Hellonjo!

Soal cerita melelahkan juga banyak hal - hal yang menyenangkan.


Liana menunggu di jalan yang sama. Dibawah tanda laju dan berhenti. Sendirian. Bebannya ringan, toh ia hanya membawa seluruh badan dengan kaus sederhana yang melekat, seharusnya langkah itu bebas dan kini entah kenapa kelihatannya tak sebebas itu. Terlebih ia hanya diam, tanpa sesenti pun bergerak dari tempat singgah semula. Kadang duduk, merunduk, menatap langit luas, mengehmbuskan nafas panjang, dan termenung. Satu pikiran yang berputar di kepalanya saat ini, benang kusut yang tak kunjung menjadi lurus. Itu. Pijakan kaki yang ia masih belum tau tepatnya dimana. Pijakan disekitar yang tersedia masih terasa belum mantap. Hatinya belum penuh. Pikirannya masih berada pada tempat yang tak ia punya. Langkahnya memang belum ringan, tapi setengah hatinya, di sana. Di tempat yang dulu, sangat dulu. Ketika semuanya terasa……. Nyaman. Stay. Safe.  


Ditengah hecticnya laporan dan segala jurnal, gue masih . . . masih memikirkan masa lalu. bukan soal satu orang, satu subjek, satu memori. tapi semuanya keseluruhan, mereka, dan semua orang yang ada disana. Setumpuk memori, kenangan, dan tawa. Gue hanya kelewat rindu kalian, mau main lagi? :")
kamu dengar bisik ditengah senyap barusan?
"its just not this one, not this time"
dan beberapa cerita berguguran, derap jantung perlahan melambat, kehilangan sensasinya, kehilangan rasa.
menulis kertas polos memang lebih mudah daripada mulai pada satu yang sudah bercerita, tapi sesulit inikah memulai lagi?
happy halloween dear eighteenth, waaaks gue merasa bertambah tua, yaiyalah -___-". rasanya meninggalkan 17 tahun yang wow itu berat sekali, ya tapi, semua orang pasti maju kedepan, tumbuh, dan berkembang, mature perhaps? walaupun nggak semua orang juga sih yang kepribadiannya sesuai dengan pertambahan umur. kalian mungkin lebih tau kalau pada sebagian orang, umur tidak mencerminkan sikap, oke kali ini gue nggak mau ghibah sih sebenernya, hahha. tapi entah kenapa selama ngekos gue jadi sering panen ghibah dan panen lemak, subhanAllah, oke kita skip aja. 

jadi gue ultah ke 18, rasanya sedikit berbeda. entah kenapa tapi semakin tua rasanya hari ultah semakin hambar. gue nggak ngerasain rasanya excited ketika hari itu kejadian, rasanya biasa aja. mungkin efek bertambah umur gitu ya, membuat kita jadi nggak terllau excited sama segala sesuatu yang emang dasarnya nggak terlalu penting -___-" duh gue tambah berasa tua ngomong kayak gini ya Tuhaaan. walaupun gitu gue masih sih ngerasain senengnya, seneng karena masih ada orang yang ngebela belain ngucapin tengah malem buat sekedar ngucapin "Happy Birthday!!" yang padahal, gue sendiri nggak begitu care sama hal kayak gitu. bukan masalah ucapannya, tapi perhatiannya itu yang bikin, eh!. gue jadi merasa mungkin setelah ini gue harus lebih peka ke mereka untuk hal hal yang mungkin gue anggap gak penting. iya juga sih, gue nggak bisa memaksakan semua orang untuk cuek seperti ini, pada beberapa orang, hari ulang tahun itu masih sepenting itu. 

btw cerita cerita selanjutnya menyusul, karena besok gue UTS bro, dan ini jam 3.19 a.m yang seharusnya gue istirahat. but well, i really love you, like i love coffee in every night, as warm as momo, as lovely as a bar of chocolate, dear guys :")

