Hellonjo!

Soal cerita melelahkan juga banyak hal - hal yang menyenangkan.


Setiap manusia yang tidak dapat kubawa serta. Aku ingin mengabadikan mereka lengkap dengan setiap detailnya. Tapi memang seperti manusia dan setiap kelupaannya, akhirnya melepaskan setiap fragmennya adalah suatu niscaya. Bagian - bagian kecil yang suatu ketika mengisi hari - hari amat biasa, membuat hatiku hangat seketika.

Ada teman sekamarku amat suka dengan drama korea dan mangga yang amat masam. Ada temanku di meja sebelah, di tengah panasnya ruang kerja, kami selalu memulai hari dengan keluhan bagaimana panasnya dunia hari ini, esok, dan seterusnya. Teman - teman satu ruanganku dalam bilik paling kecil, yang tidak kami sangka candanya bisa saling mengisi. 

Sungguh jika kulihat ke belakang akan ada begitu banyak manusia yang diam - diam kutangisi perpisahannya. Aku memang tidak pandai menyayangi setengah hati. Tidak dapat hidup hanya dengan sebagian diri. Seluruhku harus membaur bercampur dengan setiap sudut tempatku hidup karena dengan begitu aku dapat beradaptasi dan tumbuh. Setiap jariku akan lekat bertautan dengan banyak sekali jari - jari lain yang sama - sama hidup disana. Hidupku mau tidak mau akan amat berkelindan lalu akhirnya berduka ketika cerita ini menuntutku untuk berjalan lagi, mencabut setiap akar yang pernah begitu kuat menyanggaku berdiri.

Awalnya aku berpikir bahwa hidup memang harus seperti ini. Kepergian ini akan menjadi satu yang membuatku lebih tinggi. Namun sepertinya ternyata, inilah setiap tandaNya yang tidak henti mengingatkan bahwa aku hidup dalam fana. Yang abadi hanya Dia. Aku dan banyak teman - temanku tidak akan berarti 1000 tahun lagi. Tidak lagi ada artinya ketidakmampuanku untuk membawa mereka turut serta. Akhirnya aku dan mereka akan sempurna musnah juga, dan itu, gapapa.

Pada semesta yang lain, aku mungkin tidak perlu mengada-ngadakan mimpi baru dari setiap realita yang terjadi padaku, karena sebaliknya, banyak mimpi yang kini gugurlah yang justru menjadi nyata.

Aku bisa jadi sudah terbang ke luar Indonesia hanya untuk melakukan satu - satunya yang kupikir paling mahir. Belajar sampai setinggi - tingginya langit mampu untuk memberikan ruangku berpikir. Berkutat dengan jurnal dan banyak instrumen laboratorium yang bisa jadi setiap proses kimianya meniadakan kemungkinanku untuk beranak pinak. Karena akhirnya kupikir aku tidak akan merasa keberatan ketika akhirnya aku dapat melahirkan begitu banyak pemikiran. Aku bisa jadi melanjutkan jenjang ini sampai tinggi, sampai aku menua dan akhirnya menjadi seseorang yang ibu akademisku tumbuhkan setiap hari. Bahkan bisa jadi terlalu puas dengan jalan yang ia pilihkan sampai akhirnya memutuskan untuk menjadi sepertinya. Seorang guru yang begitu bijaksana dalam berilmu, dengan caranya begitu membumi dalam mengabdi. Melahirkan bukan lagi hanya pemikiran, tapi juga banyak individu baru yang mampu mengembangkannya.

Kupikir, ia benar - benar berhasil menyalakan lilin di hatiku sampai amat benderang menerangi jalan di depan sana. Membuatku serupa ngengat terhadap cahaya. Pada akhirnya, di semesta yang lain, aku mungkin tidak akan menangisi setiap mimpi yang gugur dini. Aku hanya sederhana menjalaninya setiap hari alih - alih menghampiri kuburannya sesekali seperti ini.

Aku di semesta itu adalah sosok yang mati dan dikubur dalam hati. Di atas pusaranya, lilin yang sama masih menyala begitu benderang. Di tengah gelapnya pemakaman, ia masih memberikanku sedikit rasa bahwa aku memiliki tujuan. Aku bisa jadi tidak dapat menjadi label yang ia impikan, tapi aku masih bisa menjadi seseorang yang sama. Seorang pembelajar yang sabar, yang tetap rendah hati di tengah dunia yang amat besar, menyesap setiap hal baru dengan begitu hausnya dengan mata berbinar. Ia masih bisa membagi pemikirannya dengan berjuta cara lain yang ternyata mungkin. Mungkin tidak berupa keilmuan yang pasti, tapi pasti masih memiliki suatu kebijaksanaan yang sama. Bukankah pada akhirnya, menjadi seperti sosok yang aku impikan itulah esensinya?.

Pada akhirnya, aku tidak akan mendapatkan pelajaran hidup yang jauh lebih penting jika mimpiku terus menerus menjadi nyata, bahwa aku hanyalah seorang hambaNya yang satu - satunya tujuanku adalah menghamba pada ketetapanNya. Aku diingatkan bahwa kemampuanku untuk bermimpi tidak boleh lebih besar daripada hasratku untuk mengabdi kepada Illahi. Bukankah Ia sudah begitu murah kasih sayangNya, meski pada setiap mimpi yang kurasa kegagalan besar, Ia masih sisipkan begitu banyak kebahagiaan.

Kebahagiaan menemani bapak dan mama. Kebahagiaan merasakan begitu hangatnya berada dalam keluarga yang lebih besar.

Kebahagiaan bertemu dengan banyak manusia baru yang tidak pernah kubayangkan.

Kebahagiaan setelah berhasil bangkit lagi dan mendapatkan kebijaksanaan dari banyak sekali kegagalan. Termasuk di dalamnya penyadaran bahwa ketika aku berhenti mendikte semesta, bahagiaku ternyata bisa jadi begitu luasnya mengambil berbagai macam rupa. 

Lagi pula, pada akhirnya, bahkan setelah banyak badai besar, lilin ini masih kuat berpendar.

