Hellonjo!

Soal cerita melelahkan juga banyak hal - hal yang menyenangkan.


Sore ini acara sepulang dari warung adalah makan ronde bareng mama. Ada hal yang baru gue sadari bahwa ternyata bisa jadi banyak yang terlewati dari agenda makan bareng di warung pinggir jalan. Saat itu kita pilih ronde yang harga satu mangkoknya nggak sampe 5000. Pembelinya cuma empat, gue dan mama ditambah seorang ibu dengan anak kecilnya. Seketika gue bertanya, kira – kira berapa ya yang bisa didapat si ibu-ibu ronde setiap malam, yang dagangnya bisa jadi sampe dini hari. Seabisnya itu ronde dan antek – anteknya.

Sampai kini pun gue nggak tau berapa, tapi yang pasti nggak banyak.

Seketika pikiran ini bikin gue ingat untuk bersyukur. Bikin gue berhenti meragukan pekerjaan baru dengan working hour beserta gajinya yang mengingatkan gue akan sistem kerja rodi jaman Jepang. Bikin gue kepikiran rasa – rasa malas yang ada di hari – hari kemarin ini.
Lalu nyeletuklah anak gadisnya si ibu – ibu ronde yang minta pulang.

“ya nanti ya nduk, katanya mau beli soto, wong udah di pesen loh”

Anak gadis berambut keriting itu cuma cengengesan malu dengan memberikan jempol – jempol imut. Ngeliat dunianya yang masih baik – baik saja, dengan permintaan semangkok soto yang masih bisa dituruti orang tuanya, dibelakang gerobak ronde yang sudah bersiap begadang lagi karena suasana kota berhujan yang kelewat sepi. Kita nggak akan tau bahwa semangkok soto bisa jadi berat untuk sebagian orang ditengah jaman dimana ekonomi lagi di posisi paling lesu. Bikin hati gue rasanya ringan tapi menyesakkan. Ringan karena senyumannya tulus bikin bahagia semua orang yang ngeliat. Menyesakkan karena banyak ironi disekitarnya yang belum berhasil ia mengerti, kecuali fakta bahwa dia bisa makan enak malam ini.

Hidup ini bisa jadi begitu pahit untuk dimengerti, yang serupa obat, kadang cukup kita telan tanpa basa – basi.

Dan tiba – tiba pikiran gue berhenti ketika ngeliat dua mangkok yang menyisakan sedikit sari jahe. Mangkok gue, mangkok mama.

Posisi itu bisa jadi orang tua gue berbulan – bulan lalu, selama 4 tahun ini. Atau mungkin selama 22 tahun ini.

Gue yang dunianya baik – baik saja di Purwokerto. Makan di tempat favorit gue ketika mama harus mikir dua kali setiap belanja. Nongkrong malem – malem saking serunya sampe kadang lupa alasan mama sama bapak pasti udah tidur jam segitu, iya karna kecapekan seharian ngewarung. Lalu banyak lagi ingatan tentang hal – hal serupa itu yang menyadarkan gue bahwa gue sama si anak kecil tadi hanya berbeda pada kesadaran, tapi masih tidak bisa merubah keadaan.

Ternyata banyak hal, terlalu banyak, yang nggak bisa seorang anak jadikan impas. Nggak bisa dibalas sampai tuntas. Rasa – rasanya gue semakin merasa bersalah karna seringkali terlalu pasrah. Masih terlalu lemah. Masih belum bisa kasih apa – apa selain jadi anak dengan motto “kalau belum bisa jadi baik, seenggaknya nggak usah jadi buruk”.


Ternyata itu nggak akan pernah cukup. Jadi anak baik ternyata bukan batas minimal untuk membalas segala yang sudah mereka jadikan genap.
Kini aku tau, bagaimana menghidupkan kamu selamanya meski hanya dengan sisa - sisa jiwa.

Aku bermimpi dapat sekolah lagi. Menghabiskan semua kemungkinan jenjang pendidikan. Bukan untuk status sosial yang tidak pernah aku pedulikan, tapi karna belajar dengan sabar adalah satu-satunya hal yang bisa aku lakukan dengan penuh kebahagiaan. Dengannya aku bisa mendapatkan beasiswa yang sedikit demi sedikit aku kumpulkan untuk mimpiku selanjutnya.

Menjadi pengajar yang membumi. Untuk manusia-manusia kecil dengan kemewahan yang seringkali tidak kita miliki. Bisa bermimpi. Aku ingin menjadi bagian dalam perjalanan mereka menuju tempat yang mereka inginkan. menjadi pintu dari segala kesempatan mereka untuk melihat dunia. Membuat mereka percaya bahwa tidak ada yang tidak mungkin, dan menjaga mimpi di dalam hati tidak akan pernah sia-sia. Tidak akan pernah membuat mereka kecewa. Awal perjalanan yang akan dimulai dari suatu tempat dengan nama yang masih aku cari-cari, dengan bidang yang aku sukai.

