assalamualaiiiikuuuuum................
heeeey malam ini gue lagi ada inspirasi untuk menulis sedikt cerita yang mungkin agak panjang. haha bingung ya lu, yah pokoknya ini cerita akan berlanjut sampai beberapa chapter, dan gue harap mood ini akan tahan lama paling tidak sampai kalian tau kelarnya gimana, wehehehe. so lets enjoooy @.@
----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
-ketika kau adalah dunianya tapi tidak sebaliknya-
J
sudah beberapa menit berlalu dan aku masih tetap disini diam terpaku didepan deretan pohon pohon tinggi yang mungkin beberapa tahun lagi akan sangat aku rindukan dari sekolah ini. udara dan kedamaian yang bekerja sama dengan apik disini membuat gadis soliter ini menemukan tempatnya, walaupun sendirian. ini adalah tempat pelarianku ketika kejenuhan akan kepedihan tak terlihat menyapa. disini hanya ada aku dan mungkin beberapa teman setia, yang pastinya tidak termasuk makhluk sosial. aku tidak berada di pemakaman, aku berada di pojok sekolah yang keriuh rendahan suaranya dapat terdengar disegala penjuru, tetapi aku masih tetap sendirian dan tak terlihat. di tengak keramaian kulihat dia Dari kejauhan berjalan dengan segala pesonanya. mungkin dia tidak memliki pesona khusus tapi mataku selalu melihatnya dengan segala macam keindahan yang mungkin tak nyata, kau mulai berfikir apakah mataku sendiri berbohong? dan kusadari itu adalah pertanyaan terkonyol yang pernah ku dengar, karena sepintar apapun mulut ini memberi penjelasan kepadamu, kau takkan pernah mengerti sampai dirimu sendiri merasakan jatuh cinta.
matanya secoklat daun maple, rambutnya ikal pendek menggantung sampai ke pelipis, kulitnya kecoklatan khas laki laki eropa. tingginya mungkin sekitar 190 cm, aku tidak tahu pasti karna aku selalu melihatnya dari kejauhan, jadi cukup bayangkan saja seorang laki laki 190 cm berdiri dihadapanmu. ia berbeda denganku karna tak pernah sekalipun aku melihatnya sendirian, ia selalu dikelilingi kelompok yang menurutku cukuplah disetarakan dengannya yang tampan, pintar, supel, dan mungkin kaya. sekarang kau mengerti kan kenapa selama setahun ini aku selalu memandanginya dari bermeter meter kisaran jarak.
Hari ini seperti biasa dengan novel fantasi aku duduk ditempat pengamatan strategis. aku tidak tau harus melakukan apa ketika bel istirahat berbunyi nyaring selain kesini menyendiri. setelah beberapa saat, akhirnya mataku menangkapnya, kali ini dia muncul dengan rambut yang menempel di dahi dan pakaian olahraga. aku berani bertaruh denganmu bahwa ia telah memenangkan pertandingan basket kecil kecilan di sela sela pelajaran olahraga, karna ya, aku tau pasti ia seperti rela menyerahkan hidupnya hanya untuk bermain dengan bola karet oranye itu. yah tapi itu tidak akan sia sia karna ia seorang pemin basket yang jenius, walaupun pernyataan ini keluar dari seorang gadis yang dapat terpeleset hanya dalam beberapa kali dribblean bola. ia setengah berlari dengan senyuman konyol yang tampak permanen, sampai akhirnya aku sadari kakinya tegas melangkah kesini, kearahku. dan setelah itu kau tau kan apa yang terjadi, aku hanya bisa membaca novel yang entah kenapa semua teks didalamnya hanya berupa kata kata acak yang tak kumengerti. satu satunya hal yang kumengerti saat ini adalah, dia kesini, mengarah kepadaku dan aku tak punya cukup kata atau ekspresi yang dapat membalas kehadirannya beberapa detik lagi. seandainya aku dapat membuat senyuman konyol permanen santai seperti yang dia lakukan kepada semua orang.
