Hellonjo!

Soal cerita melelahkan juga banyak hal - hal yang menyenangkan.


Setahun lalu hari ini. Saya masih sholat maghrib di kamar lama berwarna merah muda. Agak terburu-buru karna ada kamu yang menunggu. Ini hari pertama kamu disini, entah kenapa bisa disini, tidak tau bagaimana akhirnya kesini. Saat itu tak ada yang lain dipikiran saya karna yang saya tau kita setelah ini akan menikmati semangkuk ronde panas di pusat kota. Kamu masih asing tapi sudah terasa familiar. Kamu bukan siapa-siapa, tanpa makna. Anehnya saya perlahan mengeja bahagia ketika bahkan namamu saja tidak pernah tertera sebelumnya.

Saat itu sepertinya saya sempat berpikir jadi apa kita setahun lagi, ternyata sampailah disini.

Ketika saya yang mencoba menuliskan hal-hal yang seharusnya saya sampaikan dengan lisan. Beberapa menit sambungan telfon yang seharusnya tidak mematikan, tapi saya tidak bisa. Saya tidak bisa menerima segala kemungkinan jawaban yang hati ini belum bisa memberikan kelapangan. Saya sedang tidak cukup kuat untuk berpura-pura.

Tidak, saya tidak akan membahas kita. Saya hanya ingin bercerita, seperti biasa.

Sore ini saya takut sekali. Takut sendiri. Takut tidak punya siapapun yang membersamai suatu hari nanti. Banyak hal akhir-akhir ini yang membuat saya berantakan. Patah hati. Sampai saya tidak tahu harus sedih untuk alasan yang mana. Rasa-rasanya hidup selalu punya jalan untuk membuat saya merekonstruksi ulang segala rencana jangka panjang. Membuat saya harus mulai lagi dari awal, berkali-kali. Mendapatkan suatu harapan untuk kemudian dibenturkan sampai kepada kehancuran. Setahun lalu saya pernah bercerita tentang kejadian serupa. Kamu menjawab dengan begitu sederhana, bahwa kita manusia dan hidup memang tidak seharusnya selalu bahagia serta baik-baik saja. Setahun lalu saya masih begitu ceria, karna kita berbicara cukup lama meski menceritakan hal-hal yang sempat membuat saya merasakan sebaliknya.

Kini, kita tidak lagi berbicara, dan hal-hal itu ternyata berulang, kembali nyata dengan banyak hal-hal yang lebih menyakitkan daripada sebelumnya. Dan saya semakin yakin, bahwa kata-katamu kala itu memang sulit dimengerti.

Tangan saya dingin, salatiga selalu dingin, kini saya hanya ingin menangis sejadi-jadinya.


Diantara segala hal yang tidak baik-baik saja, saya masih berdoa agar kamu tidak menjadi salah satunya. Baik-baiklah, semoga selalu bahagia, Gat. 
Suatu hari aku ingin seseorang menuliskanku dengan kata-katanya yang timpang. Tidak penuh tapi cukup. Tidak indah tapi punya rasa.

Suatu hari aku ingin seseorang menuliskanku dengan pikirannya yang sudah pikun. Dengan ejaan yang tidak sempurna, tapi namaku lengkap tertera.

Suatu hari aku ingin seseorang menuliskanku dengan pena yang hampir kosong. Guratannya muncul dan tenggelam. Beberapa huruf hilang di entah, tapi kalimatnya tetap bersuara.

Suatu hari aku ingin seseorang menuliskanku, lengkap dengan segala kekurangannya menggambarkan segala kekuranganku. Berharap bertemu aku.

Suatu hari aku ingin seseorang menuliskanku. Ketika rindu ia membaca tulisannya, yang meski tanpa rima, tapi tetap hangat sampai di jiwa. Seseorang yang menemukan nyaman pada setiap kata. Seseorang yang sederhana menerima.
Aku masih bermimpi bagaimana suatu waktu kita bertemu. Di tengah perjalanan menuju tempat berlawanan. Mungkin dengan kata sapa sederhana dan perasaan yang sudah ringan. Kepalaku pasti masih mengingatmu dengan betul karna aku jarang melupakan cerita - cerita yang serupa ini. 

Kita mungkin hanya akan berlalu dan pergi. Kembali memakukan pandangan pada setiap langkah kaki. Bersiap melupakan pertemuan dengan seorang teman lama yang sudah kehilangan arti. 

