Hellonjo!

Soal cerita melelahkan juga banyak hal - hal yang menyenangkan.


There it comes this moment of clarity. When I woke up on the train, in the middle of my way back to our reality, my reality. That it looks like, now, I finally give up all the chances about you. It doesn't matter even if I had all the times in the universe, you'll never look back at me and realize all the reasons why I had always there. The reasons why behind my panicked voice over the phone. The reasons why I felt my heart broken so much when I was sitting beside you and hearing all the worst news you've got. The reasons why, I felt stabbed hard in my heart when she told me all the drama, chocolate, and your confession. And even after all the storm, I chose to stay. Maybe it was me from the beginning who foolishly proud in torturing my self with being beside you, the one that actually who doesn't need saving. You can save yourself, while I failed mine. 

This is the moment of clarity. I made my self clear, I won't love you any much less than a friend. Something that I should do right after I realized I didn't stand any chance, because you love candies while I am just loose sweater that gives comfort. Now I decide, it's time to not lie to my own self by saying I don't need to be loved back while always loving you that much. Because everyone need a pars. Now I realize, I should let you go, not just words that I know, but also words that my heart believe. Now I shall let my heart empty. Without any single hope which is an exact fallacy from the beginning. I will try to live as it is, not by something I want you to give me in, but something you already left me with. Something that exactly vain, plain.
jangan terlalu sering membaca aku, nanti kau jadi tau, segala kata sudah tidak lagi berdetak untuk kamu.

jangan terlalu lama membaca aku, nanti kau jadi tau, pikiranku sudah tidak lagi dipenuhi kamu.

jangan terlalu dalam membaca aku, nanti kau jadi mengerti, tentang kehampaan karna sudah tidak lagi jadi sesuatu yang diingini.

berhentilah. jangan berharap lagi. jangan melihat lagi. jangan mencari lagi.

sebelum ceritaku mengalun dalam kepalamu, suaraku menggaung dalam malam sebelum tidurmu. menciptakan rangkaian kata seperti milikku yang sekarang bercerita tentang aku. iya, aku, yang sudah tidak lagi menuliskanmu. yang kini sudah sepenuhnya berganti hati. menulis buku yang sepenuhnya baru. 

jangan terjebak pada paradoks tentang posisi kita yang kini berganti karna bisa jadi, aku sudah tidak  lagi peduli. 

Kemudian aku sedikit banyak mulai mengerti. Bahwa Ia yang bereskan segala yang berantakan. Yang gantikan segala yang hilang. Yang melengkapi segala yang kurang. Dan hanya Ia yang selalu mencukupkan segala ketidakpuasan jika memang kita bisa coba untuk merelakan hal-hal. Karna tentang apa yang aku percaya, akan selalu ada waktu yang paling tepat untuk segalanya, dan seringkali itu berada di luar agenda sederhana yang dibuat manusia. Walaupun kemudian aku merasakan bahwa tak ada yang sederhana mengenai belajar pasrah, tapi tetap kupikir itu adalah yang lebih baik daripada menuntut hal-hal yang bisa jadi kita sama sekali tidak mengerti akan jadi apa. Bisa jadi bahagia, bisa jadi bencana. 

Oleh karnanya kemudian aku mulai membiasakan diri pada masa-masa sendiri. Berusaha menemukan aku, diriku. Berusaha cukup hanya pada sesuatu yang memang seharusnya jadi satu-satunya tempat manusia bergantung. Ia yang kepadanya segala harapan diterbangkan tanpa perlu takut dikecewakan. 
Aku ingin menjadi seseorang yang lebih baik tidak ada daripada tidak membahagiakan. Aku hanya sedikit mengerti, bahwa tak ada yang sederhana dari menerima keberadaan yang tanpa jiwa maupun keikhlasan. Karna menurut aku yang masih kurang banyak tau, selalu ada ketidaknyamanan dalam keterpaksaan. Lalu bagaimana mau bahagia jika ketidaknyamanan itu selalu membuat kita mempertanyakan keberadaan?. 

Mungkin aku hanya tak ingin jadi sebab kepala seseorang dipenuhi pertanyaan yang sebenarnya jawabannya adalah "aku tak ingin membersamaimu". Aku hanya sederhana tak ingin membuat seseorang berada di posisi yang serupa itu. Karna ada yang menyesakkan dari kehancuran yang ditahan, dibungkus rapi dan cantik, tapi tetap mematikan.  Dan tak ada lagi yang lebih menyesakkan daripada harus menerima terima kasih dari seseorang yang kita berikan bingkisan dengan isi yang sebenarnya tidak menyenangkan.

Aku hanya ingin belajar menjadi seseorang yang tulus tanpa kebohongan.


-selepas berlelah lelah di lahan penelitian seorang teman-
Mau cerita sedikit boleh nggak? Sedikit cerita dari seorang introvert yang seringkali mendengarkan, tapi nggak jarang juga bawelnya setengah mati karna beberapa hal. 

