Aku tau ini terlambat, tapi semoga dapat menjadi pengingat. Untuk bisa memaafkan selapang langit, yang kembali biru meski hujan sempat membuatnya kelabu.
Bukankah kita akan melupa pada masanya?. Pada setiap mimpi yang tak bisa dijalani, pada setiap manusia yang memutuskan untuk pergi. Lantas, kenapa harus begitu memaksakan hati?. Tidak apa, mungkin hanya bukan kini, bisa jadi nanti, atau tenang saja, masih ada esok hari.
Bukankah pada masanya kamu juga akan menjadi seseorang yang pergi?
Setahun lalu hari
ini. Saya masih sholat maghrib di kamar lama berwarna merah muda. Agak
terburu-buru karna ada kamu yang menunggu. Ini hari pertama kamu disini, entah
kenapa bisa disini, tidak tau bagaimana akhirnya kesini. Saat itu tak ada yang
lain dipikiran saya karna yang saya tau kita setelah ini akan menikmati
semangkuk ronde panas di pusat kota. Kamu masih asing tapi sudah terasa
familiar. Kamu bukan siapa-siapa, tanpa makna. Anehnya saya perlahan mengeja
bahagia ketika bahkan namamu saja tidak pernah tertera sebelumnya.
Saat itu
sepertinya saya sempat berpikir jadi apa kita setahun lagi, ternyata sampailah
disini.
Ketika saya yang
mencoba menuliskan hal-hal yang seharusnya saya sampaikan dengan lisan.
Beberapa menit sambungan telfon yang seharusnya tidak mematikan, tapi saya
tidak bisa. Saya tidak bisa menerima segala kemungkinan jawaban yang hati ini
belum bisa memberikan kelapangan. Saya sedang tidak cukup kuat untuk
berpura-pura.
Tidak, saya tidak
akan membahas kita. Saya hanya ingin bercerita, seperti biasa.
Sore ini saya
takut sekali. Takut sendiri. Takut tidak punya siapapun yang membersamai suatu
hari nanti. Banyak hal akhir-akhir ini yang membuat saya berantakan. Patah
hati. Sampai saya tidak tahu harus sedih untuk alasan yang mana. Rasa-rasanya
hidup selalu punya jalan untuk membuat saya merekonstruksi ulang segala rencana
jangka panjang. Membuat saya harus mulai lagi dari awal, berkali-kali.
Mendapatkan suatu harapan untuk kemudian dibenturkan sampai kepada kehancuran. Setahun
lalu saya pernah bercerita tentang kejadian serupa. Kamu menjawab dengan begitu
sederhana, bahwa kita manusia dan hidup memang tidak seharusnya selalu bahagia
serta baik-baik saja. Setahun lalu saya masih begitu ceria, karna kita
berbicara cukup lama meski menceritakan hal-hal yang sempat membuat saya
merasakan sebaliknya.
Kini, kita tidak lagi
berbicara, dan hal-hal itu ternyata berulang, kembali nyata dengan banyak
hal-hal yang lebih menyakitkan daripada sebelumnya. Dan saya semakin yakin,
bahwa kata-katamu kala itu memang sulit dimengerti.
Tangan saya
dingin, salatiga selalu dingin, kini saya hanya ingin menangis sejadi-jadinya.
Diantara segala
hal yang tidak baik-baik saja, saya masih berdoa agar kamu tidak menjadi salah
satunya. Baik-baiklah, semoga selalu bahagia, Gat.
Suatu hari aku ingin seseorang menuliskanku dengan kata-katanya yang timpang. Tidak penuh tapi cukup. Tidak indah tapi punya rasa.
Suatu hari aku ingin seseorang menuliskanku dengan pikirannya yang sudah pikun. Dengan ejaan yang tidak sempurna, tapi namaku lengkap tertera.
Suatu hari aku ingin seseorang menuliskanku dengan pena yang hampir kosong. Guratannya muncul dan tenggelam. Beberapa huruf hilang di entah, tapi kalimatnya tetap bersuara.