Aku tidak ingin ada lagi seorang pemimpi yang patah dan kehilangan dirinya berkali-kali.

Aku masih ingin menjadi dia yang mewujudkannya. Aku tuliskan agar hal-hal yang sudah susah payah aku temukan dan jaga tidak hilang begitu saja. Namun jika sampai akhir aku tidak bisa jadi sekuat itu untuk mewujudkan, semoga ada manusia lain yang bisa menjadikannya nyata. Setidaknya ada jiwa yang masih dekat meski raga tidak ada.
Sore ini jalanan ungaran salatiga lengang. Banyak karyawan sudah pulang, sampai ke rumah, mungkin sedang bertukar cerita bagaimana kehidupan karyawan di kota industri. Bertukar tawa sesekali, berbagi bahagia, atau mungkin melepas penat bahkan kesedihan. Seperti yang kita sama - sama mengerti, bahwa tidak selamanya hidup penuh dengan kemudahan. 

Hal yang masih coba aku terima dan pahami dengan cara sebaik baiknya manusia. Tepat ketika aku melihat ke angkasa yang kala itu sesak dengan awan kelabu. Membuat kenampakannya lebih sempit daripada seharusnya. Mencari kelapangan karna rasanya di dalam hati pun tidak begitu jauh berbeda. Membuat aku memutuskan untuk melaju pada kecepatan paling pelan. Mengulur waktu, mencari tenang, sembari berdoa agar segala tangis dan sesak jadi rahasia aku dan Dia. Tanpa perlu bapak, mama, eyang tau, bahwa sore itu setiap bagian aku rasanya hancur dalam perjalanan pulang yang terasa lebih panjang. 

Dan Dia mengabulkan. Kepada mama aku bisa menceritakan segala kegagalan siang tadi dengan perlahan, memilih setiap kata, menyisihkan ingatan yang tidak perlu agar tidak ada air mata yang sering kali bisa jadi begitu kurang ajar. Bapak pun hanya bertanya, pertanyaan yang sama berkali-kali (seperti biasa), dan rasanya kesabaranku sedang dipasok ulang, kesabaran untuk menjawab dengan menahan kesedihan paling kecil yang bisa saja hadir tanpa permisi. Rasanya semuanya baik-baik saja, ini prestasi baru, akhirnya aku bisa mengatur perasaanku. Walaupun di dalam sini, setiap kehancuran masih terasa begitu nyata. Seperti permukaan koran yang membungkus telur setelah dijatuhkan. Masih terlihat begitu sempurna, tapi tetap saja sia-sia, karna setiap kulit di dalamnya sudah jadi pecahan.

Hal yang membuatku berpikir bahwa mungkin memang ini yang dinamakan hidup. Tepat ketika kita sudah berpikir bahwa suatu ujian adalah yang paling buruk, ternyata kemudian semesta menunjukkan, bahwa akan selalu ada lebih buruk yang baru. 

Semoga Allah memberikan kami sekeluarga kekuatan untuk melewati segala cobaan.
Teruntuk mimpi.
Aku harap, kamu tidak mati kali ini.
Tidak apa berhenti, terlelap, tapi jangan mati.
Jangan meninggalkan aku sendiri.
Mengejar sesuatu yang tidak akan pernah aku mengerti.
Menuhankan hal - hal yang aku benci.
Mengharapkan tempat - tempat yang tidak aku sukai.

Teruntuk mimpi.
Aku harap, kamu tetap hidup kali ini.
Tidak apa ketika lelah menghampiri, tapi jangan berhenti membersamai.
Jangan menjadikan aku seseorang yang tidak familiar.
Membenci kehidupan karna tidak bisa mencapai suatu hal.
Menggadaikan setiap harapan pada semu.
Yang suatu hari hanya akan berujung sesal.

Teruntuk mimpi.
Aku harap, kamu tidak marah kali ini.
Aku memang belum cukup tinggi untuk menggapaimu.
Belum cukup besar untuk menjadi sebesar kamu.
Belum cukup kuat untuk menjagamu dari segala realita hidup.

Aku harap, ada waktu agar aku jadi semua itu.
Karena kamu masih menjadi catatan yang aku bawa kemanapun.
Masih menjadi angan yang terus aku berusaha untuk nyalakan.
Meski susah payah. Meski terkadang kehilangan arah.
Karna kamu, adalah satu dari sekian banyak terang dalam kegelapan.
Menuju jalan dimana setiap harapan kebahagiaan aku gantungkan.

