Hellonjo!

Soal cerita melelahkan juga banyak hal - hal yang menyenangkan.


Saya menulis untuk mas yang mulai menjauh. Meski tidak lagi terpisah lautan, rasanya setiap kata justru semakin sulit untuk saling merengkuh. 

Saya menulis untuk mas yang tidak lagi mendengarkan. Setiap cerita pada hari - hari biasa jadi semakin terasa menjemukan. Hal - hal sederhana yang dibagi tidak lagi terasa membahagiakan.

Saya menulis untuk mas yang tidak lagi menjawab. Monolog soal bagaimana hidup dan angan - angan berjalan, tersimpan dalam kamar kita, terus - menerus bergema. Mereka tidak lagi punya harapan, kembali menjadi sekedarnya kata, terasa hambar tanpa arti apa - apa.

Saya menulis untuk mas yang lari. Bukan kearah saya maupun rumah kita. Bukan juga kepada muara tempat digantungkannya mimpi - mimpi bersama. Arah yang sampai kini tidak saya mengerti kemana berakhirnya.

Saya menulis untuk mas yang berhenti bercerita. Tentang bagaimana hidup bisa jadi diluar ekspektasi kita. Soal hal - hal yang diusahakan tidak selalu jadi baik - baik saja, tapi pasti akan selalu ada jalannya. Soal keluarga dan mengikhlaskan. Soal jadi realistis agar kembali masuk akal setiap impian. Soal bagaimana baiknya untuk semua, bukan lagi hanya tentang diri dan keegoisan manusia. Bahwa hidup kita tidak pernah hanya jadi milik kita seorang jiwa.

Saya menulis untuk mas yang belum bisa menerima kehadiran saya. Akhirnya saya mengerti, tujuan yang sama tidak lantas membuat kita berada dalam satu jalan menujunya. Mas memilih berjalan berjauhan, sedangkan tangan saya masih sepenuhnya percaya bahwa kita akan sampai hanya ketika masing - masing sela jari terisi. Mungkin mas masih ingin berkejaran dengan diri sendiri. Atau mungkin memang bukan saya, seseorang yang terasa sepadan untuk mendampingi. 

Saya menulis untuk mengingat mas seutuhnya. Meski penuh sayang tapi tetap berada pada kesadaran logika. Bahwa saya tidak lagi punya rumah dalam kehadiran mas seperti biasanya. Bahwa pada satu titik saya harus benar - benar berhenti, karna tidak semua hal dapat saya usahakan keberadaannya. Bahwa beberapa hal butuh dua pasang langkah kaki yang beriringan, bersama - sama. Sesuatu yang saya tidak lagi memilikinya.

Aku menulis untuk kamu di penghujung hari, yang meski lelah tapi tetap memberi tahu bahwa kita baik - baik saja. Hanya berkurang waktu untuk bersua, sama sekali bukan soal berkurangnya rasa.

Aku menulis untuk kamu yang menempuh sekian jarak hingga sampai rumah. Agar bertemu Bapak dan Mama. Sehingga mereka tau, ada yang tidak main - main dengan anak satu - satunya.

Aku menulis untuk kamu yang begitu rapuhnya bercerita. Soal keluarga yang rahasianya tidak pernah dibagi dengan orang lainnya. Saat itu, aku harap hanya aku yang kamu percaya.

Aku menulis untuk kamu yang berbangga. Bahkan dengan pencapaian yang amat sederhana. Serupa keberanian karna berani mencoba, ujarmu, meski gagal setidaknya aku sudah berusaha. 

Aku menulis untuk kamu yang begitu sederhana membumi. Memantapkan pijakan untuk aku yang pikiran dan hatinya seringkali melangit terlalu tinggi.

