Hellonjo!

Soal cerita melelahkan juga banyak hal - hal yang menyenangkan.


Bagaimana bantu-bantu di warung mama ternyata lebih gue butuhkan daripada mama membutuhkannya. Banyak hal-hal yang membuka mata seorang Dita yang masih seringkali kurang bersyukur. Sebelumnya di hari itu memang tidak diawali dengan begitu baiknya. Rasanya banyak yang salah, atau gue cuma lelah. Banyak hal-hal yang membuat gue ingin sekali berhenti, terkecuali fakta bahwa gue sangat butuh pekerjaan ini. It has lifted lot of things in my life, sadly, except dreams. The latter that burden me so much, it has haunted my life far before all of this begin. I can talk about this literally all day, complaining, whining, arguing that I can get better, far better. And damn, I miss my friends a lot.  

And it was happen. Seorang bapak agak renta, lebih tua dari bapak. Sehari-hari jualan macem bubur favorit gue, kata mama. Dia udah jadi langganan mama sejak entah kapan. Bapak itu masuk ke toko dan memulai transaksi jual beli dengan bon. Belanjaannya hari ini nggak akan dia bayar sampai besok, dengan harapan dagangannya laku, habis tandas. Memilih beberapa barang dan ketika sampai perhitungan akhirnya kita tau, siang itu dia sudah berbelanja 15.000 lebih sedikit. 

........

Udah sadar belum? 
Bagaimana diluar sana 15.000 masih menjadi hal besar untuk sebagian orang, yang harus berdiri seharian berjualan di bawah matahari yang kalo panas udah bikin kita ngeluh berasa kayak di neraka. Harus melanjutkan kayuhan sepeda walau hujan karena bubur di panci belum habis, karena ketika menyerah sekarang maka bon modal hari ini gak akan terbayarkan. Harus menunggu dan menunggu dan menunggu dan menunggu. Pekerjaan yang diakui banyak orang menyebalkan. 
Dan gue, cuma hampir kehilangan mimpi. Belum kehilangan mimpi. Ketika disana masih banyak bapak yang gak tau besok ngasih makan apa ke anaknya. Masih banyak anak yang mimpinya setinggi gedung-gedung di ibukota ketika rumahnya sudah doyong kemana-mana karena dia bisa berharap apa dari triplek yang disusun seadanya?. Gue baru sadar, seburuk-buruknya kita saat ini, pasti masih ada yang bisa kita syukuri. Seenggakpunyanya kita dalam merasa, pasti masih ada yang baik dari segala yang kita miliki. Bahkan ketika akhirnya kita merasa sendiri, kesepian, losing hope with all the things ahead, we still have breath in our lungs, which means, Allah masih sayang, begitu sayang dan ingin kita agar berusaha sekali lagi. 

Ia gak perah menghadirkan pikiran yang sia-sia ke dalam otak kita. Gak pernah salah dalam menakdirkan sesuatu meski nampaknya sulit untuk dijalani.

Semoga dita selalu ingat ini ketika masa-masa tidak masuk akal kembali lagi suatu hari.

P.s: Suatu sabtu siang kemarin, I want to literally just stop. I can't handle all the insecurities inside. Lalu gue solat Dhuhur. Gak khusyuk karena yang ada di otak gue hanya "should I stop to readjust in something that I feel don't fit me" "should I chase for the better just like any other stories people has told" "should I just quit everything". Setelah kembali ke ruangan, ternyata gue sudah ditunggu oleh supervisor dan dua orang mentor di ruang meeting. And they explain every evaluation. It was unexpected. Which somehow has eased me, a lot. Satu yang ada di kepala gue saat itu. Bahkan ketika kita tidak bercerita dengan benar, meminta pertolongan dengan sopan, Allah masih begitu sayangnya mendengar, menunjukkan, dan meringankan.

Saat itu gue tau, gue gak pernah sendiri.   

Aku berdoa untuk segala yang ingin kamu jadikan nyata. Untuk setiap usaha yang tidak lelah kamu ulangi, meski harus berkali-kali. Pun untuk keselamatan pada setiap pijakan kamu pergi, agar selalu ada hangat pada tempat yang kamu singgahi.

Tenang saja, aku tidak mengharu biru kini.
Kamu, cukup balas dengan doa sederhana, agar setiap pertanyaanku bertemu dengan jawaban. Agar ada hati yang selalu lapang menerima setiap yang ditakdirkan.

Tetaplah jadi sebaik - baiknya manusia.
Sampai ketemu lagi di persimpangan lainnya.
Aku tau ini terlambat, tapi semoga dapat menjadi pengingat. Untuk bisa memaafkan selapang langit, yang kembali biru meski hujan sempat membuatnya kelabu.
Bukankah kita akan melupa pada masanya?. Pada setiap mimpi yang tak bisa dijalani, pada setiap manusia yang memutuskan untuk pergi. Lantas, kenapa harus begitu memaksakan hati?. Tidak apa, mungkin hanya bukan kini, bisa jadi nanti, atau tenang saja, masih ada esok hari.