Suatu hari aku ingin seseorang menuliskanku, lengkap dengan segala kekurangannya menggambarkan segala kekuranganku. Berharap bertemu aku.
Suatu hari aku ingin seseorang menuliskanku. Ketika rindu ia membaca tulisannya, yang meski tanpa rima, tapi tetap hangat sampai di jiwa. Seseorang yang menemukan nyaman pada setiap kata. Seseorang yang sederhana menerima.
Aku masih bermimpi bagaimana suatu waktu kita bertemu. Di tengah perjalanan menuju tempat berlawanan. Mungkin dengan kata sapa sederhana dan perasaan yang sudah ringan. Kepalaku pasti masih mengingatmu dengan betul karna aku jarang melupakan cerita - cerita yang serupa ini.
Kita mungkin hanya akan berlalu dan pergi. Kembali memakukan pandangan pada setiap langkah kaki. Bersiap melupakan pertemuan dengan seorang teman lama yang sudah kehilangan arti.
Aku mungkin akan kembali disadarkan, bahwa banyak hal terlewati. Hidup ini akan selalu diisi oleh manusia yang datang dan pergi. Beberapa menetap dengan yang lain memutuskan untuk hanya sekelebat dan kembali singgah. Beberapa akan meninggalkan luka dengan yang lain menggurat bahagia. Segala cerita kemudian menyisakan kita dengan sisa - sisa. Meninggalkan kita dengan segala pilihan - pilihan akan jadi apa setelah setiap perlakuan yang mereka berikan.
Bahwa hidup memang bisa jadi buruk. Manusia bisa jadi tidak dapat dipercaya. Tapi bertemu denganmu telah membuatku sampai kepada pilihanku. Untuk tidak hidup sekedarnya. Untuk ingat kemana aku harus kembali. Untuk mencintai diriku sendiri. Karna aku tak akan pernah dapat bergantung kepadamu atau orang-orang lainnya. Karna merasa dicintai adalah sepenuhnya tanggung jawabku dan diri ini.
Sore ini acara
sepulang dari warung adalah makan ronde bareng mama. Ada hal yang baru gue
sadari bahwa ternyata bisa jadi banyak yang terlewati dari agenda makan bareng
di warung pinggir jalan. Saat itu kita pilih ronde yang harga satu mangkoknya
nggak sampe 5000. Pembelinya cuma empat, gue dan mama ditambah seorang ibu
dengan anak kecilnya. Seketika gue bertanya, kira – kira berapa ya yang bisa didapat
si ibu-ibu ronde setiap malam, yang dagangnya bisa jadi sampe dini hari.
Seabisnya itu ronde dan antek – anteknya.
Sampai kini pun
gue nggak tau berapa, tapi yang pasti nggak banyak.
Seketika pikiran
ini bikin gue ingat untuk bersyukur. Bikin gue berhenti meragukan pekerjaan baru
dengan working hour beserta gajinya yang mengingatkan gue akan sistem kerja
rodi jaman Jepang. Bikin gue kepikiran rasa – rasa malas yang ada di hari –
hari kemarin ini.
Lalu nyeletuklah
anak gadisnya si ibu – ibu ronde yang minta pulang.
“ya nanti ya
nduk, katanya mau beli soto, wong udah di pesen loh”
Anak gadis
berambut keriting itu cuma cengengesan malu dengan memberikan jempol – jempol imut.
Ngeliat dunianya yang masih baik – baik saja, dengan permintaan semangkok soto
yang masih bisa dituruti orang tuanya, dibelakang gerobak ronde yang sudah
bersiap begadang lagi karena suasana kota berhujan yang kelewat sepi. Kita
nggak akan tau bahwa semangkok soto bisa jadi berat untuk sebagian orang
ditengah jaman dimana ekonomi lagi di posisi paling lesu. Bikin hati gue
rasanya ringan tapi menyesakkan. Ringan karena senyumannya tulus bikin bahagia
semua orang yang ngeliat. Menyesakkan karena banyak ironi disekitarnya yang
belum berhasil ia mengerti, kecuali fakta bahwa dia bisa makan enak malam ini.
