Slamet Senja Ini


Ini tahun ketiga saya memiliki kamu sebagai salah satu pemandangan paling indah setiap pagi. Banyak sudah cerita yang kau lihat atas gadis nekat yang perlahan berubah. Mulai dari kegamangannya soal pilihan hidup, usahanya untuk menghapus masa lalu, pencarian jati diri, sampai belajar bertanggung jawab atas segala pilihan sengaja ataupun tidak. Apa katamu seandainya kau bicara?. terkesankah kau akan segala pencapaian? tertawakah kau akan segala rencana yang berujung sia? malukah kau karena ternyata saya di kotamu hanyalah salah satu dari segelintir manusia yang sama saja tak berguna?. Apapun itu, pada wujudmu di sore hari ini, dengan kerlip lampu yang warna warni di kaki berjajar rapih, saya mengucap terima kasih bersamaan dengan hujan rintik senja hari. Terimakasih atas segala manusia yang datang dan pergi, terimakasih atas hangatnya keluarga yang saya pilih sendiri, terimakasih untuk pelajaran yang menjatuhkan lalu membangkitkan, terimakasih karena telah begitu rendah hati menceritakan bahwa bahagia dapat berwujud sederhana seperti pemandanganmu yang begitu indah melengkapi kelelahan saya menuju pulang. Memandangmu, walaupun kuyup tapi bahagia, karena dinginnya hujan tak lagi membuat saya sendiri. Memandangmu, seakan berkaca, dibagian lain kota ini ada manusia yang melihat pemandangan yang sama dengan lelah yang tak jauh berbeda. Berusaha belajar memaknai setiap kepergian dan kedatangan sama bijaknya. Sama seperti kerlip di kakimu, yang timbul dan tenggelam disemburat jingga langit senja.  

2 comments