Aku mungkin akan kembali disadarkan, bahwa banyak hal terlewati. Hidup ini akan selalu diisi oleh manusia yang datang dan pergi. Beberapa menetap dengan yang lain memutuskan untuk hanya sekelebat dan kembali singgah. Beberapa akan meninggalkan luka dengan yang lain menggurat bahagia. Segala cerita kemudian menyisakan kita dengan sisa - sisa. Meninggalkan kita dengan segala pilihan - pilihan akan jadi apa setelah setiap perlakuan yang mereka berikan. 

Bahwa hidup memang bisa jadi buruk. Manusia bisa jadi tidak dapat dipercaya. Tapi bertemu denganmu telah membuatku sampai kepada pilihanku. Untuk tidak hidup sekedarnya. Untuk ingat kemana aku harus kembali. Untuk mencintai diriku sendiri. Karna aku tak akan pernah dapat bergantung kepadamu atau orang-orang lainnya. Karna merasa dicintai adalah sepenuhnya tanggung jawabku dan diri ini.
Sore ini acara sepulang dari warung adalah makan ronde bareng mama. Ada hal yang baru gue sadari bahwa ternyata bisa jadi banyak yang terlewati dari agenda makan bareng di warung pinggir jalan. Saat itu kita pilih ronde yang harga satu mangkoknya nggak sampe 5000. Pembelinya cuma empat, gue dan mama ditambah seorang ibu dengan anak kecilnya. Seketika gue bertanya, kira – kira berapa ya yang bisa didapat si ibu-ibu ronde setiap malam, yang dagangnya bisa jadi sampe dini hari. Seabisnya itu ronde dan antek – anteknya.

Sampai kini pun gue nggak tau berapa, tapi yang pasti nggak banyak.

Seketika pikiran ini bikin gue ingat untuk bersyukur. Bikin gue berhenti meragukan pekerjaan baru dengan working hour beserta gajinya yang mengingatkan gue akan sistem kerja rodi jaman Jepang. Bikin gue kepikiran rasa – rasa malas yang ada di hari – hari kemarin ini.
Lalu nyeletuklah anak gadisnya si ibu – ibu ronde yang minta pulang.

“ya nanti ya nduk, katanya mau beli soto, wong udah di pesen loh”

Anak gadis berambut keriting itu cuma cengengesan malu dengan memberikan jempol – jempol imut. Ngeliat dunianya yang masih baik – baik saja, dengan permintaan semangkok soto yang masih bisa dituruti orang tuanya, dibelakang gerobak ronde yang sudah bersiap begadang lagi karena suasana kota berhujan yang kelewat sepi. Kita nggak akan tau bahwa semangkok soto bisa jadi berat untuk sebagian orang ditengah jaman dimana ekonomi lagi di posisi paling lesu. Bikin hati gue rasanya ringan tapi menyesakkan. Ringan karena senyumannya tulus bikin bahagia semua orang yang ngeliat. Menyesakkan karena banyak ironi disekitarnya yang belum berhasil ia mengerti, kecuali fakta bahwa dia bisa makan enak malam ini.

Hidup ini bisa jadi begitu pahit untuk dimengerti, yang serupa obat, kadang cukup kita telan tanpa basa – basi.

Dan tiba – tiba pikiran gue berhenti ketika ngeliat dua mangkok yang menyisakan sedikit sari jahe. Mangkok gue, mangkok mama.

Posisi itu bisa jadi orang tua gue berbulan – bulan lalu, selama 4 tahun ini. Atau mungkin selama 22 tahun ini.

Gue yang dunianya baik – baik saja di Purwokerto. Makan di tempat favorit gue ketika mama harus mikir dua kali setiap belanja. Nongkrong malem – malem saking serunya sampe kadang lupa alasan mama sama bapak pasti udah tidur jam segitu, iya karna kecapekan seharian ngewarung. Lalu banyak lagi ingatan tentang hal – hal serupa itu yang menyadarkan gue bahwa gue sama si anak kecil tadi hanya berbeda pada kesadaran, tapi masih tidak bisa merubah keadaan.

Ternyata banyak hal, terlalu banyak, yang nggak bisa seorang anak jadikan impas. Nggak bisa dibalas sampai tuntas. Rasa – rasanya gue semakin merasa bersalah karna seringkali terlalu pasrah. Masih terlalu lemah. Masih belum bisa kasih apa – apa selain jadi anak dengan motto “kalau belum bisa jadi baik, seenggaknya nggak usah jadi buruk”.