Sesama intro mungkin bisa mengerti hal ini, bahwa kita seringkali dapat memahami seseorang hanya dengan mengamati lebih dalam dan diam-diam. Seringkali kita tau, mana yang tulus atau tidak, mana yang bohong, mana yang peduli atau hanya sekedar basa basi. 

Oleh karnanya, ketika bertemu orang lain. Seringkali gue bisa tau, is he being true or not, dan pada setiap kali itu juga, gue selalu merubah segala pikiran buruk menjadi sesuatu yang "nope, its just my cruel imagination about someone I didnt know very well", "no, I was just too confident, I might be wrong about them, and they might be not that evil". Gue berusaha percaya dengan mereka, dan tidak percaya dengan apa yang diri gue sendiri katakan. 

And it turns out, people are always so typical.

Mereka akhirnya membuktikan kalau ternyata memang diri lo benar. Mereka melegitimasi semua suara di dalam kepala lo yang berkata "mereka sebenernya nggak peduli", "mereka sebenernya cuma basa basi", "dia sama aja cuma main-main", "mereka akan meninggalkan lo", "semua yang mereka pedulikan adalah hidup mereka, walaupun lo sudah memberikan sebagian waktu hidup lo tulus buat mereka", "mereka cuma ada ketika ada butuhnya". 

And now, I understand what mama told me "don't be so naive, people is not always that kind". Yes, I was being naive, and I regret that. It's pathetic, but I'm done with trusting people. I'm done with getting too attached with everyone, no matter who they are. No matter how sweet ttheir words are. Tho, experience taught me, in the end they will always prove you that they are just another mess you have to clean.

Maybe I have to start giving more trust to my own self. Because well, you can't fuck up your own trust right?.
Untuk semua petir yang berkilat. Harus ya kamu selalu datang tiba-tiba dan mengagetkan?. Harus ya kamu mencuri semua perhatian pada detik kamu datang?. Harus ya kamu memporakporandakan semua konsentrasi yang susah-susah aku kumpulkan?. 

Untuk petir yang kemudian hilang, Tidak usahlah kau jawab semua pertanyaan, karna mereka sungguh tak perlu jawaban. Segala tanya yang aku ajukan sebenarnya adalah tuntutan, wujud dari segala kemarahan yang kemudian tak dapat aku sampaikan. Kau tau karna apa? Iya, karna kau terlalu cepat hilang untuk dimintai pertanggung jawaban. 

Untuk petir yang masih tak mengerti. Saat ini kau mungkin bertanya dalam hati (jika kau masih punya hati). Apa salahku? Kenapa kau menyalahkan aku dengan segala hakikatku? Sifatku? Semua ilusi yang sebenarnya sudah orang lain tau. Iya, aku tau semua tanda tanya itu sudah berkumpul dalam benakmu. Tapi wahai petir, kamu tau sebenarnya kamu lebih dari mengerti, bahwa aku tak selamanya dapat mengerti segala kedatanganmu. Bisakah kau terima saja kali ini? untuk yang terakhir kali.

Untuk setiap petir yang sudah datang dan kemudian pergi. Terkejutkah kau jika aku bercerita, bahwa aku pernah menyukaimu dengan segala kedatangan yang tiba-tiba. Memberi kilatan warna pada dunia hitam putih yang sudah pasti membosankan. Iya, itu aku sebelum kau datang, yang ternyata bersama dengan badai yang meluluhlantahkan. Iya, mula-mula gerimis tipis menyenangkan. Lalu perlahan awan menggelap dan rintik semakin besar, semakin kelam, dan kemudian menyakitkan. Setiap tetesan air hujan menghujam kulitku yang terlalu perasa, membuatku sulit melihat karna tak terbiasa menerima badai di kelopak mata. Lalu aku perlahan tenggelam dalam suara gemuruh badai di atas atap gubuk tempat aku menumpang teduh setelah kuyup. Aku tak bisa berpikir apapun karna riuhnya menyesakkan hati dan perasaan. Logikaku undur diri dengan menyisakan satu pertanyaan, kamu dimana, petir?.

Kamu dimana setelah badai yang kau tinggalkan telah berhasil menghancurkan? Kamu dimana setelah matahari tertutupi awan gelap hanya agar kamu dapat tinggal? Kamu dimana setelah akhirnya aku dapat menerima segala hal tentang kamu yang seringkali orang lain tinggalkan?.

