Akhirnya, selesai.

Terimakasih. Terimakasih untuk segala cerita. Terimakasih walau hanya sekedar teman, kau cukupkan aku untuk selalu berada di sekitar. Terimakasih karena telah begitu jujur dalam menjawab segala tanya. Walaupun bukan jawaban yang membahagiakan tapi cukuplah aku merasakan lega. Setidaknya, kau kini bahagia. Setidaknya tak lagi ada beban yang berlebihan. Setidaknya pundakmu kini tak lagi berat, hatimu tak lagi patah, senyummu tak lagi dibuat - buat. Setidaknya kau kini sebahagia itu, dengan siapapun orangnya yang bukan aku.

Mungkin suatu saat, ditengah repotnya urusan mahasiswa tingkat akhir, I would questioning my self, akankah kamu merasa kehilangan, do you still need me, will you text me over the phone just for gift me a simple absurd Hi. Sayangnya, aku terlalu mengerti kamu, kamu tak akan pernah menganggapku seperti itu. 
Perih, tapi . . . 
Aku, akan selalu cukup dengan itu.

Mulai saat ini, kita sendiri - sendiri ya.
Akhirnya kita tak perlu lagi berpura - pura menyembunyikan luka. Kau kini bebas berbahagia dan aku bebas berlari tanpa "alasan".
Selamat berbahagia, kamu.
  

3 comments

  1. Hemm, buat sapa dit? Rasa2nya ngerti

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wkwkwk ini nggak ada hubungannya sama makhluk2 pwt len. Tunggu kelanjutannya! Aszek

      Hapus