Hellonjo!

Soal cerita melelahkan juga banyak hal - hal yang menyenangkan.


Orang-orang yang berdoa tau, rindunya tidak pernah sia-sia. Meski tidak bersuara, setiap bait tetap sampai pada tempatnya. Meski tidak dituntaskan temu pun peluk, setiap hangat tetap sampai pada hati yang diingini. Meski diucapkan dengan hati-hati, ia selalu sampai tepat waktu. Mereka yang berdoa tau, rindunya telah berada pada naungan yang selalu melindungi. Jika memang iya, maka rindu akan terus ada dengan rasa yang semakin jauh dari samar. Jika ternyata tidak, maka dunia akan membuat mereka berhenti berdoa, membuat hati mengikhlaskan segala rasa yang tidak seharusnya ada, dengan cara yang membuat mereka tetap baik-baik saja. Membuat lupa menjadi semakin jelas dalam setiap tarikan nafas. Membuat mereka berhenti meminta jawaban, karena ternyata mungkin memang bukan dia tempat segala rindu dituju. Terkadang memang imajinasi soal hati membuat segalanya jadi rancu. Membuat manusia berharap kepada hal-hal semu. 

Aku masih berdoa untukmu. Meski tidak ada temu ataupun kata rindu. Meski kita bukanlah "sesuatu". Meski ingin sekali rasanya mendengar bagaimana pendapatmu soal setiap hal yang bias di dunia, setiap hal yang jadi resahku soal hidup. Aku masih berdoa untukmu serta menunggu, apakah kini akhirnya akan berujung pada lupa yang sama akan mereka yang telah lalu?. 

Setidaknya Sang Pencipta tau, aku kini berada di pihakNya dan tak ingin sekalipun menjauhkan kamu dari perjalanan menujuNya, menjadi seseorang yang lebih baik di dunia. Sudahku bilang, rindu ini tidak akan sia-sia bukan? :))
Aku masih mengeja soal jadi dewasa, tapi ada satu yang coba aku yakini sampai kini. Bahwa akan ada satu detik di hidup ini yang entah kapan, dimana kita akhirnya akan berhenti membingungkan segala hal-hal yang kini jadi pertanyaan. Berhenti cemas pada segala hal yang kini kita takutkan. Pun dengan membawa kehilangan-kehilangan seringan menerima setiap kedatangan. Dan bersyukur pada pilihan-pilihan yang kini kita jalani dengan berat karna ternyata tak semudah apa yang di awal diceritakan. 

Entah benar atau tidak, tapi tampaknya aku akan terus memilih untuk percaya. Karna berjalan dengan ada yakin di dalam hati ternyata lebih ringan daripada membawa serpihan yang berantakan. Tidak mati tapi tidak hidup. Berkata tapi sia-sia. Tertawa tapi tidak bahagia. Mungkin ini yang dinamakan harapan-harapan sehingga kita dapat terus berjalan, karna hanya itu satu-satunya cara agar kita dapat kesana bukan? Percaya, bahwa suatu hari ini semua akan terlewati, meski runtuh, meski putus asa, meski harus menelan kecewa.
There it comes this moment of clarity. When I woke up on the train, in the middle of my way back to our reality, my reality. That it looks like, now, I finally give up all the chances about you. It doesn't matter even if I had all the times in the universe, you'll never look back at me and realize all the reasons why I had always there. The reasons why behind my panicked voice over the phone. The reasons why I felt my heart broken so much when I was sitting beside you and hearing all the worst news you've got. The reasons why, I felt stabbed hard in my heart when she told me all the drama, chocolate, and your confession. And even after all the storm, I chose to stay. Maybe it was me from the beginning who foolishly proud in torturing my self with being beside you, the one that actually who doesn't need saving. You can save yourself, while I failed mine. 

This is the moment of clarity. I made my self clear, I won't love you any much less than a friend. Something that I should do right after I realized I didn't stand any chance, because you love candies while I am just loose sweater that gives comfort. Now I decide, it's time to not lie to my own self by saying I don't need to be loved back while always loving you that much. Because everyone need a pars. Now I realize, I should let you go, not just words that I know, but also words that my heart believe. Now I shall let my heart empty. Without any single hope which is an exact fallacy from the beginning. I will try to live as it is, not by something I want you to give me in, but something you already left me with. Something that exactly vain, plain.
jangan terlalu sering membaca aku, nanti kau jadi tau, segala kata sudah tidak lagi berdetak untuk kamu.

jangan terlalu lama membaca aku, nanti kau jadi tau, pikiranku sudah tidak lagi dipenuhi kamu.

