Hellonjo!

Soal cerita melelahkan juga banyak hal - hal yang menyenangkan.


Tidak ada baju baru hari ini karena aku masih memakai duka yang sama seperti tahun - tahun sebelumnya. Ada yang berkata bahwa dukaku tidak akan mengecil, namun hidupku yang jadi semakin besar. Maka aku berjalanlah dengan membawanya kemana - mana. Memakainya serupa kacamata sehingga setiap hal terlihat seperti spektrum warna. Banyak warna yang tadinya tunggal, kini sambung menyambung tanpa batas yang jelas. Sebagian bercampur baur menciptakan banyak area abu - abu tempat banyak kemungkinan paradoks bertemu.

Di dalam hari yang penuh kemenangan, dengan kacamata yang sama, aku menyadari mungkin ada meja makan yang kosong tanpa opor ayam. Mungkin ada sofa kulit yang dingin karena tidak ada lagi eyang disana selepas solat dan kami bersimpuh di depannya bermaaf-maafan. Mungkin ada ruang tamu yang begitu sunyi karena setiap penghuninya masih harus mengejar dunia di tengah semesta yang sibuk bertasbih kepadaNya. Mungkin ada mereka yang kehilangan hidupnya dalam bencana yang meluluh lantahkan sekejap mata. Mungkin tidak ada suara bedug dan takbir karena setiap masjidnya rata dengan tanah karena bom beberapa jam sebelumnya.

Di dalam hari yang penuh kemenangan, duka ini menunjukkan bahwa banyak kemenangan tidak selalu berwujud kebahagiaan raya. Sebenar - benarnya kemenangan bisa jadi milik mereka yang begitu tabahnya menghadapi setiap cobaanNya. Seperti seorang ibu yang bertemu kami tadi pagi, bermaaf - maafan dengan tangan kanan karena tangan kirinya membawa berbagai macam dagangan. Sepagi ini dengan dahi yang sudah berpeluh, ia masih dapat tersenyum tulus bahagia, "Selamat hari raya Buk"
Aku masih ingat bagaimana setahun lalu aku menunggu mobil carteran di pinggir jalan dengan tenggorokan tercekat dan tangis terbendung di pelupuk mata. Seperti biasa, kutelan seluruhnya berikut dengan setiap rasa kekalahan yang mengikutinya. 

Kekalahan ini begitu nyata di kepalaku yang lagi - lagi harus menjawab banyak pertanyaan yang sama untuk seribu kalinya. Bagaimana menjelaskan bahwa ketidaktahuanku adalah jawaban sesungguhnya bagi apa - apa yang berada di luar kuasa?. Bagaimana menerangkan bahwa ketidaktahuanku tidak sama dengan tidak berusaha?. Bagaimana menerangkan ketidaktahuanku ini sehingga mereka tidak menjelaskan setiap hal - hal lain yang justru aku amat ketahui?

Bahwa terlepas dari banyak hal yang aku bangga, aku mengerti tubuh ini hanyalah jam pasir. Tidak lebih dari suatu kesatuan sistem organ dengan tanggal kadaluwarsa. Bahwa semakin lama, maka semakin banyak hal yang akan aku lewatkan, tidak tergapai, tidak memungkinkan. Aku tidak perlu diingatkan karena alarmku menyala setiap waktu. Ia berdering lebih kencang daripada ribuan pertanyaan yang datang hanya setahun sekali, dari beberapa orang di lingkaran bundar, yang dengan senyum tanda peduli tetap membuatku merasa dihakimi.

Bukannya basa - basi tidak perlu membuat dadamu terasa sesak sekali?. Bukannya basa - basi bisa jadi soal bagaimana aku hari ini? Bagaimana setiap mimpi? Apa yang aku ingini? Apakah aku akhirnya bahagia kini?. Bukannya basa - basi tidak seharusnya membuat aku dilihat hanya sebagai suatu kekalahan sempurna disamping banyak sekali kemenangan lainnya?
Pada suatu sore di bawah teduhnya hujan Salatiga, aku diingatkan bahwa inilah setiap yang aku tinggalkan. Lucunya teman - teman yang mengisi hariku tujuh tahun belakangan. Mereka yang peduli kepadaku seperti adik sendiri, terutama pada masa - masa sulit yang terkadang amat susah aku bagi. Begitu lapang dada mereka untuk menjadi teduh ku ketika hujan begitu derasnya di tanah ini. 

