan yang bahkan tak berani kau ucapkan.
Teruntuk gadisku. Tak apa. Sabarlah.
Bukankah kita selalu tau, kamu pasti bisa.
.
.
.
Bukankah kini sudah berulang kali Ia tunjukkan, bahwa kamu tidak pernah sendiri.
Aku harap ini dapat melegakan setiap bagian yang masih kecewa. Aku harap ini jadi kali terakhirnya, dimana setiap kata yang akan kau baca setelahnya mengeja namamu dengan setiap tanda yang mungkin ada.

Ini sudah sering terjadi, namun kali ini aku akan berusaha jujur kepada diri sendiri. Bahwa alasan setiap percobaan melupakan selalu gagal ditengah perjalanan kemungkinan besar karna aku yang begitu lekat dengan kenangan. Ada bagian yang masih berkata bahwa diammu adalah untuk sebaik-baiknya jiwa, bahwa pergimu tidak lain agar setiap cerita yang menumpuk dapat mengisi setiap sela yang hampa pada waktunya. Bahwa kalimat sederhana di awal perjalanan adalah setulus-tulusnya kata yang dapat diucap manusia.

Bahwa kamu tidak seragam dengan setiap yang pernah menyinggahi. Ternyata, aku yang kemarin masih nyaman dengan imaji.

Kini, aku sadar bahwa setiap kata adalah sama, tanpa makna. Setiap kembali adalah langkah setengah hati karna kamu selayaknya anak laki-laki, seringkali tidak mengerti dengan apa yang diingini. Kamu bukanlah laki-laki yang terakhir kali dan karenanya sungguh aku tidak berharap akan ada kembali suatu hari.

Kini, aku ikhlaskan itu untuk terjadi. Aku maafkan diriku yang seringkali masih begitu percaya. Aku mengikhlaskan kamu yang tidak mengingatku sebagai seseorang yang pernah memberi arti. Kamu bagiku bukan cerita sambil lalu, tapi aku ikhlaskan jika kamu begitu. 

Aku cukup dengan diriku sendiri.
Aku kira satu-satunya hal yang bisa diakui kepemilikannya adalah mimpi. Selagi itu baik, meski tak mungkin dan rasanya sulit sekali, tetap saja aku dekap erat sampai rasanya ada jiwa yang bergetar setiap kali mengingatnya. Dari setiap hal, yang sejatinya tidak pernah jadi milikku, aku kira bermimpi adalah suatu hadiah kecil. Satu-satunya yang dapat kita miliki, agar tetap selalu ada bahagia meski dunia tidak lagi tampak begitu terbuka.

Ternyata, aku salah. Bahkan mimpiku, tak pernah jadi milikku. Yang berarti, setiap kematiannya bisa terjadi tiba-tiba, setiap dirinya dapat dimusnahkan dengan begitu sederhana, setiap kesempatan menujunya dapat tertutup tanpa ada celah. 

Lalu karnanya, menjelang tahun ke-23, doaku sederhana berulang, agar diberikan kekuatan untuk mengikhlaskan hal-hal yang tidak ditakdirkan.

Teruntukmu,
Aku biarkan kamu mati dalam tulisan ini. Beristirahat agar hatiku tidak lagi berat. Aku biarkan mengalir dalam sungai-sungai panjang. Tidak apa, kamu sudah berjuang, dan semoga beberapa kehilangan dapat mendewasakan. Semoga hatiku dapat mencinta dengan benar, bukan lagi kepada hal-hal. Bahkan bukan kamu yang pernah aku anggap begitu sakralnya sehingga tak apa dicinta oleh sepenuhnya jiwa. Patahku berbeda kali ini, tapi tetap tak apa.
Siang ini bukan kali pertama ada yang jadi begitu menyesakkan. Mari kita habiskan setiap hal yang bisa jadi memberatkan. Mungkin dengan menyisakan sedikit harapan akan suatu hari di masa depan. Mungkin beberapa waktu setelah ini, bisa jadi hitungan bulan, beberapa tahun bahkan puluhan, atau tak apa jika satu-satunya waktu bagiku adalah ketika kamu terduduk di senja hari dengan rambut yang sudah memutih. Tidak apa meski hanya sekali waktu saat itu, ketika kamu akhirnya mengingatku pada hari-hari dulu.

