Hellonjo!

Soal cerita melelahkan juga banyak hal - hal yang menyenangkan.


Every co card has its own story.

Assalamualaikum semuaaa!!! How are you all doing? everythings going good? or just simply bad as hell? lol, everyone had that. For me, it has been half hell, half heaven. Let see how that was going. 

Satu kepanitiaan telah selesai, and another comes up. Sudah kurang lebih dua bulan ini gue bergerak dalam satu kepanitiaan fakultas. Kepanitiaan dengan acara yang sederhana, melombakan antara himpunan mahasiswa satu dengan lainnya dalam beberapa lomba di cabang olahraga dan seni. Lombanya banyak, mulai dari futsal, sepak bola, kejar mantan, lomba siapa yang paling cepet dapet htsan, eh maap . . . . salah. dan masih banyak lomba menarik lainnya. Lombanya biasa aja, just like ordinary championship out there. Yang lebih seru justru ada di cerita dibalik kepanitiaannya.

I might share you later, but one thing for sure, this co card definitely have a story. Story about struggling and to learn to expect the unexpected. 

Selfie dengan badan yang rasanya masih ngilu ngilu lucuk

Hey, apa kabarmu?. Saya tau saat pertama kali membacanya maka kau akan bertanya tanya siapa saya, apa yang akan saya tulis, dan apa tujuan saya. Sungguh, tanpa mengenalmu cukup lama saya sudah tau kamu seorang pemikir, sampai saya berpikir dua kali dan akhirnya memutuskan untuk memainkan sebuah permainan dan mengajakmu ikut di dalamnya. Permainan surat kaleng. Dimana saya menjadi seorang misterius di kehidupanmu, berlagak sok puitis dengan mengirimkanmu surat kaleng, dan kamu yang kebingungan sampai paragraph terakhir. Sungguh nikmati saja, baca saja sampai akhir dan kamu akan mengerti segalanya.

Saya sudah cukup lama tak menulis lagi, ini adalah tulisan pertama saya di tahun ini, dan tulisan pertama saya yang terhubung dengan seorang kamu. Jangan pikir ini surat cinta, saya bukan pencintamu, jadi . . maaf saja hahaha. Dan saya tau kamu sudah menjadi pencinta orang lain, dan hal itu tak menghentikan saya untuk menjadi pengagum seorang kamu. Ceritakanlah pada gadis itu, saya tak keberatan, dan katakanlah kepadanya tak perlu risau, toh saya hanya daun daun kering di pekarangan yang tak pernah kau tau ada.

Banyak hal yang ingin saya ceritakan sebenarnya. Bagaimana kita bertemu, bagaimana sampai akhirnya saya menyanjungmu sampai sebegini memalukan. Tapi itu tak akan terjadi, karena itu jelas adalah kekalahan telak hahaha. Dan saya tak akan memberikan kamu kemenangan semudah itu, jadi mari kita mulai lagi. Mungkin saya hanya akan memberi kamu satu tanda kecil agar membuat permainan ini menjadi adil. Saya mengenal kamu, dan kamu mengenal saya. Dan satu hal yang membatasi kita adalah, saya berada di luar lingkaranmu, pun begitu sebaliknya, entah siapa yang berada terlalu jauh, atau sepertinya memang sesederhana circle pertemanan kita yang berbeda. Tapi itu tak jadi masalah. Saya menikmati menjadi pengagummu yang misterius, dan kamu, seperti anak laki laki yang lain, akan secara hati berjingkrak jingkrak mendapat surat semacam ini. Kita berdua aman. Kamu akan selalu menjadi kamu dalam bayangan saya. Dan saya adalah pengagummu yang egois karena hanya menikmati gambaranmu yang tanpa cela. Karena kamu adalah bintang. Bersinar hanya dari kejauhan.