"i just want to say to my Highest Lord, dear Allah, thanks for every moment, every person, every thing that comes and go, that blooms and fall, that smile and tears, makes me grow up and knows that your love is definitely real. Thanks.... "
Selamat senja Mas. pertemuan kita singkat dan menyenangkan. kau membuatku lupa, sesaat, bahwa ada masa lalu yang akhir akhir ini terus berputar lagi. sampai bertemu lagi ya, dengan seragam coklatmu, di kereta yang sama, di suatu waktu yang entah kapan. :)
"Cinta bukan sekedar soal menerima apa adanya. cinta adalah harga diri. Cinta adalah rasionalitas sempurna.
Jika kau memahami cinta adalah perasaan irrasional, sesuatu yang tidak masuk akal, tidka butuh penjelasan, maka cepat atau lambat, luka itu akan akan kembali menganga. kau denngan mudah membenarkan apapupn yang terjadi di hati, tanpa tahu, tanpa memberikan kesempatan berpikir bahwa itu boleh jadi karena kau tidak mampu mengendalikan perasaan tersebut. tidak lebih, tidak kurang. kenangan indah bersamamu akan kembali memenuhi hari - hariku entah hingga kapan, itu benar. tapi aku tidak akan membiarkan hidupku kembali dipenuhi harapan hidup bersamamu. sudah cukup. biarlah sakit hati ini menemani hari - hariku. biarlah aku menelannya bulat - bulat sambil sempurna menumbuhkan hati yang baru, memperbaiki banyak hal, memperbaiki diri sendiri. apa pepatah bilang? ah iya, patah hati tapi tetap sombong, patah hati tapi tetap keren."

-Tere Liye-
Jalan ini membawaku pulang. Tasku penuh dengan cerita si gadis penyendiri. Gadis yang kini tau bahwa dunia tak semudah angin menjatuhkan daun kering. Ia kini tau bahwa tak ada lagi pintu menujumu. Ia tau bahwa cerita ini hampir sia - sia kalau kamu tak ada, dan ternyata, kamu memang tak akan ada. Aku lupa bahwa rumahku kini tanpa kamu. Bukannya aku gentar dengan itu, lalu berbalik arah dan kembali berpetualang, aku hanya belum siap bahwa tas yang dijejali memori akan terus tertutup rapi. Tadinya aku hampir kehilangan bahagia dengan mengingatnya. Dan ketika pintu itu membuka, ya memang, tak ada kamu, tolonglah, bayangan senyumanmu itu sepenuhnya hanya mimpi di terik siang. tapi ternyata Tuhan selalu jadi yang paling tau apa yang kubutuhkan, manusia manusia kesayanganNya ada di ujung daun pintu, menyambutku dengan rentangan tangan terbuka. Lalu aku menghambur bahagia. Rumahku ternyata masih sama hangatnya walau tanpa kamu.

@travel. perjalanan pwt - sala3


Aku senang dengan ini, aku cinta duniaku. Lalu kamu datang lagi dengan sejuta cerita yang mungkin aku tunggu. Aku telah menjelajahi luasnya dunia, ketika kau baru tau bahwa dunia tak sesempit angkutan umum tempat kita bercengkrama dulu. “Apakah kau sudah bertemu dengan lelakimu? Sosok yang kau tulis dalam setiap goresan tinta, sosok yang bukan aku”, itu katamu seiring dengan sesapan teh manis di cangkir, permukaannya bergetar sedikit, memantulkan cahaya kafe yang mulai temaram karna selimut waktu. Senyummu sore itu terkesan terpaksa untuk ada, bukan tipe senyum yang menghias tulus. Dan aku, tak kalah terpaksa yang menimpali dengan kata “sepertinya begitu”. Satu kata yang lalu menggantung di udara. “baguslah” Kau kembali tersenyum, senyum yang getirnya terlalu pahit. 

Ada selapis air yang mulai menggenang di pelupuk matamu. Tepat ketika di depan pintu kafe (dejavu ekstrim, seperti bertahun tahun sebelum ini, ketika kau mengatakan bahwa aku tak lagi dibutuhkan) aku serahkan undangan untuk acara 3 hari lagi. Acara pernikahanku.
Lalu kau memelukku erat, terlalu erat. Pelipisku seketika basah, tetesan air mengalir di pipi, kali ini bukan airmataku seperti yang sering terjadi dahulu, kali ini bagianmu. “maaf” suaramu bergetar hebat. Setidaknya aku tau, kali ini kata kata itu berasal dari dalam hati. “sudah” dan setelah itu hanya ada pelukan hangat pertemanan, satu satunya hal yang tersisa dari cerita yang kau akhirkan terlalu awal.