jangan terlalu dalam membaca aku, nanti kau jadi mengerti, tentang kehampaan karna sudah tidak lagi jadi sesuatu yang diingini.

berhentilah. jangan berharap lagi. jangan melihat lagi. jangan mencari lagi.

sebelum ceritaku mengalun dalam kepalamu, suaraku menggaung dalam malam sebelum tidurmu. menciptakan rangkaian kata seperti milikku yang sekarang bercerita tentang aku. iya, aku, yang sudah tidak lagi menuliskanmu. yang kini sudah sepenuhnya berganti hati. menulis buku yang sepenuhnya baru. 

jangan terjebak pada paradoks tentang posisi kita yang kini berganti karna bisa jadi, aku sudah tidak  lagi peduli. 

Kemudian aku sedikit banyak mulai mengerti. Bahwa Ia yang bereskan segala yang berantakan. Yang gantikan segala yang hilang. Yang melengkapi segala yang kurang. Dan hanya Ia yang selalu mencukupkan segala ketidakpuasan jika memang kita bisa coba untuk merelakan hal-hal. Karna tentang apa yang aku percaya, akan selalu ada waktu yang paling tepat untuk segalanya, dan seringkali itu berada di luar agenda sederhana yang dibuat manusia. Walaupun kemudian aku merasakan bahwa tak ada yang sederhana mengenai belajar pasrah, tapi tetap kupikir itu adalah yang lebih baik daripada menuntut hal-hal yang bisa jadi kita sama sekali tidak mengerti akan jadi apa. Bisa jadi bahagia, bisa jadi bencana. 

Oleh karnanya kemudian aku mulai membiasakan diri pada masa-masa sendiri. Berusaha menemukan aku, diriku. Berusaha cukup hanya pada sesuatu yang memang seharusnya jadi satu-satunya tempat manusia bergantung. Ia yang kepadanya segala harapan diterbangkan tanpa perlu takut dikecewakan. 
Aku ingin menjadi seseorang yang lebih baik tidak ada daripada tidak membahagiakan. Aku hanya sedikit mengerti, bahwa tak ada yang sederhana dari menerima keberadaan yang tanpa jiwa maupun keikhlasan. Karna menurut aku yang masih kurang banyak tau, selalu ada ketidaknyamanan dalam keterpaksaan. Lalu bagaimana mau bahagia jika ketidaknyamanan itu selalu membuat kita mempertanyakan keberadaan?. 

Mungkin aku hanya tak ingin jadi sebab kepala seseorang dipenuhi pertanyaan yang sebenarnya jawabannya adalah "aku tak ingin membersamaimu". Aku hanya sederhana tak ingin membuat seseorang berada di posisi yang serupa itu. Karna ada yang menyesakkan dari kehancuran yang ditahan, dibungkus rapi dan cantik, tapi tetap mematikan.  Dan tak ada lagi yang lebih menyesakkan daripada harus menerima terima kasih dari seseorang yang kita berikan bingkisan dengan isi yang sebenarnya tidak menyenangkan.

Aku hanya ingin belajar menjadi seseorang yang tulus tanpa kebohongan.


-selepas berlelah lelah di lahan penelitian seorang teman-
Mau cerita sedikit boleh nggak? Sedikit cerita dari seorang introvert yang seringkali mendengarkan, tapi nggak jarang juga bawelnya setengah mati karna beberapa hal. 

Sesama intro mungkin bisa mengerti hal ini, bahwa kita seringkali dapat memahami seseorang hanya dengan mengamati lebih dalam dan diam-diam. Seringkali kita tau, mana yang tulus atau tidak, mana yang bohong, mana yang peduli atau hanya sekedar basa basi. 

Oleh karnanya, ketika bertemu orang lain. Seringkali gue bisa tau, is he being true or not, dan pada setiap kali itu juga, gue selalu merubah segala pikiran buruk menjadi sesuatu yang "nope, its just my cruel imagination about someone I didnt know very well", "no, I was just too confident, I might be wrong about them, and they might be not that evil". Gue berusaha percaya dengan mereka, dan tidak percaya dengan apa yang diri gue sendiri katakan. 

And it turns out, people are always so typical.

Mereka akhirnya membuktikan kalau ternyata memang diri lo benar. Mereka melegitimasi semua suara di dalam kepala lo yang berkata "mereka sebenernya nggak peduli", "mereka sebenernya cuma basa basi", "dia sama aja cuma main-main", "mereka akan meninggalkan lo", "semua yang mereka pedulikan adalah hidup mereka, walaupun lo sudah memberikan sebagian waktu hidup lo tulus buat mereka", "mereka cuma ada ketika ada butuhnya". 