Bukankah pada masanya kamu juga akan menjadi seseorang yang pergi?
Setahun lalu hari ini. Saya masih sholat maghrib di kamar lama berwarna merah muda. Agak terburu-buru karna ada kamu yang menunggu. Ini hari pertama kamu disini, entah kenapa bisa disini, tidak tau bagaimana akhirnya kesini. Saat itu tak ada yang lain dipikiran saya karna yang saya tau kita setelah ini akan menikmati semangkuk ronde panas di pusat kota. Kamu masih asing tapi sudah terasa familiar. Kamu bukan siapa-siapa, tanpa makna. Anehnya saya perlahan mengeja bahagia ketika bahkan namamu saja tidak pernah tertera sebelumnya.

Saat itu sepertinya saya sempat berpikir jadi apa kita setahun lagi, ternyata sampailah disini.

Ketika saya yang mencoba menuliskan hal-hal yang seharusnya saya sampaikan dengan lisan. Beberapa menit sambungan telfon yang seharusnya tidak mematikan, tapi saya tidak bisa. Saya tidak bisa menerima segala kemungkinan jawaban yang hati ini belum bisa memberikan kelapangan. Saya sedang tidak cukup kuat untuk berpura-pura.

Tidak, saya tidak akan membahas kita. Saya hanya ingin bercerita, seperti biasa.

Sore ini saya takut sekali. Takut sendiri. Takut tidak punya siapapun yang membersamai suatu hari nanti. Banyak hal akhir-akhir ini yang membuat saya berantakan. Patah hati. Sampai saya tidak tahu harus sedih untuk alasan yang mana. Rasa-rasanya hidup selalu punya jalan untuk membuat saya merekonstruksi ulang segala rencana jangka panjang. Membuat saya harus mulai lagi dari awal, berkali-kali. Mendapatkan suatu harapan untuk kemudian dibenturkan sampai kepada kehancuran. Setahun lalu saya pernah bercerita tentang kejadian serupa. Kamu menjawab dengan begitu sederhana, bahwa kita manusia dan hidup memang tidak seharusnya selalu bahagia serta baik-baik saja. Setahun lalu saya masih begitu ceria, karna kita berbicara cukup lama meski menceritakan hal-hal yang sempat membuat saya merasakan sebaliknya.

Kini, kita tidak lagi berbicara, dan hal-hal itu ternyata berulang, kembali nyata dengan banyak hal-hal yang lebih menyakitkan daripada sebelumnya. Dan saya semakin yakin, bahwa kata-katamu kala itu memang sulit dimengerti.

Tangan saya dingin, salatiga selalu dingin, kini saya hanya ingin menangis sejadi-jadinya.


Diantara segala hal yang tidak baik-baik saja, saya masih berdoa agar kamu tidak menjadi salah satunya. Baik-baiklah, semoga selalu bahagia, Gat. 
Suatu hari aku ingin seseorang menuliskanku dengan kata-katanya yang timpang. Tidak penuh tapi cukup. Tidak indah tapi punya rasa.

Suatu hari aku ingin seseorang menuliskanku dengan pikirannya yang sudah pikun. Dengan ejaan yang tidak sempurna, tapi namaku lengkap tertera.

Suatu hari aku ingin seseorang menuliskanku dengan pena yang hampir kosong. Guratannya muncul dan tenggelam. Beberapa huruf hilang di entah, tapi kalimatnya tetap bersuara.

Suatu hari aku ingin seseorang menuliskanku, lengkap dengan segala kekurangannya menggambarkan segala kekuranganku. Berharap bertemu aku.

Suatu hari aku ingin seseorang menuliskanku. Ketika rindu ia membaca tulisannya, yang meski tanpa rima, tapi tetap hangat sampai di jiwa. Seseorang yang menemukan nyaman pada setiap kata. Seseorang yang sederhana menerima.
Aku masih bermimpi bagaimana suatu waktu kita bertemu. Di tengah perjalanan menuju tempat berlawanan. Mungkin dengan kata sapa sederhana dan perasaan yang sudah ringan. Kepalaku pasti masih mengingatmu dengan betul karna aku jarang melupakan cerita - cerita yang serupa ini. 

Kita mungkin hanya akan berlalu dan pergi. Kembali memakukan pandangan pada setiap langkah kaki. Bersiap melupakan pertemuan dengan seorang teman lama yang sudah kehilangan arti. 