---------------------------------------------------------------------------------------------------------------
 
Aku senang dengan ini, aku cinta duniaku. Lalu kamu datang lagi dengan sejuta cerita yang mungkin aku tunggu. Aku telah hinggap dari satu cerita ke cerita yang lain. Aku hampir lupa denganmu, laki laki yang akhirnya secara tiba tiba datang lagi. 

Aku terkejut ketika kemarin ada amplop cokelat kusam dengan putik edelweiss diatasnya, terikat cantik, tapi sialnya hatiku berdetak sakit. Aku buka tali anyamannya dari ranting ranting kering. Didalamnya hanya ada secarik kertas “besok tak ada acara kan? Ayo bertemu! Kalau ada acara tetap bertemu, batalkan saja acaramu, besok, tempat biasa, cokelat panas menunggu kita”. Aku merutuk dalam hati, aku kenal tulisan kurus dan sedikit miring ini, kau masih sama sesuka hatinya seperti dulu, memangnya hidupku milikmu?!. Tapi tetap saja, hari ini kakiku melangkah bodoh, ketempat yang sama, secangkir cokelat panas yang sama.

 Jalanmu tegap dengan setas penuh foto. Foto foto itu punya persamaan dalam setiap gambarnya, bendera yang berkibar bebas diatas gunung, dan, senyummu yang selalu selebar itu. “pamer” bahagia. Aku tertawa kecil, formalitas. Kau bercerita tentang panjatan gunung yang satu dan berlanjut ke gunung yang lain. Menelusuri hutan belantara dan banyak bertemu keajaiban dunia, kearifan alam, yang kau agungkan setengah mati. Bercerita tentang kupu kupu yang selalu kau temui dimanapun kau berpetualang. Tentang keindahannya yang kau puji sampai ke spectrum terkecil. Tentang kebebasannya yang tanpa batas, tentang sayapnya yang ringkih tapi tetap terbang walaupun hidupnya sebentar. Kau mencintainya, dan oleh karna itu aku benci dia. Terutama, kebebasannya.


Lalu akhirnya kami ada diluar kafe cokelat panas, tatapanmu sama ringkihnya dengan sayap kupu kupu. Aku berbalik, bersiap ke arah jalan menuju rumah, mengusap air mata yang terbit perlahan. Lalu tanganmu terentang, membungkus punggungku lemah. Nafasmu masih aroma cokelat, hangat dan berhembus ketika berbicara tepat dibelakang telinga “tetaplah jadi jendela tempat kupu kupu itu datang dan hinggap walau sebentar”. Dan setelahnya pelukanmu mengerat, aku tak ingin beranjak. "jendelaku akan selalu terbuka walau aku masih tak suka dengan kebebasanmu", kau diam, tapi aku tau, senyumanmu ada dan terukir pasti di wajah itu.




dua cerita diatas terinspirasi dari lagu "Clarity" by Zedd ft Foxes. agak melencneg dari lagu sih sebenarnya mengingat lagu aslinya lebih galau dan sedih dari cerita gue yang ecek ecek, hahaha. tapi intinya sih dua cerita itu menggambarkan gimana rasanya ketika masa lalu kalian datang lagi, tapi bukannya membawa kabar gembira, malah sebaliknya. sakit gak sih?. kali ini benar benar bukan cerita atau curhatan gue, ini 100% fiksi, yaiyalah, yakali gue udah mau nikah. atau ya kali gue punya pacar anak mapala. too risky, gue nggak kuat kalau harus pacaran sama anak gunung, apa gak jomplang, dia yang tangguh, panjat sana panjat sini, lah gue yang olahraga pas ada pelajaran olahraga aja -__-". yah tapi mencoba memposisikan ketika berada di posisi itu, ketika kalian udah hampir,99,999 % move on, tapi manusia itu balik lagi. rasanya dibutuhkan tekad yang kuat agar 99,999% itu gak percuma, agar kita gak ikut balik lagi ketika dia ingin balik lagi. tapi itu tergantung persepsi masing masing ya, kalau menurut kalian ornag itu layak dibukakan pintu lagi ya kenapa gak? perpisahan kan gak selamanya soal ketidakcocokan sifat, kadang ada yang dipaksa pisah karna kondisi dan situasi yang nggak tepat. kalau sekarang segala terasa tepat, kenapa ngga?. tapi kalau memang sekiranya kesempatan yang sudah diberikan adalah kesempatan yang sudah sekian kali, itu sih namanya bunuh diri, hahahahha. 
 