Ternyata itu nggak akan pernah cukup. Jadi anak baik ternyata bukan batas minimal untuk membalas segala yang sudah mereka jadikan genap.
Postingan Lebih Baru Postingan Lama Beranda

ABOUT ME

Introverts in disguise. Read keeps me sane, write keeps me awake. Both of them entwined makes me alive.

SUBSCRIBE & FOLLOW

POPULAR POSTS

  • semesta yang lain
  • 15 years!!!
  • ketidaktahuan
  • hari raya
  • teman pabrikku :’))

Categories

  • Reviews
  • Stories
  • Unsend Letters

Advertisement

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.

Blog Archive

  • ►  2026 (5)
    • ►  Maret (4)
    • ►  Januari (1)
  • ►  2025 (6)
    • ►  Desember (2)
    • ►  Juni (2)
    • ►  April (2)
  • ►  2023 (4)
    • ►  Oktober (2)
    • ►  September (2)
  • ►  2022 (1)
    • ►  Mei (1)
  • ►  2021 (15)
    • ►  November (2)
    • ►  September (1)
    • ►  Agustus (1)
    • ►  Juli (2)
    • ►  Juni (2)
    • ►  Mei (4)
    • ►  April (3)
  • ►  2020 (46)
    • ►  September (8)
    • ►  Agustus (8)
    • ►  Juli (7)
    • ►  Juni (4)
    • ►  Mei (6)
    • ►  April (5)
    • ►  Maret (7)
    • ►  Januari (1)
  • ►  2019 (28)
    • ►  Desember (11)
    • ►  Juli (2)
    • ►  Juni (4)
    • ►  Mei (9)
    • ►  Februari (1)
    • ►  Januari (1)
  • ▼  2018 (21)
    • ►  September (2)
    • ►  Agustus (3)
    • ►  Juni (2)
    • ►  Mei (2)
    • ►  April (2)
    • ►  Maret (2)
    • ▼  Februari (4)
      • setahun lalu
      • suatu hari
      • bertemu
      • dua mangkok ronde
    • ►  Januari (4)
  • ►  2017 (62)
    • ►  November (1)
    • ►  September (6)
    • ►  Agustus (2)
    • ►  Juli (2)
    • ►  Juni (5)
    • ►  Mei (7)
    • ►  April (9)
    • ►  Maret (2)
    • ►  Februari (15)
    • ►  Januari (13)
  • ►  2016 (55)
    • ►  Desember (8)
    • ►  November (12)
    • ►  Oktober (10)
    • ►  September (7)
    • ►  Agustus (5)
    • ►  Juli (1)
    • ►  Juni (3)
    • ►  Mei (2)
    • ►  April (4)
    • ►  Februari (1)
    • ►  Januari (2)
  • ►  2015 (26)
    • ►  Desember (5)
    • ►  November (2)
    • ►  Oktober (2)
    • ►  Agustus (1)
    • ►  Mei (1)
    • ►  April (1)
    • ►  Maret (6)
    • ►  Februari (4)
    • ►  Januari (4)
  • ►  2014 (48)
    • ►  Desember (4)
    • ►  Oktober (4)
    • ►  September (1)
    • ►  Juli (2)
    • ►  Juni (4)
    • ►  Mei (8)
    • ►  April (6)
    • ►  Maret (6)
    • ►  Februari (7)
    • ►  Januari (6)
  • ►  2013 (52)
    • ►  Desember (6)
    • ►  November (2)
    • ►  Oktober (7)
    • ►  Agustus (2)
    • ►  Juli (1)
    • ►  Juni (1)
    • ►  Mei (8)
    • ►  April (4)
    • ►  Maret (11)
    • ►  Februari (2)
    • ►  Januari (8)
  • ►  2012 (68)
    • ►  Desember (23)
    • ►  November (5)
    • ►  Oktober (13)
    • ►  September (4)
    • ►  Agustus (2)
    • ►  Juli (1)
    • ►  Juni (1)
    • ►  April (3)
    • ►  Maret (5)
    • ►  Februari (7)
    • ►  Januari (4)
  • ►  2011 (13)
    • ►  Desember (13)

Pengikut

Oddthemes

Designed by OddThemes | Distributed by Gooyaabi Templates