(tulisan ini salah satunya dibuat untuk dosen pembimbingku 8 tahun lalu, my one and only Miss Prita Sari. Thank you for every life time lessons Miss, even after many years behind, in the darkest of times, I still found solace in many of our conversations)

Tanpa sadar, ruang ini sudah menemaniku selama 15 tahun kehidupanku. Menemani setiap bagian yang akhirnya kutuliskan karena terasa perlu. Membantuku mengurai setiap helai benang yang begitu kusutnya dalam kepala. Mengabadikan berbagai macam rasa kenangan, dari yang penuh pelajaran, sampai yang sederhana membahagiakan. 

Sampai pada suatu ketika sebagian diriku mati di tahun itu. Bagian yang begitu naif memandang dunia. Bagian yang banyak menggantungkan bahagianya pada manusia. Bagian yang mampu mencinta sampai terasa amat sesak di dalam dada serupa hidup tanpa udara. Bagian yang awalnya kupikir begitu naif dan bodohnya sehingga kurayakan kematiannya.

Aku benar - benar terlupa bagaimana bagian itu menjalani kehidupan ini begitu manisnya. Membuat dunia ini tidak lebih dari sekedar angka dan hitungan matematika. Membaca setiap tulisan yang bagian itu simpan disini membuatku menyadari, ternyata aku masih berusaha menghidupkannya kembali.

Dalam ketidak mampuanku, aku ingin benar - benar mencintai. Namun kini, aku ingin mencintai secukupnya. Cukup untuk menghidupkan setiap ruang yang aku hidup di dalamnya. Cukup untuk membuat setiap manusia di dalam ruang tersebut tumbuh dan bahagia.
Tidak ada baju baru hari ini karena aku masih memakai duka yang sama seperti tahun - tahun sebelumnya. Ada yang berkata bahwa dukaku tidak akan mengecil, namun hidupku yang jadi semakin besar. Maka aku berjalanlah dengan membawanya kemana - mana. Memakainya serupa kacamata sehingga setiap hal terlihat seperti spektrum warna. Banyak warna yang tadinya tunggal, kini sambung menyambung tanpa batas yang jelas. Sebagian bercampur baur menciptakan banyak area abu - abu tempat banyak kemungkinan paradoks bertemu.

Di dalam hari yang penuh kemenangan, dengan kacamata yang sama, aku menyadari mungkin ada meja makan yang kosong tanpa opor ayam. Mungkin ada sofa kulit yang dingin karena tidak ada lagi eyang disana selepas solat dan kami bersimpuh di depannya bermaaf-maafan. Mungkin ada ruang tamu yang begitu sunyi karena setiap penghuninya masih harus mengejar dunia di tengah semesta yang sibuk bertasbih kepadaNya. Mungkin ada mereka yang kehilangan hidupnya dalam bencana yang meluluh lantahkan sekejap mata. Mungkin tidak ada suara bedug dan takbir karena setiap masjidnya rata dengan tanah karena bom beberapa jam sebelumnya.

Di dalam hari yang penuh kemenangan, duka ini menunjukkan bahwa banyak kemenangan tidak selalu berwujud kebahagiaan raya. Sebenar - benarnya kemenangan bisa jadi milik mereka yang begitu tabahnya menghadapi setiap cobaanNya. Seperti seorang ibu yang bertemu kami tadi pagi, bermaaf - maafan dengan tangan kanan karena tangan kirinya membawa berbagai macam dagangan. Sepagi ini dengan dahi yang sudah berpeluh, ia masih dapat tersenyum tulus bahagia, "Selamat hari raya Buk"
Aku masih ingat bagaimana setahun lalu aku menunggu mobil carteran di pinggir jalan dengan tenggorokan tercekat dan tangis terbendung di pelupuk mata. Seperti biasa, kutelan seluruhnya berikut dengan setiap rasa kekalahan yang mengikutinya. 

Kekalahan ini begitu nyata di kepalaku yang lagi - lagi harus menjawab banyak pertanyaan yang sama untuk seribu kalinya. Bagaimana menjelaskan bahwa ketidaktahuanku adalah jawaban sesungguhnya bagi apa - apa yang berada di luar kuasa?. Bagaimana menerangkan bahwa ketidaktahuanku tidak sama dengan tidak berusaha?. Bagaimana menerangkan ketidaktahuanku ini sehingga mereka tidak menjelaskan setiap hal - hal lain yang justru aku amat ketahui?

Bahwa terlepas dari banyak hal yang aku bangga, aku mengerti tubuh ini hanyalah jam pasir. Tidak lebih dari suatu kesatuan sistem organ dengan tanggal kadaluwarsa. Bahwa semakin lama, maka semakin banyak hal yang akan aku lewatkan, tidak tergapai, tidak memungkinkan. Aku tidak perlu diingatkan karena alarmku menyala setiap waktu. Ia berdering lebih kencang daripada ribuan pertanyaan yang datang hanya setahun sekali, dari beberapa orang di lingkaran bundar, yang dengan senyum tanda peduli tetap membuatku merasa dihakimi.

Bukannya basa - basi tidak perlu membuat dadamu terasa sesak sekali?. Bukannya basa - basi bisa jadi soal bagaimana aku hari ini? Bagaimana setiap mimpi? Apa yang aku ingini? Apakah aku akhirnya bahagia kini?. Bukannya basa - basi tidak seharusnya membuat aku dilihat hanya sebagai suatu kekalahan sempurna disamping banyak sekali kemenangan lainnya?
Pada suatu sore di bawah teduhnya hujan Salatiga, aku diingatkan bahwa inilah setiap yang aku tinggalkan. Lucunya teman - teman yang mengisi hariku tujuh tahun belakangan. Mereka yang peduli kepadaku seperti adik sendiri, terutama pada masa - masa sulit yang terkadang amat susah aku bagi. Begitu lapang dada mereka untuk menjadi teduh ku ketika hujan begitu derasnya di tanah ini. 

