B for BrotherS

heeeey Another Booossst to write beybeeeeeeeh!!!!!!!
setelah berminggu minggu gue tidak menulis akhirnya hal ini kejadian juga, gue menulis lagi disini, atau lebih tepatnya disebut mengetik. wooooh, ini so sesuatu abis. akhir akhir ini kejadian bagaikan datang bertubi tubi. ketika gue menggambarkannya sebagai sesuatu yang memilukan, gue berfikir pada saat yang bersamaan juga ada hal yang membuat gue merasakan kebalikan dari itu. itu membuat orang yang sudah dilahirkan bingung *oke, ini gue* menjadi semakin bingung untuk menceritakannya. Kadang kadang gue terlalu sedih sehingga nggak bisa menulis, dan terkadang gue terlalu senang sehingga nggak cukup puas kalo gue menceritakannya disini, yang tanpa ekspresi dan segala keriuhan teman teman. temen itu emang nggak tergantikan, walaupun blog ini juga nggak tergantikan *oke, except blog terakhir gue yang sekarang tersia siakan*.

sebelum gue memulainya, gue mau menceritakan tentang speaker!. tentu kalian sudah kenal sama si monitor mesum yang baru diganti, sekarang lu akan dikenalkan dengan speaker gue yang menjelang keberangkatannya ke bawah kasur menyusul si monitor konde. lu tau?! speaker ini sangat ajaib! dia bisa merubah lagu yang kita mainkan menjadi dinyanyikan oleh aziz gagap yang keceh itu *pleasseee*. gimana nggak bikin darting, lagi pengen ngegalau sama the script, pas gue setel jadinya kok the gagap's? lagi pengen fall in love sama taylor swift kok ya ikut ikutan jadi gagap swift. otomatis acara ngegalau gue setiap hujan dengan lagu lagu mellow sudah hancur. nggak lucu kan, ketika air mata tinggal nunggu jatoh doang tiba tiba kepotong gara gara speaker gila nyanyiin lagu gagap. ini ngenes abis. mungkin ada yang berminat beli, gue sarankan buat yang the gagap's fans ya, soalnya ini speaker ngeganggu abis. harga cincay laaah, ting ting. dapet bonus lagi dari gue, yaitu CINTA *jomblo abis*

oke, let's start.
Beberapa minggu kemarin, sekitar 1 minggu menjelang mid-test, gue merasakan itu lagi. suatu rasa yang sekarang gue yakin seyakin-yakinnya lebih nyakitin daripada putus cinta, cinta bertepuk sebelah tangan dan semacamnya, walaupun intinya sama, KEHILANGAN. adik sepupu gue, yang sering kali menjadi objek kebanggaan ke temen temen, dia pergi meninggalkan semua yang dia punya, semua yang sayang sama dia, semua yang bangga sama dia, termasuk didalamnya gue. sebelumnya gue pernah merasakan ini sekali, saat gue bahkan belum ngerti meninggal itu apa, sayang itu apa, cinta itu apa, kecuali harapan. Oleh karena itu gue berfikir, sakit yang gue rasa dulu mungkin hanya karena harapan yang kandas sebelum terjadi, harapan polos anak kecil yang nggak ngerti apa apa soal takdir. hal yang ia lihat simple tapi tiba tiba hancur karena takdir.

 gue bersyukur untuk foto ini. Dita - Dipta

Oh ya, adik sepupu gue itu namanya dipta. dia adalah sodara sepupu yang paling deket dari sekian banyak sodara yang gue punya. dia adalah pelarian masa kecil ketika seseorang baru kehilangan adik kecilnya dan tersenyum setelah sadar "hey, aku masih punya adik kecil yang lain". kita tumbuh bersama sama, walaupun dalam 365 hari hanya 7 hari untuk ketemu dan sharing soal kehidupan yang kita jalani di 358 hari yang lain. waktu dan jarak memang jadi pembatas pasti kehidupan. Dia adalah seseorang yang bisa dengan mudah disayangi sama orang lain. dan setelah gue fikir, mungkin akan sulit menemukan cowok kayak dia dikota besar yang kebanyakan cuma "fake things", cowok yang polos dan sangat memperhatikan keluarganya. dia smart walaupun cuma berasal dari kota pinggiran. itu semua langka.