Aku menulis untuk segala hal menyenangkan. Menyimpan setiap bagian yang bercela di dalam kepala, menitipkan setiap yang terasa sia - sia kepada semesta. Harapanku suatu hari, semesta kembali memberi tau seperti biasanya. Bahwa setiap kejadian pasti ada alasannya, dan tidak pernah dibumiNya, satu guguran daun jatuh tanpa terlewat dari segala takdirNya. Bahwa jika pertemuan terjadi dengan alasan, maka tak akan ada perpisahan yang merupakan kesia-siaan. Aku ingin percaya, ini juga salah satunya.
Aku gak pernah mengerti benar tentang kata - kata "Semua pasti ada hikmahnya". Sebabnya, karna perpaduan kata 'semua' dan 'pasti' dapat melahirkan ruang yang terlalu tegas dan jelas untuk aku yang sering kali abu - abu. Sampai, hari ini, ketika kejadian serupa Corona yang tadinya aku percaya benar - benar sempurna cobaan dan tak ada manfaatnya, ternyata memberikanku hikmah. Tidak hanya satu, bahkan dua. Mungkin juga akan bertambah.

Pertama, Mamaku tidak lagi berjualan rokok. Sebenarnya ini adalah permintaan Omku. Menurutnya, menjual rokok bertentangan dengan syariat yang kami percaya. Tidak lain karna rokok cenderung lebih banyak membahayakan tubuh manusia daripada memberikan manfaat kesejahteraan untuk banyak orang, bahkan bisa kubilang lebih memperkaya segelintir kelompok elit yang hidup dengan nyaman diatas lebih banyak kelompok rakyat yang merupakan konsumen mereka. Sisi ketidakbermanfaatan ini aku sepakati dengan sadar, tapi Mama tidak juga berhenti. 

Sampai datanglah Corona, dan tiba - tiba datang serupa wangsit yang membuat stok rokok warung kami minimal sampai akhirnya tidak ada sama sekali. Setelah kutanya ternyata "Kulakan rokok mahal, modalnya Mama buat beli yang lain. Lagian bagus juga sih, jadi gak sembarang orang masuk ke warung". Mendengar alasan itu, aku hanya bisa menjawab "Alhamdulillah". Yah, walaupun butuh 5 tahun, tapi bukankah lebih baik daripada tidak sama sekali?.

Kedua, kakak - kakak kesayanganku berhenti berghibah ria. Aku sayang mereka. Kecuali, ketika mereka mulai berada di satu meja, dan pembahasan soal rumah tangga orang lain mulai bertebaran ditengah cemilan yang dihabiskan. Hal ini sederhana sebenarnya. Bisa jadi lazim saja jika kamu terbiasa berada pada satu circle pertemanan dengan lebih dari 3 wanita. Sayangnya, aku tidak. Hingga pada suatu malam, aku cukup lelah mendengarkan omong kosong urusan orang lain dan memutuskan untuk berhenti mengiyakan semua ajakan kumpul - kumpul selepas pulang. Saat itu, ketidaksukaanku sampai di puncaknya. Namun tiba - tiba kesehatan Bapak kembali menurun. Ia harus dirawat selama beberapa hari dengan kondisi yang naik turun. Pada saat itu, ternyata kakak - kakak inilah yang pertama kali datang dan memberikan dukungan yang benar - benar aku butuhkan. 

Rasanya ada yang menamparku, bahwa kakak - kakakku gak sepenuhnya buruk, dan ternyata aku akan tetap menyayangi mereka sebagaimana seorang adik (yang dulunya) paling kecil di ruangan. Aku hanya harus benar - benar menjaga diri agar tidak ikut hanyut ke dalam obrolan yang bukan urusanku. Lalu datanglah Corona yang akhirnya menghentikan kebiasaan ngumpul - ngumpul dengan cemilan renyah soal masalah orang lain. Keterbatasan membuat setiap pertemuan yang mungkin, kami habiskan untuk bercerita bagaimana hari - hari berlalu, dan hal - hal yang banyak terlewatkan. Kalau nggak ada Corona mungkin kami gak akan punya prioritas obrolan yang penting dan yang benar - benar tidak penting untuk dibahas. 