"gue callo"
dibawah kacamata yang mulai berembun aku melihat jemarinya terjulur rapat didepanku, aku bingung harus berkata apa saat ini, apa kau punya saran?
"aku jane"
"ngapain lo disini? sendirian lagi, emang nggak bosen setiap hari disini terus sendirian?"
"apa urusan kamu?"
"eit eit, tenang bos, jelas aja jadi urusan gue, karna disini tempat pengamatan lo kan"
deg deg, ia duduk disebelahku dengan nafas sedikit terengah engah. dari jarak sedekat ini aku dapat mencium bau sabun dan matahari bercampur jadi satu.
"pengamatan apa? aku nggak ngerti?"
"haha, nggak usah polos gue tau gue yang jadi objeknya, tenang aja, itu biasa"
deg deg deg deg, aku terkunci, otak ku pun begitu, aku tak dapat menemukan kata kata yang pas untuk membalas semua kepercayaan dirinya yang terlewat batas, walaupun sebagian dari itu benar. aku bingung karna aku bingung harus mengatakan apa saat ini, membenarkan pernyataannya atau kabur? tapi pasti kau mengira aku pengecut.Tapi jika hal itu dapat menyelesaikan ini dengan cepat aku rela kau mengecap ku sebagai pengecut, karna mungkin memang begitu adanya. sampai...
"eh eh jangan kabur ya, gue cuma mengada ngada kok soal tadi, cuma kadang kadang kebiasaan gr itu emang sulit diilangin, hehe"
"oh"
"jadi lu lagi baca novel apa?" ia membuka percakapan.
"oh ini, city of ashes" aku bahkan ragu bahwa sedari tadi aku membacanya dengan benar bahkan walaupun hanya satu halaman
"waw, penggemar mortal instruments juga ya? gue punya semuanya loooh, itu seru banget"
"hehe ya seperti itulah, tapi sebelum itu, ngapain kamu kesini sendirian? biasanya sama temen temen yang lain?"
"gue kabur, syuuut, jangan bilang bilang ya"
"kabur dari apa?"
"ya dari makhluk makhluk gila itu, gue lagi capek dan butuh kesunyian"
"orang kayak kamu bisa butuh kesunyian juga?"
"ya iyalah, emang lu kira gue apa? anak juragan diskotik gitu yang setiap saat ajeb ajeb terus. pusing kali, apa lagi kalo makhluknya nggak normal kayak mereka"
"haha" aku mulai berfikir, apakah aku harus menjadi tidak normal untuk dapat dekat beberapa hari saja dengannya. tapi bukankah aku memang tidak normal?, dengan cara yang berbeda.
"emm jane sorry nih, tinggal dulu ya, kayaknya udah cukup deh kabur dari makhluk makhluk itu, haha, besok gue bawain lanjutan city of ashes ya!"
"emm, ok"
ia pun berlalu bersamaan dengan hembusan angin yang menyapu jejaknya dilapangan berpasir, meninggalkan aku sendiri lagi, seperti tidak terjadi sesuatu yang hebat sebelumnya.
C
"Cal! get it!"
meloncat, dan dengan gerakan sepersekian detik bola itu telah melolosi keranjang yang tergantung kaku diatas tiang mengikuti gerak permanen gravitasi. setelahnya segala keriuh rendahan suara terdengar disekitar lapangan. sayup sayup terdengar suara beberapa gadis centil meneriakkan namanya.
"yeah, gue dapet lagi kali ini, haha lo harus kasih gue hadiah yang udah lo janjiin men!"
