Hellonjo!

Soal cerita melelahkan juga banyak hal - hal yang menyenangkan.


ni untuk buku yang selama ini selalu ada tanpa diminta.

sore ini, saya mengunjungi salah satu rumah kecil berwarna biru langit dipinggir jalan yang menurun. mungkin rumah itu adalah salah satu rumah favorit saya di desa terpencil disudut kota purbalingga. kunjungan saya dipenghujung sore bersama seorang teman terkait urusan KKN yang sudah hampir sebulan ini kami jalani. tak ada yang spesial dari bangunannya yang sederhana, tapi kalau saja kamu lihat kedalam, berjejerlah beberapa rak berisi buku beraneka rupa. mulai dari ensiklopedia, kisah nabi - nabi, sampai novel teenlit khas remaja. iya, rumah itu adalah pustaka kecil ditengah dusun yang kesadaran membacanya masih dibawah rendah. dan bagi saya, menemukannya ditengah sunyinya desa ini merupakan suatu oase tersendiri yang membuat saya ingat, saya rindu akan buku yang bertumpuk, aroma kertas - kertasnya, dan segala petualangan ke dunia berbeda, yang hanya butuh modal niat membaca dan kamu bisa ada disana dan merasa segalanya. 

and like every books does to me, it ease me in no one and nothing else can do. jika diingat lagi, sebenarnya, sore itu saya beranjak dengan malas dan bersiap tanpa tenaga. tak ingin rasanya bergerak ketika hati sedang tak lengkap, dan pikiran yang tak tuntas. namun saya paksakan karna seperti ibu saya pernah berkata, jika sakit, janganlah kamu bermanja. ini memang bukan sakit fisik tapi rasanya beda tipis, dan kadang merusak lebih parah dengan caranya sendiri. ragu pun selalu lekat dikepala saya sesorean itu, ragu akan segala sesuatu, dengan orang baru, setiap kesempatan yang akan saya tolak walaupun belum tentu ada kali kedua dia datang lagi. 

tetapi, sampainya disana saya lupa semuanya. saya tenggelam pada perasaan senang yang meluap ketika melihat beberapa buku keinginan saya berbaris di beberapa rak. seketika saya lupa bahwa saya tak pernah mendapatkan rasa tapi harus kehilangan teman, lupa bahwa logika dan perasaan ini seperti sedang dipermainkan, dan lupa bahwa selamanya saya hanyalah seorang teman yang pandai berbohong dan selalu berdoa. karna buku saya bisa lupa kalau hari ini sebenarnya saya sedang mengecap pahitnya mengikhlaskan dan berjalan ditengah segala ketidakpastian. buku punya keajaiban tersendiri yang tak pernah saya lupakan.

dan sepulangnya dari sana saya bertekad untuk memiliki rumah biru pustaka saya sendiri. yanh akan jadi oase untuk semua pencandu buku yang sedang mencari tempat bersembunyi untuk segala sakit yanh iingin ia lupakan walaupun barang sejenak, bahkan jika itu hanya untuk satu paragraf pembuka pertama.

Tepat pukul 1 dini hari. Beberapa jam sebelum saya berangkat KKN selama 35 hari di kota lain. Catatan ini mungkin suatu perpisahan pada beberapa sisi, mungkin juga suatu awal baru ketika kamu melihat dari sisi lain. Apapun itu, catatan ini penuh dengan isi kepala saya semenjak hari itu saya di demisionerkan oleh forum. Jelasnya, catatan ini adalah salah satu hal penting, satu dari sekian banyak memori yang ingin saya ingat dan jaga seumur hidup agar tidak hilang karena waktu. Saya kehabisan kata harus mulai darimana. Namun saya punya feeling bahwa ini adalah kesempatan terakhir saya mengabadikan mereka, sebelum saya akhirnya benar - benar lepas dan menjadi mahasiswa tingkat akhir seutuhnya. Ingat bukan kalau saya selalu jujur dalam bercerita? maka catatan ini bukan pengecualian, bahkan mungkin catatan paling jujur dari semua yang pernah saya buat. 