Bagaimana aku berlari ketika mendengar kabar bahwa kau tak lagi baik-baik saja, kecelakaan besar, kau anfal, yang ternyata hanya lelucon di kala siang. Bagaimana segala kebiasaan sudah aku mengerti dan terima. Bagaimana aku hampir selalu ada dan jadi yang pertama. Bagaimana ketika mimpi buruk menyita segala bahagia, ada aku yang hadir di sana, menjadi seseorang yang kamu anggap begitu familiarnya. Bagaimana setiap kejatuhanmu aku coba bagi separuh agar tak lagi terlalu dalam atau menenggelamkan. Bagaimana aku juga sempat begitu, sebaliknya.

Suatu hari, semoga kamu mengingatku dan merasakan hangat di hati, mungkin dengan rasa kehilangan sekali lagi karna kesadaran bahwa ternyata ada yang pernah sangat terlewati.

Sedikit harapan yang akhirnya mencukupkanku kini dan semoga hari-hari setelah ini. 
Mungkin, yang harus saya sadari kini adalah tentang ketidak kuasaan kita terhadap segala sesuatunya. Meski tidak suka, saya harus mengerti, bahwa suatu hari akan ada yang berjalan beriringan denganmu. Lekat di sisi, hangat di hati. Dia yang pada akhirnya kamu anggap menjadi yang paling mengerti. Dia yang membuat segala pencarian berhenti. 

Saya harus menerima, jika suatu hari saya hanyalah manusia yang tidak punya kuasa. Bukan dia yang bisa membuat debar singgah tiba-tiba. Bukan dia yang membuat seorang kamu berkata iya terhadap segala hal di masa depan, baik dan buruk untuk selalu bersama. Pada akhirnya, saya harus ikut berbahagia, karna bertemu cinta adalah suatu perayaan. Peristiwa yang menunjukkan suatu kebesaran. Kejadian yang tidak kamu temui setiap hari, pun tidak terjadi pada setiap hati, dan karnanya saya pasti berbahagia. Pasti, ikut bahagia. Setidaknya, mungkin bukan karna sempurna merelakan, tapi karna saya akhirnya mengerti tentang banyaknya perasaan yang harus dikorbankan. Bagaimana untuk menemukan dia, yang sama-sama berjanji untuk saling setia, adalah perjalanan panjang yang jauh dari kata sederhana. 

Saat itu, saya pasti hanya ingin memelukmu dengan sepenuh hati mengerti tentang hal terpenting yang dari dulu saya yakini, pada akhirnya kamu bahagia.
Dengan siapapun itu, meski bukan saya.

Ini jarak terjauhku. Berhenti merapal nama yang serupa wajahmu. Aku ganti dengan kata-kata penuh harap untuk setiap doa sederhana agar hati tidak lagi kecewa.

Ini jarak terjauhku. Berhenti berusaha pada jalan panjang menuju kata. Cerita-cerita yang dicintai dengan sepenuh hati oleh jiwa. Setiap hal-hal yang disebut mimpi oleh manusia.

Ini jarak terjauhku. Berhenti bercerita kepada semesta. Diisi sunyi pada setiap sujud siang hari. Beroleh hampa karna tak lagi meminta apa-apa.

Ini jarak terjauhku. Aku tak berharap agar suatu hari jadi biasa sampai lupa. Aku masih ingin pulang, dan sepenuhnya berbahagia. Dengan hati yang terisi. Dengan rasa ganjil yang akhirnya menjadi genap. Dengan resah yang kini sudah diistirahatkan agar tak jadi lelah. Dengan kepala yang penuh dengan rencana. Aku masih sangat ingin pulang. Aku masih ingin jadi ia yang tidak hanya sekedar hidup sebagai manusia.

