Hellonjo!

Soal cerita melelahkan juga banyak hal - hal yang menyenangkan.


Saya sudah lama tak menulis. Pada malam yang semakin ke tengah, saya menjadi berkaca pada banyak hal. Saya tak tahu apa yang harus saya tuliskan, tak mampu memilih kata mana yang patut dan patut untuk diucapkan. Bingung akan perasaan mana yang harus lebih di dengar diantara lainnya. Bingung akan siapa saya akhir akhir ini. Jadi biarkan saja tulisan ini mengalir, bagaimana saya bercerita kepada sang malam tentang hidup gadis yang kelewat biasa dan bermimpi menjadi luar biasa.

Kepada sang malam saya memeluk sepi ini erat erat. Membiarkan sarinya meresap dalam setiap pori tubuh. Ikut dalam aliran darah, membanjiri diri dengan segala rasa soal sepi dan sakit yang hadir bersisian. Sepi tak pernah semenusuk ini. Saya kembali pada momen itu. Ada seorang anak lelaki. Datang membawa bunga, tatapannya lekat pada helaian kelopak yang jatuh perlahan dalam perjalanannya menuju saya. Saya tanpa usaha hanya duduk manis tak berdosa. Saya terlalu lelah untuk sekedar melangkahkan kaki menujunya, atau bahkan sekedar mengucap kata semangat agar lelahnya selalu gugur dan jatuh begitu saja ke tanah. Saya hanya diam. Saya terlalu lelah untuk menemukan sehingga pada akhirnya ditemukan adalah pilihan atas segala pilihan yang sebenarnya tak ada.

Dalam tatapannya lelah menumpuk sampai setinggi gunung, tapi senyumnya tetap melekat. Tatapannya masih sehangat biasa. Dan dalam hangat itu mulai ada dinginnya jenuh yang perlahan tumbuh tanpa terkendali. Ia perlahan menggorogoti lelaki saya. Lelaki saya jatuh karena sakitnya. Kelopak merah itu berjatuhan. Bunga bunga dalam genggamannya seolah menangisi tetes darah karena merahnya berserakan di atas hitamnya tanah. Saya, masih saja duduk mengamatinya lekat.

Saya takut ikut jatuh dalam usaha menariknya berdiri

Saya takut ia berbalik pergi, dan hanya punggung yang dapat bercerita bagaimana ia sadar, putri yang diimpikannya ternyata tak seindah kelihatannya. Saya takut saya menjadi gunung yang ia menyesal telah mendakinya

Saya akhirnya tetap diam. Sekali lagi menunggu untuk ditemukan. Dalam hati merapal doa semoga hatinya diberi kuat untuk sampai tepat di depan saya.

Sosoknya berusaha bangun, mencoba berdiri pada dua kaki. Tatapannya kini lelah, mempertanyakan segala tujuannya berlari selama ini. Tatapannya meminta jawaban, dan kakinya hanya tinggal menunggu aba aba. Entah maju dengan segala sakit, atau berbalik dan melepaskan. Ia meminta jawaban, mataku melihatnya nanar.

Aku takut

Aku takut

Dan kupejamkan mata, menghilangkan sosokmu yang tinggi dari pandangan. Membiarkanmu menghilang di tengah gelap. Aku tak dapat memberi jawaban, bahkan untuk yang kesekian kali.

persis karena kala itu ketika akhirnya aku membuka mata dan melihat bayang punggungmu yang tanpa aba aba semakin mengecil. Saat itu kau memilih pergi meninggalkan saya dan seikat bunga tergeletak di tengah jalur yang tadinya adalah jalanmu. Memilih menyerah karena beratnya diluar kuasa. Dingin yang entah darimana mulai meresap ke dalam tulang, lengan lenganku memeluk lutut yang terteku kaku, mereka mencari hangat yang tiba tiba hilang. Hangat yang sama dengan senyummu senja itu. Tubuhku terguncang, bergoyang depan dan belakang. Aku terisak menahan takut, menahan kalut, menahan sedih bagaimana bahkan sampai kau berusaha aku masih saja tak ingin menyapa. Tak ingin memberi dukungan ketika kau bahkan telah memberikan segala usaha. Saya benci ketidakberdayaan saya dalam memilih.

