a Little Piece of Hope

assalamualaikuuuuum...........
gue kangen, banget, karena setelah sekian lama gue nggak update lagi, pasti kalian juga anennd annnetd u.u. terkadang gue terlalu sibuk, terlalu kesel, terlalu seneng, dan dosis tinggi dari segala rasa yang mungkin gue rasakan, sehingga gue nggak bisa update blog yang agak usang, and you know whaaaat???! GUE BARU GANTI TEMPLATE!! dan itu sesuatu banget. tapi sebetulnya ini template bekas, udah nggak kepake tapi masih disimpen, untung aja template nggak bisa karatan, template gue gitu, huaahaha. 

kali ini gue akan membahas tentang, harapan, tapi sebelum itu gue akan membuat lu menjadi orang paling update sedunia, tentang ................ GUE. walaupun gue tau, itu akan sangat amat tidak penting, tapi gue harap kalian bisa mengambil makna dari kisah miris, atau harus gue sebut, bego ini. sepulang sekolah, setelah menempuh perjalanan yang polusi abis, gue akhirnya sampai dirumah, dan apakah kalian tau sodara sodara???!! gue laper. tenang tenang, ini bukan klimaksnya, sabar bro. 

akhirnya gue memutuskan untuk makan roti gandum, dengan ekstra meses coklat diatasnya, sambil menghancurkan komputer, sorry maksud gue ngotak ngatik. pada gigitan pertama, semuanya baik baik saja, rasanya masih seperti roti gandum dengan meses coklat, tapi kok, kayak ada mintnya ya. gue agak curiga juga, mengingat itu roti udah dari beberapa hari kemaren teronggok diatas kulkas. gue lihat lihat, waaa ternyata ada secuil jamur mejeng cuek diatas roti, gila, gue makan roti yang hampir basi! untung masih hampir, jadilah jamur yang sendirian itu gue buang dan pelintir jauh jauh dari zona makan. gue melanjutkan makan lagi. 

makin ketengah, makin berasa mint, lebih tepatnya rasa meses duet sama kulkas, gilaaa, ada aja halangan buat menuntaskan rasa laper. akhirnya, untuk meyakinkan diri, gue gigit lagi. gue ragu dengan gigitan pertama yang akhirnya gue lanjutkan sampai gigitan ketiga dst, dan akhirnya gue sadar. "ini kayaknya meses basi, rotinya juga, anjir, gue buang ah, mumpung baru sedikit" dan setelah gue menengok, itu roti bukan telah sedikit termakan tapi telah sedikit yang tersisa, lebih tepat gue sebut dengan jumlah seperempat. -_____- akhirnya gue kenyang, walaupun perasaan gue akan perut ini agak nggak enak karena telah mengkhianati dia dengan memakan roti basi+meses+kulkas.

back to topic. akhir akhir ini gue stuck dengan satu kata simple, yaitu harapan. banyak hal yang gue fikirkan akhir akhir ini, tapi entahlah yang paling dominan adalah harapan. apakah lu pernah merasakan harapan lu terwujud? pasti rasanya kayak terbang diantariksa berenang bareng gajah atlantik, ngeliat bunga bentuknya hati berwarna pink. dan apakah lu pernah ngerasain harapan lu tidak terwujud? pasti rasanya kayak nyemplung dikobangan, berenang bareng buaya antariksa, dan lu ditelen sama dia, itu eneg. banget. 

harapan itu sebenernya punya dua efek yang super berbeda. bisa menghidupkan dan mematikan dari dalam ya tergantung siapa yang ngerasain, terkabul atau tidak, dll. akan berebeda harapan seorang pemulung dengan seorang kaya. buat orang kayak gue, yang punya kegeeran yang overdosis, sangat sering mengalami sesuatu yang ngarep abis. dan masalahnya kebanyakan harapan gue berakhir dengan kekecewaan sedalem sumur yang nggak berenti digali dari hari kehari. ibarat kata, seandainya didunia ada orang yang mau bayar selusin harapan dengan 1 piring, mungkin sekarang gue udah jadi juragan piring paling kaya ditangerang. dan sialnya, gue sangat kuat mempertahankan itu, sampai waktu dimana, seseorang akan memecahkannya berkeping keping seakan mereka nggak pernah memberikan itu ke gue. bahkan dimasa lalu. 