Aku rindu bisa kembali bercerita.
"He is just somebody that I used to know"
Postingan Lebih Baru Postingan Lama Beranda

ABOUT ME

Introverts in disguise. Read keeps me sane, write keeps me awake. Both of them entwined makes me alive.

SUBSCRIBE & FOLLOW

POPULAR POSTS

  • Komedi putar, senja, dan sendu.
  • Adi
  • Blank Space
  • angsana
  • untuk mas

Categories

  • Reviews
  • Stories
  • Unsend Letters

Advertisement

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.

Blog Archive

  • ▼  2026 (6)
    • ▼  Agustus (1)
      • musnah
    • ►  Maret (4)
    • ►  Januari (1)
  • ►  2025 (6)
    • ►  Desember (2)
    • ►  Juni (2)
    • ►  April (2)
  • ►  2023 (4)
    • ►  Oktober (2)
    • ►  September (2)
  • ►  2022 (1)
    • ►  Mei (1)
  • ►  2021 (15)
    • ►  November (2)
    • ►  September (1)
    • ►  Agustus (1)
    • ►  Juli (2)
    • ►  Juni (2)
    • ►  Mei (4)
    • ►  April (3)
  • ►  2020 (46)
    • ►  September (8)
    • ►  Agustus (8)
    • ►  Juli (7)
    • ►  Juni (4)
    • ►  Mei (6)
    • ►  April (5)
    • ►  Maret (7)
    • ►  Januari (1)
  • ►  2019 (28)
    • ►  Desember (11)
    • ►  Juli (2)
    • ►  Juni (4)
    • ►  Mei (9)
    • ►  Februari (1)
    • ►  Januari (1)
  • ►  2018 (21)
    • ►  September (2)
    • ►  Agustus (3)
    • ►  Juni (2)
    • ►  Mei (2)
    • ►  April (2)
    • ►  Maret (2)
    • ►  Februari (4)
    • ►  Januari (4)
  • ►  2017 (62)
    • ►  November (1)
    • ►  September (6)
    • ►  Agustus (2)
    • ►  Juli (2)
    • ►  Juni (5)
    • ►  Mei (7)
    • ►  April (9)
    • ►  Maret (2)
    • ►  Februari (15)
    • ►  Januari (13)
  • ►  2016 (55)
    • ►  Desember (8)
    • ►  November (12)
    • ►  Oktober (10)
    • ►  September (7)
    • ►  Agustus (5)
    • ►  Juli (1)
    • ►  Juni (3)
    • ►  Mei (2)
    • ►  April (4)
    • ►  Februari (1)
    • ►  Januari (2)
  • ►  2015 (26)
    • ►  Desember (5)
    • ►  November (2)
    • ►  Oktober (2)
    • ►  Agustus (1)
    • ►  Mei (1)
    • ►  April (1)
    • ►  Maret (6)
    • ►  Februari (4)
    • ►  Januari (4)
  • ►  2014 (48)
    • ►  Desember (4)
    • ►  Oktober (4)
    • ►  September (1)
    • ►  Juli (2)
    • ►  Juni (4)
    • ►  Mei (8)
    • ►  April (6)
    • ►  Maret (6)
    • ►  Februari (7)
    • ►  Januari (6)
  • ►  2013 (52)
    • ►  Desember (6)
    • ►  November (2)
    • ►  Oktober (7)
    • ►  Agustus (2)
    • ►  Juli (1)
    • ►  Juni (1)
    • ►  Mei (8)
    • ►  April (4)
    • ►  Maret (11)
    • ►  Februari (2)
    • ►  Januari (8)
  • ►  2012 (68)
    • ►  Desember (23)
    • ►  November (5)
    • ►  Oktober (13)
    • ►  September (4)
    • ►  Agustus (2)
    • ►  Juli (1)
    • ►  Juni (1)
    • ►  April (3)
    • ►  Maret (5)
    • ►  Februari (7)
    • ►  Januari (4)
  • ►  2011 (13)
    • ►  Desember (13)

Pengikut

Oddthemes

Designed by OddThemes | Distributed by Gooyaabi Templates