Dan terakhir, sebagai seorang pengacau singkat, saya hanya berpesan, kemenangan saya ada di dalam kepalamu. Tepat ketika kau tak sanggup melupakan seseorang yang tak pernah mempunyai nama tapi menyentuh rasa ingin tahumu terlalu dalam. Bercokol terus dalam kepala sampai akhirnya mengira ngira “Apakah dia . . . Ah mungkin dia, atau dia?”. Sampai hanya semesta yang akan tertawa melihat kau mengira ngira dan pada satu tebakan ternyata benar tapi tetap saja kamu menjadi manusia yang maha bingung di hari itu. Maka terimakasih, senang bermain denganmu. Semoga pada permainan selanjutnya kita sama sama sadar, bahwa ternyata jarak kita tak sejauh itu. Selamat liburan! J

Now, if you are still wondering, yes, it was me. congratulation! games are all over!
ealah, ternyata sekarang kita bisa main bersama lebih sering. semesta itu humoris. hahaha. dan lo ternyata . . . ah sudahlah.
"I'll never be your good Plan B"
Kalau saya sih tak apa walau hanya memelukmu pada sepenggalan sapa di pagi hari

Kalau saya sih tak apa, ketika segala kata rindu hanya terucap dan menguap begitu saja ketika kamu ada

Tak apa pula untuk saya menghabiskan khawatir akan kamu, ketika kamu ingin pergi, hanya dengan satu pesan singkat berujar "tiati bray haha"

Lalu hanya mendoakanmu, percaya kepada Yang Maha memberikan rasa. bahwa pesan saya kelihatan bercanda, tapi perasaan, sebenarnya tak pernah sebercanda itu

Kecewa pun tak apa, ketika harap saya kosong ketika ia ada

Tapi tenang saja, senang berlebih pun pernah, ketika kamu percaya, mempercayakan segala ceritamu tentang dia, tentang kalian. Setidaknya, kamu percaya saya.

Ya, kepercayaan sebagai teman dekat. Sekedar teman semu untuk tumbuh bersama. saat ini. dan hanya saat ini

Semuanya tak apa, tapi kamu . . . .

Apakah tak apa, jika dicintai sampai sebegitunya? Oleh satu - satunya gadis yang kamu percaya tak akan pernah punya rasa kepada teman dekatnya.


-October 30th 2015-
About 7,5 hours left to be twenty, semoga ini yang terakhir. Semoga setelah ini, tak ada tokoh seperti kamu, atau cerita seperti kita. Semoga kali ini Allah bersedia mengabulkan doa yang satu ini, Bolehkan?
It's been a while . . .

No

Thats a bullshit

Udah lama banget gue nggak nulis disini. Assalamualaikum semuaaaaa!!!!

gue kangen banget kangen rasanya untuk nulis dan berbagi cerita lagi sama kalian. Sama entah diamanapun kalian berada. Tons of sorry because there's no update for like months back then. Hidup gue sekarang cukup riweuh. Banyak banget hal yang terjadi yang akhirnya hanya terlewat begitu saja. Kebiasaan, karna rasanya kadang terlalu sakit atau terlalu menyenangkan, atau sekarang terlalu melelahkan bahkan untuk membaginya berapa menit kedalam jurnal ini. Pun gue maklum kalau sekarang sudah jarang readers yang akhirnya melihat tulisan gue. Mungkin karena memang sudah jarang sekali update, atau ya, karna simply, life change. Semua orang tumbuh dewasa, berubah, punya urusannya masing - masing and just ain't got time for fucking care about other people life. Thats normal, so do I. Tapi lagi - lagi, rasanya memang ketika pertama kali membuat blog ini, tujuan gue bukan jadi attention whore or something superb writer. No, gue masih jauh dari itu, tapi gue memang ingin memiliki satu space yang gue bisa cerita semuanya. Dimana gue ya gue, tanpa harus pura pura bahagia, pura pura dewasa, pura pura ceria, pura pura tidak merasakan apa apa ketika bahkan semuanya sudah tercecer nggak beraturan. Suatu hari, ketika gue sudah dewasa, gue akan membacanya dan tertawa, ternyata gue pernah sebodoh itu, ternyata gue pernah sekuat itu.

Ya. ini album digital dari momen momen terpilih hidup gue. I might save my future self, or someone heart, or just simply fulfill the urge to be in my old self, with all of the circumstances.

