Pada semesta yang lain, aku mungkin tidak perlu mengada-ngadakan mimpi baru dari setiap realita yang terjadi padaku, karena sebaliknya, banyak mimpi yang kini gugurlah yang justru menjadi nyata.
Aku bisa jadi sudah terbang ke luar Indonesia hanya untuk melakukan satu - satunya yang kupikir paling mahir. Belajar sampai setinggi - tingginya langit mampu untuk memberikan ruangku berpikir. Berkutat dengan jurnal dan banyak instrumen laboratorium yang bisa jadi setiap proses kimianya meniadakan kemungkinanku untuk beranak pinak. Karena akhirnya kupikir aku tidak akan merasa keberatan ketika akhirnya aku dapat melahirkan begitu banyak pemikiran. Aku bisa jadi melanjutkan jenjang ini sampai tinggi, sampai aku menua dan akhirnya menjadi seseorang yang ibu akademisku tumbuhkan setiap hari. Bahkan bisa jadi terlalu puas dengan jalan yang ia pilihkan sampai akhirnya memutuskan untuk menjadi sepertinya. Seorang guru yang begitu bijaksana dalam berilmu, dengan caranya begitu membumi dalam mengabdi. Melahirkan bukan lagi hanya pemikiran, tapi juga banyak individu baru yang mampu mengembangkannya.
Kupikir, ia benar - benar berhasil menyalakan lilin di hatiku sampai amat benderang menerangi jalan di depan sana. Membuatku serupa ngengat terhadap cahaya. Pada akhirnya, di semesta yang lain, aku mungkin tidak akan menangisi setiap mimpi yang gugur dini. Aku hanya sederhana menjalaninya setiap hari alih - alih menghampiri kuburannya sesekali seperti ini.
Aku di semesta itu adalah sosok yang mati dan dikubur dalam hati. Di atas pusaranya, lilin yang sama masih menyala begitu benderang. Di tengah gelapnya pemakaman, ia masih memberikanku sedikit rasa bahwa aku memiliki tujuan. Aku bisa jadi tidak dapat menjadi label yang ia impikan, tapi aku masih bisa menjadi seseorang yang sama. Seorang pembelajar yang sabar, yang tetap rendah hati di tengah dunia yang amat besar, menyesap setiap hal baru dengan begitu hausnya dengan mata berbinar. Ia masih bisa membagi pemikirannya dengan berjuta cara lain yang ternyata mungkin. Mungkin tidak berupa keilmuan yang pasti, tapi pasti masih memiliki suatu kebijaksanaan yang sama. Bukankah pada akhirnya, menjadi seperti sosok yang aku impikan itulah esensinya?.
Pada akhirnya, aku tidak akan mendapatkan pelajaran hidup yang jauh lebih penting jika mimpiku terus menerus menjadi nyata, bahwa aku hanyalah seorang hambaNya yang satu - satunya tujuanku adalah menghamba pada ketetapanNya. Aku diingatkan bahwa kemampuanku untuk bermimpi tidak boleh lebih besar daripada hasratku untuk mengabdi kepada Illahi. Bukankah Ia sudah begitu murah kasih sayangNya, meski pada setiap mimpi yang kurasa kegagalan besar, Ia masih sisipkan begitu banyak kebahagiaan.
Kebahagiaan menemani bapak dan mama. Kebahagiaan merasakan begitu hangatnya berada dalam keluarga yang lebih besar.
Kebahagiaan bertemu dengan banyak manusia baru yang tidak pernah kubayangkan.
Kebahagiaan setelah berhasil bangkit lagi dan mendapatkan kebijaksanaan dari banyak sekali kegagalan. Termasuk di dalamnya penyadaran bahwa ketika aku berhenti mendikte semesta, bahagiaku ternyata bisa jadi begitu luasnya mengambil berbagai macam rupa.
Lagi pula, pada akhirnya, bahkan setelah banyak badai besar, lilin ini masih kuat berpendar.
(tulisan ini salah satunya dibuat untuk dosen pembimbingku 8 tahun lalu, my one and only Miss Prita Sari. Thank you for every life time lessons Miss, even after many years behind, in the darkest of times, I still found solace in many of our conversations)
