Hellonjo!

Soal cerita melelahkan juga banyak hal - hal yang menyenangkan.


Mungkin, yang harus saya sadari kini adalah tentang ketidak kuasaan kita terhadap segala sesuatunya. Meski tidak suka, saya harus mengerti, bahwa suatu hari akan ada yang berjalan beriringan denganmu. Lekat di sisi, hangat di hati. Dia yang pada akhirnya kamu anggap menjadi yang paling mengerti. Dia yang membuat segala pencarian berhenti. 

Saya harus menerima, jika suatu hari saya hanyalah manusia yang tidak punya kuasa. Bukan dia yang bisa membuat debar singgah tiba-tiba. Bukan dia yang membuat seorang kamu berkata iya terhadap segala hal di masa depan, baik dan buruk untuk selalu bersama. Pada akhirnya, saya harus ikut berbahagia, karna bertemu cinta adalah suatu perayaan. Peristiwa yang menunjukkan suatu kebesaran. Kejadian yang tidak kamu temui setiap hari, pun tidak terjadi pada setiap hati, dan karnanya saya pasti berbahagia. Pasti, ikut bahagia. Setidaknya, mungkin bukan karna sempurna merelakan, tapi karna saya akhirnya mengerti tentang banyaknya perasaan yang harus dikorbankan. Bagaimana untuk menemukan dia, yang sama-sama berjanji untuk saling setia, adalah perjalanan panjang yang jauh dari kata sederhana. 

Saat itu, saya pasti hanya ingin memelukmu dengan sepenuh hati mengerti tentang hal terpenting yang dari dulu saya yakini, pada akhirnya kamu bahagia.
Dengan siapapun itu, meski bukan saya.

Ini jarak terjauhku. Berhenti merapal nama yang serupa wajahmu. Aku ganti dengan kata-kata penuh harap untuk setiap doa sederhana agar hati tidak lagi kecewa.

Ini jarak terjauhku. Berhenti berusaha pada jalan panjang menuju kata. Cerita-cerita yang dicintai dengan sepenuh hati oleh jiwa. Setiap hal-hal yang disebut mimpi oleh manusia.

Ini jarak terjauhku. Berhenti bercerita kepada semesta. Diisi sunyi pada setiap sujud siang hari. Beroleh hampa karna tak lagi meminta apa-apa.

Ini jarak terjauhku. Aku tak berharap agar suatu hari jadi biasa sampai lupa. Aku masih ingin pulang, dan sepenuhnya berbahagia. Dengan hati yang terisi. Dengan rasa ganjil yang akhirnya menjadi genap. Dengan resah yang kini sudah diistirahatkan agar tak jadi lelah. Dengan kepala yang penuh dengan rencana. Aku masih sangat ingin pulang. Aku masih ingin jadi ia yang tidak hanya sekedar hidup sebagai manusia.

Aku rindu bisa kembali bercerita.
"He is just somebody that I used to know"
Pada titik pisah kita akhirnya dapat mengerti hal-hal yang selalu gagal dibicarakan sampai hati lelah. Bahwa baik tidak selalu bersama saling mengawali hari. Bahwa ada tidak selalu harus berwujud menjadi rasa. Bahwa sebaiknya peluk bisa jadi serupa kata yang dipanjatkan kepada semesta. Bahwa pengertian merupakan pelepasan terhadap setiap usaha untuk menyesuaikan. Akhirnya kita tau, setiap kamu dan aku tidak lagi bisa punya rumah pada satu titik temu.
Sore ini gue bingung milih sepatu. Satu kota yang gak gede-gede amat hampir saja habis gue kelilingi karna gak ada sepatu yang pas.  Me looking for shoes is definitely the worse of all. Picky at the very most. Then I look at my old navy shoes. Buluk udah jelas, but then I moved the big feet inside and feels like every curve is just fit with the fingers. 

'apa gak usah beli aja ya, ini juga masih bisa dipake sih'

Yah, same old game that my mind played. Susah karna terlalu picky untuk cari yang baru, then find my self comeback to the old one, which already not good enough with all the flaws seemed blur for the sake of familiarities. Sepersekian detik kemudian gue ingat bahwa meski masih dapat dipakai, tapi dia sudah sering kena komen netijen karna warna yang gak lagi sebenar2nya biru tua. Berulangkali kena air ujan pun bikin dia pada beberapa hari punya bau gak enak karna it is the only wearable shoes I have. Banyak sekali minus yang sempat gue lupa, because damn, it's harder to give up all the comfort I've already knew. Ini jadi penting, karena mind game macam ini juga terjadi pada banyak hal, bukan hanya sekedar urusan milih sepatu baru. 