Sore itu aku benar - benar mempertanyakan, apakah keputusanku adalah hal yang benar. Apakah kesendirian ku di antah berantah, di dunia yang sepenuhnya baru, di tengah sekelompok manusia yang terasa amat asing, akan berhasil menuntunku ke tempat yang aku tuju. Apakah setiap yang aku kini temui, sungguh sepadan dengan banyak kehilangan besar ini.

Sepertinya aku dulu benar - benar merasa amat jumawa terhadap kemampuanku beradaptasi. Seolah aku dapat berenang dalam berbagai rupa arus di depan. Seolah aku terlupa, dalam banyak arus yang terlewati di belakang sana, ada lengan yang sama banyaknya menopangku bersisian. Seolah aku terlupa, dalam setiap usaha, ada begitu banyak bagian mereka mengisi setiap hal yang aku alfa.

Tapi pada akhirnya jika kupikir lagi, setiap kehilangan ini sudah aku kalkulasi. Kekosonganku di tanah antah berantah itu akan tetap memekakkan telinga setiap aku sendiri. Aku akan tetap merasa menjadi yang paling bodoh dan tidak mengerti. Ketidaknyamanan ku masih akan menghiasi di setiap sisi artifisial Jakarta, yang setiap senyum asing orang lain terasa begitu jauh dari hati. Begitu kontrasnya tapi kupikir inilah setiap hal mengganggu yang kurasa perlu. Dengan banyak hal ini aku bisa terus tumbuh.

Meski ragu, meski takut, meski banyak dipenuhi kesedihan yang kesepian, mari kita melanjutkan perjalanan. Setiap doa sudah kita langitkan. Setiap usaha sudah kita kholaskan. Toh akhirnya, pohon tertinggi pun tetap harus meranggas agar terus tumbuh lagi.

Dalam setiap langkah di depan, mungkin aku akan terus berpikir dan bertanya kepadaNya, mengapa aku tidak bisa membawa setiap yang aku cinta kemanapun saja sehingga tidak perlu ada manusia - manusia yang aku tinggalkan pada setiap keputusan. Tapi mungkin ini mengapa Ia ciptakan doa dengan tangan - tangan yang senantiasa menengadah ke luasnya langitNya. Mungkin agar pendeknya lengan kita tidak jadi kendala untuk memeluk setiap yang kita cinta dimanapun saja.

Aku tidak pernah bercerita setiap keputusasaan dan banyak sekali kesedihan kepada laki - laki yang saat itu kesakitan dan penuh kebingungan. Namun ia, yang punggungnya selalu lebih besar daripada aku, tampaknya tak pernah gagal memangku seluruh sulitku yang bahkan kepadanya tidak pernah aku kuliti satu - satu. Pada setiap kesulitan dan banyak mimpi yang mati muda, bapak berkata “semua pasti ada jalannya”.

Kata - katanya kemudian berkelana pada banyak ruang dan waktu hingga sampai kepadaku yang masih termangu. Menelisip dalam senyum mama yang bahagianya melebihi setiap bahagia yang mampu kurasa setelah banyak sekali kecewa. Hadir dalam bentuk kesempatan lain “Kamu gapapa kalau mau sekolah lagi mumpung masih banyak waktu”.

Lima tahun berlalu sejak aku, mama, dan bapak berada di kamar kecil itu.

Aku masih menangis dimanapun aku mau. Terutama pada saat - saat aku sadar, bagaimana Allah selalu membuat Bapak mampu memenuhi tugasnya bagi anak gadis satu - satunya. Bahkan dalam matinya, Bapak masih menciptakan banyak sekali kesempatan. Dalam matinya, ia masih menjadi bagian dari air untuk menumbuhkanku lebih tinggi. Dalam matinya, lilin yang ia berikan masih menyala begitu benderang. Bahwa memang bersama sabar, Allah selalu menyediakan jalan. 

Kupikir mungkin aku hanya takut begitu jatuh dan tenggelam sampai tidak dapat kembali ke permukaan. Kupikir mungkin aku hanya tidak dapat lagi kembali membayangkan bagaimana cahaya remang - remang saja kesulitan untuk menelisip kedalam hitamnya palung mariana ketika aku terjebak di dalam sana. Kupikir mungkin aku hanya kesulitan jika harus kembali merasakan dadaku begitu sempit sampai aku menciptakan hamparan rumput hijau yang begitu lapang di dalam kepala. Kupikir mungkin aku hanya tidak punya lengan yang cukup panjang untuk kembali melindungi bahkan ketika yang terancam adalah diriku sendiri. Kupikir mungkin aku hanya belum memiliki keberanian untuk menggambar masa depan dengan begitu banyak rencana - rencana. Membiarkan setiap bagiannya diwarnai dunia dengan berbagai macam warna. 