Sore itu aku benar - benar mempertanyakan, apakah keputusanku adalah hal yang benar. Apakah kesendirian ku di antah berantah, di dunia yang sepenuhnya baru, di tengah sekelompok manusia yang terasa amat asing, akan berhasil menuntunku ke tempat yang aku tuju. Apakah setiap yang aku kini temui, sungguh sepadan dengan banyak kehilangan besar ini.

Sepertinya aku dulu benar - benar merasa amat jumawa terhadap kemampuanku beradaptasi. Seolah aku dapat berenang dalam berbagai rupa arus di depan. Seolah aku terlupa, dalam banyak arus yang terlewati di belakang sana, ada lengan yang sama banyaknya menopangku bersisian. Seolah aku terlupa, dalam setiap usaha, ada begitu banyak bagian mereka mengisi setiap hal yang aku alfa.

Tapi pada akhirnya jika kupikir lagi, setiap kehilangan ini sudah aku kalkulasi. Kekosonganku di tanah antah berantah itu akan tetap memekakkan telinga setiap aku sendiri. Aku akan tetap merasa menjadi yang paling bodoh dan tidak mengerti. Ketidaknyamanan ku masih akan menghiasi di setiap sisi artifisial Jakarta, yang setiap senyum asing orang lain terasa begitu jauh dari hati. Begitu kontrasnya tapi kupikir inilah setiap hal mengganggu yang kurasa perlu. Dengan banyak hal ini aku bisa terus tumbuh.

Meski ragu, meski takut, meski banyak dipenuhi kesedihan yang kesepian, mari kita melanjutkan perjalanan. Setiap doa sudah kita langitkan. Setiap usaha sudah kita kholaskan. Toh akhirnya, pohon tertinggi pun tetap harus meranggas agar terus tumbuh lagi.

Dalam setiap langkah di depan, mungkin aku akan terus berpikir dan bertanya kepadaNya, mengapa aku tidak bisa membawa setiap yang aku cinta kemanapun saja sehingga tidak perlu ada manusia - manusia yang aku tinggalkan pada setiap keputusan. Tapi mungkin ini mengapa Ia ciptakan doa dengan tangan - tangan yang senantiasa menengadah ke luasnya langitNya. Mungkin agar pendeknya lengan kita tidak jadi kendala untuk memeluk setiap yang kita cinta dimanapun saja.

Aku tidak pernah bercerita setiap keputusasaan dan banyak sekali kesedihan kepada laki - laki yang saat itu kesakitan dan penuh kebingungan. Namun ia, yang punggungnya selalu lebih besar daripada aku, tampaknya tak pernah gagal memangku seluruh sulitku yang bahkan kepadanya tidak pernah aku kuliti satu - satu. Pada setiap kesulitan dan banyak mimpi yang mati muda, bapak berkata “semua pasti ada jalannya”.

Kata - katanya kemudian berkelana pada banyak ruang dan waktu hingga sampai kepadaku yang masih termangu. Menelisip dalam senyum mama yang bahagianya melebihi setiap bahagia yang mampu kurasa setelah banyak sekali kecewa. Hadir dalam bentuk kesempatan lain “Kamu gapapa kalau mau sekolah lagi mumpung masih banyak waktu”.

Lima tahun berlalu sejak aku, mama, dan bapak berada di kamar kecil itu.

Aku masih menangis dimanapun aku mau. Terutama pada saat - saat aku sadar, bagaimana Allah selalu membuat Bapak mampu memenuhi tugasnya bagi anak gadis satu - satunya. Bahkan dalam matinya, Bapak masih menciptakan banyak sekali kesempatan. Dalam matinya, ia masih menjadi bagian dari air untuk menumbuhkanku lebih tinggi. Dalam matinya, lilin yang ia berikan masih menyala begitu benderang. Bahwa memang bersama sabar, Allah selalu menyediakan jalan. 

Kupikir mungkin aku hanya takut begitu jatuh dan tenggelam sampai tidak dapat kembali ke permukaan. Kupikir mungkin aku hanya tidak dapat lagi kembali membayangkan bagaimana cahaya remang - remang saja kesulitan untuk menelisip kedalam hitamnya palung mariana ketika aku terjebak di dalam sana. Kupikir mungkin aku hanya kesulitan jika harus kembali merasakan dadaku begitu sempit sampai aku menciptakan hamparan rumput hijau yang begitu lapang di dalam kepala. Kupikir mungkin aku hanya tidak punya lengan yang cukup panjang untuk kembali melindungi bahkan ketika yang terancam adalah diriku sendiri. Kupikir mungkin aku hanya belum memiliki keberanian untuk menggambar masa depan dengan begitu banyak rencana - rencana. Membiarkan setiap bagiannya diwarnai dunia dengan berbagai macam warna. 

Mungkin aku hanya lupa bagaimana berbagai warna berarti tidak hanya kelabu, biru, dan kesedihan lainnya. Di dalamnya juga ada jingga, merah muda dan semburat kuning keemasan sore hari yang aku bermimpi mati di bawah keindahannya. Mungkin aku hanya lupa bagaimana hanya dengan berjalan lagi aku dapat sampai ke ujung jalan yang aku inginkan. Mungkin aku hanya perlu diingatkan bahwa hanya dengan asa dan banyak sekali mimpi kita bisa menjadi sebenar - benarnya manfaat di dunia yang fana ini.

Kurasa aku hanya perlu mengecapnya satu - satu dengan adanya berbagai macam rasa dihadirkan di atas piringku. Kurasa aku hanya perlu menjalani apa yang ada di depan sana satu langkah diikuti langkah lainnya, sebaik - baiknya. Kurasa aku tidak perlu khawatir bagaimana setiap hari berbagai macam langkahnya bisa berbeda, terkadang mantap membahagiakan jiwa, terkadang penuh ketakutan karena di depan sana adalah belantara, terkadang langkah hati - hati. Kupikir, ketika segalanya sudah kudoakan, pada akhirnya yang penting maju saja.