But let's continue the story by the way.

Cerita kali ini ditulis dengan kata Alhamdulillah di setiap tarikan nafas yang gue buat. No, gue nggak baru aja dapet jackpot. Pun gue nggak ketiban rejeki di samperin adam levine di depan kosan. Gue cuma simply baru menyadari, di atas motor, sore hari, bahwa banyak sekali nikmat yang Allah berikan selama ini, dan betapa gue adalah manusia yang sering kali menutup mata. 

Awalnya, again, entah ke yang berapa kali, i love someone who never loved me back. Patethic ya? indeed. I know him more well than I know my self, especially at the point that after all this time, I actually have a feeling for him. Tapi, lagi lagi, bukan itu. Untuk yang satu itu, gue udah biasa. Udah sering sampai rasanya terlatih untuk menjalaninya secara biasa biasa saja. I even managed to be his friends, casually. But the thing is, He love other girl. Ya, indeed that hurt me, but again, I'm well trained for that. The thing is, whats that left is just me and my pathetic self.

Pathetic bukan karna sayang sama orang, patethic karena ketika sayang sama orang lain, gue hampir kehilangan diri gue. Somehow gue merasa nggak cantik, nggak berbakat, nggak ada artinya. Kenapa? yes, dia lebih memilih orang lain, tanpa pernah liat ada gue yang selama ini kayakanya nggak jauh jauh amat. Tanpa liat kalau selama ini, gue yang mendengarkan segala ceritanya dia tentang dunia dan segala masalah yang dia punya. I'm downgrading my self at that time, apalah gue dibanding cewe itu, yang cantik yang dipuja seluruh khalayak ramai. Lalu ujung - ujungnya gue malah ngedumel sama Yang Maha Kuasa. Kenapa rasanya semua yang gue lakukan bahkan nggak pernah cukup, untuk at least, make someone loved me that much. I miss being loved, sama seorang cowok yang kayak gitu. Gue nggak pernah mengkonkritkan itu sebagai suatu doa, gue selalu takut untuk mendikte Tuhan, berbicara tentang apa apa yang gue inginkan secara memaksa. Toh siapa gue yang cuma manusia kecil. Tapi ya rasaya, kenapa salah satu keinginan gue lagi lagi tidak tercapai.

And . . . I'd been thinking.

Dibalik satu doa yang rasa - rasanya nggak pernah dikabulkan sama Yang Maha Kuasa, ternyata ada banyak doa - doa kecil yang rasanya sepele yang Dia kabulkan. Semuanya, semuanya, benar benar nggak ada yang salah. Nggak ada satupun yang membuat gue buruk dan merasa rugi. Salah satunya, masih kuat dalam ingatan gue 2 tahun lalu ketika jadi Maba. Melihat salah satu senior yang membuat gue kagum karna segala kata katanya soal mahasiswa, yang membuat gue nyeletuk dalam hati, coba gue bisa kenal sama dia. Dan nggak butuh waktu satu tahun, akhirnya gue kenal, kita satu kepanitiaan, dan gue belajar banyak hal dari dia. Nggak cuma itu, bahkan gue kenal sama banyak orang yang nggak pernah gue sangka sebelumnya, yang lagi lagi, memberikan segala ilmu tentang hal hal penting maupun sepele. 

even now I can say that I even managed to be him. Berbagi spirit untuk menjadi mahasiswa yang mahasiswa dengan segala idealisme yang gue rasa harus selalu ada di dalam diri kita. Sebagai mahasiswa, sebagai manusia. Dulu, doa itu rasanya sepele, tapi sekarang itu jadi sesuatu yang nyata. Menampar gue bahwa Allah benar benar mendengarkan, bahkan sampai ke doa yang rasanya nggak penting - penting amat.