Semoga kamu terus hidup.
Redup tidak apa, tapi jangan mati.
Karna separuh aku, berisi kamu.

Ini tahun kelima, dan kupikir pasangan hidup adalah dia yang pertama juga terakhir. Lebih tinggi dariku sehingga tak ada lagi benda – benda yang terlalu tinggi, termasuk mimpi.

Ini tahun kesepuluh, dan kupikir pasangan hidup adalah dia yang membuatku kesal sampai marah. Membuatku mengejarnya di seluruh gedung karena menuduhku suka, yang sebenarnya juga tidak salah.

Ini tahun kelima belas, dan kupikir pasangan hidup adalah dia yang hadir dalam setiap menit setiap hari. Membuatku percaya akan apa yang dia percaya, bahwa aku dan kamu selamanya. Serangkaian kata rumit yang dimaknai terlalu dangkal pada masanya.

Ini tahun kedua puluh, dan kupikir pasangan hidup adalah dia yang tau segala ketakutanku, segala lelah, segalanya. Membuatku berbicara tanpa akhir karena ia adalah seorang teman yang kukenal baik setiap kurangnya, setiap lelahnya, setiap bagian dirinya.

Ini tahun kedua puluh satu, dan kupikir pasangan hidup seperti kata manusia lainnya, dia yang hadir tanpa kamu sangka, merubahmu dalam rupa yang sepenuhnya berbeda. Menyentuhmu tepat di jiwa. Tertawa dengan mama, dengan bapak yang mengenali wajahnya.


Ini tahun kedua puluh dua, dan aku masih tidak tau dia siapa. Yang sebagian doa dihadiahkan untuknya, urusannya, kesehatannya, kebahagiaannya. Tapi kupikir, pasangan hidup adalah dia yang dengannya segala mimpi tetap hidup meski sempat mati berkali – kali karna realita. Dia yang bisa membuatku menertawakan setiap kesalku karena ia tidak masuk akal. Dia yang tidak menyapaku setiap hari, tapi selalu ada pada setiap malam paling buruk seorang manusia. Dia yang padanya aku bisa bersikap tidak dewasa, merajuk, meminta. Dia yang dengannya aku menjadi lebih baik sebagai manusia. Dia yang dicintai oleh keluarganya juga keluargaku sama besarnya, dicintai oleh teman – temannya, dicintai oleh setiap jiwa yang dia temui sampai akhir hidupnya.   
And it suddenly hit me. Just like that.

Alasan mengapa setiap bayi diazankan pada kali pertama mereka datang ke dunia. Azan yang merupakan panggilan Yang Maha Kuasa untuk menyembah kepadaNya. Suatu pemberian tugas pertama, yang paling penting, dan satu - satunya.
1st
"Will we be seeing each other again somewhere, in the future?" hopelessly said, in the middle of casual night ride, and as easy as that, "I don't think so, that might be a chance, but it's so slim I can't think of any meeting" several seconds passed and you ended the sentence "You see, you no longer live there, and that such a far distance we have between our houses, like how?"
ah yes, that's my fault, I shouldn't be hoping too much with us, our 'casual' us.

2nd
"This imaginary dreams of my mind keep bothering me little bit too much" and you answered while taking another spoon of our late dinner in cheap tavern "Why?", "I'm afraid, will this ordinary little me can really get into that position", "Of course you can". But dear, I know you not more less than enough to notice bit of hesitation covered by optimism. You were nice, and always will. "So, one day, I watched an interview of underage scavengers, they told the reporter of their dream with sparkling eyes and full throttle of optimism, one of them wanted to be doctor, another stuck with the idea of being military man. my heart was trembling as I came to realization that there was enormous bravery in telling that story in front of big mountain of trash. and since then I have this dream, I want to touch their lives, I want to give them a chance to pursue everything they want to be". And you gave me "Well, you still can, it is still possible" and the second was different, you were no more less than certain even it wasn't the best words someone can gave, but well, you are never good with words, aren't you?. And that's okay, at the end, you are still the one who understand every of my bullshits and affirmed to every of my delusional dreams.  

3rd
I kept my hand swiping through every story of theirs, and suddenly stopped at hers. She put yourself in several seconds of video showing your silly side in the middle of the ride. I saw that you both were alone in car. I was more than aware that it was straight for the sake of important matters you both handled in those past weeks. She laughed happily by seeing you acting clueless, just like the usual you. Part of me cracked, it was neither the first time nor the worst but still I couldn't help myself but falling quite bit. My minds kept stumbling through the idea of me losing another chance, I am not your typical, I am far from your ideal. At the end I'm just a girl who understands that you don't like being snapped while doing silly things. At the end I'm just your ordinary girl who unfortunately remember every details. At the end I am just a girl who have to always remember by heart that it is just a matter of time for every artificial things in between vanished. There will always be another girl who isn't me. Who acts like she knows you deeply.