Pada akhirnya sama seperti segala hal yang semu di dunia, setiap langkahku niscaya tidak sempurna.
Pada akhirnya sama seperti kalimat yang kucoba untuk ejawantahkan, yang penting setiap langkah dinilai dari niatnya.
Pada hari jumat di siang bolong, aku menghitung sudah berapa banyak hari jumat yang aku lewati tanpa aku rebahan di depan televisi. Masih dengan baju seragamku. Menonton FTV yang sudah tinggal babak - babak akhir cerita dimana si tukang gorengan akhirnya bisa bersama dengan mbak - mbak kaya raya yang kebetulan jatuh cinta kepadanya. Di antara iklan aku akan menyalakan kipas angin dan kembali merentangkan tangan di bawahnya agar setiap hawa - hawa angkutan ibukota ini segera lepas dari setiap pori. Sambil menikmati masa - masa pulang sekolah ini, aku akan menunggu bapak dan mama pulang kerja. Menghabiskan waktu istirahatnya yang agak panjang di hari jumat. Bapak yang setelah menginjakkan kaki di rumah akan lekas bersiap untuk berangkat ke mesjid. Mama, di lain sisi, akan makan siang bersamaku, dan kami melanjutkan sesiangan jumat itu dengan kembali menonton FTV, sampai akhirnya bapak pulang dari masjid dan mereka bergegas kembali bekerja.

Pada hari jumat siang bolong, aku mengingat masa - masa itu dengan begitu jelas setiap detiknya. Aku berpikir, bagaimana bisa aku tidak dapat mengingat kapan kali terakhir aku memiliki jumat siang yang panas tapi terasa hangat. Bagaimana bisa aku melepaskan salah satu momen - momen membahagiakan begitu saja tanpa perayaan, tanpa catatan. Mereka begitu saja hilang seperti pasir dalam genggaman dari sela - sela jari tangan. Butir yang satu mengikuti butir yang lain. Aku biarkan mereka perlahan hilang sampai tinggal telapak tanganku yang begitu kecil. Bagaimana bisa aku hanya menganggap hari jumat itu tidak lebih dari sekedar rutinitas biasa. Bagaimana bisa aku tidak mengira, bahwa pada suatu ketika aku akan merindukan hari - hari seperti ini ketika hidup begitu beratnya. Bagaimana bisa aku tidak mengira, padahal menjadi dewasa adalah suatu niscaya?

Pada hari jumat siang bolong, aku benar - benar menyesal tidak menjadi dewasa lebih cepat. Bukan karena aku dapat memiliki uang dan suaraku sendiri. Aku hanya berpikir, mungkin kalau aku dapat dewasa lebih cepat, aku dapat memahami bahwa banyak hari di masa kecilku tidak akan terjadi untuk kedua kali, sehingga setiap detiknya dapat dengan benar aku resapi. Sehingga pada setiap kehilangannya, aku dapat berpuas karena detailnya sudah aku hargai. 

Aku banyak menahan diri akhir - akhir ini, karena jika tidak, maka seluruh halaman pertama akan mengeja setiap jengkalmu. Jika tidak, maka aku akan tenggelam dalam pikiran ayo kita menikah besok di KUA dan aku akan bolos kerja. Jika tidak, maka aku akan menggenggam tanganmu dan memilih untuk melawan dunia. Jika tidak, maka akal sehatku akan kalah, sekali lagi mati logika.

Jika tidak maka aku akan menjadi salah satu dari sekian banyak remaja di luar sana yang tidak lagi berpikir bahwa hidup tidak hanya untuk hari ini.

I buried you deeper than my father.
No man would ever discover.
And yet, I found you beside the quietest person in the table, asking how was their weather.
And yet, I found you in the wrecked plans, you said, it doesn't have to be perfect to keep all of our dreams stay in the plane.
And yet, I found you in the Stitch that stayed with me wherever.
And yet, I woke up and how did I wish a daydream would go on forever.
Because later, you weren't there, nor everywhere.
Funny how I ditched your bits faster, never imagined I seem to lost it somehow in the future.
I searched for too long just to remember, you are now a ghost I would never recover.

(initially written in snapgram on July 25th 2024)

Meski ngeri, kurasa, aku perlu menyusuri jalan itu kali ini. Di tengah pagi, aku bangun tanpa bapak dan mama di sisi. Keduanya ada di ruang isolasi sudah beberapa hari. Oleh karenanya, tugasku akhir - akhir ini setiap pagi adalah mengantarkan termos penuh berisi air, pakaian bersih, atau bahkan cokelat yang kuharap meringankan hati kami. Hari itu sudah hari kesekian mamaku tidak cukup tidur. Entah karena racauan bapak yang perlahan menjadi racauan ngeri sebelum koma, entah karena ketakutan jika di tengah lelapnya ia ditinggalkan kekasihnya. Pagi itu, selain logistik yang biasa, mamaku memesan obat flu untuk meredakan lelahnya karena perang harus tidak berakhir hari ini. Ia adalah pejuang yang meski seluruh pasukan tumbang, ia tidak boleh mundur dari garis depan. Oleh karenanya aku juga tetap berdiri meski hati dan jiwaku sungguh ingin berhenti. Rasanya satu pagi itu telah mengubah banyak pagiku yang membosankan dan menyebalkan terasa seperti surga duniawi. Tidak ada yang lebih aku benci dari pagi yang diawali dengan perasaan sedih, benci dan marah menjadi satu di dalam hatiku yang amat kecil. Bagaimana aku merasa amat tidak berguna, ketika dua orang yang paling kucinta mempertaruhkan hidup dan matinya di dalam sana. Bahkan untuk aku yang paling sabar menyimpan dendam, manusia - manusia yang paling aku benci pun tidak pantas merasakan hal ini. Meskipun saat itu aku juga tau, mungkin di pagi dan detik itu, puluhan bisa jadi ratusan anak lainnya di penjuru dunia merasakan hal yang sama karena pandemi ini benar - benar meluluh lantahkan setiap cinta.