Aku mungkin akan kembali disadarkan, bahwa banyak hal terlewati. Hidup ini akan selalu diisi oleh manusia yang datang dan pergi. Beberapa menetap dengan yang lain memutuskan untuk hanya sekelebat dan kembali singgah. Beberapa akan meninggalkan luka dengan yang lain menggurat bahagia. Segala cerita kemudian menyisakan kita dengan sisa - sisa. Meninggalkan kita dengan segala pilihan - pilihan akan jadi apa setelah setiap perlakuan yang mereka berikan. 

Bahwa hidup memang bisa jadi buruk. Manusia bisa jadi tidak dapat dipercaya. Tapi bertemu denganmu telah membuatku sampai kepada pilihanku. Untuk tidak hidup sekedarnya. Untuk ingat kemana aku harus kembali. Untuk mencintai diriku sendiri. Karna aku tak akan pernah dapat bergantung kepadamu atau orang-orang lainnya. Karna merasa dicintai adalah sepenuhnya tanggung jawabku dan diri ini.
Postingan Lebih Baru Postingan Lama Beranda

ABOUT ME

Introverts in disguise. Read keeps me sane, write keeps me awake. Both of them entwined makes me alive.

SUBSCRIBE & FOLLOW

POPULAR POSTS

  • Komedi putar, senja, dan sendu.
  • Adi
  • Blank Space
  • angsana
  • untuk mas

Categories

  • Reviews
  • Stories
  • Unsend Letters

Advertisement

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.

Blog Archive

  • ▼  2026 (6)
    • ▼  Agustus (1)
      • musnah
    • ►  Maret (4)
    • ►  Januari (1)
  • ►  2025 (6)
    • ►  Desember (2)
    • ►  Juni (2)
    • ►  April (2)
  • ►  2023 (4)
    • ►  Oktober (2)
    • ►  September (2)
  • ►  2022 (1)
    • ►  Mei (1)
  • ►  2021 (15)
    • ►  November (2)
    • ►  September (1)
    • ►  Agustus (1)
    • ►  Juli (2)
    • ►  Juni (2)
    • ►  Mei (4)
    • ►  April (3)
  • ►  2020 (46)
    • ►  September (8)
    • ►  Agustus (8)
    • ►  Juli (7)
    • ►  Juni (4)
    • ►  Mei (6)
    • ►  April (5)
    • ►  Maret (7)
    • ►  Januari (1)
  • ►  2019 (28)
    • ►  Desember (11)
    • ►  Juli (2)
    • ►  Juni (4)
    • ►  Mei (9)
    • ►  Februari (1)
    • ►  Januari (1)
  • ►  2018 (21)
    • ►  September (2)
    • ►  Agustus (3)
    • ►  Juni (2)
    • ►  Mei (2)
    • ►  April (2)
    • ►  Maret (2)
    • ►  Februari (4)
    • ►  Januari (4)
  • ►  2017 (62)
    • ►  November (1)
    • ►  September (6)
    • ►  Agustus (2)
    • ►  Juli (2)
    • ►  Juni (5)
    • ►  Mei (7)
    • ►  April (9)
    • ►  Maret (2)
    • ►  Februari (15)
    • ►  Januari (13)
  • ►  2016 (55)
    • ►  Desember (8)
    • ►  November (12)
    • ►  Oktober (10)
    • ►  September (7)
    • ►  Agustus (5)
    • ►  Juli (1)
    • ►  Juni (3)
    • ►  Mei (2)
    • ►  April (4)
    • ►  Februari (1)
    • ►  Januari (2)
  • ►  2015 (26)
    • ►  Desember (5)
    • ►  November (2)
    • ►  Oktober (2)
    • ►  Agustus (1)
    • ►  Mei (1)
    • ►  April (1)
    • ►  Maret (6)
    • ►  Februari (4)
    • ►  Januari (4)
  • ►  2014 (48)
    • ►  Desember (4)
    • ►  Oktober (4)
    • ►  September (1)
    • ►  Juli (2)
    • ►  Juni (4)
    • ►  Mei (8)
    • ►  April (6)
    • ►  Maret (6)
    • ►  Februari (7)
    • ►  Januari (6)
  • ►  2013 (52)
    • ►  Desember (6)
    • ►  November (2)
    • ►  Oktober (7)
    • ►  Agustus (2)
    • ►  Juli (1)
    • ►  Juni (1)
    • ►  Mei (8)
    • ►  April (4)
    • ►  Maret (11)
    • ►  Februari (2)
    • ►  Januari (8)
  • ►  2012 (68)
    • ►  Desember (23)
    • ►  November (5)
    • ►  Oktober (13)
    • ►  September (4)
    • ►  Agustus (2)
    • ►  Juli (1)
    • ►  Juni (1)
    • ►  April (3)
    • ►  Maret (5)
    • ►  Februari (7)
    • ►  Januari (4)
  • ►  2011 (13)
    • ►  Desember (13)

Pengikut

Oddthemes

Designed by OddThemes | Distributed by Gooyaabi Templates