Hellonjo!

Soal cerita melelahkan juga banyak hal - hal yang menyenangkan.


Pada semesta yang lain, aku mungkin tidak perlu mengada-ngadakan mimpi baru dari setiap realita yang terjadi padaku, karena sebaliknya, banyak mimpi yang kini gugurlah yang justru menjadi nyata.

Aku bisa jadi sudah terbang ke luar Indonesia hanya untuk melakukan satu - satunya yang kupikir paling mahir. Belajar sampai setinggi - tingginya langit mampu untuk memberikan ruangku berpikir. Berkutat dengan jurnal dan banyak instrumen laboratorium yang bisa jadi setiap proses kimianya meniadakan kemungkinanku untuk beranak pinak. Karena akhirnya kupikir aku tidak akan merasa keberatan ketika akhirnya aku dapat melahirkan begitu banyak pemikiran. Aku bisa jadi melanjutkan jenjang ini sampai tinggi, sampai aku menua dan akhirnya menjadi seseorang yang ibu akademisku tumbuhkan setiap hari. Bahkan bisa jadi terlalu puas dengan jalan yang ia pilihkan sampai akhirnya memutuskan untuk menjadi sepertinya. Seorang guru yang begitu bijaksana dalam berilmu, dengan caranya begitu membumi dalam mengabdi. Melahirkan bukan lagi hanya pemikiran, tapi juga banyak individu baru yang mampu mengembangkannya.

Kupikir, ia benar - benar berhasil menyalakan lilin di hatiku sampai amat benderang menerangi jalan di depan sana. Membuatku serupa ngengat terhadap cahaya. Pada akhirnya, di semesta yang lain, aku mungkin tidak akan menangisi setiap mimpi yang gugur dini. Aku hanya sederhana menjalaninya setiap hari alih - alih menghampiri kuburannya sesekali seperti ini.

Aku di semesta itu adalah sosok yang mati dan dikubur dalam hati. Di atas pusaranya, lilin yang sama masih menyala begitu benderang. Di tengah gelapnya pemakaman, ia masih memberikanku sedikit rasa bahwa aku memiliki tujuan. Aku bisa jadi tidak dapat menjadi label yang ia impikan, tapi aku masih bisa menjadi seseorang yang sama. Seorang pembelajar yang sabar, yang tetap rendah hati di tengah dunia yang amat besar, menyesap setiap hal baru dengan begitu hausnya dengan mata berbinar. Ia masih bisa membagi pemikirannya dengan berjuta cara lain yang ternyata mungkin. Mungkin tidak berupa keilmuan yang pasti, tapi pasti masih memiliki suatu kebijaksanaan yang sama. Bukankah pada akhirnya, menjadi seperti sosok yang aku impikan itulah esensinya?.

Pada akhirnya, aku tidak akan mendapatkan pelajaran hidup yang jauh lebih penting jika mimpiku terus menerus menjadi nyata, bahwa aku hanyalah seorang hambaNya yang satu - satunya tujuanku adalah menghamba pada ketetapanNya. Aku diingatkan bahwa kemampuanku untuk bermimpi tidak boleh lebih besar daripada hasratku untuk mengabdi kepada Illahi. Bukankah Ia sudah begitu murah kasih sayangNya, meski pada setiap mimpi yang kurasa kegagalan besar, Ia masih sisipkan begitu banyak kebahagiaan.

Kebahagiaan menemani bapak dan mama. Kebahagiaan merasakan begitu hangatnya berada dalam keluarga yang lebih besar.

Kebahagiaan bertemu dengan banyak manusia baru yang tidak pernah kubayangkan.

Kebahagiaan setelah berhasil bangkit lagi dan mendapatkan kebijaksanaan dari banyak sekali kegagalan. Termasuk di dalamnya penyadaran bahwa ketika aku berhenti mendikte semesta, bahagiaku ternyata bisa jadi begitu luasnya mengambil berbagai macam rupa. 

Lagi pula, pada akhirnya, bahkan setelah banyak badai besar, lilin ini masih kuat berpendar.

(tulisan ini salah satunya dibuat untuk dosen pembimbingku 8 tahun lalu, my one and only Miss Prita Sari. Thank you for every life time lessons Miss, even after many years behind, in the darkest of times, I still found solace in many of our conversations)

Tanpa sadar, ruang ini sudah menemaniku selama 15 tahun kehidupanku. Menemani setiap bagian yang akhirnya kutuliskan karena terasa perlu. Membantuku mengurai setiap helai benang yang begitu kusutnya dalam kepala. Mengabadikan berbagai macam rasa kenangan, dari yang penuh pelajaran, sampai yang sederhana membahagiakan. 

