Soal menyalahkan hujan.

Aku kalah pada hujan petang ini. Bukan karna baju yang akhirnya basah kuyup, atau rencana yang akhirnya tergagalkan karena derasnya. Lebih dari itu, hujan membuatku merindu kamu dan segala perasaan tentang waktu itu.

Mengingatmu adalah hal mudah, rindukulah yang jadi masalah. Rinduku rumit, bayangkan saja, bagaimana caranya aku merindu kamu, tapi kehabisan ingin untuk sekedar menyapa. Setengah mati ingin dicinta, tapi setengah mati pula tak ingin kembali. Ingin bersembunyi dibalik rangkulan lenganmu, tapi bahkan tangis kala itu masih kuingat dengan jelas, tangis yang menjadi alasan mengapa lengan itu merangkul hangat menenangkan. Aku rindu, tapi aku tak suka kamu. Aku rindu tapi tau, bahwa kau sampai saat ini pun bukanlah satu yang mungkin aku tunggu.

Aku salah.

Mungkin aku tak rindu kamu, mungkin aku hanya rindu diperlakukan seperti itu. Tetap dilihat sebagai gadis paling cantik bahkan ketika poni ala anak SMAku salah potong. Tetap mendapat anggukan iya, walaupun pada akhirnya aku tau aku yang salah. Tetap ditemani bahkan ketika aku penuh peluh, menikmati musik dari band yang aku sukai, tanpa peduli seberapa lusuhnya gadis ini, seberapa tidak menariknya melihat gadis yang hanya pakai jeans, sneakers dan kaos ke suatu pensi, dan jejingkrakan tanpa tau posisi.

Dicintai tanpa alasan. Dilindungi sampai sebegitunya.

Diterima seperti apa adanya.

Sesuatu yang bahkan aku ragu, akankah ada kamu lain yang dapat menerima segala alfa, bahkan ketika aku lupa, bahwa kehadiranku seberharga itu.

Ketika aku lupa sedang dicintai, ketika lupa bahwa sebenarnya aku tak sendiri.

Ketika aku lupa bahwa kamu ada dan mengikuti segala pergi.

0 comments