Terlepas dari itu, masih banyak lagi kesempatan yang akhirnya datang begitu saja tanpa gue serius meminta. Semuanya hanya berawal dari celetukan gue yang nggak tau apa apa, kesempatan jadi asisten lab, jadi guru les privat, jadi juri di salah satu lomba, ikut lomba debate nasional walaupun hanya jadi semifinalist novice, jadi seseorang yang gue dulu inginkan dan masih banyak lagi. Hal hal yang dulu rasanya nggak mungkin, tapi dengan mudahnya Allah membuat satu persatu angan jadi nyata. sampai sering kali gue berpikir, Allah itu ingin sombong, menunjukkan bahwa memang hanya Dia Yang Maha Ajaib, Maha Kuat, maha segala galanya, dan ya, cuma Dia yang berhak menyombongkan diri akan hal itu, karena cuma Dia yang bisa membuat nyata hal hal yang rasanya . . . . impossible. 

And it slap me in the face.

Untuk permintaan - permintaan sepele saja Dia kabulkan, berarti ada sesuatu ketika Dia tidak mengabulkan permintaan - permintaan serius gue. Bukan Dia tidak mendengar, bukan pula mengacuhkan, that means, He saved me from something I don't know. Mungkin karena memang sesuatu itu buruk, mungkin karna memang ada hal baik lain yang telah Dia siapkan. Dan kenapa pula gue harus bersedih ketika segala permintaan tentang cinta dan berharap untuk jadi "cantik" tidak atau belum dikabulkan, toh Dia telah mengabulkan ratusan doa sepele gue, bahkan doa yang paling penting, yaitu dicintai tanpa gue pernah sadari. Ya, gue dicintai oleh Dia, melalui telfon telfon Bapak yang sering kali tak terjawab, doa mama yang selalu disimpan dalam diam, kangen yang tersirat dalam status status temen gue di Tangerang, dan marah - marahnya temen - temen gue di Purwokerto ketika gue lupa makan, atau simply, karna udah lama nggak keramas atau beres beres kamar hahaha.

Gue pasti manusia terbodoh jika tidak pernah merasa cukup pada cinta yang sepowerful itu. Maka, nikmat Tuhanmu mana lagi yang kau dustakan?.
Terus saja begini. Saya hanya satelit kecil di langit luasmu, mengitari dengan mata yang buta dan orbit yang tak lagi mulus.

Terus saja begini. Saya hanya pelengkap didalam segala pidatomu, gap filler, yang selalu terbawa tapi tetap, mudah saja digantikan.

Terus saja begini. Saya adalah tokoh yang penonton tak akan sadar ketika dia hilang, dan menjadi benar saja ketika tersakiti.

Terus saja begini. Saya adalah pujangga ulung, yang merangkai segala kata rindu di surat yang tak akan pernah kau baca.

Terus saja begini. Saya si peminum racun yang tersusun dari setiap perhatian dan perasaan yang saya telan bulat - bulat. Meringis, tapi harus.

Terus saja begini. Saya yang belaga jadi aktor, berbohong dengan topeng profesionalitas.

Terus saja begini. Kesakitan sendiri di malam malam hari.

Memutuskan segala cakap tak perlu. Menghindari segala pertemuan tak penting. Memangkas setiap rasa yang tumbuh subur. Karena saya semakin mengerti, beberapa pahit ada untuk menggarisbawahi manis, beberapa kemungkinan memang tak bisa dibuktikan eksistensinya. dan beberapa manusia, cukup puas jadi pemeran sampingan. Bukannya tak berusaha, karena lagi - lagi pengertian membenturkan saya akan nyata, bahwa dari awal semuanya memang soal sakit, itu hanya masalah waktu dan cara. Dan saya, hanya berusaha mengambil setitik bahagia yang paling mungkin dari segala sakit yang tersedia. 