pertama kali ngedenger berita ini, gue tidak merasakan apa apa, hanya hampa. gue nggak ngerasa seneng, dan mirisnya gue juga nggak merasakan sedih, sedikitpun. dalam otak gue "oh dia meninggal, yaudah", "kok gue nggak sedih, kok gue nggak nangis, harusnya ini berat, dan sakit". dan ketika tersadar, memori itu kembali, semuanya, kenangan kenangan yang merupakan racun untuk merangsang kelenjar air mata mengeluarkan sekretnya. hal hal kecil yang masih gue ingat, kenyataan bahwa, nanti nggak akan ada dia lagi. nggak akan ada seseorang yang ngebuat gue nggak merasa seperti anak ilang ketika kumpul sama keluarga besar, nggak akan ada sodara laki laki yang selalu memasang muka konyol ketika difoto tanpa rasa malu, nggak akan ada pelarian masa kecil seperti dia. ataupun pelarian pelarian yang lain. hanya gue. bahkan saat menulis ini pun, ujung tenggorokan gue masih tercekat, menahan sesuatu yang seharusnya nggak keluar. akan terlalu egois untuk gue merasakan kesedihan yang mungkin kalian anggap lebay, karena seharusnya yang berhak menerima segala perhatian atas sakit karena kehilangan ini adalah keluarga intinya yang gue sangat yakin pasti rasanya berat kehilangan sosok anak laki laki, mas dipta yang polos dan tulus. melepaskan itu memang butuh waktu. dan ketika seseorang manusia mengatakan dia butuh waktu, thats all they need.

Gue fikir kehilangan kali ini akan lebih mudah untuk dihadapi dan ditanggung, karena toh gue sudah survive dimasa kecil, kenapa tidak saat sudah beranjak dewasa?. tapi kehilangan rasanya akan selalu sama, menyakitkan. tapi nggak akan sama ketika kita sudah menerima dan  bersahabat dengan rasa sakit itu, seperti gue yang sudah menerima kehilangan adik kecil yang sampai sekarang Tuhan nggak memberi waktu gue untuk mengenalnya lebih jauh. layaknya sinetron, para protagonis yang berperan sebagai tokoh yang innalillahi dan bangkit kedunia *ini klise abis* akan mengatakan "aku akan selalu disini, dihati kamu" walaupun yah gue sudah eneg sama adegan adegan kayak gitu, tapi akhir akhir ini gue merasa kalo itu benar. tapi bukan berarti secara harfiah, bukan seperti roh mereka jalan jalan dari alam barzakh terus numpang tidur kehati kita. ini seperti merasa dekat dan sayang walau nggak pernah sekalipun gue ketemu atau bertegur sapa sama dia, dia selalu ada dihati gue. selalu ada namanya dihelaan doa yang lambat lambat penuh harap dan terkadang menyakitkan.

Setelah kenyataan itu, gue berusaha berfikir dan menyikapinya selayaknya gadis yang beranjak dewasa. ini hidup dan memang ini yang sudah seharusnya terjadi. kita nggak bisa melakukan apa apa untuk merubahnya. yang gue pelajari kali ini adalah, semua itu merupakan hal hal yang mewarnai hidup, sakit, kehilangan, senang, bahagia, kecewa, semuanya. kita harus nerimo, walaupun nantinya akan menyisakan bekas, toh bekas luka pun tidak akan selamanya merah dan berdarah bukan.  walaupun saat darah itu menetes, rasanya tetap sakit.

pernah gue bertanya kepada diri sendiri, ketika harus memilih, lebih memilih hidup yang berliku liku, terkadang senang, dan terkadang sebaliknya, atau hidup yang sama sekali flat, tidak merasakan sakit, dan tentunya tidak merasakan senang saat bersamaan. sepintas gue memilih hidup yang flat, tidak merasakan apa apa, selalu berada pada savezone. tapi itu hanya jawaban para pengecut, dan gue nggak suka jiwa pengecut, jadi mulai saat itu gue commited dengan diri sendiri untuk memilih hidup yang berwarna, terkadang biru, merah muda, hijau, ungu, dan warna warna lain. mengundang mereka untuk memoprakporandakan hidup dan mengindahkan setelahnya.

Akan selalu ada pelangi walaupun setelah angin ribut, jika kau mencari.......

0 comments