"a ya ya, bolehlah, hadiahnya mah gampang, lo pasti suka"
mereka melangkah keluar lapangan setelah peluit panjang berbunyi menandakan kemenangan kilat yang telah didapat. seperti saudara mereka melakukan gerakan gerakan bergulat ringan sepanjang obrolan panjang tanpa arti yang intinya menyatakan bahwa dunia ini ada untuk ditertawakan. begitu ringan dan tanpa beban, tapi apakah akan selalu seperti itu?. langkah mereka terhenti didepan seorang gadis bermata coklat, bukan coklatnya daun maple, tapi coklat gelap yang tak dapat kau lihat detailnya dibawah sinar matahari. rambutnya tergerai lurus, pasrah tertiup angin membuat gelombang gelombang hitam pendek, yang kontras dengan putih kulitnya. ia isabelle. tersenyum didepan dua pria yang terus melihat kepadanya.
"ini cal yang gue bilang"
"hah? bilang apa lo?"
hadiah hadiah" dengan seringaian khas penuh arti
"jadi ini hadiah lo buat gue? tadinya gue berharap lo akan ngasih sesuatu yang bisa gue masukin perut atau paling nggak gue ubah jadi duit, ternyata.... tau ah, gue cabut, dadaaaaaah semuaaaa"
tatapannya berlarian sejalan dengan kakinya mencari tempat yang nyaman untuk mengistirahatkan badan dan menjauh dari temannya. ia tau temannya akan menjodohkannya dengan gadis yang bernama isabelle itu. tapi ia, laki laki yang tertarik dengan takdir, menganggap bahwa takdir yang akan mempertemukannya dengan pujaan hatinya, bukan lewat taruhan konyol bola basket. "itu cara lama" menggerutu kepada diri sendiri. ia berhenti sampai ketika mata mereka bertemu. di sudut rerimbunan pohon, ia melihat gadis itu, gadis yang sama dengan yang setiap hari memandanginya dari kejauhan. ia tergolong gadis biasa hanya saja lebih diam, mungkin karna callo yang belum mengenalnya lebih dalam. ia tak lebih cantik dari isabelle, rambutnya terkuncir rapi disamping, membebaskan beberapa ujung ikalnya, matanya coklat bening, berbeda dengan isabelle, tapi sayangnya sulit untuk melihat detailnya dibalik kacamata minus itu. tapi ada sesuatu tentangnya yang tak bisa dijelaskan, yang telah menarik callo untuk berlari kesana dengan seluruh senyumannya yang mempesona, bahkan sebelum mereka berjabat tangan.
J
sudah beberapa menit berlalu dan aku masih tetap disini diam terpaku didepan deretan pohon pohon tinggi yang mungkin beberapa tahun lagi akan sangat aku rindukan dari sekolah ini. udara dan kedamaian yang bekerja sama dengan apik disini membuat gadis soliter ini menemukan tempatnya, walaupun sendirian. ini adalah tempat pelarianku ketika kejenuhan akan kepedihan tak terlihat menyapa. disini hanya ada aku dan mungkin beberapa teman setia, yang pastinya tidak termasuk makhluk sosial. aku tidak berada di pemakaman, aku berada di pojok sekolah yang keriuh rendahan suaranya dapat terdengar disegala penjuru, tetapi aku masih tetap sendirian dan tak terlihat. di tengak keramaian kulihat dia Dari kejauhan berjalan dengan segala pesonanya. mungkin dia tidak memliki pesona khusus tapi mataku selalu melihatnya dengan segala macam keindahan yang mungkin tak nyata, kau mulai berfikir apakah mataku sendiri berbohong? dan kusadari itu adalah pertanyaan terkonyol yang pernah ku dengar, karena sepintar apapun mulut ini memberi penjelasan kepadamu, kau takkan pernah mengerti sampai dirimu sendiri merasakan jatuh cinta.
matanya secoklat daun maple, rambutnya ikal pendek menggantung sampai ke pelipis, kulitnya kecoklatan khas laki laki eropa. tingginya mungkin sekitar 190 cm, aku tidak tahu pasti karna aku selalu melihatnya dari kejauhan, jadi cukup bayangkan saja seorang laki laki 190 cm berdiri dihadapanmu. ia berbeda denganku karna tak pernah sekalipun aku melihatnya sendirian, ia selalu dikelilingi kelompok yang menurutku cukuplah disetarakan dengannya yang tampan, pintar, supel, dan mungkin kaya. sekarang kau mengerti kan kenapa selama setahun ini aku selalu memandanginya dari bermeter meter kisaran jarak.