Dingin yang datang malam ini sama persis seperti itu. Bedanya kali ini tak ada lagi isak, karena bahkan air mata sudah terlalu jenuh menemani saya pada malam malam semacam ini.
Jadi dewasa itu nggak hanya soal kita yang makin mengerti dan menerima setiap alasan atas segala pilihan yang dijatuhkan, tapi juga mengerti bahwa terkadang kita bukanlah yang dipilih karena alih alih tak ada lagi pilihan lain ketika faktanya, pilihan lain sebenarnya masih sangat mungkin  
Heeey buddies! Long time no write eh?. Sudah sangaaaat lama sepertinya saya tidak membagi cerita disini. Dan seperti kebingungan yang selalu datang setiap kali saya kembali dari rehat menulis yang panjang, kali ini pun begitu, jadi maafkanlah :")). Tidak sebegitu bingung sebenarnya, karena kali ini, dalam hati, saya tahu apa yang akan saya ceritakan kali ini. Satu perjalanan yang mungkin saja hanya satu chapter yang akhirnya berlalu dari satu novel tebal kehidupan saya, tetapi tetap saja tak akan terlupa, yaitu . . . Perjalanan saya ke kota sumpek tapi ngangeni yang dulu saya sebut rumah, dan saya berharap masih ada rumah disana. Setidaknya itu yang ada di kepala ketika diri ini berada di bis antar kota.

Dalam keberangkatan, and not to mention, kesendirian, lol, saya tak banyak berpikir, karena hampir seluruh perjalanan saya habiskan dengan tidur lelap karena obat anti mabok langganan, nah another lol. Jangan harap saya akan berpikir banyak dan merenungkan sesuatu yang terkesan bijak karena dalam pikiran saya hanyalah SENANG!. Setelah kurang lebih 12 jam saya akhirnya sampai di kota tercinta, segera disambut dengan hujan dan another classic things and not i miss is . . . banjir. Jalanan perumahan itu semakin tak terlihat ditelan hujan deras semalaman, meninggalkan ranjau ranjau batu dimana mana. Saya pikir setelah ditinggalkan kurang lebih 2 tahun akan ada keajaiban pada jalan masuk ini, ternyata keajaiban itu hanyalah mitos. Dan bertarunglah ojek saya jam 4 pagi di jalanan perumahan. 

Sampai di depan rumah seorang sahabat dengan baju yang kering semi kuyup dan beraroma bis. Saya hanya tak kuat melihat kaca dan berniat untuk langsung mandi saja. "Assalamualaikuum . . . Asslamualaikum . . ." Sudah saya coba dari suara bak Inayah sampai ke Rambo, tapi tetap saja tak ada seorang pun peghuni rumah yang kunjung keluar dan membukakan manusia semi gembel kedinginan ini. Setelah 15 menit, handphone sahabat saya yang kebonya sudah tak terbantahkan lagi akhirnya aktif. Gerakan 1000 Ping pun dijalankan dan keluarlah dia dari pintu rumahnya. Membukakan saya dan sedikit kaget karena akhirnya gadis slebor ini bisa juga sampai di rumahnya dengan selamat. Tanpa memperdulikan aroma bis antar kota kali itu, langsung saja saya memeluknya, pertemuan pertama kali yang  . . . . . . biasa saja (Maaf membuat kalian anti klimaks, LOOOL). Kami memang bukan tipe romantic buddies yang segalanya harus dirayakan dengan tangisan dan pelukan teletubbies. Kami hanya selalu tau bahwa satu sama lain akan selalu ada, tanpa perlunya ada kata atau kehadiran maupun air mata. 

Ibunya pun segera menyambut saya, masih sama ramahnya dengan beberapa tahun lalu terakhir kali bertemu. Alhamdulillahnya saya dan keluarga sahabat memang selalu baik, mereka telah mempercayakan anak - anak culunnya jika kami bermain walaupun tetap saja, kebodohan yang sama selalu saja terulang. Ia segera menyiapkan tempat tidur dan menyarankan kami untuk melanjutkan tidur karena hari masih gelap, tapi seperti semua teman lama yang sudah lama tak bertemu, maka kami habiskan subuh itu dengan cerita yang telah terlewati sampai akhirnya kami sama sama terlelap dan bangun dengan kepala pusing. Seperti dua orang yang mabuk karena menyesap cerita abg terlalu banyak.