Masih jelas dalam ingatan, kali pertama saya bertemu dia yang menunggu sendirian di depan salah satu sekre dari beberapa organisasi yang ingin saya ikuti kala itu. Ketika sekretariat lain ramai, herannya cuma sekre itu yang sepi dan hanya ditunggui oleh seseorang yang wajahnya familiar "ah, itu kan mas mas yang waktu itu ngomong di depan pas osmb". Dua hal yang terlintas kala itu, pertama adalah "Kasian banget nunggu sendirian, padahal sekre yang lain rame", kedua adalah "Nggak jadi daftar aja apa ya, sepi banget gini, nanti gue nggak ada temennya lagi". Dan dua tahun setelahnya ternyata saya menggantikan dia, si mas mas terkenal, menunggu di depan sekretariat paling ujung dan tak terlihat dari manapun ketika penerimaan mahasiswa baru. Bedanya kali ini saya jauh lebih beruntung, karna saya tak jadi seseorang yang menunggu sendirian ditengah ramai. dan Catatan ini untuk mengabadikan mereka, 34 orang yang setahun ini sudah mengizinkan saya mengikuti perjalanan hidup mereka walau dalam waktu singkat.

Ini surat cinta, kalau kalian tau. Surat cinta saya yang kirimkan paling banyak hahaha.

Untuk ke34 orang lainnya, saya hanya ingin mengatakan terimakasih dan maaf. Sepertinya dua hal itu yang selalu ada dalam perpisahan ya, hehe. Terimakasih karena banyak memberikan pelajaran yang berarti. Pelajaran bagaimana mengerti bahwa menyatukan 34 orang itu bukan hal yang mudah. Karna kalian juga saya belajar merelakan sesuatu yang selama ini saya inginkan dengan sangat. Belajar bahwa proses akan selamanya lebih saya hargai daripada hasil. Dan belajar bahwa tak ada manusia yang jahat. yang terpenting, belajar bahwa definisi rumah bukan lagi bangunan bercat biru langit, ataupun manusia dengan pertalian darah yang disebut keluarga. Ternyata rumah juga bisa hadir dalam bentuk pilihan yang akhirnya kamu bertahan di dalamnya, walau dengan susah payah dan beberpaa pengorbanan. Rumah dimana saya melihat perjalanan hidup singkat 35 orang di dalamnya. Pundak ini sudah beberapa kali dibasahi oleh air mata karena tekanan yang tak sanggup mereka tanggung sendiri. Beratnya tanggung jawab adalah hal yang lumrah untuk dibagi kala itu. Dan seperti manusia yang sedang belajar, akan selalu ada maaf dalam setiap kesalahan yang dibuat, dan maklum karena itu adalah bagian dari proses setiap individu.

Yang kedua adalah maaf. Maaf karena sering kali abai akan tugas. Maaf karena sering kali saya mengedepankan ego dan berpikir yang tidak - tidak. Maaf juga karena selamanya mungkin saya tak akan pernah jadi kakak yang dapat mendengar seluruh suara adik ataupun teman - temannya yang lain. Dan banyak sesal yang lain, salah satunya adalah sesal karna kadang saya tak bisa berbohong bahwa saya tidak kecewa akan beberapa hal. Saya juga minta maaf jika memang ketika salah satu dari mereka membaca ini dan tak merasakan apa apa, itu salah saya sepenuhnya, bahwa berarti, saya gagal menyediakan 'rumah' yang nyaman untuk sebagian orang.

Terakhir, semoga kalian bahagia dengan segala pilihan yang kalian buat. Baik itu bertahan, maupun tidak. Setelahnya tak kan ada sesal ataupun kesal, karena saya mengerti bahwa setiap manusia punya medan perangnya masing - masing. Organisasi ini mungkin hanya organisasi biasa, umurnya baru 17, masih mencari jati diri kata orang. Akan ada banyak hal yang terjadi di depan, akan ada banyak perubahan yang mungkin terjadi ketika kepengurusan berganti. Organisasi ini akan terus berubah kedepannya, baik kalian ingin atau tidak. Ketika kalian di atas pun kalian akan dengar segala omongan orang yang selama ini diredam, selayaknya orang yang sok tau, maka biarkan saja. Yang pasti, setelah ini, sungguh tak akan ada sesal ketika semua selesai. Karna walaupun seseorang pernah bertanya apakah ada proses yang buruk? menurut saya, tak ada proses yang buruk atau bahkan sia sia ketika kita memang berniat baik dan sungguh - sungguh melakukannya dimanapun itu. Tak ada kegagalan yang mutlak, kecuali jika seseorang tak dapat mengambil sesuatu dari suatu hal yang terjadi. There will always be a silver lining in every clouds, if you cant find one, remember that you always have a chance to make one, because everything depends on how we see things.