Dan ya, lagi-lagi segala pertanyaanku tak meminta jawaban. Segala tuntutan pun tak meminta perhatian. Aku kini hanya cukup tau, bahwa memang manusia seringkali harus menerima kesialan yang tidak dia inginkan. Aku kini hanyalah seorang pejalan kaki dengan cerita pernah tiba-tiba tersambar petir tapi tidak mati. Terimakasih atas tambahan prestasi pada gadis biasa dengan siang yang biasa. Aku kini semakin terbiasa dengan kondisi dihancurkan, ditinggalkan, tanpa permohonan maaf ataupun penjelasan. Dan tolong, jangan datang lagi kalau hanya untuk menyinggahi.

maybe this is how you learn to be all grown up. you learn to endure something that hurt you so bad. keep unnecessary things for yourself, even though your heart screaming all the way round, just simply it is meaningless stupid feelings. now you have to walk the pain as long as you can, no matter how small the energy left, how bitter every step ahead, how failures hunt you down along the road. 

maybe this is how you learn to be all grown up. realize that something isn't always up to your plan. several plans are better left behind because simply your only choice is to adapt with what universe gave. you accept, you know you are as clueless as fallen leaves in brown tiled city park. now, you laugh the tears. you tasted sour, somehow bitter, but surprisingly sweet in the end. you know, it might be the beginning of an end. a sweet sweet end. you finally laugh without any bargain, because you want to, because all the things that have been such a disaster become foolishly funny.

and yes, this is how you actually learn to be all grown up. you keep, you endure, you adapt, you walk, you laugh, you accept. 
Postingan Lebih Baru Postingan Lama Beranda

ABOUT ME

Introverts in disguise. Read keeps me sane, write keeps me awake. Both of them entwined makes me alive.

SUBSCRIBE & FOLLOW

POPULAR POSTS

  • Komedi putar, senja, dan sendu.
  • Adi
  • Blank Space
  • angsana
  • untuk mas

Categories

  • Reviews
  • Stories
  • Unsend Letters

Advertisement

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.

Blog Archive

  • ▼  2026 (6)
    • ▼  Agustus (1)
      • musnah
    • ►  Maret (4)
    • ►  Januari (1)
  • ►  2025 (6)
    • ►  Desember (2)
    • ►  Juni (2)
    • ►  April (2)
  • ►  2023 (4)
    • ►  Oktober (2)
    • ►  September (2)
  • ►  2022 (1)
    • ►  Mei (1)
  • ►  2021 (15)
    • ►  November (2)
    • ►  September (1)
    • ►  Agustus (1)
    • ►  Juli (2)
    • ►  Juni (2)
    • ►  Mei (4)
    • ►  April (3)
  • ►  2020 (46)
    • ►  September (8)
    • ►  Agustus (8)
    • ►  Juli (7)
    • ►  Juni (4)
    • ►  Mei (6)
    • ►  April (5)
    • ►  Maret (7)
    • ►  Januari (1)
  • ►  2019 (28)
    • ►  Desember (11)
    • ►  Juli (2)
    • ►  Juni (4)
    • ►  Mei (9)
    • ►  Februari (1)
    • ►  Januari (1)
  • ►  2018 (21)
    • ►  September (2)
    • ►  Agustus (3)
    • ►  Juni (2)
    • ►  Mei (2)
    • ►  April (2)
    • ►  Maret (2)
    • ►  Februari (4)
    • ►  Januari (4)
  • ►  2017 (62)
    • ►  November (1)
    • ►  September (6)
    • ►  Agustus (2)
    • ►  Juli (2)
    • ►  Juni (5)
    • ►  Mei (7)
    • ►  April (9)
    • ►  Maret (2)
    • ►  Februari (15)
    • ►  Januari (13)
  • ►  2016 (55)
    • ►  Desember (8)
    • ►  November (12)
    • ►  Oktober (10)
    • ►  September (7)
    • ►  Agustus (5)
    • ►  Juli (1)
    • ►  Juni (3)
    • ►  Mei (2)
    • ►  April (4)
    • ►  Februari (1)
    • ►  Januari (2)
  • ►  2015 (26)
    • ►  Desember (5)
    • ►  November (2)
    • ►  Oktober (2)
    • ►  Agustus (1)
    • ►  Mei (1)
    • ►  April (1)
    • ►  Maret (6)
    • ►  Februari (4)
    • ►  Januari (4)
  • ►  2014 (48)
    • ►  Desember (4)
    • ►  Oktober (4)
    • ►  September (1)
    • ►  Juli (2)
    • ►  Juni (4)
    • ►  Mei (8)
    • ►  April (6)
    • ►  Maret (6)
    • ►  Februari (7)
    • ►  Januari (6)
  • ►  2013 (52)
    • ►  Desember (6)
    • ►  November (2)
    • ►  Oktober (7)
    • ►  Agustus (2)
    • ►  Juli (1)
    • ►  Juni (1)
    • ►  Mei (8)
    • ►  April (4)
    • ►  Maret (11)
    • ►  Februari (2)
    • ►  Januari (8)
  • ►  2012 (68)
    • ►  Desember (23)
    • ►  November (5)
    • ►  Oktober (13)
    • ►  September (4)
    • ►  Agustus (2)
    • ►  Juli (1)
    • ►  Juni (1)
    • ►  April (3)
    • ►  Maret (5)
    • ►  Februari (7)
    • ►  Januari (4)
  • ►  2011 (13)
    • ►  Desember (13)

Pengikut

Oddthemes

Designed by OddThemes | Distributed by Gooyaabi Templates