Dan hari pertama di Tangerang pun dimulai . . . .
Sometimes i come to hate you. Not because the way you left us with a big reason which called Chasing a Dream, but when you did that, you also put a big burden that i can't handled . . . alone. And can i say? . . . . it estrange me from my own Chasing a Dream. Yep. one that i always know, you can not always hope such a big understanding from the others, that sometimes, they just simply get a choice and left us without choice.
Terus saja kamu berlari, dari satu hal ke hal lainnya. Berpikir bahwa hidup tak boleh itu - itu saja, nyaman adalah hal yang sakral yang tak dapat dengan mudah ditemukan pada satu hal. Pencarian pada nyaman hanyalah satu perjalanan yang tampaknya pantas saja jika dilalui dengan pencarian, loncatan, pelarian, akan satu hal dan hal lainnya. Tapi sampai suatu saat kamu sadar, bahwa larimu sama saja seperti jogging kita setiap pagi di gelanggang olahraga, sampai lelah dan nafas terpatah - patah, kita tetap saja di trek yang sama, lingkaran yang sama. Tak berpindah satu pintu sekalipun. Tak ada perbedaan, kamu tak akan mendapat pengalaman lain selain mencoba hal baru, lupa, bahwa hidup bukan hanya sekedar membuka pintu, tetapi juga bertahan. Bertahan pada pilihan sendiri ketika situasi tak lagi mudah dan jelas, ketika situasi membuat kamu ingin berlari lagi, memulai satu hal yang baru, catatan polos. Lihat kan? kamu akan kehilangan esensi dalam perjalanan, bahwa yang tersulit tak hanya memilih jalan yang kelihatannya tepat, tapi juga bertahan pada pilihan yang tadinya terlihat tepat. Memperbaiki. Menciptakan nyaman sendiri ditengah kacau, karnea sebenarnya, bertahan adalah hal tersulit daripada memilih.




And one more lesson you got from listening to another Dit.
Apa kabar kamu? saya menulis lagi untuk kamu di penghujung hari. Rindukah kau akan sapaku di awal percakapan kita? rindukah kau akan satu dua hal tak penting yang kita diskusika?. Saya tak rindu, hanya saja ketika melihat ke belakang, sya abaru sadar, kita telah berjalan jauh dari hari itu. Sudah banyak hal yang terlewat dan tak terbahas dalam percakapan kecil kita. Banyak hal yang akhirnya menydarkan saya bahwa, hidup saya sepenuhnya tak lagi dibagi dengan seorang kamu. Begitu juga sebaliknya, saya tak tau lagi apa apa yang saaat ini kau perjuangkan, mimpikah? cintakah? atau sekedar pengakuan ari orang irang?. Saya tak lagi menaruh peduli akan itu ketika kau secara sadar menutup segala kota - kotak cerita. Saya pun tak meminta keterbukaan seorang lelaku yang pergi duluan. Saya disini hanya menulis tanpa arti, sebagai penyadaran kepada diri sendiri bahwa saya akhirnya dapat membangun mimpi, berjalan tegak dan berkarya selayaknya anak muda lainnya. Bahwa kita pernah jatuh sedalam itu tapi akhirnya pulih seiring dengan detik waktu. Karena semua sakit pasti ada obatnya :)
Tidak selalu benar statement seorang aktivis yang selalu berseru untuk bergerak, menyalahkan mereka yang diam saja dikosan. Aktivis kini tak semuanya aktivis, aktif membuat kegiatan untuk menarik anggota disebut sebagai aktivis, Mahasiswa yang belajar dan akhirnya membuat penemuan malah dibilang antipati dan tak peduli akan kampus. Diam disalahkan, egoisme kelompok dipuja puja. Paling ramai, paling bagus!. Kampus berteriak hore, petani tetap saja berteriak minta makan. Miris. Akhirnya diam bukan berarti diam, bergerak tak lagi dapat dijamin kontribusinya. Dan menjadi diam bukan lagi antipati, tapi tahu bahwa bergerak pun sama saja. Singgungan antar kelompok semakin tajam, dan kesalarasan dalam aksi semakin terbang tinggi diatas gapaian teori. Menjadi seorang aktivis kekinian memang hal yang abu - abu.