Hal - hal remeh yang membuatku lebih mengerti bahwa semua kejadian memanh ada hikmahnya.
Seiring bertambahnya usia, ketakutan kita pun jadi berbeda.

Pada umur belasan, yang paling aku takutkan adalah menikah tapi tanpa cinta. Lalu berjalannya waktu, aku banyak menemui cerita soal pasangan yang tidak setia. Padahal, dulunya, ikrar diucap mantap penuh keyakinan dalam dada. Pikirnya kala itu, hal apa yang bisa menjadi salah jika cinta terasa begitu membuncah?. Akhirnya ikrar suci, gugur jua. Tiba - tiba, dua manusia menjadi punya seribu alasan untuk mengakhiri apa yang dimulai. Sederhana karna rasanya sudah tidak lagi sama di dalam hati.

Ini lebih mengerikan pikirku. Tepat ketika aku menyadari, berbicara soal hati, adalah berbicara soal hal - hal yang tidak pasti. Bagiku, muaranya adalah keyakinan, bagaimana memang hanya Ia yang sepenuhnya memiliki, Sang Maha pembolak - balik hati. Mengerikan pikirku, ketika menyadari bahwa kita tidak sepenuhnya punya andil pada perasaan sendiri, bahkan bisa jadi seluruhnya yang melekat dengan diri ini.

Tapi setelah aku pikir - pikir lagi, sebenarnya bisa jadi ketakutanku juga tidak bernilai apa - apa. Mungkin memang sebagai manusia, berubahnya hati tidak dapat dihindari. Mungkin aku harus menerima bahwa pada satu titik, kita akan merasakan cinta, dan kehilangan pada titik lainnya. Tapi akhirnya aku memaknai hati serupa aliran air yang tidak pernah sama. Bukan berarti, cinta akan selalu hilang dan tidak akan kembali akhirnya. Bahkan jika dimulai tanpa rasa apa - apa.

Mungkin oleh karna itu, agama tidak menjadikan cinta sebagai esensi paling utama dari suatu penyatuan jiwa yang dapat melintasi akhirat meski dimulai di dunia. Kini aku menyimpulkan, suatu pernikahan bukan hanya soal cinta, melainkan banyak hal lebih dari itu yang aku belum mengerti benar seutuhnya.

Mungkin pada waktu yang tepat, aku akan mengerti, entah bagaimana. Apapun alasannya, berkaca pada kedua orang tuaku yang tetap bersama meski banyak sekali hal berubah dalam puluhan tahun pernikahan, aku tau bahwa ada hal yang lebih berharga daripada cinta yang membuat suatu keluarga melangkah begitu jauhnya. 

Namun, satu yang kini aku semakin mengerti. Mungkin ketidakberdayaan manusia terhadap hati dan isinya, hanyalah salah satu pengingat bahwa hanyalah Dia Yang Maha cinta. Oleh karnanya kepadaNya juga seharusnya bergantung setiap rasa. Sepertinya, memang benar bahwa hanya dariNya, satu - satunya cinta yang dapat mencukupkan setiap yang dirasa alfa.
Allah mendengar, bahkan pada keinginan - keinginan hati paling dalam. Sebelumnya, aku berencana untuk ikut dalam prekrutan volunteer Covid-19 yang diadakan LIPI beberapa waktu lalu. Sederhana karna aku sangat ingin menjadi salah satu pion, yang mesti kecil, tapi dapat bermanfaat ditengah kekacauan pandemi ini. Rasanya sesuai dengan panggilan hati, karena toh teknis kegiatannya memiliki dasar yang sama dengan penelitianku dulu. Tapi berbicara realita, aku mengerti benar, hal itu tidak akan terjadi. Tidak mungkin orang tuaku mengijinkan anak gadis satu - satunya berhadapan dengan pandemi yang tengah menjadi kekhawatiran banyak orang. Sehingga, meski ingin, akhirnya kata - kata mama adalah batasan anak gadis yang lebih sering nekat daripada berpikirnya kalau sudah soal keinginan hati.