Semesta, bahkan untuk ini, cukup simpan saja. tanpa penyampaian. Simpan saja ini sebagai satu satunya rahasia kecil diantara segala rahasia tentang sakit manusia. Semesta, simpan ini seperti saya memegang serpihan kecil yang bahkan ia tak pernah tau ada, menyembunyikannya dalam kantung terdalam dari baju hangat yang tak akan pernah saya pakai. 
Gue udah lama banget rasanya nggak nulis disini ya hahaha. Oia, Assalamualaikuuum gengs!. How's life? how's love? hahaha. Semoga keduanya baik baik saja di kehidupan kalian. Ya ya ya sabar, gue tau kalian ngebet bingitz untuk tau segala hal yang terjadi pada kehidupan gue. Yaaa bukannya geer atau merasa ngartis, whether gue artis atau nggak, gue rasa memang kita, manusia, harus mengakui bahwa terkadang, atau sering kali, menemukan bahwa mendengar cerita kehidupan orang lain adalah suatu hal yang menyenangkan. Syaratnya cuma satu, kita cukup tau aja, masalah memberikan solusi itu urusan kedua. Iya toh? haha. 

Pun bukannya gue mau menjelekkan kehidupan sendiri, karena menurut gue segala hal yang terjadi nggak ada yang jelek. Semuanya terjadi untuk suatu tujuan. Pasti ada maksud tertentu. Contohnya, duluuu sekali gue pernah galau setengah mampus ketika seorang teman bercerita, bahwa dia bertemu dengan mantan gebetan legendaris gue di stasiun, sedang mengantarkan mantan calon pacar legendarisnya dia. Duh sakit. Sedangkan gue pada saat yang bersamaan pun sedang berada di stasiun yang beratus ratus kilometer jauhnya, sama, kembali ke kota perantauan untuk menimba ilmu. Tanpa diantar oleh, let's say, lelaki spesial. Duh, sakit kuadrat. Tetapi pada akhirnya ditengah kegalauan gue tetap memutuskan untuk beranjak dan berjalan ke arah rel kereta api. Nggak nggak, gue nggak mau bunuh diri kok, apalagi terapi listrik, serius, gue cuma mau naik kereta, secepatnya sampe kamar dan tidur, karena nggak sanggup menerima kenyataan bahwa ternyata gue masih aja baperan (SAAT ITU, iya, keterangan waktu ini memang penting banget, agar ketertiban rakyat dan khalayak ramai tetap terjaga). 

Lalu naiklah gue ke kereta. Dengan wajah linglung akhirnya gue masuk gerbong dan seketika kaget. Sejauh mata memandang adalah kepala kepala plontos dengan rambut minimalis, berbadan tegak, dan memakai seragam kedinasan coklat coklat. Dan saat itu gue seketika tersenyum lugu ala gadis desa ngeliat perjaka kembang kampung sebelah. Puji syukur langsung gue panjatkan, emang Tuhan tau aja gimana caranya mencuci mata dan hati gue. Ciegitu. Dan dalam pencarian kursi, gue berdoa lamat lamat, semoga gue duduk dikelilingi salah satu mas mas macho dan bermasa depan cerah ini MUAHAHAHAHA *evil devil laugh*. Eh ternyata bener lagi!, yah tapi gue ternyata nggak begitu seneng. Duh repot deh harus jaga image, tidur nggak enak, mbok tiba tiba gue keceplosan mangap tanpa sadar kan nggak lucu, image hayati mau ditaro dimana? di saku kegedean, di idung nanti dikira upil. Yaudah gue telen aja, duduk tegak, leher kaku, tapi image aman, jadi mari kita ucapkan Alhamdulillah. 

Lanjut. 

Sampai lamaaa sekali, sekitar 1/4 jalan lagi sebelum kita sampai purwokerto, kedua mas itu memulai percakapan. Sebenernya kita memang beberapa waktu sudah ketawa bersama (mungkin cengengesan absurd tapi tetep jaim bersama) karena tingkah salah satu anak kecil yang penasaran sama kepala plontos mereka, dan dengan semena mena nge-plok plokin (maafkan atas kesalahan diksi, sumpah, gue frustasi untuk memilih mana kata yang paling tepat untuk menggambarkan kejadian plok plokan luchuk di ubun ubun itu) jidat dan ubun ubun dua taruna dibelakang kursinya. Kalo gue nggak jaim, kalo gue nggak sendirian, mungkin gue nggak harus mules karena nahan ketawa, karena adegan itu sebenernya lucu banget, tapi apa daya, hayati lemah kakanda, aszek.

nah, lanjut.