And now, I understand what mama told me "don't be so naive, people is not always that kind". Yes, I was being naive, and I regret that. It's pathetic, but I'm done with trusting people. I'm done with getting too attached with everyone, no matter who they are. No matter how sweet ttheir words are. Tho, experience taught me, in the end they will always prove you that they are just another mess you have to clean.

Maybe I have to start giving more trust to my own self. Because well, you can't fuck up your own trust right?.
Postingan Lebih Baru Postingan Lama Beranda

ABOUT ME

Introverts in disguise. Read keeps me sane, write keeps me awake. Both of them entwined makes me alive.

SUBSCRIBE & FOLLOW

POPULAR POSTS

  • Komedi putar, senja, dan sendu.
  • Adi
  • Blank Space
  • angsana
  • untuk mas

Categories

  • Reviews
  • Stories
  • Unsend Letters

Advertisement

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.

Blog Archive

  • ▼  2026 (6)
    • ▼  Agustus (1)
      • musnah
    • ►  Maret (4)
    • ►  Januari (1)
  • ►  2025 (6)
    • ►  Desember (2)
    • ►  Juni (2)
    • ►  April (2)
  • ►  2023 (4)
    • ►  Oktober (2)
    • ►  September (2)
  • ►  2022 (1)
    • ►  Mei (1)
  • ►  2021 (15)
    • ►  November (2)
    • ►  September (1)
    • ►  Agustus (1)
    • ►  Juli (2)
    • ►  Juni (2)
    • ►  Mei (4)
    • ►  April (3)
  • ►  2020 (46)
    • ►  September (8)
    • ►  Agustus (8)
    • ►  Juli (7)
    • ►  Juni (4)
    • ►  Mei (6)
    • ►  April (5)
    • ►  Maret (7)
    • ►  Januari (1)
  • ►  2019 (28)
    • ►  Desember (11)
    • ►  Juli (2)
    • ►  Juni (4)
    • ►  Mei (9)
    • ►  Februari (1)
    • ►  Januari (1)
  • ►  2018 (21)
    • ►  September (2)
    • ►  Agustus (3)
    • ►  Juni (2)
    • ►  Mei (2)
    • ►  April (2)
    • ►  Maret (2)
    • ►  Februari (4)
    • ►  Januari (4)
  • ►  2017 (62)
    • ►  November (1)
    • ►  September (6)
    • ►  Agustus (2)
    • ►  Juli (2)
    • ►  Juni (5)
    • ►  Mei (7)
    • ►  April (9)
    • ►  Maret (2)
    • ►  Februari (15)
    • ►  Januari (13)
  • ►  2016 (55)
    • ►  Desember (8)
    • ►  November (12)
    • ►  Oktober (10)
    • ►  September (7)
    • ►  Agustus (5)
    • ►  Juli (1)
    • ►  Juni (3)
    • ►  Mei (2)
    • ►  April (4)
    • ►  Februari (1)
    • ►  Januari (2)
  • ►  2015 (26)
    • ►  Desember (5)
    • ►  November (2)
    • ►  Oktober (2)
    • ►  Agustus (1)
    • ►  Mei (1)
    • ►  April (1)
    • ►  Maret (6)
    • ►  Februari (4)
    • ►  Januari (4)
  • ►  2014 (48)
    • ►  Desember (4)
    • ►  Oktober (4)
    • ►  September (1)
    • ►  Juli (2)
    • ►  Juni (4)
    • ►  Mei (8)
    • ►  April (6)
    • ►  Maret (6)
    • ►  Februari (7)
    • ►  Januari (6)
  • ►  2013 (52)
    • ►  Desember (6)
    • ►  November (2)
    • ►  Oktober (7)
    • ►  Agustus (2)
    • ►  Juli (1)
    • ►  Juni (1)
    • ►  Mei (8)
    • ►  April (4)
    • ►  Maret (11)
    • ►  Februari (2)
    • ►  Januari (8)
  • ►  2012 (68)
    • ►  Desember (23)
    • ►  November (5)
    • ►  Oktober (13)
    • ►  September (4)
    • ►  Agustus (2)
    • ►  Juli (1)
    • ►  Juni (1)
    • ►  April (3)
    • ►  Maret (5)
    • ►  Februari (7)
    • ►  Januari (4)
  • ►  2011 (13)
    • ►  Desember (13)

Pengikut

Oddthemes

Designed by OddThemes | Distributed by Gooyaabi Templates