"Jangan, kamu dirumah aja, jagain keluarga" begitu katanya. Jawaban yang sudah aku duga sebelumnya, sehingga tidak terlalu kecewa. 

Tidak lama setelahnya, datanglah puluhan ribu order APD hazmat. Supervisorku menyerahkan order tersebut kepadaku dan salah satu senior. Order ini seperti mengingatkanku akan keinginan yang tidak jadi nyata. Doa yang tidak seberapa kuatnya, dijawab meski dengan cara yang berbeda dan sepenuhnya nggak aku sangka. Kini, jadi seperti diingatkan akan hal yang sudah aku percaya sejak lama. Bahwa Allah memang benar - benar mendengarkan doa dan keinginan hambaNya. Bahkan suara hati yang paling dalam dan tanpa suara.

Oleh karna itu, aku mengucap syukur hari ini. Bahwa, meski banyak sekali dosa memenuhi catatan kiriku, ternyata Allah tidak hentinya membersamai dan mendengarkan aku. 

Dengan ini juga aku berdoa, semoga Allah berkenan untuk memberikan nikmat sehat kepada aku, keluargaku, dan teman - temanku. Termasuk kamu, dimanapun kamu berada. Sesungguhnya, jika keinginan yang menurutku kecil dan remeh (dibandingkan segala urusan semestaNya yang jauh lebih besar) saja dikabulkan, maka aku juga ingin percaya bahwa doa ini pun akan sama dijadikan nyata olehNya.
Hi Gat. Gua tiba2 kepikiran lu aja, kadang juga sih, pas masa2 mikir, sedih atau bimbang karna sesuatu, lalu tiba2 inget lu kalo lagi ngomong yaudah, terus harus ngelakuin apa biar selesai masalahnya. 

Kadang dunia bisa bikin kita pusing dan sedih, tapi rasanya jauh lebih gampang kalau ditengah suatu kebingungan ada yang ngingetin kita akan hal2 realistis kayak gitu. Walaupun, ada yang ngingetin atau ga, gua tau, akhirnya kita akan dipaksa untuk mikir apa yang harus dilakukan agar bisa survive. Gua tau, being sad won't fix the situation. 

Tapi ada lu, rasanya jadi lebih mudah aja. Kayaknya untuk pertama kalinya gua bareng sama seseorang yang cukup dewasa untuk menyelesaikan masalahnya sendiri. Mungkin karna itu justru gua yang jadi bergantung terlalu banyak. Mungkin sederhana, karna rasanya menyenangkan ada seseorang yang punggungnya terasa lebih kuat agar semua masalah gak harus dihadapi sendiri. Walaupun akhirnya gua tau, it's all up to me whether I will fix the problem or not. But your presence is something that feels like home.

I typed this in our chat history. Since the 1st word, I knew, I would cut all of this, pressed back button. Then here we are. Somehow, I do hope you would read this. But since I realized that we human, actually know nothing of the best for us, I leave it to the universe. But I really missed you, I really do. 
Pada perjalanan pulang ke rumah, dengan Bapak berada di kursi belakang. Aku sedang menahan kata - kata yang sudah sering kali aku katakan, tapi nampaknya sia - sia. 

"Sabar to Pak"

Kata - kata itu hanya sampai di pikiranku. Sesampainya di rumah, kata - kata itu tetap tidak sampai di telinga Bapak. Akhirnya aku bertanya - tanya, mengapa nampaknya aku terus saja mengulangi kalimat yang sama.

Mungkin kata - kata itu harusnya bukan untuk Bapak. Mungkin kata - kata itu harusnya aku resapi sendiri, untuk diriku pada saat seperti ini. Kata - kata yang seharusnya aku ulangi berkali - kali. 

Kata - kata mama dari suatu sore kembali di pikiranku "Bapak lucu Ta, sudah berubah, mungkin kamu jangan jadi terlalu keras juga".
Postingan Lebih Baru Postingan Lama Beranda

ABOUT ME

Introverts in disguise. Read keeps me sane, write keeps me awake. Both of them entwined makes me alive.