Sampai pada suatu ketika sebagian diriku mati di tahun itu. Bagian yang begitu naif memandang dunia. Bagian yang banyak menggantungkan bahagianya pada manusia. Bagian yang mampu mencinta sampai terasa amat sesak di dalam dada serupa hidup tanpa udara. Bagian yang awalnya kupikir begitu naif dan bodohnya sehingga kurayakan kematiannya.

Aku benar - benar terlupa bagaimana bagian itu menjalani kehidupan ini begitu manisnya. Membuat dunia ini tidak lebih dari sekedar angka dan hitungan matematika. Membaca setiap tulisan yang bagian itu simpan disini membuatku menyadari, ternyata aku masih berusaha menghidupkannya kembali.

Dalam ketidak mampuanku, aku ingin benar - benar mencintai. Namun kini, aku ingin mencintai secukupnya. Cukup untuk menghidupkan setiap ruang yang aku hidup di dalamnya. Cukup untuk membuat setiap manusia di dalam ruang tersebut tumbuh dan bahagia.
Tidak ada baju baru hari ini karena aku masih memakai duka yang sama seperti tahun - tahun sebelumnya. Ada yang berkata bahwa dukaku tidak akan mengecil, namun hidupku yang jadi semakin besar. Maka aku berjalanlah dengan membawanya kemana - mana. Memakainya serupa kacamata sehingga setiap hal terlihat seperti spektrum warna. Banyak warna yang tadinya tunggal, kini sambung menyambung tanpa batas yang jelas. Sebagian bercampur baur menciptakan banyak area abu - abu tempat banyak kemungkinan paradoks bertemu.

Di dalam hari yang penuh kemenangan, dengan kacamata yang sama, aku menyadari mungkin ada meja makan yang kosong tanpa opor ayam. Mungkin ada sofa kulit yang dingin karena tidak ada lagi eyang disana selepas solat dan kami bersimpuh di depannya bermaaf-maafan. Mungkin ada ruang tamu yang begitu sunyi karena setiap penghuninya masih harus mengejar dunia di tengah semesta yang sibuk bertasbih kepadaNya. Mungkin ada mereka yang kehilangan hidupnya dalam bencana yang meluluh lantahkan sekejap mata. Mungkin tidak ada suara bedug dan takbir karena setiap masjidnya rata dengan tanah karena bom beberapa jam sebelumnya.

Di dalam hari yang penuh kemenangan, duka ini menunjukkan bahwa banyak kemenangan tidak selalu berwujud kebahagiaan raya. Sebenar - benarnya kemenangan bisa jadi milik mereka yang begitu tabahnya menghadapi setiap cobaanNya. Seperti seorang ibu yang bertemu kami tadi pagi, bermaaf - maafan dengan tangan kanan karena tangan kirinya membawa berbagai macam dagangan. Sepagi ini dengan dahi yang sudah berpeluh, ia masih dapat tersenyum tulus bahagia, "Selamat hari raya Buk"
Aku masih ingat bagaimana setahun lalu aku menunggu mobil carteran di pinggir jalan dengan tenggorokan tercekat dan tangis terbendung di pelupuk mata. Seperti biasa, kutelan seluruhnya berikut dengan setiap rasa kekalahan yang mengikutinya. 

Kekalahan ini begitu nyata di kepalaku yang lagi - lagi harus menjawab banyak pertanyaan yang sama untuk seribu kalinya. Bagaimana menjelaskan bahwa ketidaktahuanku adalah jawaban sesungguhnya bagi apa - apa yang berada di luar kuasa?. Bagaimana menerangkan bahwa ketidaktahuanku tidak sama dengan tidak berusaha?. Bagaimana menerangkan ketidaktahuanku ini sehingga mereka tidak menjelaskan setiap hal - hal lain yang justru aku amat ketahui?

Bahwa terlepas dari banyak hal yang aku bangga, aku mengerti tubuh ini hanyalah jam pasir. Tidak lebih dari suatu kesatuan sistem organ dengan tanggal kadaluwarsa. Bahwa semakin lama, maka semakin banyak hal yang akan aku lewatkan, tidak tergapai, tidak memungkinkan. Aku tidak perlu diingatkan karena alarmku menyala setiap waktu. Ia berdering lebih kencang daripada ribuan pertanyaan yang datang hanya setahun sekali, dari beberapa orang di lingkaran bundar, yang dengan senyum tanda peduli tetap membuatku merasa dihakimi.