Dari mahasiswi yang tak pernah jadi seorang aktivis kampus atau akademis sempurna.
Postingan Lebih Baru Postingan Lama Beranda

ABOUT ME

Introverts in disguise. Read keeps me sane, write keeps me awake. Both of them entwined makes me alive.

SUBSCRIBE & FOLLOW

POPULAR POSTS

  • Komedi putar, senja, dan sendu.
  • Adi
  • Blank Space
  • angsana
  • untuk mas

Categories

  • Reviews
  • Stories
  • Unsend Letters

Advertisement

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.

Blog Archive

  • ▼  2026 (6)
    • ▼  Agustus (1)
      • musnah
    • ►  Maret (4)
    • ►  Januari (1)
  • ►  2025 (6)
    • ►  Desember (2)
    • ►  Juni (2)
    • ►  April (2)
  • ►  2023 (4)
    • ►  Oktober (2)
    • ►  September (2)
  • ►  2022 (1)
    • ►  Mei (1)
  • ►  2021 (15)
    • ►  November (2)
    • ►  September (1)
    • ►  Agustus (1)
    • ►  Juli (2)
    • ►  Juni (2)
    • ►  Mei (4)
    • ►  April (3)
  • ►  2020 (46)
    • ►  September (8)
    • ►  Agustus (8)
    • ►  Juli (7)
    • ►  Juni (4)
    • ►  Mei (6)
    • ►  April (5)
    • ►  Maret (7)
    • ►  Januari (1)
  • ►  2019 (28)
    • ►  Desember (11)
    • ►  Juli (2)
    • ►  Juni (4)
    • ►  Mei (9)
    • ►  Februari (1)
    • ►  Januari (1)
  • ►  2018 (21)
    • ►  September (2)
    • ►  Agustus (3)
    • ►  Juni (2)
    • ►  Mei (2)
    • ►  April (2)
    • ►  Maret (2)
    • ►  Februari (4)
    • ►  Januari (4)
  • ►  2017 (62)
    • ►  November (1)
    • ►  September (6)
    • ►  Agustus (2)
    • ►  Juli (2)
    • ►  Juni (5)
    • ►  Mei (7)
    • ►  April (9)
    • ►  Maret (2)
    • ►  Februari (15)
    • ►  Januari (13)
  • ►  2016 (55)
    • ►  Desember (8)
    • ►  November (12)
    • ►  Oktober (10)
    • ►  September (7)
    • ►  Agustus (5)
    • ►  Juli (1)
    • ►  Juni (3)
    • ►  Mei (2)
    • ►  April (4)
    • ►  Februari (1)
    • ►  Januari (2)
  • ►  2015 (26)
    • ►  Desember (5)
    • ►  November (2)
    • ►  Oktober (2)
    • ►  Agustus (1)
    • ►  Mei (1)
    • ►  April (1)
    • ►  Maret (6)
    • ►  Februari (4)
    • ►  Januari (4)
  • ►  2014 (48)
    • ►  Desember (4)
    • ►  Oktober (4)
    • ►  September (1)
    • ►  Juli (2)
    • ►  Juni (4)
    • ►  Mei (8)
    • ►  April (6)
    • ►  Maret (6)
    • ►  Februari (7)
    • ►  Januari (6)
  • ►  2013 (52)
    • ►  Desember (6)
    • ►  November (2)
    • ►  Oktober (7)
    • ►  Agustus (2)
    • ►  Juli (1)
    • ►  Juni (1)
    • ►  Mei (8)
    • ►  April (4)
    • ►  Maret (11)
    • ►  Februari (2)
    • ►  Januari (8)
  • ►  2012 (68)
    • ►  Desember (23)
    • ►  November (5)
    • ►  Oktober (13)
    • ►  September (4)
    • ►  Agustus (2)
    • ►  Juli (1)
    • ►  Juni (1)
    • ►  April (3)
    • ►  Maret (5)
    • ►  Februari (7)
    • ►  Januari (4)
  • ►  2011 (13)
    • ►  Desember (13)

Pengikut

Oddthemes

Designed by OddThemes | Distributed by Gooyaabi Templates