Dan saya berharap semoga setelah ini saya tetap dapat jadi seseorang yang teman teman percaya untuk bercerita atau meminta saran apapun itu. Seseorang yang tidak segan teman teman sapa ketika bertemu di koridor kampus atau entah dimana beberapa tahun kedepan. Seseorang yang walaupun dengan segala alfanya tetap dapat diingat dengan sesuatu yang baik dan menyenangkan. Tepat sama seperti ketika saya mengingat anak anak kecil sega 15/16 yang setahun ini kelimpungan, kesana kemari mengurusi beberapa event hehe. Stay loveable kalian dan selamat berbahagia :)



Dia punya segala hal yang dibutuhkan wanita. Cantik, cerdas, dewasa, dan kesabaran yang tak pernah ada habisnya. Tak ada hal didunia ini yang meragukan dia bahwa dia bisa sebegitu bahagia. Bahwa hidupnya tak pernah kurang dari kata sempurna dan cukup akan segala rupa. Sampai akhirnya seseorang masuk dan melihat benar, bahwa hatinya serupa kacau pasca topan. Pecahan kaca berserakan, menusuk telapak kaki yang telanjang. Didalam kepalanya ada perang yang serupa Ramayana. Pikirannya tak pernah kehabisan ragu dan khawatir akan segala cela. Pundaknya penuh dengan beban yang memberatkan langkah. Kakinya lebam karena seringkali melompat dan jatuh dikerasnya tanah. 

Diantara senyum yang serupa rumah, pilunya perang didalam kepalanya mengintip dibalik sabitnya mata. Perang akan dirinya yang merusak sampai ia lupa akan segala 'sempurna' yang dipuji manusia. 

Dan saat itu, hanya bintang yang mengerti benar tentang segala nyanyian pesakitan. Langit tak pernah terlalu sempit untuk segala cerita duka. Kepada luasnya ia mengadu ketika manusia tak begitu ada. Kepada galaksi yang jauhnya jutaan cahaya, ia memeluk reruntuhan diri agar tak terlalu remuk redam. Karena sederhana, menurutnya, malam dan bulan kala itu adalah apa yang seharusnya orang lain sematkan kata sempurna. Bukan dirinya, bukan sesuatu yang bisa dikatakan dengan nominal.

Karena hanya indahnya langit yang dapat membuat ia lupa, bahwa ada kacau di esok hari yang masih harus dihadapi, sekali lagi. Setidaknya malam ini ia utuh, tidurnya lelap, dan hangat tak lagi meninggalkan hatinya seperti kali pertama ia bercerita. Karena Dia memang tak pernah sekuat itu.


pic sourc: https://pixabay.com/en/starry-night-starry-sky-silhouette-1149815/
Terimakasih. Terimakasih untuk segala cerita. Terimakasih walau hanya sekedar teman, kau cukupkan aku untuk selalu berada di sekitar. Terimakasih karena telah begitu jujur dalam menjawab segala tanya. Walaupun bukan jawaban yang membahagiakan tapi cukuplah aku merasakan lega. Setidaknya, kau kini bahagia. Setidaknya tak lagi ada beban yang berlebihan. Setidaknya pundakmu kini tak lagi berat, hatimu tak lagi patah, senyummu tak lagi dibuat - buat. Setidaknya kau kini sebahagia itu, dengan siapapun orangnya yang bukan aku.

Mungkin suatu saat, ditengah repotnya urusan mahasiswa tingkat akhir, I would questioning my self, akankah kamu merasa kehilangan, do you still need me, will you text me over the phone just for gift me a simple absurd Hi. Sayangnya, aku terlalu mengerti kamu, kamu tak akan pernah menganggapku seperti itu. 
Perih, tapi . . . 
Aku, akan selalu cukup dengan itu.

Mulai saat ini, kita sendiri - sendiri ya.
Akhirnya kita tak perlu lagi berpura - pura menyembunyikan luka. Kau kini bebas berbahagia dan aku bebas berlari tanpa "alasan".
Selamat berbahagia, kamu.
  
Saat itu 4 dini hari, tepat ketika muadzin sedang bersiap, tepat saat saya teringat kamu. anak laki laki bermata coklat, dan merindukanmu secepat kilat, tanpa pertanda, tanpa arti apa apa karena tau rindu ini tak kan berbalas begitu saja. Kita terpisah, saya disini, dan kamu di entah. 

Lucu saat saya bercakap saja belum pernah, tapi sudah merindukanmu sebegininya. Ide menjadi kakak dari seseorang sepertimu membuat saya punya kuat sendiri pada beberapa waktu. Bahwa sebenarnya ada seseorang di entah yang harus saya timang dan jaga, walaupun tak tau bagaimana caaranya. 