Singkat cerita akhirnya kita basa basi ala orang tua. Dari mana mbak? mau kemana? kuliah? dan pertanyaan semacamnya yang membutuhkan fake smile dengan keanggunan tingkat dewa sepanjang percakapan. Well, mereka nggak boring, tapi jawa abis. Mereka berasal dari Surabaya, lelah, dengan tingkat keteposan sudah tahap akut. Iya, kereta itu ujungnya memang surabaya dan berhenti di Purwokerto, which is sekitar 12 jam harus duduk di atas kursi yang katanya busa dengan senderan punggung hampir 90 derajat. Tapi after all mereka menyenangkan. Gue banyak cerita soal bagaimana mereka bisa masuk Akademi Polisi di purwokerto itu. Sampai tibalah kami di stasiun purwokerto. Ketika gue beranjak turun, wah salah satu yang sedari tadi memang paling aktif ngomong langsung berdiri di belakang gue. Gue merasa aman, selayaknya artis yang kemana mana di temenin body guard. Wah boljug nih kata gue. And you know what?! yep! dia minta nomer gue. Dengan pertimbangan panjang dan penuh perhitungan akhirnya gue kasih aja, wkwkwk. Toh kalo nggak bener nggak usah dibales, kalo udah ekstrem tinggal di block. habis perkara. Tapi yang pasti somehow gue seneng banget. Malamnya dia sms gue, dan mentelfon gue beberapa kali tapi nggak pernah keangkat. Yaudah. 

Menurut lo cerita ini akhirnya bakal apa?

Nggak kok

Kita nggak jadi makin deket

Sahabatan nggak

Apalagi jadian

Komunikasi itu akhirnya berhenti kurang dari seminggu. Iya, cepat datang dan cepat pergi. Tapi saat itu gue nggak sedih, gundah galau gulana. Sama sekali nggak. Cuma somehow, gue merasakan bahwa memang kehadiran lelaki taruna itu ditujukan hanya untuk pengalihan. Untuk obat dari luka gue yang sebenernya nggak ada apa apanya. Karena memang, setelah masuk ke gerbong itu, lalu bertukar nomer, saat itu, bayangan si mantan legendaris nggak muncul lagi. Otak gue melupakannya dengan satu pemahaman yang timbul bahwa mungkin gue yang harus melihat lebih luas. Sadar bahwa masih banyak lelaki yang lebih worth itu, lebih keren dan lebih segalanya daripada si mantan gebetan legendaris itu. Dan gue nggak perlu sedih hanya karena dia lebih memilih orang lain, yang pada saat itu, kualitas dirinya tak henti hentinya membuat gue membandingkan. Isu soal cinta sudah berubah menjadi isu tentang bagaimana kualitas diri gue. Fisik maupun kepribadian. Karena merasa tak dipilih, segala hal berubah menjadi serius, kesedihan berlipat ganda, dan gue tenggelam pada pencarian jawaban soal pertanyaan "Apa sih positifnya gue". Kejadian dengan si mas mas taruna yang entah sekarang nasibnya kayak apa, pun sebenernya nggak ngebantu banyak. Tapi paling nggak, saat itu gue bisa berfikir bahwa, dengan apa adanya gue, toh gue masih worth it. Masih ada lelaki lain diluar sana yang nggak kalah keren, yang masih aware dengan kehadiran gue, dan pada sore itu menjadikan gue sebagai satu satunya pilihan untuk menjadi gadis yang disimpan nomor handphonenya. Gue masih dipilih walaupun pada saat itu gue belum bisa menemukan jawaban dari pertanyaan paling besar. Seenggaknya gue memaafkan dan itu cukup.

Kejadian itu benar benar menunjukkan kepada gue bahwa tak pernah ada kejadian yang tanpa hikmah, pun pertemuan hasil ketidak sengajaan. Semuanya punya maksud, semua orang punya arti, cuma masalah manusia yang kadang kepikiran maksudnya apa nggak hahaaha. 
Postingan Lebih Baru Postingan Lama Beranda

ABOUT ME

Introverts in disguise. Read keeps me sane, write keeps me awake. Both of them entwined makes me alive.