Mungkin aku hanya lupa bagaimana berbagai warna berarti tidak hanya kelabu, biru, dan kesedihan lainnya. Di dalamnya juga ada jingga, merah muda dan semburat kuning keemasan sore hari yang aku bermimpi mati di bawah keindahannya. Mungkin aku hanya lupa bagaimana hanya dengan berjalan lagi aku dapat sampai ke ujung jalan yang aku inginkan. Mungkin aku hanya perlu diingatkan bahwa hanya dengan asa dan banyak sekali mimpi kita bisa menjadi sebenar - benarnya manfaat di dunia yang fana ini.

Kurasa aku hanya perlu mengecapnya satu - satu dengan adanya berbagai macam rasa dihadirkan di atas piringku. Kurasa aku hanya perlu menjalani apa yang ada di depan sana satu langkah diikuti langkah lainnya, sebaik - baiknya. Kurasa aku tidak perlu khawatir bagaimana setiap hari berbagai macam langkahnya bisa berbeda, terkadang mantap membahagiakan jiwa, terkadang penuh ketakutan karena di depan sana adalah belantara, terkadang langkah hati - hati. Kupikir, ketika segalanya sudah kudoakan, pada akhirnya yang penting maju saja.

Pada akhirnya sama seperti segala hal yang semu di dunia, setiap langkahku niscaya tidak sempurna.
Pada akhirnya sama seperti kalimat yang kucoba untuk ejawantahkan, yang penting setiap langkah dinilai dari niatnya.
Pada hari jumat di siang bolong, aku menghitung sudah berapa banyak hari jumat yang aku lewati tanpa aku rebahan di depan televisi. Masih dengan baju seragamku. Menonton FTV yang sudah tinggal babak - babak akhir cerita dimana si tukang gorengan akhirnya bisa bersama dengan mbak - mbak kaya raya yang kebetulan jatuh cinta kepadanya. Di antara iklan aku akan menyalakan kipas angin dan kembali merentangkan tangan di bawahnya agar setiap hawa - hawa angkutan ibukota ini segera lepas dari setiap pori. Sambil menikmati masa - masa pulang sekolah ini, aku akan menunggu bapak dan mama pulang kerja. Menghabiskan waktu istirahatnya yang agak panjang di hari jumat. Bapak yang setelah menginjakkan kaki di rumah akan lekas bersiap untuk berangkat ke mesjid. Mama, di lain sisi, akan makan siang bersamaku, dan kami melanjutkan sesiangan jumat itu dengan kembali menonton FTV, sampai akhirnya bapak pulang dari masjid dan mereka bergegas kembali bekerja.

Pada hari jumat siang bolong, aku mengingat masa - masa itu dengan begitu jelas setiap detiknya. Aku berpikir, bagaimana bisa aku tidak dapat mengingat kapan kali terakhir aku memiliki jumat siang yang panas tapi terasa hangat. Bagaimana bisa aku melepaskan salah satu momen - momen membahagiakan begitu saja tanpa perayaan, tanpa catatan. Mereka begitu saja hilang seperti pasir dalam genggaman dari sela - sela jari tangan. Butir yang satu mengikuti butir yang lain. Aku biarkan mereka perlahan hilang sampai tinggal telapak tanganku yang begitu kecil. Bagaimana bisa aku hanya menganggap hari jumat itu tidak lebih dari sekedar rutinitas biasa. Bagaimana bisa aku tidak mengira, bahwa pada suatu ketika aku akan merindukan hari - hari seperti ini ketika hidup begitu beratnya. Bagaimana bisa aku tidak mengira, padahal menjadi dewasa adalah suatu niscaya?

Pada hari jumat siang bolong, aku benar - benar menyesal tidak menjadi dewasa lebih cepat. Bukan karena aku dapat memiliki uang dan suaraku sendiri. Aku hanya berpikir, mungkin kalau aku dapat dewasa lebih cepat, aku dapat memahami bahwa banyak hari di masa kecilku tidak akan terjadi untuk kedua kali, sehingga setiap detiknya dapat dengan benar aku resapi. Sehingga pada setiap kehilangannya, aku dapat berpuas karena detailnya sudah aku hargai. 