Tahun ini, kau berumur 17, tepat november nanti. Merasa bersalah lah saya karena tak sempat menyambangi pusaramu walaupun hanya sekejap. Tidak menyempatkan berdoa pada beberapa waktu dan fokus pada apa yang tertinggal di dunia. Lupa bahwa saya punya adik kecil yang saat ini mungkin saja sedang 'galau - galaunya'. Maafkan karena tak pernah dapat menjadi kakak yang baik untukmu dek. Maafkan karena selama ini terlalu banyak mengeluh tanpa berbuat. Terlalu banyak meminta yang tidak - tidak daripada berbakti pada orang tua kita. Terlalu puas di manja tanpa sadar bahwa saya seorang kakak dan anak pertama. 

Dek, saya lemah ya?. 
Mungkin jika kamu disini saya akan bersandar pada pundakmu karena kau yang lebih tinggi menjulang. Menceritakan segala khawatir akan orang tua dan masa depan yang tak pernah ada habisnya. Bercerita tentang anak laki - laki lain yang sama merepotkannya. Memarahimu karena terlalu sibuk dengan game atau mengejar wanita daripada mengejar tugas sekolah. Saya rindu punya teman bertengkar di rumah, walaupun tak pernah tau akan seperti apa rasanya, tapi sepertinya akan menyenangkan. 

Tulisan ini tak terlalu bagus, rimanya patah. Ya, mungkin ini jadinya ketika seseorang terlalu patah untuk bercerita, terlalu bingung menyusun segala potongan rasa menjadi satu yang kau bisa tau. Tapi ya, saya akan terus belajar menjadi kakak perempuanmu yang paling besar. Yang menjadi panutan, yang tau bahwa saya bukan hidup untuk diri sendiri. Kamu disana, baik baik ya, sampai saya datang dan memelukmu pertama kalinya. 


Someday you might not see me as someone familiar. Someday you might not need me at all. And someday I might be lose all the chances to running in your orbit foolishly. Its okay, and will always be okay, even when someday is coming just soon.

Saya masih ingat kali pertama pindah rumah, dipinggir jalan yang masih terasa asing kala itu, saya menemukan toko buku kecil dan sederhana. Letaknya terpojok di pinggir jalan, sedikit masuk namun terlihat, sepi, walaupun di depannya adalah salah satu universitas swasta yang paling terkenal sepenjuru kota kecil itu. Saat itu rasanya saya menemukan oase dan pengharapan, bagaimanapun sepinya kehidupan baru saya nanti tanpa manusia dan lingkungan - lingkungan yang familiar, sepertinya saya akan baik - baik saja. Seberapa jauhnya saya, tapi buku buku tetap dapat menetramkan pikiran dan membuat saya lupa pada dunia. Rasa - rasanya kala itu saya akan baik baik saja, tak peduli seberapa buruk dan kesepiannya.

Lalu, kehidupan baru saya berjalan. Kala itu saya masih sempat pulang 2 minggu sekali kerumah yang jaraknya 6 jam perjalanan jalur darat. Saya sempatkan beberapa kali menyambangi toko buku pinggir jalan itu jika ada waktu, dan jika ada uang. Ya, walaupun sesekali saya hanya membaca, tapi rasanya tak enak jika hanya numpang dan tak membeli. Toko buku itu memang sepi, biasanya saya hanya bertiga dengan dua pegawai toko, sesekali memang ada pengunjung yang datang, tapi tak begitu banyak walaupun saat itu hari libur. Rasa - rasanya saya mendengar keruntuhan perlahan dari toko buku kecil kesayangan saya kala itu. Tapi saya tak pernah ambil pusing, walaupun bukunya sedikit yang terkenal, walaupun tak banyak buku - buku genre kesukaan saya, tapi ditengah lingkungan baru yang asing, toko itu adalah suatu pelegaan tersendiri yang membuat saya, baik baik saja.

Lalu benar, saya masih merasakan patah hati yang sama ketika pulang dan melihat toko itu berubah menjadi toko baju ala ala remaja. Keruntuhan toko buku saya benar benar terjadi, dan saya tak bisa berbuat apapun. Ya jelas, siapa saya yang seringkali hanya menumpang mencari tentram. Siapa saya yang berhak protes karena buku tergadaikan oleh baju baju trendy anak muda masa kini. Apalah saya yang hanya bisa menerima. Saya pikir, mungkin setelah ini tak kan lagi ada oase ditengah asing yang menenggelamkan. Tapi, saya salah.

Saya tetap baik baik saja walaupun toko itu sudah tak ada. Ternyata saya mulai belajar bagaimana saya hidup dengan ketidaksempurnaan dan kehilangan - kehilangan kecil. Yang bahkan ketika sudah ada toko buku yang lebih besar, lebih nyaman, saya tak lagi merasakan jatuh cinta yang sama.