Hari ini seperti biasa dengan novel fantasi aku duduk ditempat pengamatan strategis. aku tidak tau harus melakukan apa ketika bel istirahat berbunyi nyaring selain kesini menyendiri. setelah beberapa saat, akhirnya mataku menangkapnya, kali ini dia muncul dengan rambut yang menempel di dahi dan pakaian olahraga. aku berani bertaruh denganmu bahwa ia telah memenangkan pertandingan basket kecil kecilan di sela sela pelajaran olahraga, karna ya, aku tau pasti ia seperti rela menyerahkan hidupnya hanya untuk bermain dengan bola karet oranye itu. yah tapi itu tidak akan sia sia karna ia seorang pemin basket yang jenius, walaupun pernyataan ini keluar dari seorang gadis yang dapat terpeleset hanya dalam beberapa kali dribblean bola. ia setengah berlari dengan senyuman konyol yang tampak permanen, sampai akhirnya aku sadari kakinya tegas melangkah kesini, kearahku. dan setelah itu kau tau kan apa yang terjadi, aku hanya bisa membaca novel yang entah kenapa semua teks didalamnya hanya berupa kata kata acak yang tak kumengerti. satu satunya hal yang kumengerti saat ini adalah, dia kesini, mengarah kepadaku dan aku tak punya cukup kata atau ekspresi yang dapat membalas kehadirannya beberapa detik lagi. seandainya aku dapat membuat senyuman konyol permanen santai seperti yang dia lakukan kepada semua orang.
"gue callo"
dibawah kacamata yang mulai berembun aku melihat jemarinya terjulur rapat didepanku, aku bingung harus berkata apa saat ini, apa kau punya saran?
"aku jane"
"ngapain lo disini? sendirian lagi, emang nggak bosen setiap hari disini terus sendirian?"
"apa urusan kamu?"
"eit eit, tenang bos, jelas aja jadi urusan gue, karna disini tempat pengamatan lo kan"
deg deg, ia duduk disebelahku dengan nafas sedikit terengah engah. dari jarak sedekat ini aku dapat mencium bau sabun dan matahari bercampur jadi satu.
"pengamatan apa? aku nggak ngerti?"
"haha, nggak usah polos gue tau gue yang jadi objeknya, tenang aja, itu biasa"
deg deg deg deg, aku terkunci, otak ku pun begitu, aku tak dapat menemukan kata kata yang pas untuk membalas semua kepercayaan dirinya yang terlewat batas, walaupun sebagian dari itu benar. aku bingung karna aku bingung harus mengatakan apa saat ini, membenarkan pernyataannya atau kabur? tapi pasti kau mengira aku pengecut.Tapi jika hal itu dapat menyelesaikan ini dengan cepat aku rela kau mengecap ku sebagai pengecut, karna mungkin memang begitu adanya. sampai...
"eh eh jangan kabur ya, gue cuma mengada ngada kok soal tadi, cuma kadang kadang kebiasaan gr itu emang sulit diilangin, hehe"
"oh"
"jadi lu lagi baca novel apa?" ia membuka percakapan.
"oh ini, city of ashes" aku bahkan ragu bahwa sedari tadi aku membacanya dengan benar bahkan walaupun hanya satu halaman
"waw, penggemar mortal instruments juga ya? gue punya semuanya loooh, itu seru banget"
"hehe ya seperti itulah, tapi sebelum itu, ngapain kamu kesini sendirian? biasanya sama temen temen yang lain?"
"gue kabur, syuuut, jangan bilang bilang ya"
"kabur dari apa?"
"ya dari makhluk makhluk gila itu, gue lagi capek dan butuh kesunyian"
"orang kayak kamu bisa butuh kesunyian juga?"