Hidup ini bisa
jadi begitu pahit untuk dimengerti, yang serupa obat, kadang cukup kita telan
tanpa basa – basi.
Dan tiba – tiba pikiran
gue berhenti ketika ngeliat dua mangkok yang menyisakan sedikit sari jahe.
Mangkok gue, mangkok mama.
Posisi itu bisa
jadi orang tua gue berbulan – bulan lalu, selama 4 tahun ini. Atau mungkin
selama 22 tahun ini.
Gue yang dunianya
baik – baik saja di Purwokerto. Makan di tempat favorit gue ketika mama harus
mikir dua kali setiap belanja. Nongkrong malem – malem saking serunya sampe
kadang lupa alasan mama sama bapak pasti udah tidur jam segitu, iya karna
kecapekan seharian ngewarung. Lalu banyak lagi ingatan tentang hal – hal serupa
itu yang menyadarkan gue bahwa gue sama si anak kecil tadi hanya berbeda pada
kesadaran, tapi masih tidak bisa merubah keadaan.
Ternyata banyak
hal, terlalu banyak, yang nggak bisa seorang anak jadikan impas. Nggak bisa dibalas
sampai tuntas. Rasa – rasanya gue
semakin merasa bersalah karna seringkali terlalu pasrah. Masih terlalu lemah.
Masih belum bisa kasih apa – apa selain jadi anak dengan motto “kalau belum
bisa jadi baik, seenggaknya nggak usah jadi buruk”.
Ternyata itu
nggak akan pernah cukup. Jadi anak baik ternyata bukan batas minimal untuk
membalas segala yang sudah mereka jadikan genap.
Kini aku tau, bagaimana menghidupkan kamu selamanya meski hanya dengan sisa - sisa jiwa.
Aku bermimpi dapat sekolah lagi. Menghabiskan semua kemungkinan jenjang pendidikan. Bukan untuk status sosial yang tidak pernah aku pedulikan, tapi karna belajar dengan sabar adalah satu-satunya hal yang bisa aku lakukan dengan penuh kebahagiaan. Dengannya aku bisa mendapatkan beasiswa yang sedikit demi sedikit aku kumpulkan untuk mimpiku selanjutnya.
Menjadi pengajar yang membumi. Untuk manusia-manusia kecil dengan kemewahan yang seringkali tidak kita miliki. Bisa bermimpi. Aku ingin menjadi bagian dalam perjalanan mereka menuju tempat yang mereka inginkan. menjadi pintu dari segala kesempatan mereka untuk melihat dunia. Membuat mereka percaya bahwa tidak ada yang tidak mungkin, dan menjaga mimpi di dalam hati tidak akan pernah sia-sia. Tidak akan pernah membuat mereka kecewa. Awal perjalanan yang akan dimulai dari suatu tempat dengan nama yang masih aku cari-cari, dengan bidang yang aku sukai.
Aku tidak ingin ada lagi seorang pemimpi yang patah dan kehilangan dirinya berkali-kali.
Aku masih ingin menjadi dia yang mewujudkannya. Aku tuliskan agar hal-hal yang sudah susah payah aku temukan dan jaga tidak hilang begitu saja. Namun jika sampai akhir aku tidak bisa jadi sekuat itu untuk mewujudkan, semoga ada manusia lain yang bisa menjadikannya nyata. Setidaknya ada jiwa yang masih dekat meski raga tidak ada.
ABOUT ME
Introverts in disguise. Read keeps me sane, write keeps me awake. Both of them entwined makes me alive.
POPULAR POSTS
Categories
Formulir Kontak
Diberdayakan oleh Blogger.