4th
I hope, someday when you finally found the one you've been searching for, she is girl that accepts the muscular you as well the vulnerable man who cry for your beloved ones at 3 am. She is a girl that doesn't get tired of reminding you of slipped things as well the way to your home. Girl who always there, no matter how hard life puts you through. 

But for now, let me just be happy with my last chances of being around, being someone that understand you wholeheartedly.


Postingan Lebih Baru Postingan Lama Beranda

ABOUT ME

Introverts in disguise. Read keeps me sane, write keeps me awake. Both of them entwined makes me alive.

SUBSCRIBE & FOLLOW

POPULAR POSTS

  • Komedi putar, senja, dan sendu.
  • Adi
  • Blank Space
  • angsana
  • untuk mas

Categories

  • Reviews
  • Stories
  • Unsend Letters

Advertisement

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.

Blog Archive

  • ▼  2026 (6)
    • ▼  Agustus (1)
      • musnah
    • ►  Maret (4)
    • ►  Januari (1)
  • ►  2025 (6)
    • ►  Desember (2)
    • ►  Juni (2)
    • ►  April (2)
  • ►  2023 (4)
    • ►  Oktober (2)
    • ►  September (2)
  • ►  2022 (1)
    • ►  Mei (1)
  • ►  2021 (15)
    • ►  November (2)
    • ►  September (1)
    • ►  Agustus (1)
    • ►  Juli (2)
    • ►  Juni (2)
    • ►  Mei (4)
    • ►  April (3)
  • ►  2020 (46)
    • ►  September (8)
    • ►  Agustus (8)
    • ►  Juli (7)
    • ►  Juni (4)
    • ►  Mei (6)
    • ►  April (5)
    • ►  Maret (7)
    • ►  Januari (1)
  • ►  2019 (28)
    • ►  Desember (11)
    • ►  Juli (2)
    • ►  Juni (4)
    • ►  Mei (9)
    • ►  Februari (1)
    • ►  Januari (1)
  • ►  2018 (21)
    • ►  September (2)
    • ►  Agustus (3)
    • ►  Juni (2)
    • ►  Mei (2)
    • ►  April (2)
    • ►  Maret (2)
    • ►  Februari (4)
    • ►  Januari (4)
  • ►  2017 (62)
    • ►  November (1)
    • ►  September (6)
    • ►  Agustus (2)
    • ►  Juli (2)
    • ►  Juni (5)
    • ►  Mei (7)
    • ►  April (9)
    • ►  Maret (2)
    • ►  Februari (15)
    • ►  Januari (13)
  • ►  2016 (55)
    • ►  Desember (8)
    • ►  November (12)
    • ►  Oktober (10)
    • ►  September (7)
    • ►  Agustus (5)
    • ►  Juli (1)
    • ►  Juni (3)
    • ►  Mei (2)
    • ►  April (4)
    • ►  Februari (1)
    • ►  Januari (2)
  • ►  2015 (26)
    • ►  Desember (5)
    • ►  November (2)
    • ►  Oktober (2)
    • ►  Agustus (1)
    • ►  Mei (1)
    • ►  April (1)
    • ►  Maret (6)
    • ►  Februari (4)
    • ►  Januari (4)
  • ►  2014 (48)
    • ►  Desember (4)
    • ►  Oktober (4)
    • ►  September (1)
    • ►  Juli (2)
    • ►  Juni (4)
    • ►  Mei (8)
    • ►  April (6)
    • ►  Maret (6)
    • ►  Februari (7)
    • ►  Januari (6)
  • ►  2013 (52)
    • ►  Desember (6)
    • ►  November (2)
    • ►  Oktober (7)
    • ►  Agustus (2)
    • ►  Juli (1)
    • ►  Juni (1)
    • ►  Mei (8)
    • ►  April (4)
    • ►  Maret (11)
    • ►  Februari (2)
    • ►  Januari (8)
  • ►  2012 (68)
    • ►  Desember (23)
    • ►  November (5)
    • ►  Oktober (13)
    • ►  September (4)
    • ►  Agustus (2)
    • ►  Juli (1)
    • ►  Juni (1)
    • ►  April (3)
    • ►  Maret (5)
    • ►  Februari (7)
    • ►  Januari (4)
  • ►  2011 (13)
    • ►  Desember (13)

Pengikut

Oddthemes

Designed by OddThemes | Distributed by Gooyaabi Templates