"ya iyalah, emang lu kira gue apa? anak juragan diskotik gitu yang setiap saat ajeb ajeb terus. pusing kali, apa lagi kalo makhluknya nggak normal kayak mereka"
"haha" aku mulai berfikir, apakah aku harus menjadi tidak normal untuk dapat dekat beberapa hari saja dengannya. tapi bukankah aku memang tidak normal?, dengan cara yang berbeda.
"emm jane sorry nih, tinggal dulu ya, kayaknya udah cukup deh kabur dari makhluk makhluk itu, haha, besok gue bawain lanjutan city of ashes ya!"
"emm, ok"
ia pun berlalu bersamaan dengan hembusan angin yang menyapu jejaknya dilapangan berpasir, meninggalkan aku sendiri lagi, seperti tidak terjadi sesuatu yang hebat sebelumnya.
C
"Cal! get it!"
meloncat, dan dengan gerakan sepersekian detik bola itu telah melolosi keranjang yang tergantung kaku diatas tiang mengikuti gerak permanen gravitasi. setelahnya segala keriuh rendahan suara terdengar disekitar lapangan. sayup sayup terdengar suara beberapa gadis centil meneriakkan namanya.
"yeah, gue dapet lagi kali ini, haha lo harus kasih gue hadiah yang udah lo janjiin men!"
"a ya ya, bolehlah, hadiahnya mah gampang, lo pasti suka"
mereka melangkah keluar lapangan setelah peluit panjang berbunyi menandakan kemenangan kilat yang telah didapat. seperti saudara mereka melakukan gerakan gerakan bergulat ringan sepanjang obrolan panjang tanpa arti yang intinya menyatakan bahwa dunia ini ada untuk ditertawakan. begitu ringan dan tanpa beban, tapi apakah akan selalu seperti itu?. langkah mereka terhenti didepan seorang gadis bermata coklat, bukan coklatnya daun maple, tapi coklat gelap yang tak dapat kau lihat detailnya dibawah sinar matahari. rambutnya tergerai lurus, pasrah tertiup angin membuat gelombang gelombang hitam pendek, yang kontras dengan putih kulitnya. ia isabelle. tersenyum didepan dua pria yang terus melihat kepadanya.
"ini cal yang gue bilang"
"hah? bilang apa lo?"
hadiah hadiah" dengan seringaian khas penuh arti
"jadi ini hadiah lo buat gue? tadinya gue berharap lo akan ngasih sesuatu yang bisa gue masukin perut atau paling nggak gue ubah jadi duit, ternyata.... tau ah, gue cabut, dadaaaaaah semuaaaa"
tatapannya berlarian sejalan dengan kakinya mencari tempat yang nyaman untuk mengistirahatkan badan dan menjauh dari temannya. ia tau temannya akan menjodohkannya dengan gadis yang bernama isabelle itu. tapi ia, laki laki yang tertarik dengan takdir, menganggap bahwa takdir yang akan mempertemukannya dengan pujaan hatinya, bukan lewat taruhan konyol bola basket. "itu cara lama" menggerutu kepada diri sendiri. ia berhenti sampai ketika mata mereka bertemu. di sudut rerimbunan pohon, ia melihat gadis itu, gadis yang sama dengan yang setiap hari memandanginya dari kejauhan. ia tergolong gadis biasa hanya saja lebih diam, mungkin karna callo yang belum mengenalnya lebih dalam. ia tak lebih cantik dari isabelle, rambutnya terkuncir rapi disamping, membebaskan beberapa ujung ikalnya, matanya coklat bening, berbeda dengan isabelle, tapi sayangnya sulit untuk melihat detailnya dibalik kacamata minus itu. tapi ada sesuatu tentangnya yang tak bisa dijelaskan, yang telah menarik callo untuk berlari kesana dengan seluruh senyumannya yang mempesona, bahkan sebelum mereka berjabat tangan.
to be continued darling :)

0 comments