'gak, gue gak bisa kayak gini terus, pokoknya malam ini gue harus pulang dengan sepatu'

Then I comeback to the first store with eyes open lil bit wider then before. Berusaha untuk melihat bagian-bagian yang sebelumnya gue skip. Mengamati lebih lama pilihan yang tadinya hanya gue lewati, without any second thought. Trying to find all the good that I might love. Ternyata ada, dengan begitu sederhana. 
Gue pulang dengan sepatu biru tua yang baru, dengan sedikit aksen kuning dibeberapa sisi. 

Oh, malam ini gue semakin mengerti. Pada beberapa hal yang sama rumit urusan memilihnya, mungkin kita harus membuka mata sedikit lebih lebar untuk melihat sedikit lebih luas. Berhenti membandingkan dengan yang pernah memberi nyaman. Bersiap bahwa memang yang terbaik bukan soal mana yang lebih familiar. Toh semua yang baru juga datang dengan ketidaksesuaian, dan ketidaknyamanan, iya gak?

Wah . . . Akhir2 ini dita banyak mikir seriusnya HAHAHA
Bagaimana bantu-bantu di warung mama ternyata lebih gue butuhkan daripada mama membutuhkannya. Banyak hal-hal yang membuka mata seorang Dita yang masih seringkali kurang bersyukur. Sebelumnya di hari itu memang tidak diawali dengan begitu baiknya. Rasanya banyak yang salah, atau gue cuma lelah. Banyak hal-hal yang membuat gue ingin sekali berhenti, terkecuali fakta bahwa gue sangat butuh pekerjaan ini. It has lifted lot of things in my life, sadly, except dreams. The latter that burden me so much, it has haunted my life far before all of this begin. I can talk about this literally all day, complaining, whining, arguing that I can get better, far better. And damn, I miss my friends a lot.  

And it was happen. Seorang bapak agak renta, lebih tua dari bapak. Sehari-hari jualan macem bubur favorit gue, kata mama. Dia udah jadi langganan mama sejak entah kapan. Bapak itu masuk ke toko dan memulai transaksi jual beli dengan bon. Belanjaannya hari ini nggak akan dia bayar sampai besok, dengan harapan dagangannya laku, habis tandas. Memilih beberapa barang dan ketika sampai perhitungan akhirnya kita tau, siang itu dia sudah berbelanja 15.000 lebih sedikit. 

........

Udah sadar belum? 
Bagaimana diluar sana 15.000 masih menjadi hal besar untuk sebagian orang, yang harus berdiri seharian berjualan di bawah matahari yang kalo panas udah bikin kita ngeluh berasa kayak di neraka. Harus melanjutkan kayuhan sepeda walau hujan karena bubur di panci belum habis, karena ketika menyerah sekarang maka bon modal hari ini gak akan terbayarkan. Harus menunggu dan menunggu dan menunggu dan menunggu. Pekerjaan yang diakui banyak orang menyebalkan. 
Dan gue, cuma hampir kehilangan mimpi. Belum kehilangan mimpi. Ketika disana masih banyak bapak yang gak tau besok ngasih makan apa ke anaknya. Masih banyak anak yang mimpinya setinggi gedung-gedung di ibukota ketika rumahnya sudah doyong kemana-mana karena dia bisa berharap apa dari triplek yang disusun seadanya?. Gue baru sadar, seburuk-buruknya kita saat ini, pasti masih ada yang bisa kita syukuri. Seenggakpunyanya kita dalam merasa, pasti masih ada yang baik dari segala yang kita miliki. Bahkan ketika akhirnya kita merasa sendiri, kesepian, losing hope with all the things ahead, we still have breath in our lungs, which means, Allah masih sayang, begitu sayang dan ingin kita agar berusaha sekali lagi. 

Ia gak perah menghadirkan pikiran yang sia-sia ke dalam otak kita. Gak pernah salah dalam menakdirkan sesuatu meski nampaknya sulit untuk dijalani.

Semoga dita selalu ingat ini ketika masa-masa tidak masuk akal kembali lagi suatu hari.

P.s: Suatu sabtu siang kemarin, I want to literally just stop. I can't handle all the insecurities inside. Lalu gue solat Dhuhur. Gak khusyuk karena yang ada di otak gue hanya "should I stop to readjust in something that I feel don't fit me" "should I chase for the better just like any other stories people has told" "should I just quit everything". Setelah kembali ke ruangan, ternyata gue sudah ditunggu oleh supervisor dan dua orang mentor di ruang meeting. And they explain every evaluation. It was unexpected. Which somehow has eased me, a lot. Satu yang ada di kepala gue saat itu. Bahkan ketika kita tidak bercerita dengan benar, meminta pertolongan dengan sopan, Allah masih begitu sayangnya mendengar, menunjukkan, dan meringankan.