SUBSCRIBE & FOLLOW

POPULAR POSTS

  • Komedi putar, senja, dan sendu.
  • Adi
  • Blank Space
  • angsana
  • untuk mas

Categories

  • Reviews
  • Stories
  • Unsend Letters

Advertisement

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.

Blog Archive

  • ▼  2026 (6)
    • ▼  Agustus (1)
      • musnah
    • ►  Maret (4)
    • ►  Januari (1)
  • ►  2025 (6)
    • ►  Desember (2)
    • ►  Juni (2)
    • ►  April (2)
  • ►  2023 (4)
    • ►  Oktober (2)
    • ►  September (2)
  • ►  2022 (1)
    • ►  Mei (1)
  • ►  2021 (15)
    • ►  November (2)
    • ►  September (1)
    • ►  Agustus (1)
    • ►  Juli (2)
    • ►  Juni (2)
    • ►  Mei (4)
    • ►  April (3)
  • ►  2020 (46)
    • ►  September (8)
    • ►  Agustus (8)
    • ►  Juli (7)
    • ►  Juni (4)
    • ►  Mei (6)
    • ►  April (5)
    • ►  Maret (7)
    • ►  Januari (1)
  • ►  2019 (28)
    • ►  Desember (11)
    • ►  Juli (2)
    • ►  Juni (4)
    • ►  Mei (9)
    • ►  Februari (1)
    • ►  Januari (1)
  • ►  2018 (21)
    • ►  September (2)
    • ►  Agustus (3)
    • ►  Juni (2)
    • ►  Mei (2)
    • ►  April (2)
    • ►  Maret (2)
    • ►  Februari (4)
    • ►  Januari (4)
  • ►  2017 (62)
    • ►  November (1)
    • ►  September (6)
    • ►  Agustus (2)
    • ►  Juli (2)
    • ►  Juni (5)
    • ►  Mei (7)
    • ►  April (9)
    • ►  Maret (2)
    • ►  Februari (15)
    • ►  Januari (13)
  • ►  2016 (55)
    • ►  Desember (8)
    • ►  November (12)
    • ►  Oktober (10)
    • ►  September (7)
    • ►  Agustus (5)
    • ►  Juli (1)
    • ►  Juni (3)
    • ►  Mei (2)
    • ►  April (4)
    • ►  Februari (1)
    • ►  Januari (2)
  • ►  2015 (26)
    • ►  Desember (5)
    • ►  November (2)
    • ►  Oktober (2)
    • ►  Agustus (1)
    • ►  Mei (1)
    • ►  April (1)
    • ►  Maret (6)
    • ►  Februari (4)
    • ►  Januari (4)
  • ►  2014 (48)
    • ►  Desember (4)
    • ►  Oktober (4)
    • ►  September (1)
    • ►  Juli (2)
    • ►  Juni (4)
    • ►  Mei (8)
    • ►  April (6)
    • ►  Maret (6)
    • ►  Februari (7)
    • ►  Januari (6)
  • ►  2013 (52)
    • ►  Desember (6)
    • ►  November (2)
    • ►  Oktober (7)
    • ►  Agustus (2)
    • ►  Juli (1)
    • ►  Juni (1)
    • ►  Mei (8)
    • ►  April (4)
    • ►  Maret (11)
    • ►  Februari (2)
    • ►  Januari (8)
  • ►  2012 (68)
    • ►  Desember (23)
    • ►  November (5)
    • ►  Oktober (13)
    • ►  September (4)
    • ►  Agustus (2)
    • ►  Juli (1)
    • ►  Juni (1)
    • ►  April (3)
    • ►  Maret (5)
    • ►  Februari (7)
    • ►  Januari (4)
  • ►  2011 (13)
    • ►  Desember (13)

Pengikut

Oddthemes

Designed by OddThemes | Distributed by Gooyaabi Templates