Bukannya basa - basi tidak perlu membuat dadamu terasa sesak sekali?. Bukannya basa - basi bisa jadi soal bagaimana aku hari ini? Bagaimana setiap mimpi? Apa yang aku ingini? Apakah aku akhirnya bahagia kini?. Bukannya basa - basi tidak seharusnya membuat aku dilihat hanya sebagai suatu kekalahan sempurna disamping banyak sekali kemenangan lainnya?
Postingan Lebih Baru Postingan Lama Beranda

ABOUT ME

Introverts in disguise. Read keeps me sane, write keeps me awake. Both of them entwined makes me alive.

SUBSCRIBE & FOLLOW

POPULAR POSTS

  • semesta yang lain
  • 15 years!!!
  • ketidaktahuan
  • hari raya
  • teman pabrikku :’))

Categories

  • Reviews
  • Stories
  • Unsend Letters

Advertisement

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.

Blog Archive

  • ▼  2026 (5)
    • ▼  Maret (4)
      • semesta yang lain
      • 15 years!!!
      • hari raya
      • ketidaktahuan
    • ►  Januari (1)
  • ►  2025 (6)
    • ►  Desember (2)
    • ►  Juni (2)
    • ►  April (2)
  • ►  2023 (4)
    • ►  Oktober (2)
    • ►  September (2)
  • ►  2022 (1)
    • ►  Mei (1)
  • ►  2021 (15)
    • ►  November (2)
    • ►  September (1)
    • ►  Agustus (1)
    • ►  Juli (2)
    • ►  Juni (2)
    • ►  Mei (4)
    • ►  April (3)
  • ►  2020 (46)
    • ►  September (8)
    • ►  Agustus (8)
    • ►  Juli (7)
    • ►  Juni (4)
    • ►  Mei (6)
    • ►  April (5)
    • ►  Maret (7)
    • ►  Januari (1)
  • ►  2019 (28)
    • ►  Desember (11)
    • ►  Juli (2)
    • ►  Juni (4)
    • ►  Mei (9)
    • ►  Februari (1)
    • ►  Januari (1)
  • ►  2018 (21)
    • ►  September (2)
    • ►  Agustus (3)
    • ►  Juni (2)
    • ►  Mei (2)
    • ►  April (2)
    • ►  Maret (2)
    • ►  Februari (4)
    • ►  Januari (4)
  • ►  2017 (62)
    • ►  November (1)
    • ►  September (6)
    • ►  Agustus (2)
    • ►  Juli (2)
    • ►  Juni (5)
    • ►  Mei (7)
    • ►  April (9)
    • ►  Maret (2)
    • ►  Februari (15)
    • ►  Januari (13)
  • ►  2016 (55)
    • ►  Desember (8)
    • ►  November (12)
    • ►  Oktober (10)
    • ►  September (7)
    • ►  Agustus (5)
    • ►  Juli (1)
    • ►  Juni (3)
    • ►  Mei (2)
    • ►  April (4)
    • ►  Februari (1)
    • ►  Januari (2)
  • ►  2015 (26)
    • ►  Desember (5)
    • ►  November (2)
    • ►  Oktober (2)
    • ►  Agustus (1)
    • ►  Mei (1)
    • ►  April (1)
    • ►  Maret (6)
    • ►  Februari (4)
    • ►  Januari (4)
  • ►  2014 (48)
    • ►  Desember (4)
    • ►  Oktober (4)
    • ►  September (1)
    • ►  Juli (2)
    • ►  Juni (4)
    • ►  Mei (8)
    • ►  April (6)
    • ►  Maret (6)
    • ►  Februari (7)
    • ►  Januari (6)
  • ►  2013 (52)
    • ►  Desember (6)
    • ►  November (2)
    • ►  Oktober (7)
    • ►  Agustus (2)
    • ►  Juli (1)
    • ►  Juni (1)
    • ►  Mei (8)
    • ►  April (4)
    • ►  Maret (11)
    • ►  Februari (2)
    • ►  Januari (8)
  • ►  2012 (68)
    • ►  Desember (23)
    • ►  November (5)
    • ►  Oktober (13)
    • ►  September (4)
    • ►  Agustus (2)
    • ►  Juli (1)
    • ►  Juni (1)
    • ►  April (3)
    • ►  Maret (5)
    • ►  Februari (7)
    • ►  Januari (4)
  • ►  2011 (13)
    • ►  Desember (13)

Pengikut

Oddthemes

Designed by OddThemes | Distributed by Gooyaabi Templates