Saat itu gue tau, gue gak pernah sendiri.   

Aku berdoa untuk segala yang ingin kamu jadikan nyata. Untuk setiap usaha yang tidak lelah kamu ulangi, meski harus berkali-kali. Pun untuk keselamatan pada setiap pijakan kamu pergi, agar selalu ada hangat pada tempat yang kamu singgahi.

Tenang saja, aku tidak mengharu biru kini.
Kamu, cukup balas dengan doa sederhana, agar setiap pertanyaanku bertemu dengan jawaban. Agar ada hati yang selalu lapang menerima setiap yang ditakdirkan.

Tetaplah jadi sebaik - baiknya manusia.
Sampai ketemu lagi di persimpangan lainnya.
Postingan Lebih Baru Postingan Lama Beranda

ABOUT ME

Introverts in disguise. Read keeps me sane, write keeps me awake. Both of them entwined makes me alive.

SUBSCRIBE & FOLLOW

POPULAR POSTS

  • Komedi putar, senja, dan sendu.
  • Adi
  • Blank Space
  • angsana
  • untuk mas

Categories

  • Reviews
  • Stories
  • Unsend Letters

Advertisement

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.

Blog Archive

  • ▼  2026 (6)
    • ▼  Agustus (1)
      • musnah
    • ►  Maret (4)
    • ►  Januari (1)
  • ►  2025 (6)
    • ►  Desember (2)
    • ►  Juni (2)
    • ►  April (2)
  • ►  2023 (4)
    • ►  Oktober (2)
    • ►  September (2)
  • ►  2022 (1)
    • ►  Mei (1)
  • ►  2021 (15)
    • ►  November (2)
    • ►  September (1)
    • ►  Agustus (1)
    • ►  Juli (2)
    • ►  Juni (2)
    • ►  Mei (4)
    • ►  April (3)
  • ►  2020 (46)
    • ►  September (8)
    • ►  Agustus (8)
    • ►  Juli (7)
    • ►  Juni (4)
    • ►  Mei (6)
    • ►  April (5)
    • ►  Maret (7)
    • ►  Januari (1)
  • ►  2019 (28)
    • ►  Desember (11)
    • ►  Juli (2)
    • ►  Juni (4)
    • ►  Mei (9)
    • ►  Februari (1)
    • ►  Januari (1)
  • ►  2018 (21)
    • ►  September (2)
    • ►  Agustus (3)
    • ►  Juni (2)
    • ►  Mei (2)
    • ►  April (2)
    • ►  Maret (2)
    • ►  Februari (4)
    • ►  Januari (4)
  • ►  2017 (62)
    • ►  November (1)
    • ►  September (6)
    • ►  Agustus (2)
    • ►  Juli (2)
    • ►  Juni (5)
    • ►  Mei (7)
    • ►  April (9)
    • ►  Maret (2)
    • ►  Februari (15)
    • ►  Januari (13)
  • ►  2016 (55)
    • ►  Desember (8)
    • ►  November (12)
    • ►  Oktober (10)
    • ►  September (7)
    • ►  Agustus (5)
    • ►  Juli (1)
    • ►  Juni (3)
    • ►  Mei (2)
    • ►  April (4)
    • ►  Februari (1)
    • ►  Januari (2)
  • ►  2015 (26)
    • ►  Desember (5)
    • ►  November (2)
    • ►  Oktober (2)
    • ►  Agustus (1)
    • ►  Mei (1)
    • ►  April (1)
    • ►  Maret (6)
    • ►  Februari (4)
    • ►  Januari (4)
  • ►  2014 (48)
    • ►  Desember (4)
    • ►  Oktober (4)
    • ►  September (1)
    • ►  Juli (2)
    • ►  Juni (4)
    • ►  Mei (8)
    • ►  April (6)
    • ►  Maret (6)
    • ►  Februari (7)
    • ►  Januari (6)
  • ►  2013 (52)
    • ►  Desember (6)
    • ►  November (2)
    • ►  Oktober (7)
    • ►  Agustus (2)
    • ►  Juli (1)
    • ►  Juni (1)
    • ►  Mei (8)
    • ►  April (4)
    • ►  Maret (11)
    • ►  Februari (2)
    • ►  Januari (8)
  • ►  2012 (68)
    • ►  Desember (23)
    • ►  November (5)
    • ►  Oktober (13)
    • ►  September (4)
    • ►  Agustus (2)
    • ►  Juli (1)
    • ►  Juni (1)
    • ►  April (3)
    • ►  Maret (5)
    • ►  Februari (7)
    • ►  Januari (4)
  • ►  2011 (13)
    • ►  Desember (13)

Pengikut

Oddthemes

Designed by OddThemes | Distributed by Gooyaabi Templates