SUBSCRIBE & FOLLOW

POPULAR POSTS

  • Komedi putar, senja, dan sendu.
  • Adi
  • Blank Space
  • angsana
  • untuk mas

Categories

  • Reviews
  • Stories
  • Unsend Letters

Advertisement

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.

Blog Archive

  • ▼  2026 (6)
    • ▼  Agustus (1)
      • musnah
    • ►  Maret (4)
    • ►  Januari (1)
  • ►  2025 (6)
    • ►  Desember (2)
    • ►  Juni (2)
    • ►  April (2)
  • ►  2023 (4)
    • ►  Oktober (2)
    • ►  September (2)
  • ►  2022 (1)
    • ►  Mei (1)
  • ►  2021 (15)
    • ►  November (2)
    • ►  September (1)
    • ►  Agustus (1)
    • ►  Juli (2)
    • ►  Juni (2)
    • ►  Mei (4)
    • ►  April (3)
  • ►  2020 (46)
    • ►  September (8)
    • ►  Agustus (8)
    • ►  Juli (7)
    • ►  Juni (4)
    • ►  Mei (6)
    • ►  April (5)
    • ►  Maret (7)
    • ►  Januari (1)
  • ►  2019 (28)
    • ►  Desember (11)
    • ►  Juli (2)
    • ►  Juni (4)
    • ►  Mei (9)
    • ►  Februari (1)
    • ►  Januari (1)
  • ►  2018 (21)
    • ►  September (2)
    • ►  Agustus (3)
    • ►  Juni (2)
    • ►  Mei (2)
    • ►  April (2)
    • ►  Maret (2)
    • ►  Februari (4)
    • ►  Januari (4)
  • ►  2017 (62)
    • ►  November (1)
    • ►  September (6)
    • ►  Agustus (2)
    • ►  Juli (2)
    • ►  Juni (5)
    • ►  Mei (7)
    • ►  April (9)
    • ►  Maret (2)
    • ►  Februari (15)
    • ►  Januari (13)
  • ►  2016 (55)
    • ►  Desember (8)
    • ►  November (12)
    • ►  Oktober (10)
    • ►  September (7)
    • ►  Agustus (5)
    • ►  Juli (1)
    • ►  Juni (3)
    • ►  Mei (2)
    • ►  April (4)
    • ►  Februari (1)
    • ►  Januari (2)
  • ►  2015 (26)
    • ►  Desember (5)
    • ►  November (2)
    • ►  Oktober (2)
    • ►  Agustus (1)
    • ►  Mei (1)
    • ►  April (1)
    • ►  Maret (6)
    • ►  Februari (4)
    • ►  Januari (4)
  • ►  2014 (48)
    • ►  Desember (4)
    • ►  Oktober (4)
    • ►  September (1)
    • ►  Juli (2)
    • ►  Juni (4)
    • ►  Mei (8)
    • ►  April (6)
    • ►  Maret (6)
    • ►  Februari (7)
    • ►  Januari (6)
  • ►  2013 (52)
    • ►  Desember (6)
    • ►  November (2)
    • ►  Oktober (7)
    • ►  Agustus (2)
    • ►  Juli (1)
    • ►  Juni (1)
    • ►  Mei (8)
    • ►  April (4)
    • ►  Maret (11)
    • ►  Februari (2)
    • ►  Januari (8)
  • ►  2012 (68)
    • ►  Desember (23)
    • ►  November (5)
    • ►  Oktober (13)
    • ►  September (4)
    • ►  Agustus (2)
    • ►  Juli (1)
    • ►  Juni (1)
    • ►  April (3)
    • ►  Maret (5)
    • ►  Februari (7)
    • ►  Januari (4)
  • ►  2011 (13)
    • ►  Desember (13)

Pengikut

Oddthemes

Designed by OddThemes | Distributed by Gooyaabi Templates