Setelah memutari kota salatiga, akhirnya aku menemukan satu apotik pertama yang buka di pukul 7 pagi hari. Kubeli obat flu dan beberapa vitamin C. Mamaku menelepon agar aku bergegas karena bapak anfal lagi untuk kesekian kali. Sesampainya di ruang perawat, kulihat perawat tergesa - gesa memakai pakaian pelindung berlapis - lapis sebelum setengah berlari menyusuri lorong menuju ruang isolasi. Hatiku berdegup kencang seperti mengetahui bahwa mereka tepat menuju ruangan mama dan bapakku, kutitipkan obat flu itu kepada mereka. Aku hanya dapat melihat melalui monitor pengawasan, bagaimana mamaku berada di samping tempat tidur bapak, menangkupkan tangan tanpa henti merapal doa yang dia harap dapat memudahkan segala yang dilakukan perawat dalam usaha membuat bapakku baik - baik saja. Yang mana setelahnya laki - laki yang paling kucinta memang baik - baik saja untuk sementara. Kupikir akhirnya. Kupikir syukurlah. Sampai dokter menghampiriku dan berkata sebaliknya bahwa mereka saat ini tidak dapat melakukan apa - apa, bapakku koma, dan aku hanya perlu berdoa. Pintu neraka itu ternyata menjelma oase yang memerangkapku selamanya.

Tanpa punya pilihan lain aku berdoa dan menunggu. Seperti seseorang yang duduk di tengah rel kereta api. Aku pasrah tapi aku juga berdoa. Aku marah tanpa tau kepada siapa. Aku juga lelah tapi aku harus kuat untuk mama. Sampai pada suatu siang yang frustasi aku berkata pada mamaku bahwa kita harus berhenti. Suatu tindakan yang sebenarnya pasif tapi menyerap seluruh energi kehidupan dalam diri. Kami bertiga terbiasa berlari dan berhenti mencoba merupakan jalan yang terasa tidak alami. Meskipun begitu, akhirnya itulah yang terjadi.

Menyusuri jalan itu lagi terasa gelap, bahkan ketika pada hari raya ini jalanan penuh dengan lampu yang gemerlap. Ketika sampai di ujung jalan, rasanya bahkan lebih menyesakkan, masih sering kali membuatku sesenggukan. Tapi di setiap persimpangannya ada bagian - bagian kusut dalam diriku yang teruraikan. Salah satu persimpangannya adalah ketika aku dan bapak saling melambai tangan.

"Bapak, rasanya rindu sekali. Setelah Bapak koma aku berkata kepada mama, bahwa kami harus mengikhlaskan jalan terbaik yang Allah siapkan untuk Bapak. Sebaliknya, mama harus keluar dari ruang isolasi itu karena kalau tidak Mama juga akan ikut ambruk di dalam sana tanpa aku dapat berbuat apa - apa. Aku sungguh yakin Bapak mendengarnya. Aku benar - benar ingin percaya bahwa Bapak melangkah lebih ringan setelah kata - kata itu kuucapkan. 20an tahun hidupku, aku selalu berdoa agar Bapak dan Mama panjang umur sehingga mengikhlaskan Bapak pergi benar - benar hal yang aku tidak mengerti darimana asal kekuatannya. Namun, dengan kata - kata itu aku ingin percaya bahwa setelahnya ada kebebasan yang sudah lama tidak Bapak rasakan. Kebebasan hidup tanpa banyak obat - obatan. Kebebasan tanpa sederet pantangan makan. Kebebasan untuk tidak merasakan nyeri dimana - mana yang tidak pernah Bapak tunjukkan karena Bapak begitu besar dan kuatnya. Kebebasan untuk merasakan kelegaan jika kebahagiaan terasa terlalu mengada - ngada. Kebebasan yang ditukar dengan rasa duka yang aku bawa kemana - mana setelahnya. Aku gak bisa bilang gapapa, tapi sebagaimana banyak hal yang aku terima apa adanya, kejadian ini adalah salah satunya. Sampai nanti, aku sayang bapak, selalu."

Melewati wot batu, aku bertemu Sunaryo di depan pohon jambu. Ia bercerita tentang segala usaha menghidupkan ibunya yang mati kala itu. Aku menangis karena dalam ceritanya aku bertemu bagian diriku yang lama tidak turut serta kemanapun kaki ini menuju. Bagian diriku ini mengerti benar bahwa berbagai usaha untuk menghidupkan segala yang kami cinta serupa menanam pohon jambu dari biji timah. Akarnya tidak akan tumbuh, tidak akan ada buah yang terasa manis meskipun setiap dahannya kami lelehkan dengan kenangan dan rasa yang sama. Yang kami tau, hanya duka yang berbuah dari pohon jambu berwarna tembaga.

Dalam upaya yang terkesan sia - sia, tidak lain yang kami abadikan adalah perayaan akan hidup seseorang yang pada suatu ketika membantu kami mengeja kehidupan. Sempurna di dalamnya juga sebuah batu besar yang dieja kematian. Batu ini bisa jadi satu - satunya yang amat memberatkan namun secara sadar menolak untuk kami tinggalkan. Ia mengingatkan bahwa pada suatu ketika kami pernah berjalan amat ringan, bahwa kerikil yang ada di dalam tas kami saat itu ternyata tidak lebih dari sekedar dandelion yang dapat terbang ketika ditiupkan. 

Kalau saja kala itu kami lebih sadar dalam menyesapi kehidupan dan setiap detik kebersamaan. Kalau saja pohon jambu lain pada suatu waktu dapat berbuah beberapa bulan lebih cepat karena ia bukan tiruan. Kala ketika setiap kalau berhenti menjadi kemungkinan, sepertinya aku dan Sunaryo dapat sepakat bahwa pohon jambu tiruan cukup untuk merekam segala yang kami rasa berikut dengan kenangannya. Seperti pohon jambu yang menolak berbuah di luar musimnya, maka kami juga akan belajar menikmati setiap tangis pada waktunya.

Mari kita pikir belakangan dan menuliskanmu dengan benar. Dimulai dengan kita bertemu pada hari yang aneh ketika aku bersiap melepaskan segala sesuatunya. Jika sebenar - benarnya cinta memang ada, maka saat itu aku percaya bahwa milikku sudah sebenar - benarnya luluh lantak. Jika memang ada sedikit kepercayaanku kala itu tersisa, maka kupastikan ia tidak lagi ada karena dicuri oleh seorang laki - laki yang berdusta.