Postingan Lebih Baru Postingan Lama Beranda

ABOUT ME

Introverts in disguise. Read keeps me sane, write keeps me awake. Both of them entwined makes me alive.

SUBSCRIBE & FOLLOW

POPULAR POSTS

  • Komedi putar, senja, dan sendu.
  • Adi
  • Blank Space
  • angsana
  • untuk mas

Categories

  • Reviews
  • Stories
  • Unsend Letters

Advertisement

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.

Blog Archive

  • ▼  2026 (6)
    • ▼  Agustus (1)
      • musnah
    • ►  Maret (4)
    • ►  Januari (1)
  • ►  2025 (6)
    • ►  Desember (2)
    • ►  Juni (2)
    • ►  April (2)
  • ►  2023 (4)
    • ►  Oktober (2)
    • ►  September (2)
  • ►  2022 (1)
    • ►  Mei (1)
  • ►  2021 (15)
    • ►  November (2)
    • ►  September (1)
    • ►  Agustus (1)
    • ►  Juli (2)
    • ►  Juni (2)
    • ►  Mei (4)
    • ►  April (3)
  • ►  2020 (46)
    • ►  September (8)
    • ►  Agustus (8)
    • ►  Juli (7)
    • ►  Juni (4)
    • ►  Mei (6)
    • ►  April (5)
    • ►  Maret (7)
    • ►  Januari (1)
  • ►  2019 (28)
    • ►  Desember (11)
    • ►  Juli (2)
    • ►  Juni (4)
    • ►  Mei (9)
    • ►  Februari (1)
    • ►  Januari (1)
  • ►  2018 (21)
    • ►  September (2)
    • ►  Agustus (3)
    • ►  Juni (2)
    • ►  Mei (2)
    • ►  April (2)
    • ►  Maret (2)
    • ►  Februari (4)
    • ►  Januari (4)
  • ►  2017 (62)
    • ►  November (1)
    • ►  September (6)
    • ►  Agustus (2)
    • ►  Juli (2)
    • ►  Juni (5)
    • ►  Mei (7)
    • ►  April (9)
    • ►  Maret (2)
    • ►  Februari (15)
    • ►  Januari (13)
  • ►  2016 (55)
    • ►  Desember (8)
    • ►  November (12)
    • ►  Oktober (10)
    • ►  September (7)
    • ►  Agustus (5)
    • ►  Juli (1)
    • ►  Juni (3)
    • ►  Mei (2)
    • ►  April (4)
    • ►  Februari (1)
    • ►  Januari (2)
  • ►  2015 (26)
    • ►  Desember (5)
    • ►  November (2)
    • ►  Oktober (2)
    • ►  Agustus (1)
    • ►  Mei (1)
    • ►  April (1)
    • ►  Maret (6)
    • ►  Februari (4)
    • ►  Januari (4)
  • ►  2014 (48)
    • ►  Desember (4)
    • ►  Oktober (4)
    • ►  September (1)
    • ►  Juli (2)
    • ►  Juni (4)
    • ►  Mei (8)
    • ►  April (6)
    • ►  Maret (6)
    • ►  Februari (7)
    • ►  Januari (6)
  • ►  2013 (52)
    • ►  Desember (6)
    • ►  November (2)
    • ►  Oktober (7)
    • ►  Agustus (2)
    • ►  Juli (1)
    • ►  Juni (1)
    • ►  Mei (8)
    • ►  April (4)
    • ►  Maret (11)
    • ►  Februari (2)
    • ►  Januari (8)
  • ►  2012 (68)
    • ►  Desember (23)
    • ►  November (5)
    • ►  Oktober (13)
    • ►  September (4)
    • ►  Agustus (2)
    • ►  Juli (1)
    • ►  Juni (1)
    • ►  April (3)
    • ►  Maret (5)
    • ►  Februari (7)
    • ►  Januari (4)
  • ►  2011 (13)
    • ►  Desember (13)

Pengikut

Oddthemes

Designed by OddThemes | Distributed by Gooyaabi Templates