Toko buku itu tak tergantikan, dan keruntuhannya dapat diterima. Saya, cukup dengan itu.

Karena terkadang, jatuh cinta dan perasaan hanya punya one hit shot and done. tidak ada lagi yang kedua, ketiga, dan keempat. Walaupun kembali dalam bentuk yang terlihat lebih baik, menemukan sesuatu yang dulu hilang dan merasakan hal yang sama seperti dulu lagi, ternyata, tak semudah itu.
Postingan Lebih Baru Postingan Lama Beranda

ABOUT ME

Introverts in disguise. Read keeps me sane, write keeps me awake. Both of them entwined makes me alive.

SUBSCRIBE & FOLLOW

POPULAR POSTS

  • Komedi putar, senja, dan sendu.
  • Adi
  • Blank Space
  • angsana
  • untuk mas

Categories

  • Reviews
  • Stories
  • Unsend Letters

Advertisement

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.

Blog Archive

  • ▼  2026 (6)
    • ▼  Agustus (1)
      • musnah
    • ►  Maret (4)
    • ►  Januari (1)
  • ►  2025 (6)
    • ►  Desember (2)
    • ►  Juni (2)
    • ►  April (2)
  • ►  2023 (4)
    • ►  Oktober (2)
    • ►  September (2)
  • ►  2022 (1)
    • ►  Mei (1)
  • ►  2021 (15)
    • ►  November (2)
    • ►  September (1)
    • ►  Agustus (1)
    • ►  Juli (2)
    • ►  Juni (2)
    • ►  Mei (4)
    • ►  April (3)
  • ►  2020 (46)
    • ►  September (8)
    • ►  Agustus (8)
    • ►  Juli (7)
    • ►  Juni (4)
    • ►  Mei (6)
    • ►  April (5)
    • ►  Maret (7)
    • ►  Januari (1)
  • ►  2019 (28)
    • ►  Desember (11)
    • ►  Juli (2)
    • ►  Juni (4)
    • ►  Mei (9)
    • ►  Februari (1)
    • ►  Januari (1)
  • ►  2018 (21)
    • ►  September (2)
    • ►  Agustus (3)
    • ►  Juni (2)
    • ►  Mei (2)
    • ►  April (2)
    • ►  Maret (2)
    • ►  Februari (4)
    • ►  Januari (4)
  • ►  2017 (62)
    • ►  November (1)
    • ►  September (6)
    • ►  Agustus (2)
    • ►  Juli (2)
    • ►  Juni (5)
    • ►  Mei (7)
    • ►  April (9)
    • ►  Maret (2)
    • ►  Februari (15)
    • ►  Januari (13)
  • ►  2016 (55)
    • ►  Desember (8)
    • ►  November (12)
    • ►  Oktober (10)
    • ►  September (7)
    • ►  Agustus (5)
    • ►  Juli (1)
    • ►  Juni (3)
    • ►  Mei (2)
    • ►  April (4)
    • ►  Februari (1)
    • ►  Januari (2)
  • ►  2015 (26)
    • ►  Desember (5)
    • ►  November (2)
    • ►  Oktober (2)
    • ►  Agustus (1)
    • ►  Mei (1)
    • ►  April (1)
    • ►  Maret (6)
    • ►  Februari (4)
    • ►  Januari (4)
  • ►  2014 (48)
    • ►  Desember (4)
    • ►  Oktober (4)
    • ►  September (1)
    • ►  Juli (2)
    • ►  Juni (4)
    • ►  Mei (8)
    • ►  April (6)
    • ►  Maret (6)
    • ►  Februari (7)
    • ►  Januari (6)
  • ►  2013 (52)
    • ►  Desember (6)
    • ►  November (2)
    • ►  Oktober (7)
    • ►  Agustus (2)
    • ►  Juli (1)
    • ►  Juni (1)
    • ►  Mei (8)
    • ►  April (4)
    • ►  Maret (11)
    • ►  Februari (2)
    • ►  Januari (8)
  • ►  2012 (68)
    • ►  Desember (23)
    • ►  November (5)
    • ►  Oktober (13)
    • ►  September (4)
    • ►  Agustus (2)
    • ►  Juli (1)
    • ►  Juni (1)
    • ►  April (3)
    • ►  Maret (5)
    • ►  Februari (7)
    • ►  Januari (4)
  • ►  2011 (13)
    • ►  Desember (13)

Pengikut

Oddthemes

Designed by OddThemes | Distributed by Gooyaabi Templates