Menuliskanmu dengan benar, berarti aku jujur kepada segala yang kita jalani, bahwa ia diawali dengan aku yang sudah tidak mampu berharap apa - apa. Bahwa hubungan manusia hanyalah sekedar hitungan sederhana yang diisi dengan nilai kurang dan tambah. Jika tidak ada kata setara, maka cerita tidak akan ada kelanjutannya. Kata setara yang perlahan berganti rupa menjadi sesuatu yang dimaknai dengan amat sederhana, jauh dari segala teorema matematika.

Menuliskanmu dengan benar, berarti aku mencoba mengeja setiap kenangan dan banyak sekali harapan. Aku tau bahwa kemungkinan - kemungkinan ini juga tidak kalah banyaknya. Bisa jadi amat menenggelamkan kita dalam 'apa yang terjadi jika'. Lalu aku teringat, bahwa kesibukan menerka - nerka ini sudah membuat kita lupa menyesap segala rasa di antaranya. Hangatnya susu jahe di tengah angin malam Salatiga sebagai salah satunya.

Jika ada hal penting yang dapat aku simpan dari sekian banyak proses kehilangan, maka itu adalah bagaimana kita menikmati perjalanan sama khusyuknya dengan merayakan akhir di tujuan. Yang kutau saat ini adalah, dunia bisa saja berubah menjadi amat menguji entah di titik yang mana. Dunia ini bisa membuat bahkan hal - hal tersisa yang tadinya kita anggap kecil dan sederhana menjadi sesuatu yang amat didamba, hanya karena kita tidak lagi memilikinya. Aku tau perjalanan ini akan sulit, dan tidak ada yang tahu akan sepanjang apa, pun berakhir dimana. Tapi kini aku hanya ingin berusaha, agar sesulit apapun, jari - jari kita tidak lagi bersela karena bertaut dalam setiap langkah, bersama dengan dua jiwa yang melangitkan banyak doa.

Di umur yang sama, ibuku sudah membawaku kemanapun ia pergi di dalam perutnya. Kami tidak pernah bercerita, tapi aku selalu melihat senyumnya di setiap foto tersimpul bahagia.

Di umur yang sama, aku membawa satu koper penuh dengan trauma. Kami tidak pernah bercerita tapi kurasa ibuku mengerti bahwa aku sedang melepaskan setiap beban ini satu - satu, seorang diri, seperti biasa.

Di umur yang sama, ibuku menghitung hari sampai terlahir kembali menjadi seorang mama. Ia mempersiapkan baju - baju kecil berwarna merah muda, peralatan memasak, dan juga sebuah rumah sederhana di pinggiran kota.

Di umur yang sama, aku menghitung hari sampai akhir mingguku kembali. Mereka - reka, tempat apa yang akan aku kunjungi sendiri kali ini, ilmu baru apa yang akan aku mulai pelajari. Aku kembali berusaha untuk kembali menekuni apapun yang aku mulai.

Di umur yang sama, ibuku mulai membagi ruang di hati dan pikirannya untuk keluarga kecil barunya. Bagaimana ia akan menghiasi setiap sisinya dengan penuh perhatian dan cinta. Memastikan bahwa tidak ada sudut - sudut tajam yang dapat melukai setiap manusia di dalamnya.

Di umur yang sama, aku mulai menciptakan ruang dimana diriku menjadi satu - satunya. Aku masih berusaha untuk membersihkan banyak sisa sampah yang berceceran dari manusia yang berlalu lalang. Menempatkan setiap pikiran pada tempatnya semula, yang seharusnya.

Di umur yang sama, ibuku bertumbuh memenuhi panggilan jiwanya. Pada bentuk yang berbeda, aku berharap jalan ini juga membuatku bertumbuh dari setiap luka. Kami tidak pernah membicarakannya, tapi aku tau, ia mengerti bahwa aku sedang berusaha sebaik - baiknya.

Berulang kali aku memilah kata yang tepat untuk merayakan bulan kelahiran Bapak dan Eyang. Selamat tidak dirasa pas dalam hari yang terasa penuh kehilangan. Aku juga tidak dapat menyematkan kata semoga karena hari itu adalah pengingat bahwa banyak harap mati tiba - tiba. Mungkin aku hanya dapat bercerita bagaimana setelah dua tahun terlewati, kami masih tak henti merayakan duka. Bukan dengan tiupan lilin pada kue yang aku pesan sepulang kerja. Tidak juga dengan tumpeng nasi kuning dengan ruang tamu penuh anggota keluarga, di belakangnya Bapak, Eyang, dan Inara duduk bersama. Saat itu, kami melingkar di sekelilingnya dengan melangitkan banyak doa. Tidak pernah kami kira, pada bulan Januari, salah satu doa itu mati satu. Pada bulan Agustus, satu doa menyusul luruh.

Oleh karenanya, pada lebaran paling sepi, aku merayakannya dengan tangis tanpa henti. Pertama kalinya, sunyi terlalu memekakkan telingaku, semua pertahananku tercerabut satu - satu. Pertama kalinya, aku tidak lagi merasa harus lebih kuat di depan ibuku. Kupikir saat itu setengahku menyadari, bahwa aku menjadi satu - satunya yang belum berjalan maju meskipun berlari setiap hari. 

Soal mengejawantahkan suatu perayaan, maka di dalamnya akan ada manusia - manusia yang bersuka cita pada suatu kejadian. Terkesima pada setiap hal - hal yang terjadi pada rentang waktu tertentu karena setiapnya aneh dan tidak biasa. Persis seperti proses kehilangan, yang mana kupikir suatu hari akan mengecil lalu surut, tapi ternyata ia serupa luka parut, yang pada setiap guratannya tanpa kusadari mengubah diriku sedemikian rupa sehingga tidak ada ada jalan untuk kembali. Perubahan yang masih kulatih setiap hari agar tidak hanya menjadi duri, tapi sebaliknya membuatku menjadi manusia yang lebih mengerti dan berempati. Pada akhirnya aku terkesima bagaimana dunia ini ternyata menguji kita semua dengan caranya sendiri.

