balas dendam

Tanpa mereka tau, diam - diam aku adalah pendendam. Kusembunyikan dalam saku paling dalam, ketika yang orang lain tau hanyalah pengikhlasan. Meski begitu, aku tak pernah benar - benar menjadikan dendamku jadi kenyataan. Semuanya kupasrahkan kepada semesta, ketika aku duduk dengan hikmat menjadi penonton pertama. Sampai hatiku terpuaskan dengan kehancurannya yang sama, aku terus mendapati diriku diam - diam mengamati mereka yang sempat menyakiti. Meski tampak tidak peduli, di dalam hati, rasa penasaranku masih begitu membumbung tinggi. Bukan mencari penyesalan atas apa yang telah mereka lakukan, aku hanya mendamba kehancuran yang (kupikir) seharusnya mereka dapatkan. Saat itu adalah kemenangan dari setiap pesakitan, dimana cerita sempurna tertuntaskan.

Sampai suatu ketika, dalam pencarianku, aku menemukan bahwa ia masih begitu bahagia. Teramat bahagia dengan cara yang sama pernah membuatku luka. Jika dendam adalah tujuan, ini jelas suatu kekalahan. Tapi rasanya hatiku berkata bukan, yang kupercaya adalah suatu kesalahan. 

Aku berdiskusi dengan hatiku, dan sampai pada suatu kesimpulan. Ternyata, pembalasan dendam tidak selamanya mengambil rupa sebagai kehancuran. Pada sebagian cerita, ternyata kita cukup dengan kebahagiaan yang sama. Cukup dengan pengertian, bahwa ia adalah pelajaran, bukan bagian utama dari jalan menuju kebahagiaan. Cukup dengan pemahaman, bahwa kepergiannya telah menciptakan suatu ruang untuk sosok yang baru. Ia yang kemudian menunjukkan, bahwa membersamai dengan sepenuhnya kehadiran, bukan pekerjaan yang cukup dituntaskan dengan perhatian sambil lalu. Ia yang selalu mengingatkan, bahwa menerima banyak kurangku bukanlah suatu beban yang ia bawa di ranselnya setiap waktu. Ia yang membuatku menyadari, bahwa ternyata aku pantas diusahakan tanpa basa - basi, bukan seseorang yang hanya cukup dicintai setengah hati. Ia yang kemudian menjadikan kedua mataku serupa kuil, yang pada kedalamannya ia memeluk ketenangan hatinya sendiri. 

Jika impas adalah tujuan dari pembalasan dendam, maka kini aku tetap sampai pada titik keseimbangan. Kami sudah impas dalam menjadi penuh kebahagiaan. 

0 comments