gue beberapa kali melihat keajaiban harapan. banyak bergaul membuat gue mendapatkan cerita cerita yang luar biasa dari orang sekitar, salah satunya keajaiban harapan. orang yang tadinya sakit, karena harapan yang ia jadikan keyakinan, yaitu sembuh, sangat kuat, dan triiiing, lama kelamaan ia akhirnya sembuh. atau ada juga orang bisa galau mampus, gara gara hharapan, dan biasanya ini terjadi dikalangan abg abg labil, pelakunya siapa lagi kalau bukan PHP, pemberi harapan palsu. masalah ini, gue mengakui, gue pernah menjadi tokoh pelaku dalam hal hal semacam itu, yaitu pemberi harapan palsu. walaupun itu bukan sepenuhnya pemberi harapan palsu, karena ya gue tidak merencanakannya ,dan ya gue juga ikut jatuh didalamnya. 

ada salah satu cerita lama tentang kegeeran gue yang mengakibatkan gue kecewa sendiri. fyi gue adalah orang yang sangat mudah berharap. sebuah novel yang romantis abis pun bisa dengan mudahnya membuat gue berharap sehari semalem, dan lu pasti udah tau, bahwa hal itu nggak mungkin terjadi. seperti kasus satu ini, jadiii, ada seseorang murid baru di kelas bimbel gue, dia nggak ganteng, jelek juga nggak, pinter kayaknya nggak, tapi kalo dibilang agak lambat juga nggak. yah pokoknya standard. dia satu satunya cowok ditempat les yang masih menganggap gue seorang gadis. yang lainnya, mereka lebih memilih untuk memandang gue sebagai teman laki laki mereka -___- dengan segala pukulan, kejar - kejaran, dan hal hal semacamnya. suatu hari kita banyak mengobrol, bukan percakapan yang istimewa, gue juga nggak merasakan sesuatu yang aneh. setelah itu gue beranjak pulang dengan salah seorang teman, jalan kaki tentunya dan itu malem. dia duduk diatas motornya dengan beberapa teman les laki laki "berandal" gue -___- menyebutnya aja membuat gue geli. dia akhirnya bertanya
dia: "mau pulang ya?"
gue: "iya, kenapa?"
dia: "pulang kearah mana?"
gue: "arah kotabumi, kenapa emang?" dalam hati berfikir, yes yes, ongkos pulang gue selamet malem ini.
dan akhirnya gue pun berenti dan menoleh, akhirnya dia bilang
.
.
.
"oh yaudah, hati hati ya"
itu jleb.to.the.deep.abis. pada akhirnya ongkos gue tetap jatuh ke kantong abang abang angkot -___-.  

itu adalah contoh simple dari suatu harapan yang berujung kepada kecewa. beberapa orang teman bercerita kegue tentang harapannya kepada orang istimewa yang akhirnya, mengecewakan mereka. mereka berharap something, dan yang terjadi malah nothing. gue banyak memberi advice ke mereka dengan segala macam kesok tauan gue tentang berbagai hal. berulang kali gue bilang "orang kayak gitu nggak bisa diharapkan", atau, "jangan ngarepin orang kayak gitu, mereka nggak akan berubah, lu harus move on", dan masih banyak yang lainnya. hal itu membuat gue merasa munafik. karena pada kenyataannya, gue sendiri masih sering berharap ke orang lain, terutama untuk banyak hal yang menyangkut perasaan, walaupun gue tau dia hopeless. sering harapan gue seperti tinggal selangkah lagi menjadi kenyataan, dan tiba tiba dipuncaknya ia runtuh dan tak meninggalkan sisa sedikitpun seperti tak pernah eksis sebelumnya. itu sakit. banget. 

gue mulai berfikir, apakah itu yang teman teman gue rasakan?. sakit dan letih saat berharap, dikata berhenti, tapi hati mengingkarinya. tapi ya, berdasarkan pengalaman gue, untuk abg, khususnya yang satu tipe seperti gue, harapan itu kebanyakan membawa kekecewaan. harapan berawal dari sedikit kemungkinan, yang kemudian dikembangkan otak kita menjadi lebih banyak kemungkinan baik yang terjadi, sehingga kita menunggu dan menanti. itulah yang disebut harapan. dan sering kali kita menyalahkan orang lain atas kesakitan yang kita rasakan, tapi sebenernya ini salah kita seutuhnya. lihat kata yang gue garis bawahi? otak hanya mengembangkan segala kemungkinan baik, bukan sebaliknya. hal itu yang membuat kita berharap dan kecewa pada akhirnya. miris bukan. seperti yang mama gue bilang "semua masalah kita datangnya tidak lain kalo bukan dari kita sendiri".

tapi terkadang, yang membuat sulit adalah ketika harapan telah menjadi alasan untuk kita hidup, walaupun  seribu tahun lagi. tidak peduli bagaimana ia telah dibanting dan dihancurkan berkeping keping. 

0 comments