Aku memang masih sedih sesekali, tapi di atas segala sakit yang dialami akan kehilangan - kehilangan besar ini, perayaan puncakku ditandai dengan rasa syukur tersemat disetiap sisi. Rasa syukur bahwa dari milyaran makhluknya, Ia menghadirkanku di tengah manusia - manusia yang penuh kasih sayang dan menerimaku apa adanya. Aku akhirnya menyadari, tidak akan ada rasa sedih yang luar biasa jika Bapak dan Eyang yang kumiliki tidak istimewa dan penuh cinta. Hadiah yang kupikir sederhana tapi tanpa pernah kuminta ternyata begitu luar biasa dan tidak terjadi pada setiap manusia. Kupikir kini akhirnya perayaanku sempurna.
Mulanya bisa jadi dari roncean melati di kepala adikku. Atau mungkin dari tangkapan foto bernuansa jaman dulu. Atau bisa jadi dari senyumnya yang merekah dalam foto, memakai paes dan sanggul di kepala, dengan bahagia yang serupa cempaka, menjalar dan merekah di matanya. Macam bahagia paling purna karena akhirnya hidup ini tidak lagi penuh dengan tanya soal siapa. 

Siapa yang akan kulihat pertama kali setiap paginya?
Siapa yang hatinya begitu ringan menerima setiap kurangku seperti ia mencintai setiap kelebihannya?
Siapa yang punggungnya cukup tinggi sehingga setiap puncak rintangan di atas muka bumi terasa tidak ada apa - apanya?
Siapa yang akan tetap ingat untuk selalu mencintaiku ketika berada di atas angkasa atau jauh di memori masa senja yang penuh dengan lupa?
Siapa yang bersedia berkata iya untuk setiap hari - hari buruk penuh dengan air mata jauh dari tawa?
Siapa yang tetap tinggal ketika nyamannya singgah dan berpindah jadi menggoda?

Setiap tanya yang bagi adikku kini sudah berbentuk satu nama tepat ketika ijab ditukar dengan mahar.
Setiap tanya yang bagiku namanya masih belum sempurna mengeja.
Setiap tanya yang akhirnya membagi diriku menjadi dua. 

Satu bagian yang kelelahan karena sudah banyak kecewa. Bahwa bersama kehadiran akan selalu menyusul kehilangan. Bahwa tidak ada yang abadi dalam setiap apa yang kita genggam.

Satu bagian lainnya adalah hal baru. Bagian yang juga kelelahan, namun bukan karena ketakutan, melainkan karena terus berlari dan berjaga - jaga. Bukankah tak apa jika kita mulai lagi dari pertama. Tidakkah rasanya akan menyenangkan kembali percaya seutuhnya. Memiliki tempat bersandar ketika jalan ini tidak semudah biasanya. Dengan tangan yang saling mengait dengan setiap sela terisi. Bagian yang membuatku berpikir, tidak peduli setinggi apa tembok ini, bukankah pada akhirnya bagian yang mendamba akan selalu ada dalam dirimu sendiri. 

Bagian yang juga mengingatkanku, bahwa jika ada yang bisa kupetik dari kehilangan terbesarku, itu adalah bagaimana aku tidak menyesal memberikan rasa setulus yang aku bisa, meski kemudian rasa kehilangan seolah menenggelamkanku seutuhnya. Bahwa akhirnya, aku sepakat untuk memaknai kehilangan sebagai salah satu dari banyak fase mencintai ciptaanNya. Kehilangan yang pada akhirnya membuatku amat bersyukur karena dari sekian banyak hal yang kurasa ketidakberuntungan, Ia mempertemukanku pada beberapa manusia yang juga menyayangiku sama besarnya. Hal yang untuk manusia lainnya adalah suatu hak istimewa.
It was my first encounter with the other side of my dear friend, who was suicidal. I felt depression my self, just before we met, and (was likely) healed. Not as bad that made me want to kill my self. But, he was. And on that day, he told me the story how it was only second before he took the rope, tied it on his neck, and hang him self on the ceilings. He was not loud, but deafening enough to make me quiet, listen, and think of what I should say to make him feeling safe. Safe enough to tell the story, safe enough to not leave this life. If there is anything I could help him with, I would definitely take that way without any further second. 

Instead, I asked, what did make him stop, even with rope already in his hands? 
"There was this inner voice that saying 'are you really want to lose over this game?'". Thus, some part in him awaken, part that wants to fight the same chaos once again.

I was taken aback by that statement, almost 3 years after that. (Again) under depression. Much worst than my younger self ever had, beyond what I could understand. And suddenly I think of every lost souls in suicidal spiral of thoughts. I asked to my self, where is God when all the broken souls decided to end this life?.

And this reliving moment when something answered "God was there, saying to him 'are you really want to lose over this game?".

Akhir - akhir ini ia seringkali menabung pengulangan kata - kata yang sama.

"Kalau saja kita bertemu lebih dulu."

Lebih dulu sebelum bencana besar dalam hidup seorang gadis yang amat mencintai ayahnya. 

Lebih dulu sebelum bagian dirinya mati ditikam percaya.

Lebih dulu sebelum gagasannya soal belahan jiwa diruntuhkan seseorang yang dulu adalah sahabat jiwanya.

Lebih dulu sebelum banyak sekali kejadian yang membuatnya berpikir bahwa hidupnya tidak semestinya bahagia.

Bahwa jalan ini akan sepenuhnya nelangsa.

Bahwa karenanya ia memutuskan untuk merangkul kesedihan seperti teman dekatnya yang ternyata menyembunyikan belati di belakang punggungnya.

Lebih dulu sebelum ia kehilangan kemampuan mencinta, karena seluruh tenaga ia habiskan untuk berlari dan berjaga - jaga. 

Jikalau setiap bahagia yang semu akhirnya selesai juga.