Aku banyak menahan diri akhir - akhir ini, karena jika tidak, maka seluruh halaman pertama akan mengeja setiap jengkalmu. Jika tidak, maka aku akan tenggelam dalam pikiran ayo kita menikah besok di KUA dan aku akan bolos kerja. Jika tidak, maka aku akan menggenggam tanganmu dan memilih untuk melawan dunia. Jika tidak, maka akal sehatku akan kalah, sekali lagi mati logika.

Jika tidak maka aku akan menjadi salah satu dari sekian banyak remaja di luar sana yang tidak lagi berpikir bahwa hidup tidak hanya untuk hari ini.

Postingan Lebih Baru Postingan Lama Beranda

ABOUT ME

Introverts in disguise. Read keeps me sane, write keeps me awake. Both of them entwined makes me alive.

SUBSCRIBE & FOLLOW

POPULAR POSTS

  • Komedi putar, senja, dan sendu.
  • Adi
  • Blank Space
  • angsana
  • untuk mas

Categories

  • Reviews
  • Stories
  • Unsend Letters

Advertisement

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.

Blog Archive

  • ▼  2026 (6)
    • ▼  Agustus (1)
      • musnah
    • ►  Maret (4)
    • ►  Januari (1)
  • ►  2025 (6)
    • ►  Desember (2)
    • ►  Juni (2)
    • ►  April (2)
  • ►  2023 (4)
    • ►  Oktober (2)
    • ►  September (2)
  • ►  2022 (1)
    • ►  Mei (1)
  • ►  2021 (15)
    • ►  November (2)
    • ►  September (1)
    • ►  Agustus (1)
    • ►  Juli (2)
    • ►  Juni (2)
    • ►  Mei (4)
    • ►  April (3)
  • ►  2020 (46)
    • ►  September (8)
    • ►  Agustus (8)
    • ►  Juli (7)
    • ►  Juni (4)
    • ►  Mei (6)
    • ►  April (5)
    • ►  Maret (7)
    • ►  Januari (1)
  • ►  2019 (28)
    • ►  Desember (11)
    • ►  Juli (2)
    • ►  Juni (4)
    • ►  Mei (9)
    • ►  Februari (1)
    • ►  Januari (1)
  • ►  2018 (21)
    • ►  September (2)
    • ►  Agustus (3)
    • ►  Juni (2)
    • ►  Mei (2)
    • ►  April (2)
    • ►  Maret (2)
    • ►  Februari (4)
    • ►  Januari (4)
  • ►  2017 (62)
    • ►  November (1)
    • ►  September (6)
    • ►  Agustus (2)
    • ►  Juli (2)
    • ►  Juni (5)
    • ►  Mei (7)
    • ►  April (9)
    • ►  Maret (2)
    • ►  Februari (15)
    • ►  Januari (13)
  • ►  2016 (55)
    • ►  Desember (8)
    • ►  November (12)
    • ►  Oktober (10)
    • ►  September (7)
    • ►  Agustus (5)
    • ►  Juli (1)
    • ►  Juni (3)
    • ►  Mei (2)
    • ►  April (4)
    • ►  Februari (1)
    • ►  Januari (2)
  • ►  2015 (26)
    • ►  Desember (5)
    • ►  November (2)
    • ►  Oktober (2)
    • ►  Agustus (1)
    • ►  Mei (1)
    • ►  April (1)
    • ►  Maret (6)
    • ►  Februari (4)
    • ►  Januari (4)
  • ►  2014 (48)
    • ►  Desember (4)
    • ►  Oktober (4)
    • ►  September (1)
    • ►  Juli (2)
    • ►  Juni (4)
    • ►  Mei (8)
    • ►  April (6)
    • ►  Maret (6)
    • ►  Februari (7)
    • ►  Januari (6)
  • ►  2013 (52)
    • ►  Desember (6)
    • ►  November (2)
    • ►  Oktober (7)
    • ►  Agustus (2)
    • ►  Juli (1)
    • ►  Juni (1)
    • ►  Mei (8)
    • ►  April (4)
    • ►  Maret (11)
    • ►  Februari (2)
    • ►  Januari (8)
  • ►  2012 (68)
    • ►  Desember (23)
    • ►  November (5)
    • ►  Oktober (13)
    • ►  September (4)
    • ►  Agustus (2)
    • ►  Juli (1)
    • ►  Juni (1)
    • ►  April (3)
    • ►  Maret (5)
    • ►  Februari (7)
    • ►  Januari (4)
  • ►  2011 (13)
    • ►  Desember (13)

Pengikut

Oddthemes

Designed by OddThemes | Distributed by Gooyaabi Templates