I'm counting days before I no longer able to acknowledge my self as 25. Quarter life crisis came too early, and hit like truck lately. But if that was a tunnel, then, I guess this is the light that i started to see. I lost many things, just like many other people. But I gain a lot too, and this is one of them. 

Being the only child alive in my core family, I've been spending most of my life feeling afraid of being alone. That's why my biggest fear was losing them. I lost dad earlier this year, and praying harder to have more time with mom. 

But, that got me thinking, eventually, it is inevitable to lose every one you love. Every relationship will end either way. Whether you are prepared or not. And the only thing you can keep is yourself. Because it is always up to you. Whether to keep her along or leave her behind. Whether to built her up or beat her down. Which also by knowing this, I understand that I'm not as helpless as I thought. For the first time, surprisingly, I have a little bravery to grow up alone. A little sparks indeed and yet more than enough. 

Though, to take it from different perspective, I have to admit that eventhough I no longer that afraid to live alone, I still have that lingering fears of losing every one I love. Maybe, it is something that I will never get over, or I don't know. It is still a long journey ahead to get the answer of the question, I hope.

I have less than 5 years before hitting thirty. I dont know where I would be, what I would do, or who I would love. But I hope I slay that age. To be honest, for a former hopeless romantic, imagining have a life with only my self is a bit lonely sometimes, but it somehow feels liberating. To be not bound with everyone else and to every uncertainty it follows. Being with my longest commitment, which is my self, is enough for now. 

I still have picture that my 17 y.o. self holds dearly. Married, having family and kids of my own. Living in our house which far from big because we like to keep everyone packed inside feeling warm with love, laugh, and stories before bed. Wide yards and cozy fench for a coffee in the morning, in the neighborhood where we actually know everyone. That picture still beautiful for me in every way. But I'd loved hard before, got disappointed, while miscalculating everything. I was a victim and a villain in other stories. Because heart changes, and the only certain thing is the existence of ourselves in our life. So when it comes to conclusion, other people may have that kind of life, and I will always happy for them. However, if my stories come differently, I'm no longer afraid, as it is still a life that I will cheer as long as I breath :).

Postingan Lebih Baru Postingan Lama Beranda

ABOUT ME

Introverts in disguise. Read keeps me sane, write keeps me awake. Both of them entwined makes me alive.

SUBSCRIBE & FOLLOW

POPULAR POSTS

  • Komedi putar, senja, dan sendu.
  • Adi
  • Blank Space
  • angsana
  • untuk mas

Categories

  • Reviews
  • Stories
  • Unsend Letters

Advertisement

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.

Blog Archive

  • ▼  2026 (6)
    • ▼  Agustus (1)
      • musnah
    • ►  Maret (4)
    • ►  Januari (1)
  • ►  2025 (6)
    • ►  Desember (2)
    • ►  Juni (2)
    • ►  April (2)
  • ►  2023 (4)
    • ►  Oktober (2)
    • ►  September (2)
  • ►  2022 (1)
    • ►  Mei (1)
  • ►  2021 (15)
    • ►  November (2)
    • ►  September (1)
    • ►  Agustus (1)
    • ►  Juli (2)
    • ►  Juni (2)
    • ►  Mei (4)
    • ►  April (3)
  • ►  2020 (46)
    • ►  September (8)
    • ►  Agustus (8)
    • ►  Juli (7)
    • ►  Juni (4)
    • ►  Mei (6)
    • ►  April (5)
    • ►  Maret (7)
    • ►  Januari (1)
  • ►  2019 (28)
    • ►  Desember (11)
    • ►  Juli (2)
    • ►  Juni (4)
    • ►  Mei (9)
    • ►  Februari (1)
    • ►  Januari (1)
  • ►  2018 (21)
    • ►  September (2)
    • ►  Agustus (3)
    • ►  Juni (2)
    • ►  Mei (2)
    • ►  April (2)
    • ►  Maret (2)
    • ►  Februari (4)
    • ►  Januari (4)
  • ►  2017 (62)
    • ►  November (1)
    • ►  September (6)
    • ►  Agustus (2)
    • ►  Juli (2)
    • ►  Juni (5)
    • ►  Mei (7)
    • ►  April (9)
    • ►  Maret (2)
    • ►  Februari (15)
    • ►  Januari (13)
  • ►  2016 (55)
    • ►  Desember (8)
    • ►  November (12)
    • ►  Oktober (10)
    • ►  September (7)
    • ►  Agustus (5)
    • ►  Juli (1)
    • ►  Juni (3)
    • ►  Mei (2)
    • ►  April (4)
    • ►  Februari (1)
    • ►  Januari (2)
  • ►  2015 (26)
    • ►  Desember (5)
    • ►  November (2)
    • ►  Oktober (2)
    • ►  Agustus (1)
    • ►  Mei (1)
    • ►  April (1)
    • ►  Maret (6)
    • ►  Februari (4)
    • ►  Januari (4)
  • ►  2014 (48)
    • ►  Desember (4)
    • ►  Oktober (4)
    • ►  September (1)
    • ►  Juli (2)
    • ►  Juni (4)
    • ►  Mei (8)
    • ►  April (6)
    • ►  Maret (6)
    • ►  Februari (7)
    • ►  Januari (6)
  • ►  2013 (52)
    • ►  Desember (6)
    • ►  November (2)
    • ►  Oktober (7)
    • ►  Agustus (2)
    • ►  Juli (1)
    • ►  Juni (1)
    • ►  Mei (8)
    • ►  April (4)
    • ►  Maret (11)
    • ►  Februari (2)
    • ►  Januari (8)
  • ►  2012 (68)
    • ►  Desember (23)
    • ►  November (5)
    • ►  Oktober (13)
    • ►  September (4)
    • ►  Agustus (2)
    • ►  Juli (1)
    • ►  Juni (1)
    • ►  April (3)
    • ►  Maret (5)
    • ►  Februari (7)
    • ►  Januari (4)
  • ►  2011 (13)
    • ►  Desember (13)

Pengikut

Oddthemes

Designed by OddThemes | Distributed by Gooyaabi Templates